Jumat, 07 Maret 2014

Sekotak Melodi Hitam

Edit Posted by with No comments


Nampaknya, langit di pagi hari ini terlihat begitu cerah membiru. Suara gemercik air yang mengalir begitu nyaring terdengar di ujung sana. Sawah yang luas, hijau dan subur. Para petani pun sibuk panen ketika itu. Udara yang bergerak pun begitu lembut mendesir.
            “Haaah.. Sejuknya di sini. Di kota mana ada yang kayak gini. Indah sekali.” Ucap seorang gadis bernama Lilia yang kebetulan sedang berlibur di pedesaan tempat kakeknya tinggal. Lilia begitu menikmati udara yang begitu sejuk di bukit sana. Katanya, di Kota itu penuh dengan polusi, banyak kendaraan yang berlalu lalang, tidak sedamai di pedesaan yang sejuk dan begitu hening. Ia bisa menikmati alam sebebas mungkin.
            Terlihat di samping kiri kaki Lilia sebuah batu yang sangat unik. Kemudian, Lilia pun mengambil batu tersebut dan memainkannya. Ia lempar batu itu ke udara kemudian ia tangkap lagi dengan tangannya. Setelah beberapa menit ia menikmati udara yang begitu sejuk di atas bukit yang letaknya lumayan dekat dengan rumah kakeknya. Lilia melihat seorang pria mengenakan baju tangan panjang seperti pada saat para pria akan melakukan shalat ied atau shalat jum’at, baju koko dan mengenakan sarung.
            “Siapa lelaki itu, ganteng banget.” Pikir Lilia sembari menatap tajam ke arah pria itu berada. Bola matanya mengikuti langkah kaki sang pria itu hingga sang pria pun hilang dari pandangannya. Lilia pun kembali mengulang memainkan batu yang digenggamnya.
            Pak Sutarno pun berhenti dari pekerjaannya dan duduk di dekat Lilia. Pak Sutarno itu adalah kakeknya Lilia.
            “Kek, di sini asli indah banget tempatnya. Sejuk. Kakek pantes aja betah diem di sini.” Kata Lilia yang penuh dengan semangat.
            “Haha.. Ya, beginilah keadaan desa. Selalu sejuk. Nanti, kamu tinggal saja di sini. Ikut pesantren sana. Kamu ini udah besar tapi belum dewasa aja.” Kata Pak Sutarno yang berbicara kepada Lilia sambil melihat pakaian Lilia yang kurang nyaman di pandang.
            “Lha, memangnya Lilia belum dewasa dari segi apanya menurut kakek? Lilia gak merasa tuh.” Jawabnya yang tengah keheranan dengan mengkerutkan keningnya, menatap wajah kakeknya secara serius dan begitu dalam.
            “Nanti kamu pikirkan sendiri. Jaga dirimu sebagai wanita!” Kata Pak Sutarno yang kemudian bergegas pergi meninggalkan Lilia.
            Lilia kebingungan menafsirkan segala apapun yang kakeknya katakan mengenai dirinya.
            “Apa? Kenapa?” Gerutunya sambil melihat batu kecil yang digenggamnya itu.
            Setelah lamanya menikmati udara di pagi hari di atas bukit, Lilia pun kembali ke rumahnya. Ia menikmati hidangan di siang hari bersama dengan kakek, nenek, dan juga bibi serta pamannya. Setelah selesai makan siang bersama, seluruh orang yang mengisi rumah itu pun bergegas melaksanakan shalat dzuhur. Namun Lilia, malah asyik membuka album yang tersimpan di bawah meja, yang mana album itu banyak menyimpan sketsa wajah sang bunda yang telah lama tiada.
            “Hihihi.. Mamah lucu sekali waktu kecil.” Gumamnya sembari senyum-senyum melihat gambar wajah ibundanya ketika masih kecil.
             “Lia, kamu gak sholat?” Tanya bibinya yang tengah merapikan kain mukena dan sajadahnya.
            “E..eh.. Hah?” Lilia gugup tak bisa menjawab. Lilia nampaknya keheranan, ia bingung harus menjawab apa. Karena, memang ia tak terbiasa untuk melaksanakan shalat.
            “Ayo sholat! Sudah adzan.” Lanjut bibinya.
            Lilia tak bisa menjawab, ia hanya menunduk dan berpikir untuk mengadakan pembantahan agar ia tak disuruh-suruh lagi shalat.
            Berjam-jam Lilia duduk dan membuka-buka album lama milik Neneknya itu, kemudian setelah jarum jam mengarah tepat pada pukul setengah tiga sore, bibinya pun bertanya kembali perihal shalat itu. Dengan nada yang agak menyinggung.
            “Tidak shalat? Lagi halangan?”
            “Hah? Oh.. Hee.. Iya..” Kata Lilia yang kemudian menunduk karena malu dan juga takut kalau bibinya curiga ia sedang berbohong.
            “Tapi bibi tak melihat kamu seperti sedang halangan. Hmm.. Liaa.. Liaa.. Kapan kamu sadarnya!” Ucap bibinya yang melangkah pergi menuju dapur.
            Kemudian Lilia pun menyalakan televisi, bibinya kembali lagi dari arah dapur dan kemudian membuka kulkasnya. Ia tuangkan air putih dari botol ke dalam gelas yang tengah ia genggam. Lalu,
            “Mamahmu dulu itu rajin pergi mengaji. Masa gak nurun sama kamu sih rajinnya.” Tukas bibinya.
            “…” tak ada jawaban dari Lilia. Ia terus menikmati siaran yang disajikan oleh benda elektronik itu.
            Tak lama dari itu, Lia pun pergi dari ruang televisi menuju ke toilet. Lilia nampaknya mulai tidak betah diam di rumah ini, seolah ditekan dan direndahkan karena tidak shalat. Ia merasa terusik dan terganggu. Seketika saja Lilia ingin pulang dari rumah kakeknya itu.
            “Lia gak jadi liburan di sininya. Lia pengen pulang aja!” Ucap Lia terlihat begitu kesal.
            “Lho, kenapa mendadak begitu? Kamu gak betah di sini?” Tanya neneknya begitu ramah.
            “Abis di sini orangnya pada kolot semua.” Tukas Lilia sambil memeluk erat bantal kecil yang di letakkan di atas sofa.
            “Kolot gimana Lia? Aduh.. Kamu ini.” Ucap bibinya.
            Mendengar ucapan bibinya, membuat Lilia semakin panas dan merasa dikompori. Lilia pun pergi ke kamar dan mengurung diri. Ia menangis sejadi-jadinya. Karena terlalu lama menangis, ia pun tertidur.
            Setelah 2 jam tertidur, Lilia pun terbangun. Namun, ia terbingungkan dengan warna langit yang tengah membiru gelap. Lilia heran, apakah hari ini masih di hari yang sama, ataukah sudah berganti hari. Kepalanya sedikit pening, dan pundaknya pun terasa nyeri karena posisi tidurnya yang tidak teratur. Ia melihat bibinya sedang shalat. Lilia semakin bingung dan bertanya-tanya. Akhirnya, ia pun tertidur lagi.
***
Keesokan Harinya
            Pagi pun bertemu lagi dengan pagi, dengan cuaca yang sama seperti kemarin hari. Cerah, burung-burung pun ikut meramaikan suasana di pagi ini. Angin yang berhembus pun terasa menyejukkan. Lilia, lagi-lagi menikmati pemandangan alam hari ini di atas bukit yang sama. Dan kali ini, ia kedatangan pria yang sempat ia lihat di hari kemarin.
            “Hai..” Sambut si pria dengan mengulurkan tangannya.
            “Eh, Hai..” Jawab Lilia menyambut uluran tangan pria itu.
            “Lagi apa di sini? Kamu cucunya Pak Sutarno?” Kata pria itu.
            “Iya, aku cucunya. Aku di sini lagi nikmatin pemandangan aja. Kamu siapa? Nama kamu?” ucap Lilia melirik ke pria itu.
            “Oh, aku Pratama. Panggil aja Tama” jawabnya sambil melemparkan batu-batu kecil yang berada dekat dengannya.
            “Ooh.. iya”
            Seketika suasana menjadi hening. Mereka berdua sepertinya membiarkan burung-burung yang kali ini berbicara dengan kicauannya. Kemudian, setelah beberapa menit membisu. Tama pun membuka pembicaraan.
            “Setiap kali aku lagi jenuh, banyak pikiran dan tekanan. Aku selalu diam di bukit sini, karena hanya di sini aku bisa mendapatkan ketenangan. Aku merasa lebih dekat dengan-Nya di tempat seperti ini. Aku merasa bahwa aku hanya berdua saja dengan-Nya di alam terbuka seperti ini.”
            “Hmm.. Aku heran, kenapa kita harus sholat?” tanya Lilia begitu terlihat sedikit kesal.
            “Kadang, aku suka bertanya sendiri. Kenapa aku hidup, kenapa aku harus ada di dunia ini. dan kenapa semua orang memiliki banyak Tuhan. Aku heran, aku bingung. Mereka seperti memperebutkan Tuhan. Tapi, baik ke manusia lainnya hanya ketika mereka butuh. Bukannya aku gak percaya adanya Tuhan. Tapi, aku bingung. Tuhan itu yang benernya yang mana?” kata Lilia melanjutkan pembicaraan.
            “Kamu meyakini yang mana? Pak Sutarno itu getol ibadahnya, ke mesjid tiap hari. Gak lupa sholat berjamaah. Kamu gak meyakini bahwa itu adalah agama yang paling lurus dan benar?”
            “Kenapa ada agama? Kenapa semua punya agama yang berbeda. Dan kenapa, setiap tahun yang berlaku pun berbeda. Kenapa begitu banyak perbedaan di dunia ini? Kenapa juga, orang-orang terlalu banyak mengutarakan perbedaan. Bagaimana mereka yang tak mengerti apa arti dan makna dari perbedaan.”
            “Hentikan pemikiran liarmu! Kamu cukup mempercayainya saja, kamu cukup taati-Nya saja. Kamu tidak akan dipandang hebat dengan banyaknya dan pandainya kamu berbicara dan berpikir dengan logika-logikamu. Jujur, aku merasa tersakiti atas pernyataanmu kali ini.” Tama pun beranjak pergi dan menjauh dari Lilia.
            Tetapi, tak lama lagi. Tama pun kembali dan duduk bersama dengan Lilia. Nampaknya Tama tengah bersikap salah dan sangat bodoh jika harus memilih pergi karena mengikuti amarahnya. Seharusnya, Tama bisa membimbing dan mencoba meluruskan pemikiran Lilia.
            “Kenapa balik lagi?” Tanya Lilia melirik tajam.
            “Hanya ingin menyampaikan sesuatu. Kamu dengarkan baik-baik. Jika memang kamu begitu pandai dengan logika-logikamu, perhatikan semua ciptaan ini. Pikirkanlah dengan matang. Tak ada paksaan dalam agama. Hanya saja, aku tak ingin kamu menderita akhirnya. Dengan membawa segunung penyesalan. Jangan membawa tuhan-tuhan yang lain. Pikirkan saja akhlakmu!” Tama pun kembali pergi dari Lilia.
            Lilia pun berpikir banyak sekali. Hingga sampai pada saat ia kembali ke rumahnya, dan mendapati nenek serta bibinya sedang shalat. Lilia berpikir dengan keras. Ia pun pergi ke toilet, setelah itu ia membasuh wajahnya tiga kali. Ia pun bercermin.
            Tak lama kemudian, air matanya menetes. Ia begitu merindukan ibundanya. Sedang apa ibundanya itu. Lilia mencoba untuk mengalahkan egonya, ia mencoba untuk mengalah pada pemikiran-pemikirannya yang tajam. Ia menggunakan hati nuraninya berbicara. Kemudian, ia mengingat kembali masa-masa sekolahnya dulu, saat ia masih duduk di bangku SMP. Ia malah sering pergi ke toilet dan kantin daripada ke mushalla.
            “Ya, tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Mustahil bagi manusia untuk menciptakan semua itu. Sebutir debu pun nyaris hilang dari genggaman. Asyhadu alaa ilaha ilallah, wa asyhadu annaa muhammadar rasulullah
            Tapi, rupanya Lilia masih malu-malu untuk mengenakan mukena. Ia malu jikalau ia diusili oleh bibinya. Lilia pun gamang seketika. Beberapa kali ia melihat ke arah sajadah dan mukena. Namun tak juga ia berani mencoba.
            “Dobrak segala keraguanmu. Ibadah bukan untuk dipandang manusia, tetapi Allah. Sholatlah sekarang juga, sebelum petugas Allah datang menghampirimu.” Ucap bibinya.
            “Bibi kok tau sih” gumamnya dalam hati, “petugas apa?” kata Lilia keheranan.
            “Malaikat maut, kamu ini kayak gak pernah belajar agama islam saja.” Tukas bibinya.
            “Oh..” jawab Lilia sembari mengambil sajadah yang terletak di atas kasur.
            Perlahan, ia membuka dan mengamparkan sajadahnya itu.
            “Haduuh, sholat gak yaaa..” pikirnya yang masih saja malu.
            “Ah, sudahlah. Tinggal sholat aja apa susahnya.” Ketika sudah rapi dengan mengenakan kain mukena. Tiba-tiba saja ia mengeluh.
            “Baca apa yah. Aku gak hafal semua. Aduh..” keluhnya sambil menepak-nepak jidatnya tiga kali.
            “Ah, sholat aja deh. Yang penting niatnya dulu.” Lilia pun akhirnya shalat meskipun tak hafal semua bacaan shalatnya.
            Seusai shalat, ia merasa seperti hidup di antara beberapa pohon. Adem. Perasaannya pun berubah menjadi damai. Melihat rambutnya yang berwarna merah dan juga pink di beberapa helainya, Lilia merasa malu. Benar-benar malu. Ia merasa tak percaya diri jika harus mengenakan busana yang serba terbuka, juga dengan rambutnya yang terlihat seperti orang gila.
            “Ih, aku perempuan jadi-jadian ya? Dulu, aku emang kelihatan cantik dengan pakaian yang serba minim begini, ini trendi loh. Tapi, kenapa waktu aku pakai mukena dan shalat tadi. Aku rasa, aku pakai pakaian yang begini kayak gak pake baju ya. Aduh.. aaaah aku harus gimana ini? Masa pake mukena?” gerutunya sambil menepak-nepak pipinya beberapa kali.
***
Keesokan Harinya
            “Kek, aku pingin ikut pengajian dong sama anak-anak di sana. Aku malu.” Kata Lilia kepada kakeknya yang tengah membaca Koran di teras.
            Alhamdulillah, ya kesana saja lah. Kenalan sama perempuan-perempuan di sana.” Jawab kakeknya penuh dengan senyuman.
            “Tapi aku malu kek dengan pakaian yang kayak gini. Terus, rambut aku yang warna-warni gini harus digimanain?” keluh Lilia.
            Neneknya pun datang sembari memegang pundak Lilia. Dan berkata,
            “Kamu pinjam baju milik Bi Uni, pasti ia pinjamkan.”
            Akhirnya, Lilia pun mengenakan busana panjang dan serba tertutup. Hingga saat ia mengikuti pengajian dan bertemu dengan Pratama, pria itu pun begitu tercengang melihat perubahan Lilia yang begitu drastis. Ia tak menyangka bahwa Lilia akan berubah secepat itu. Tama pun hanya bisa tersenyum bangga melihat penampilan Lilia kali ini.
            Subhanallah. Ia begitu cantik mengenakan jilbab. Astaghfirullahaladhim..” Tama pun memalingkan pandangannya.
***
            Pengajian pun selesai, Lilia berhasil memiliki beberapa teman akhwat. Ketika Lilia sedang berjalan menuju rumah, ia bertemu dengan Pratama di belokan ujung ke dua. Lilia pun tersenyum kepada Tama, Tama pun menundukan pandangannya.
            “Kenapa perasaan aku jadi malu gini ya sama Tama, jantung aku juga kerasa berdetak lebih kencang, panas. Aduh, jadi panas dingin. Aku kenapa yah?” gumam Lilia dalam hati.
            Lilia pun sampai di rumahnya. Hingga beberapa hari terlewati, hampir selesai Lilia menikmati waktu liburannya di desa ini. Tapi, senyuman Lilia kepada Tama di sore itu memang senyumannya yang terakhir. Sampai detik ini pun, Lilia belum bertemu dengan Pratama lagi. Hingga sebuah rasa bernama rindu pun muncul. Hanya tinggal tiga hari lagi Lilia menghabiskan waktunya di desa ini. Lilia berharap agar bertemu Pratama sebelum ia pulang ke Jakarta.
            Tidur hingga bertemu tidur lagi, menikmati udara sejuk di pagi hari di atas bukit selalu, dan begitu selalu selama hampir satu bulan lamanya Lilia tinggal di rumah kakeknya. Dan hari ini adalah hari terakhir Lilia menikmati udara di pedesaan ini. Lilia menunggu Pratama di atas bukit, saat pertama kali ia melihat Pratama, dan juga berdiskusi kecil dengan Tama. Lilia menunggu dan terus menunggu. Namun, sampai satu jam lamanya pun. Tama tak juga datang.
            “Ah, berasa kayak di sinetron. Yaudah, aku pulang ya Tama. Terimakasih atas nasihatmu waktu itu. Aku tau sekarang. Aku pulang ke Jakarta sore ini. Semoga, suatu hari nanti kita dapat bertemu lagi. Lilia” Ia tuliskan semua pesan-pesannya di secarik kertas dan ia taruh di atas bukit itu dengan ditindihkannya batu kecil yang unik yang selalu ia mainkan guna menahan kertas itu tidak terbawa oleh angin.
            Lilia pun akhirnya pulang ke Jakarta dengan meninggalkan sekotak melodi hitam. Dimana semua senandung kisahnya begitu kotor, hitam, seperti halnya debu yang telah menggunduk sekian lamanya. Di desa itulah, tempat dimana ia meninggalkan sekotak masalalunya yang begitu mengenaskan. Beragama, namun hidup tak beragama. Dan setelah 2 jam lamanya kepergian Lilia, Tama pun datang ke atas bukit. Dan ia membaca apa yang telah dituliskan oleh Lilia untuknya. Tama hanya tersenyum kecil ketika membacanya. Ia berpikir, bahwa Lilia mulai tertarik kepadanya. Tapi, sangat tak terbesit di dalam benaknya. Tama hanya berharap, agar Lilia dapat menjadi wanita yang menghiasi dunia karena keindahannya.

Kamis, 06 Maret 2014

Tangisan Mentari

Edit Posted by with No comments
“Awan, Burung, Udara, Angin, Air, dan segala keindahan yang ada di bumi ini. Subhanallah. Bahkan, aku tak menyangka bahwa semuanya ini hanya ada di dalam sebuah mimpi panjangku.” Ucap seorang gadis bermata biru dengan mengenakan jilbab, dan busana gamis seusai menghadiri kajian ilmu dari sebuah tempat yang mana tempat itu adalah majelis ta’lim.
            Sepanjang dia berjalan melewati rumah ke rumah menuju pulang mengendarai sepeda motor, gadis yang bernama Gina itu menggunakan waktu luangnya untuk merenung dan bertafakur.
            “Detik ke menit, hingga menit pun beralih kepada jam. Dan berjam-jam terlewati, hingga muncullah satu hari dan begitu selanjutnya hingga berganti tahun. MasyaAllah.. sudah berapa banyak waktu yang terbuang? Dan, dihabiskan untuk apa sajakah?” Tanyanya dalam hati kepada nuraninya sendiri.
            Astaghfirullahaladhiim…” Teriak Gina terkaget karena ia hampir saja menabrak kucing yang sedang berjalan tepat di depan motornya berjalan. Kemudian, Gina pun berhenti sejenak untuk mengambil sebuah tupperware yang berisikan air putih untuk diminumnya. “Ada-ada saja ini kucing, kalau ketabrak motor gimana ini. Haduuh…” Keluhnya sambil menghela nafas untuk menenangkan jantungnya yang seketika berdegup kencang akibat kejadian secepat kilat seperti tadi. Kemudian, Gina pun meneruskan perjalanannya setelah merasa agak tenang.
***
            “Assalamu’alaikum..” Ucap Gina sebegitu ia sampai pada rumahnya. Tapi, setelah lama menunggu jawaban. Tak ada juga orang rumah yang menjawab salamnya. Gina terheran seketika. Ia pun duduk di pohon kayu yang sudah lama ditebang, bola matanya mencari kemana mamahnya berada. Tengok ke kiri, kemudian ke kanan. Namun, belum juga tiba seseorang mendatanginya.
            “Ginaa…” Tiba-tiba saja Jaka teman sebayanya memanggil dia dari kejauhan dengan mengenakan busana sehabis pulang dari masjid, nampaknya Jaka habis melaksanakan shalat ashar. Gina pun melirik ke arah Jaka berada.
            “Apa Jaka?” Teriak Gina dari teras rumahnya.
            “Mamahmu sedang di pemakaman Bu Widi. Baru saja Bu Widi meninggal karena penyakit maag kronisnya.” Tukas Jaka yang tengah berjalan menghampiri Gina.
            Innalillah.. Jaka, panggilkan Naima adikmu. Suruh dia kemari.” Jawab Gina.
            “Naima?” Tanya Jaka keheranan, dia berpikir mengapa Naima harus ia panggil. Apa hubungannya dan apa yang akan Gina lakukan.
            “Iya, Naima. Ana mau melihat pemakaman Bu Widi, tapi ana ingin ada teman untuk ke sananya”
            “Oh, begitu. Kenapa tidak dengan saya saja?” Kata Jaka.
            “Ah, Jaka. Antum kan Ikhwan. Ada hijab diantara kita.” Tukas Gina.
            “Iya, saya mengerti. Tunggu saya akan panggilkan.” Jawab Jaka sambil melangkahkan kakinya dengan cepat untuk memanggil adiknya.
***
            “Assalamu’alaikum, teteh..” Ucap gadis kecil yang tak lain adalah Naima, adik kandung Jaka satu-satunya.
            “Wa’alaikumussalaam.. Dek, ayo temani teteh ke pemakaman sana.” Ajak Gina sembari meraih jari-jemari Naima.
            “Iya, mari teh.
            Mereka berdua pun pergi berdua, dan Jaka mengikuti mereka berdua dari belakang. Tiba-tiba saja awan yang tadinya putih seputih kapas, kini berganti menjadi abu. Gelap. Langit yang biru pun seketika berubah menjadi abu-abu.
            “Kayaknya mau turun hujan ya teh,” Kata Naima sambil menerawang ke langit-langit.
            “Iya dek. Gak apa-apa, ayo agak cepat sedikit jalannya.”
            Sesampainya mereka berdua di sana, ternyata jenazah sudah di masukkan ke dalam tanah. Tiba-tiba saja air mata awan menetes membasahi bumi. Gina dan Naima pun berteduh di rumah kecil yang lokasinya dekat dengan pemakaman. Dan tak lama dari itu, Naima menangis dengan derasnya. Gina terdiam sembari memperhatikan Naima begitu dalamnya.
            “Kenapa dek?” Tanya Gina penasaran sambil menepuk bahu Naima.
            “….” Naima sepertinya tak bisa menjawab pertanyaan Gina, ia hanya menggelengkan kepalanya sambil memeluk kedua lututnya. Menyembunyikan air matanya yang terjatuh seperti derasnya air hujan yang turun membasahi tanah sekitarnya.
            “Semuanya memang bukan punya kita. Semuanya bakalan pulang. Ada yang lahir, baru singgah sebentar, kemudian harus pulang. Hm.. waktu. ” Kata-kata Gina yang mencoba untuk memancing Naima berbicara.
            “Seperti mentari yang hanya singgah ketika pagi hingga akan petang, kita tak pernah tahu sampai kapan mentari akan tetap hidup dan menyinari bumi. Kalau matahari mati, seisinya pun akan mati.” Kata Naima yang ikut merasakan betapa berharganya waktu.
            “Sedih, nanti kita akan berbaring di dalam tanah sana. Semua keindahan ini, hujan. Air ini akan membasahi tanah dan dedaunan yang kering, sepertinya kita akan begitu merindukan suasana hujan seperti ini. Apakah kita tidak akan dilanda kemarau di dalam sana?” Lanjut Naima.
            Gina pun melirik ke samping Naima, kemudian ia pun ikut menangis juga.
            “Entahlah, hanya perbuatan baik yang Dia (Allah SWT) sukai yang akan menolong kita dari panasnya alam di bawah tanah itu. Astaghfirullah..” Jawab Gina ikut membenarkan.
            “Suatu saat nanti, cepat atau lambat. Kematian itu akan datang menghampiri kita. Bu Widi adalah tetangga kita, rumahnya pun tak jauh dari rumah kita. Mungkin, kalau saja petugas langit itu diizinkan Allah untuk menjemput salah satu diantara kita, mungkin saja air hujan ini adalah air yang Allah berikan untuk kita, agar kita tidak merasa kekeringan ketika dikuburkan di sana.”
            “Tapi, kalau hujan kayak gini. Dan saat akan dimasukkan ke dalam tanah, kasian jenazahnya. Masa, harus disimpan di tanah dalam keadaan tergenang oleh air?” Sambut Gina.
            “Aduh, syukurlah kalau pemakaman Bu Widi sudah selesai. Semoga air hujan yang turun ini adalah berkah untuknya. Semoga, ia diberikan cahaya di alam sana. Aamiin..” Kata Naima memanjatkan do’a.
            “Itulah, kita harus bersyukur baik kemarau ataupun hujan. Karena, belum tentu ketika di sana kita akan tahan dengan genangan air, meskipun tidak sadar. Tapi, kita hidup di alam sana. Semoga saja, kita mendapatkan seni yang indah, dan mampu untuk mewujudkan kematian dalam khusnul khatimah. Aamiin” Lanjut Gina.
            “Yasudahlah teh, sebaiknya kita pulang saja. Mamah teteh juga kayaknya udah pulang.” Ajak Naima yang tengah berdiri membersihkan pakaiannya dari kotoran pasir akibat cipratan air hujan..
            “Yuk.. Alhamdulillah, semoga hari ini bernilaikan amalan shalih untuk kita.”
            Aamiin aamiin aamiin..” Jawab Naima melemparkan senyum.
            Mereka berdua pun kemudian pulang ke rumahnya masing-masing. Dan ketika di perjalanan pulang, mereka melihat Jaka sedang duduk di batu yang ukurannya cukup besar dikelilingi oleh nisan-nisan. Gina pun kemudian bertanya kepada Jaka.
            “Sedang apa Jaka? Bajumu basah kuyup seperti itu.”
            “Teringat almarhum kakek.” Jawab Jaka seadanya.
            “Oh Iya, Aa pernah diwasiatkan oleh Aki katanya jangan lupa sholat, katanya itu yang paling utama.” Kata Naima.
            “Bukan itu saja, tetapi harus menjaga sholat agar tidak ternodai maksiat. Astaghfirullahaladhim..” Tukas Jaka sembari menundukkan kepalanya.
            “Sebisa mungkin, inilah ikhtiar dan tantangan untuk kita semua. Alhamdulillah, kita mendapatkan pelajaran dari kejadian ini.” Kata Gina memberikan semangat untuk mereka semua.
            “Mari kita pulang. Aa.. sudah, kita teruskan bertafakur di rumah. Mari teh” Sambut Naima sambil menarik lengan kakaknya.
***
            “Assalamu’alaikum, maah..” Panggil Gina di depan pintu rumahnya.
            “Wa’alaikumussalaam, aduuuh Gina anak mamah udah pulang. Maaf ya udah buat Gina nunggu.” Jawab mamahnya penuh dengan senyuman.
            Tak ada jawaban dari Gina, Gina pun langsung memeluk tubuh ibunya dengan erat. Ia mencium pipi kiri dan pipi kanan mamahnya dengan penuh manja.
            “Kenapa Gina, tumben sekali kamu genit sama mamah” Kata Mamahnya sedikt bercanda.
            “Mah, bisa aja kan setelah Bu Widi aku atau mamah atau siapapun orang di rumah ini yang dipanggil sama  Allah?” Kata Gina yang semakin erat mendekap tubuh ibundanya.
            Mamahnya pun tersenyum haru mendengar perkataan anaknya.
            InsyaAllah.. Semoga kita semua bisa berkumpul lagi.” Jawab Mamahnya yang mulai terlihat berkaca-kaca dan sedikit berat untuk berkata.
            Aamiin” Jawab Gina tersenyum.
                    Setelah itu, Gina pun masuk ke ruang pribadinya. Ia segera mengganti pakaian dan lekas mandi. Kebetulan, adzan maghrib sudah berkumandang. Gina pun melaksanakan shalat maghrib.
          Selesai membaca do’a dan juga dzikir. Gina melihat dinding-dinding di kamarnya, melihat benda-benda yang terletak di setiap sudutnya.
            ”Kamar ini, awalnya kosong tak berpenghuni. Awalnya tanah. Hanya tanah kosong. Sebelum bangunan rumahku ini ada, entah apa yang hidup di sini. Tetapi yang jelas, suatu saat nanti. Entah waktunya kapan, semua ruangan ini akan kembali kosong tak berpenghuni. Semuanya. Aku bingung, semua benda-benda yang aku sukai ini, astaghfirullah.. Aku sedih Allah. Mungkin aku telah mencintai apa-apa yang ada di dunia ini. Tetapi, bukan karena aku terkena penyakit Al-wahn (Cinta dunia takut mati). Aku hanya berpikir, untuk apa barang sebanyak ini jika pada akhirnya akan musnah? Benar, aku terlahir memang miskin. Semua ini adalah milik Engkau. MaasyaAllah..” Gumam Gina dalam hati.
            Gina pun segera melipat sajadah dan kain mukenanya. Ia pun bergegas keluar untuk makan bersama dengan keluarganya.
            Tak sempat menikmati hidangan yang telah disediakan oleh ibunya, Gina malah menangis bersedih karena mungkin suatu saat nanti, senyum tawa dan kebahagiaan yang ada di keluarganya belum tentu ia dapatkan. Karena, amalan shalih itulah yang menentukan takdir seseorang. Gina hanya mampu tersungkur dan bersujud di atas sajadah birunya.