Nampaknya, langit di pagi hari ini terlihat begitu
cerah membiru. Suara gemercik air yang mengalir begitu nyaring terdengar di
ujung sana. Sawah yang luas, hijau dan subur. Para petani pun sibuk panen
ketika itu. Udara yang bergerak pun begitu lembut mendesir.
“Haaah..
Sejuknya di sini. Di kota mana ada yang kayak gini. Indah sekali.” Ucap seorang
gadis bernama Lilia yang kebetulan sedang berlibur di pedesaan tempat kakeknya
tinggal. Lilia begitu menikmati udara yang begitu sejuk di bukit sana. Katanya,
di Kota itu penuh dengan polusi, banyak kendaraan yang berlalu lalang, tidak
sedamai di pedesaan yang sejuk dan begitu hening. Ia bisa menikmati alam
sebebas mungkin.
Terlihat
di samping kiri kaki Lilia sebuah batu yang sangat unik. Kemudian, Lilia pun
mengambil batu tersebut dan memainkannya. Ia lempar batu itu ke udara kemudian
ia tangkap lagi dengan tangannya. Setelah beberapa menit ia menikmati udara
yang begitu sejuk di atas bukit yang letaknya lumayan dekat dengan rumah
kakeknya. Lilia melihat seorang pria mengenakan baju tangan panjang seperti
pada saat para pria akan melakukan shalat ied atau shalat jum’at, baju koko dan
mengenakan sarung.
“Siapa
lelaki itu, ganteng banget.” Pikir Lilia sembari menatap tajam ke arah pria itu
berada. Bola matanya mengikuti langkah kaki sang pria itu hingga sang pria pun
hilang dari pandangannya. Lilia pun kembali mengulang memainkan batu yang
digenggamnya.
Pak
Sutarno pun berhenti dari pekerjaannya dan duduk di dekat Lilia. Pak Sutarno
itu adalah kakeknya Lilia.
“Kek,
di sini asli indah banget tempatnya. Sejuk. Kakek pantes aja betah diem di
sini.” Kata Lilia yang penuh dengan semangat.
“Haha..
Ya, beginilah keadaan desa. Selalu sejuk. Nanti, kamu tinggal saja di sini.
Ikut pesantren sana. Kamu ini udah besar tapi belum dewasa aja.” Kata Pak
Sutarno yang berbicara kepada Lilia sambil melihat pakaian Lilia yang kurang
nyaman di pandang.
“Lha,
memangnya Lilia belum dewasa dari segi apanya menurut kakek? Lilia gak merasa
tuh.” Jawabnya yang tengah keheranan dengan mengkerutkan keningnya, menatap
wajah kakeknya secara serius dan begitu dalam.
“Nanti
kamu pikirkan sendiri. Jaga dirimu sebagai wanita!” Kata Pak Sutarno yang
kemudian bergegas pergi meninggalkan Lilia.
Lilia
kebingungan menafsirkan segala apapun yang kakeknya katakan mengenai dirinya.
“Apa?
Kenapa?” Gerutunya sambil melihat batu kecil yang digenggamnya itu.
Setelah
lamanya menikmati udara di pagi hari di atas bukit, Lilia pun kembali ke
rumahnya. Ia menikmati hidangan di siang hari bersama dengan kakek, nenek, dan
juga bibi serta pamannya. Setelah selesai makan siang bersama, seluruh orang
yang mengisi rumah itu pun bergegas melaksanakan shalat dzuhur. Namun Lilia,
malah asyik membuka album yang tersimpan di bawah meja, yang mana album itu
banyak menyimpan sketsa wajah sang bunda yang telah lama tiada.
“Hihihi..
Mamah lucu sekali waktu kecil.” Gumamnya sembari senyum-senyum melihat gambar
wajah ibundanya ketika masih kecil.
“Lia, kamu gak sholat?” Tanya bibinya yang
tengah merapikan kain mukena dan sajadahnya.
“E..eh..
Hah?” Lilia gugup tak bisa menjawab. Lilia nampaknya keheranan, ia bingung
harus menjawab apa. Karena, memang ia tak terbiasa untuk melaksanakan shalat.
“Ayo
sholat! Sudah adzan.” Lanjut bibinya.
Lilia
tak bisa menjawab, ia hanya menunduk dan berpikir untuk mengadakan pembantahan
agar ia tak disuruh-suruh lagi shalat.
Berjam-jam
Lilia duduk dan membuka-buka album lama milik Neneknya itu, kemudian setelah
jarum jam mengarah tepat pada pukul setengah tiga sore, bibinya pun bertanya
kembali perihal shalat itu. Dengan nada yang agak menyinggung.
“Tidak
shalat? Lagi halangan?”
“Hah?
Oh.. Hee.. Iya..” Kata Lilia yang kemudian menunduk karena malu dan juga takut
kalau bibinya curiga ia sedang berbohong.
“Tapi
bibi tak melihat kamu seperti sedang halangan. Hmm.. Liaa.. Liaa.. Kapan kamu
sadarnya!” Ucap bibinya yang melangkah pergi menuju dapur.
Kemudian
Lilia pun menyalakan televisi, bibinya kembali lagi dari arah dapur dan
kemudian membuka kulkasnya. Ia tuangkan air putih dari botol ke dalam gelas
yang tengah ia genggam. Lalu,
“Mamahmu
dulu itu rajin pergi mengaji. Masa gak nurun sama kamu sih rajinnya.” Tukas
bibinya.
“…”
tak ada jawaban dari Lilia. Ia terus menikmati siaran yang disajikan oleh benda
elektronik itu.
Tak
lama dari itu, Lia pun pergi dari ruang televisi menuju ke toilet. Lilia nampaknya mulai tidak betah diam di rumah ini, seolah
ditekan dan direndahkan karena tidak shalat. Ia merasa terusik dan terganggu.
Seketika saja Lilia ingin pulang dari rumah kakeknya itu.
“Lia
gak jadi liburan di sininya. Lia pengen pulang aja!” Ucap Lia terlihat begitu
kesal.
“Lho,
kenapa mendadak begitu? Kamu gak betah di sini?” Tanya neneknya begitu ramah.
“Abis
di sini orangnya pada kolot semua.” Tukas Lilia sambil memeluk erat bantal kecil
yang di letakkan di atas sofa.
“Kolot
gimana Lia? Aduh.. Kamu ini.” Ucap bibinya.
Mendengar
ucapan bibinya, membuat Lilia semakin panas dan merasa dikompori. Lilia pun
pergi ke kamar dan mengurung diri. Ia menangis sejadi-jadinya. Karena terlalu
lama menangis, ia pun tertidur.
Setelah
2 jam tertidur, Lilia pun terbangun. Namun, ia terbingungkan dengan warna
langit yang tengah membiru gelap. Lilia heran, apakah hari ini masih di hari
yang sama, ataukah sudah berganti hari. Kepalanya sedikit pening, dan pundaknya
pun terasa nyeri karena posisi tidurnya yang tidak teratur. Ia melihat bibinya
sedang shalat. Lilia semakin bingung dan bertanya-tanya. Akhirnya, ia pun
tertidur lagi.
***
Keesokan Harinya
Pagi
pun bertemu lagi dengan pagi, dengan cuaca yang sama seperti kemarin hari.
Cerah, burung-burung pun ikut meramaikan suasana di pagi ini. Angin yang
berhembus pun terasa menyejukkan. Lilia, lagi-lagi menikmati pemandangan alam
hari ini di atas bukit yang sama. Dan kali ini, ia kedatangan pria yang sempat
ia lihat di hari kemarin.
“Hai..”
Sambut si pria dengan mengulurkan tangannya.
“Eh,
Hai..” Jawab Lilia menyambut uluran tangan pria itu.
“Lagi
apa di sini? Kamu cucunya Pak Sutarno?” Kata pria itu.
“Iya,
aku cucunya. Aku di sini lagi nikmatin pemandangan aja. Kamu siapa? Nama kamu?”
ucap Lilia melirik ke pria itu.
“Oh,
aku Pratama. Panggil aja Tama” jawabnya sambil melemparkan batu-batu kecil yang
berada dekat dengannya.
“Ooh..
iya”
Seketika
suasana menjadi hening. Mereka berdua sepertinya membiarkan burung-burung yang
kali ini berbicara dengan kicauannya. Kemudian, setelah beberapa menit membisu.
Tama pun membuka pembicaraan.
“Setiap
kali aku lagi jenuh, banyak pikiran dan tekanan. Aku selalu diam di bukit sini,
karena hanya di sini aku bisa mendapatkan ketenangan. Aku merasa lebih dekat
dengan-Nya di tempat seperti ini. Aku merasa bahwa aku hanya berdua saja
dengan-Nya di alam terbuka seperti ini.”
“Hmm..
Aku heran, kenapa kita harus sholat?” tanya Lilia begitu terlihat sedikit
kesal.
“Kadang,
aku suka bertanya sendiri. Kenapa aku hidup, kenapa aku harus ada di dunia ini.
dan kenapa semua orang memiliki banyak Tuhan. Aku heran, aku bingung. Mereka seperti
memperebutkan Tuhan. Tapi, baik ke manusia lainnya hanya ketika mereka butuh. Bukannya
aku gak percaya adanya Tuhan. Tapi, aku bingung. Tuhan itu yang benernya yang
mana?” kata Lilia melanjutkan pembicaraan.
“Kamu
meyakini yang mana? Pak Sutarno itu getol ibadahnya, ke mesjid tiap hari. Gak lupa
sholat berjamaah. Kamu gak meyakini bahwa itu adalah agama yang paling lurus
dan benar?”
“Kenapa
ada agama? Kenapa semua punya agama yang berbeda. Dan kenapa, setiap tahun yang
berlaku pun berbeda. Kenapa begitu banyak perbedaan di dunia ini? Kenapa juga,
orang-orang terlalu banyak mengutarakan perbedaan. Bagaimana mereka yang tak
mengerti apa arti dan makna dari perbedaan.”
“Hentikan
pemikiran liarmu! Kamu cukup mempercayainya saja, kamu cukup taati-Nya saja. Kamu
tidak akan dipandang hebat dengan banyaknya dan pandainya kamu berbicara dan
berpikir dengan logika-logikamu. Jujur, aku merasa tersakiti atas pernyataanmu
kali ini.” Tama pun beranjak pergi dan menjauh dari Lilia.
Tetapi,
tak lama lagi. Tama pun kembali dan duduk bersama dengan Lilia. Nampaknya Tama
tengah bersikap salah dan sangat bodoh jika harus memilih pergi karena
mengikuti amarahnya. Seharusnya, Tama bisa membimbing dan mencoba meluruskan
pemikiran Lilia.
“Kenapa
balik lagi?” Tanya Lilia melirik tajam.
“Hanya
ingin menyampaikan sesuatu. Kamu dengarkan baik-baik. Jika memang kamu begitu
pandai dengan logika-logikamu, perhatikan semua ciptaan ini. Pikirkanlah dengan
matang. Tak ada paksaan dalam agama. Hanya saja, aku tak ingin kamu menderita
akhirnya. Dengan membawa segunung penyesalan. Jangan membawa tuhan-tuhan yang
lain. Pikirkan saja akhlakmu!” Tama pun kembali pergi dari Lilia.
Lilia
pun berpikir banyak sekali. Hingga sampai pada saat ia kembali ke rumahnya, dan
mendapati nenek serta bibinya sedang shalat. Lilia berpikir dengan keras. Ia pun
pergi ke toilet, setelah itu ia
membasuh wajahnya tiga kali. Ia pun bercermin.
Tak
lama kemudian, air matanya menetes. Ia begitu merindukan ibundanya. Sedang apa ibundanya
itu. Lilia mencoba untuk mengalahkan egonya, ia mencoba untuk mengalah pada
pemikiran-pemikirannya yang tajam. Ia menggunakan hati nuraninya berbicara. Kemudian,
ia mengingat kembali masa-masa sekolahnya dulu, saat ia masih duduk di bangku
SMP. Ia malah sering pergi ke toilet dan
kantin daripada ke mushalla.
“Ya,
tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya. Mustahil bagi manusia untuk menciptakan
semua itu. Sebutir debu pun nyaris hilang dari genggaman. Asyhadu alaa ilaha ilallah, wa asyhadu annaa muhammadar rasulullah”
Tapi,
rupanya Lilia masih malu-malu untuk mengenakan mukena. Ia malu jikalau ia
diusili oleh bibinya. Lilia pun gamang seketika. Beberapa kali ia melihat ke
arah sajadah dan mukena. Namun tak juga ia berani mencoba.
“Dobrak
segala keraguanmu. Ibadah bukan untuk dipandang manusia, tetapi Allah. Sholatlah
sekarang juga, sebelum petugas Allah datang menghampirimu.” Ucap bibinya.
“Bibi
kok tau sih” gumamnya dalam hati, “petugas apa?” kata Lilia keheranan.
“Malaikat
maut, kamu ini kayak gak pernah belajar agama islam saja.” Tukas bibinya.
“Oh..”
jawab Lilia sembari mengambil sajadah yang terletak di atas kasur.
Perlahan,
ia membuka dan mengamparkan sajadahnya itu.
“Haduuh,
sholat gak yaaa..” pikirnya yang masih saja malu.
“Ah,
sudahlah. Tinggal sholat aja apa susahnya.” Ketika sudah rapi dengan mengenakan
kain mukena. Tiba-tiba saja ia mengeluh.
“Baca
apa yah. Aku gak hafal semua. Aduh..” keluhnya sambil menepak-nepak jidatnya
tiga kali.
“Ah,
sholat aja deh. Yang penting niatnya dulu.” Lilia pun akhirnya shalat meskipun
tak hafal semua bacaan shalatnya.
Seusai
shalat, ia merasa seperti hidup di antara beberapa pohon. Adem. Perasaannya pun
berubah menjadi damai. Melihat rambutnya yang berwarna merah dan juga pink di
beberapa helainya, Lilia merasa malu. Benar-benar malu. Ia merasa tak percaya
diri jika harus mengenakan busana yang serba terbuka, juga dengan rambutnya
yang terlihat seperti orang gila.
“Ih,
aku perempuan jadi-jadian ya? Dulu, aku emang kelihatan cantik dengan pakaian
yang serba minim begini, ini trendi loh. Tapi, kenapa waktu aku pakai mukena
dan shalat tadi. Aku rasa, aku pakai pakaian yang begini kayak gak pake baju
ya. Aduh.. aaaah aku harus gimana ini? Masa pake mukena?” gerutunya sambil
menepak-nepak pipinya beberapa kali.
***
Keesokan Harinya
“Kek,
aku pingin ikut pengajian dong sama anak-anak di sana. Aku malu.” Kata Lilia kepada
kakeknya yang tengah membaca Koran di teras.
“Alhamdulillah, ya kesana saja lah. Kenalan
sama perempuan-perempuan di sana.” Jawab kakeknya penuh dengan senyuman.
“Tapi
aku malu kek dengan pakaian yang kayak gini. Terus, rambut aku yang warna-warni
gini harus digimanain?” keluh Lilia.
Neneknya
pun datang sembari memegang pundak Lilia. Dan berkata,
“Kamu
pinjam baju milik Bi Uni, pasti ia pinjamkan.”
Akhirnya,
Lilia pun mengenakan busana panjang dan serba tertutup. Hingga saat ia
mengikuti pengajian dan bertemu dengan Pratama, pria itu pun begitu tercengang
melihat perubahan Lilia yang begitu drastis. Ia tak menyangka bahwa Lilia akan
berubah secepat itu. Tama pun hanya bisa tersenyum bangga melihat penampilan
Lilia kali ini.
“Subhanallah. Ia begitu cantik mengenakan
jilbab. Astaghfirullahaladhim..” Tama
pun memalingkan pandangannya.
***
Pengajian
pun selesai, Lilia berhasil memiliki beberapa teman akhwat. Ketika Lilia sedang
berjalan menuju rumah, ia bertemu dengan Pratama di belokan ujung ke dua. Lilia
pun tersenyum kepada Tama, Tama pun menundukan pandangannya.
“Kenapa
perasaan aku jadi malu gini ya sama Tama, jantung aku juga kerasa berdetak
lebih kencang, panas. Aduh, jadi panas dingin. Aku kenapa yah?” gumam Lilia
dalam hati.
Lilia
pun sampai di rumahnya. Hingga beberapa hari terlewati, hampir selesai Lilia
menikmati waktu liburannya di desa ini. Tapi, senyuman Lilia kepada Tama di
sore itu memang senyumannya yang terakhir. Sampai detik ini pun, Lilia belum
bertemu dengan Pratama lagi. Hingga sebuah rasa bernama rindu pun muncul. Hanya
tinggal tiga hari lagi Lilia menghabiskan waktunya di desa ini. Lilia berharap
agar bertemu Pratama sebelum ia pulang ke Jakarta.
Tidur
hingga bertemu tidur lagi, menikmati udara sejuk di pagi hari di atas bukit
selalu, dan begitu selalu selama hampir satu bulan lamanya Lilia tinggal di
rumah kakeknya. Dan hari ini adalah hari terakhir Lilia menikmati udara di
pedesaan ini. Lilia menunggu Pratama di atas bukit, saat pertama kali ia
melihat Pratama, dan juga berdiskusi kecil dengan Tama. Lilia menunggu dan
terus menunggu. Namun, sampai satu jam lamanya pun. Tama tak juga datang.
“Ah,
berasa kayak di sinetron. Yaudah, aku pulang ya Tama. Terimakasih atas
nasihatmu waktu itu. Aku tau sekarang. Aku pulang ke Jakarta sore ini. Semoga,
suatu hari nanti kita dapat bertemu lagi. Lilia” Ia tuliskan semua
pesan-pesannya di secarik kertas dan ia taruh di atas bukit itu dengan
ditindihkannya batu kecil yang unik yang selalu ia mainkan guna menahan kertas
itu tidak terbawa oleh angin.
Lilia
pun akhirnya pulang ke Jakarta dengan meninggalkan sekotak melodi hitam. Dimana
semua senandung kisahnya begitu kotor, hitam, seperti halnya debu yang telah
menggunduk sekian lamanya. Di desa itulah, tempat dimana ia meninggalkan
sekotak masalalunya yang begitu mengenaskan. Beragama, namun hidup tak
beragama. Dan setelah 2 jam lamanya kepergian Lilia, Tama pun datang ke atas
bukit. Dan ia membaca apa yang telah dituliskan oleh Lilia untuknya. Tama hanya
tersenyum kecil ketika membacanya. Ia berpikir, bahwa Lilia mulai tertarik
kepadanya. Tapi, sangat tak terbesit di dalam benaknya. Tama hanya berharap,
agar Lilia dapat menjadi wanita yang menghiasi dunia karena keindahannya.