Entahlah, kok bisa ya mereka menikah dengan pesta yang "cukup mewah" itu. Kalau mengingat berapa biaya yang harus dikeluarkan, ya ampun lagi-lagi aku ingin berteriak menjerit kenapa harus seperti ini cerita cinta di jaman sekarang.
Aku terhenti di titik ini, bingung menentukan langkah. Kemana? Kemana harus ku pijakkan? Bola mataku melirik kesana-kemari, melihat apa saja kemungkinan yang dapat aku jadikan acuan untuk bisa melangkah.
Terkadang aku merasa seperti hamba yang sombong kepada Tuhannya, kenapa? Bukankah Tuhan kita semua itu Maha Kaya, Maha Baik, Maha Bijaksana dan Maha Mengabulkan apa-apa yang hamba-Nya pinta?
Tapi ternyata bukan, bukan itu yang menjadi alasan mengapa aku tetap terdiam pada titik ini.
Jawabannya, "kamu". "Kamu" yang namanya selalu berseliweran di dalam kepalaku, rasanya sulit sekali untuk membuka hati dan membunuh semua angan-angan atau ingin-ingin yang kuciptakan sendiri.
Aku memang tak ingin lagi bermain dengan angan-angan yang tak menjadi sebuah jalan, seperti yang sudah-sudah. Jalan itu tertutup dan memaksaku untuk berbalik badan dan kembali. Kembali? Tidak, tapi memperbaiki arah langkah.
Kemarin-kemarin, aku mengakui kalau langkahku seringkali tergesa, hingga akhirnya terlalu banyak tempat yang kusinggahi tanpa tinggal. Aku hanya meninggalkan bercak-bercak luka pada seseorang dan kebanyakan mereka-mereka yang singgahlah yang mencabik-cabik setiap harap dan do'a baruku. Namun setelah dipikir-pikir, tidak seperti itu. Tuhan menyelamatkan aku untuk kesekian kalinya. Sederhananya, bukan mereka yang menjadi jodohku.
Lalu, siapa?
Ada nama kamu yang sudah terpatri dan tertanam begitu dalam di sini, di hati ini. Itulah alasan mengapa aku selalu sendiri begini, hatiku sudah terkunci mati dengan simpul yang tak mudah dimengerti, bahkan aku sendiri pun tak memahami bagaimana cara membuka simpul yang seperti itu.
Rasa-rasanya aku hanya ingin "kamu", boleh?
Sepertinya bisa, tapi waktu tunggu yang kau berikan kepadaku itu yang membuat aku setengah mati ingin melebur. Ah, kenapa pembuktian cinta harus sebegini rumitnya? Adakah sebenarnya jalan yang lebih mudah untukku melanjutkan perjalanan menuju perahu besar itu?
Tapi aku ingin, "kamu". Bagaimana ini?
SI Itu, kok nikahnya berkali-kali
BalasHapusMungkin bukan kita tak tahu kak. Hanya saja kita tak mau.
BalasHapusBukan tak tahu caranya, tapi tak mau tahu caranya. Karena kita tak mau merelakan 'namanya' terkikis dan hilang.
Insyaallah jika kita mau merelakan, Allah akan menunjukan jalan terbaik-Nya :)