Selasa, 28 Januari 2014

Menghapus Si Hitam Yang Mengejar

Edit Posted by with No comments


“Kalau melihat Timeline di Facebook, waktu itu bergulir serasa cepat sekali. Entah karena terlalu sibuk update status sehingga waktu diabaikan begitu saja, atau..” Gumam seorang pria genap berusia 20th anak semata wayang ibundanya itu, sebut saja dia Dicky.
            Dicky seorang pria tampan yang selalu diincar para gadis, dahulu ketika dia masih berusia belasan tahun. Tepat ketika dia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), ada seorang gadis yang begitu ia cintai, namanya Widya. Widya yang terlihat begitu anggun, berparas cantik, dan begitu ia cintai. Namun sayangnya, Widya tak pernah memandang Dicky sedikitpun. Entah apa sebabnya, padahal banyak teman-teman Widya sangat mendukung jika Dicky dan Widya bisa memiliki hubungan yang lebih, bukan hanya sebatas teman belajar ketika di rumah. Dicky dan Widya berbeda sekolah, tapi mereka berdekatan rumahnya. Hanya terhalang oleh 2 rumah, samping kiri sebelah rumah Dicky.
            Sampai saat ini pun, cinta Dicky kepada gadis itu masih bergelora di hatinya. Bisikan untuk memiliki gadis itu semakin terngiang di telinga Dicky, hingga akal sehatnya tergantikan oleh pemikiran-pemikiran bodoh yang ada pada dirinya.
            Sore itu, Widya baru saja selesai mengajar di sekolah dasar dekat SMA nya dulu. Dan kebetulan juga, bertemulah kedua insan itu di dekat patung kartini yang terletak tepat di depan SMA nya itu. Dicky memandang wajah Widya dengan dalamnya. Kemudian..
            “Assalamu’alaikum, Widya..” Kata Dicky sambil melemparkan senyuman.
            “Wa’alaikumussalaam..” Jawab Widya singkat sambil menundukkan pandangannya dan berlalu dari hadapan Dicky.
            Dicky hanya berdiam diri, membiarkan gadis yang dicintainya pergi dan berlalu begitu saja. Dicky pun melanjutkan perjalanannya menuju sebuah tempat dimana dia dan teman-temannya suka berkumpul.
            “Hai Dicky..” Teriak seorang gadis berpenampilan seperti pria (tomboy) dan mendekati Dicky.
            “Hmm.. Udah lama kamu di sini?” Tanya Dicky sambil menepuk bahu gadis yang sedang diajak bicaranya itu.
            “Nggak, baru 15 menit kok. Kenapa wajah kamu? Pucat gitu.” Jawab gadis itu sambil menertawakan Dicky.
            “Ah, ada rokok gak? Minta dong. Stres aku.” Kata Dicky sambil duduk di atas kaleng besar dekat pepohonan yang rindang.
            “Rokok? Ada tuh di warung. By The Way kenapa sih kamu Ki?” Tanyanya lagi memaksa.
            “Biasa deh, Widya. Ayolah Nas.. Mana rokoknya. Beliin dong!” Jawab Dicky sambil mendorong tubuh Nasha agar Nasha mau membelikan rokok untuknya.
            “Ih, iya iya iya. Tunggu sebentar.” Jawab Nasha.
            Nasha pun pergi ke warung untuk membelikan rokok untuk sahabat terdekatnya itu. Dan ketika Dicky sedang sendiri menunggu Nasha kembali. Datanglah beberapa orang pria dan satu wanita sedang berbicara sesuatu yang terlihatnya seperti pembicaraan rahasia. Dicky pun bersembunyi di balik pepohonan yang berada satu langkah dekat dengan dirinya. Tak melihat ada bungkus aqua di bawah dekat kakinya, terinjaklah bungkus aqua itu oleh Dicky. Dan..
            “Suara apa itu?” Tanya seorang gadis di antara sekumpulan orang-orang itu.
            “Kalau ada yang mendengar pembicaraan kita ini, pasti bakal terjadi hal yang di luar dugaan. Kayaknya kita pindah aja dari sini.” Kata salah satu seorang pria diantaranya.
            Mereka pun berpindah tempat, dan Dicky diam-diam mengikuti kemana mereka pergi. Sementara Dicky sedang menguntit ketiga orang itu. Nasha pun kembali ke tempat semula, namun Dicky sudah tiada. Nasha pun mencari kemana perginya Dicky.
            “Seperti ada yang mengikuti kita di belakang.” Kata salah satu pria diantara mereka.
            Dicky pun bersembunyi di balik mobil yang ada di depannya. Mereka menoleh ke kiri, ke kanan, dan ke belakang namun memang tak ada satu orang pun dalam pandangannya.
            Dan ketika itu sedang terjadi, setelah pulang ke rumahnya. Widya pun kembali pergi ke tempat dimana dia harus kursus menjahit. Widya melaju ke arah yang sama dimana Dicky sedang menguntit ketiga orang tersebut.
            Akhirnya, Nasha pun menemukan Dicky dan Nasha pun memanggil sahabatnya itu. Dicky tak juga mendengar karena terlalu fokus menguntit orang-orang itu, kemudian ditarik lah baju Dicky oleh Nasha yang sambil berlari mengejarnya.
            “Aduh..” teriak Dicky terkaget.
            Nasha pun cekikikan karena melihat sahabatnya aneh dan berekspresi yang sangat lucu sehingga membuat Nasha tertawa.
            “Apa sih” Jawab Dicky ketus dan pandangan matanya terus mengintai ketiga orang yang diikutinya itu.
            “Kamu ngapain, kan tadi aku disuruh beliin kamu rokok. Gimana sih” Jawab Nasha kesal.
            Beberapa menit dari itu, Widya pun terlintas di pandangan Dicky sedang mengenakan motor matic vario-nya. Mengenakan jaket berwarna hijau, dan jilbabnya yang panjang itulah yang membuat Dicky terkagum-kagum kepada sosok Widya. Nasha cemburu melihat Dicky memandang Widya seperti itu. Nasha pun berbalik badan dan meninggalkan Dicky.
            “Widyaa…” teriak seorang pria dari kejauhan yang tak lain adalah salah satu pria yang sedang diikuti oleh Dicky.
            Widya pun terhenti dan melirik ke belakang mencari di mana suara itu berasal. Dicky membiarkan Nasha pergi meninggalkannya, dan dia terus memperhatikan orang-orang tersebut yang ternyata kenal dengan gadis yang dicintainya. Widya pun mendekati orang-orang itu, dan berbicara sesuatu.
            “Ngobrol apasih mereka?” Gumam Dicky yang terlihat begitu fokus memperhatikan.
            “Oh, makasih banyak. Iya nanti Widya sampaikan” Terdengar dari mulut Widya kepada gadis yang bersama dengan orang-orang itu.
            “Ah, gak penting. Ngapain aku harus ngikutin mereka. Dikira siapa.” Ketus Dicky sambil menginjak rokok yang sudah dihisapnya itu. Dicky pun kembali menuju rumahnya.
            Bayang wajah Widya begitu mempesona dalam benak Dicky. Entah harus dengan cara yang bagaimana lagi agar Widya mau memandang Dicky dan memberikan kesempatan kepada Dicky untung mengenalnya lebih jauh lagi. Tapi, Dicky mulai penasaran tentang apa yang baru saja dilihatnya itu. Memang ketiga orang itu siapa. Dan apa urusannya dengan Widya. Apa yang dititipkan gadis itu kepada Widya.
            shit.. kenapa aku harus mikirin dia terus?”
            Dan kisah di sisi lainnya mengenai Widya. Widya yang baru saja mendapatkan sebuah titipan dari gadis tadi yang ternyata adalah saudara sepupunya yang tinggal jauh dari rumah Widya namun sedang menjalankan tugasnya sebagai polisi, dan kedua pria itu adalah teman-temannya dari kepolisian.
            Dicky memang berbeda dengan ayahnya, ayahnya yang terkenal dengan Si Jago. Memang begitu jauh dari pendidikan dan agama. Sehingga yang dilakukan setiap harinya bermain judi dan kalah judi, menang dan membayar hutang untuk menutupi kerugiannya itu. Ibunya memang sudah lama meninggal karena tertusuk oleh pisau yang sedang digenggam oleh teman dari suaminya karena sedang mabuk berat ketika malam dimana Dicky sedang sakit demam diusianya yang masih sangat kecil. Namun, Dicky tumbuh menjadi pria yang santun, dan baik hati. Meski terkadang selalu terjadi kekacauan di rumahnya, ya karena ulah bapaknya sendiri. Selama ini yang menjadi teman bicara Dicky adalah Nasha. Sahabat dia sedari dia kecil, meskipun Nasha terlihat begitu tomboy, tapi Nasha memang memiliki hati yang baik dan setia kepada sahabatnya walau Nasha tau, ayahnya Dicky memang bukan orang baik. Saat ini, ayahnya sedang ditahan oleh pihak kepolisian karena ulahnya yang selalu saja membuat Dicky tak tahan dan membuat onar dimana-mana.
            Keesokan harinya, Nasha nekat mencari Widya dan mencari tahu alasan kenapa Widya tak pernah mau melihat Dicky dan memberikan kesempatan kepada Dicky tentang cinta itu.
            “Nas, bukannya Widya gak mau dan gak suka sama Dicky. Bukan itu.”
            “Terus kenapa Widya?”
            “Nasha tau penyebab ayahku meninggal?” Tanya Widya dengan santai.
            “Emang kenapa?” Jawab Nasha sedikit penasaran.
            “Waktu itu, ayahku sedang sakit. Parunya ada benjolan, nah waktu itu Widya sama ibu anter ayah ke rumah sakit. Waktu di jalan, Widya lihat ayahnya Dicky sedang mabuk berat sama teman-temannya di warung Pak Karjo. Dan setelah itu, ayahnya Dicky menghampiri kami yang sedang membopong ayah, karena waktu itu Widya belum bisa pake motor dan gak ada kendaraan lain selain becak. Ayahnya Dicky pun melemparkan botol lalu terkena pada kaki ibu, memang tak pecah. Tapi, karena terlalu lama bertengkar dengan ayahnya Dicky. Nyawa ayah Widya udah gak ada disitu.”
            “Jadi, kamu dendam sama Dicky?” Tanya Nasha.
            “Dendam gak ada sih Nas, tapi ibuku. Ibu selalu melarang aku dekat dengan Dicky. Jangan sampai. Ibu takut kalau-kalau aku diapa-apain sama Dicky, karena kata ibu. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.” Jelas Widya.
            Nasha hanya terheran-heran dan bingung harus berkata apalagi.
            “Sampaikan saja salamku dan maafku kepada Dicky.” Kata Widya sambil pergi dan menutup pintu rumahnya.
            Nasha pun menghampiri Dicky yang sedang sibuk memainkan handphonenya di teras rumah.
            “Dicky.. aku mau bilang sesuatu” Kata Nasha melemas dan terduduk di lantai saat itu.
            “Loyo banget, kenapa? Mau bilang apa kamu?” Tanya Dicky sedikit heran.
            “Soal Bapak kamu dan Widya..”
            “Emang kenapa?”
            “Gara-gara bertengkar hebat dengan bapakmu, bapaknya Widya jadi gak terselamatkan nyawanya waktu beliau sakit parah.”
            Mendengar cerita itu hati Dicky serasa tercabik, perih. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi, padahal Dicky tak berdosa apapun terhadap ayahnya, apalagi cinta yang ada untuk Widya dalam hati Dicky pun memang tak ada salahnya. Selama ini Dicky tak pernah bersikap kurang ajar kepada Widya, tapi mengapa keadaannya serumit ini. Dicky hanya bisa berpasrah atas semua yang terjadi. Dan dia pun memutuskan untuk melupakan harapan dan cintanya kepada gadis bernama Widya itu. Berharap suatu saat nanti akan ada sosok wanita indah yang bisa mengganti posisi Widya di hati Dicky.
“Memang tak akan ada yang bisa mengganti cinta dari Ibunda.
Meski telah lama tiada, namun kasih sayangnya sampai saat ini pun masih terasa.
Memang lelah mengarungi hidup yang hanya sebatang kara.
Ayahanda seolah tiada, berteduh di jeruji besi karena kenistaannya.
Gadis elok itupun seolah tiada gunanya.
Hanya senyuman dan kepalanya yang tertunduklah yang menjadi gambaran cinta.
Usai..
Semua harapan pupus saat ini juga.
Seindah dan sepahit apapun kejadian di dunia
Hanya kepada-Mu lah tempat kembali yang indah.”

Dicky Azkara

0 komentar:

Posting Komentar