“Kalau melihat Timeline
di Facebook, waktu itu bergulir
serasa cepat sekali. Entah karena terlalu sibuk update status sehingga waktu diabaikan begitu saja, atau..” Gumam
seorang pria genap berusia 20th anak semata wayang ibundanya itu,
sebut saja dia Dicky.
Dicky
seorang pria tampan yang selalu diincar para gadis, dahulu ketika dia masih
berusia belasan tahun. Tepat ketika dia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas
(SMA), ada seorang gadis yang begitu ia cintai, namanya Widya. Widya yang
terlihat begitu anggun, berparas cantik, dan begitu ia cintai. Namun sayangnya,
Widya tak pernah memandang Dicky sedikitpun. Entah apa sebabnya, padahal banyak
teman-teman Widya sangat mendukung jika Dicky dan Widya bisa memiliki hubungan
yang lebih, bukan hanya sebatas teman belajar ketika di rumah. Dicky dan Widya
berbeda sekolah, tapi mereka berdekatan rumahnya. Hanya terhalang oleh 2 rumah,
samping kiri sebelah rumah Dicky.
Sampai
saat ini pun, cinta Dicky kepada gadis itu masih bergelora di hatinya. Bisikan
untuk memiliki gadis itu semakin terngiang di telinga Dicky, hingga akal
sehatnya tergantikan oleh pemikiran-pemikiran bodoh yang ada pada dirinya.
Sore
itu, Widya baru saja selesai mengajar di sekolah dasar dekat SMA nya dulu. Dan kebetulan
juga, bertemulah kedua insan itu di dekat patung kartini yang terletak tepat di
depan SMA nya itu. Dicky memandang wajah Widya dengan dalamnya. Kemudian..
“Assalamu’alaikum,
Widya..” Kata Dicky sambil melemparkan senyuman.
“Wa’alaikumussalaam..”
Jawab Widya singkat sambil menundukkan pandangannya dan berlalu dari hadapan
Dicky.
Dicky
hanya berdiam diri, membiarkan gadis yang dicintainya pergi dan berlalu begitu
saja. Dicky pun melanjutkan perjalanannya menuju sebuah tempat dimana dia dan
teman-temannya suka berkumpul.
“Hai
Dicky..” Teriak seorang gadis berpenampilan seperti pria (tomboy) dan mendekati
Dicky.
“Hmm..
Udah lama kamu di sini?” Tanya Dicky sambil menepuk bahu gadis yang sedang
diajak bicaranya itu.
“Nggak,
baru 15 menit kok. Kenapa wajah kamu? Pucat gitu.” Jawab gadis itu sambil
menertawakan Dicky.
“Ah,
ada rokok gak? Minta dong. Stres aku.” Kata Dicky sambil duduk di atas kaleng
besar dekat pepohonan yang rindang.
“Rokok?
Ada tuh di warung. By The Way kenapa
sih kamu Ki?” Tanyanya lagi memaksa.
“Biasa
deh, Widya. Ayolah Nas.. Mana rokoknya. Beliin dong!” Jawab Dicky sambil
mendorong tubuh Nasha agar Nasha mau membelikan rokok untuknya.
“Ih,
iya iya iya. Tunggu sebentar.” Jawab Nasha.
Nasha
pun pergi ke warung untuk membelikan rokok untuk sahabat terdekatnya itu. Dan
ketika Dicky sedang sendiri menunggu Nasha kembali. Datanglah beberapa orang
pria dan satu wanita sedang berbicara sesuatu yang terlihatnya seperti
pembicaraan rahasia. Dicky pun bersembunyi di balik pepohonan yang berada satu
langkah dekat dengan dirinya. Tak melihat ada bungkus aqua di bawah dekat
kakinya, terinjaklah bungkus aqua itu oleh Dicky. Dan..
“Suara
apa itu?” Tanya seorang gadis di antara sekumpulan orang-orang itu.
“Kalau
ada yang mendengar pembicaraan kita ini, pasti bakal terjadi hal yang di luar
dugaan. Kayaknya kita pindah aja dari sini.” Kata salah satu seorang pria
diantaranya.
Mereka
pun berpindah tempat, dan Dicky diam-diam mengikuti kemana mereka pergi.
Sementara Dicky sedang menguntit ketiga orang itu. Nasha pun kembali ke tempat
semula, namun Dicky sudah tiada. Nasha pun mencari kemana perginya Dicky.
“Seperti
ada yang mengikuti kita di belakang.” Kata salah satu pria diantara mereka.
Dicky
pun bersembunyi di balik mobil yang ada di depannya. Mereka menoleh ke kiri, ke
kanan, dan ke belakang namun memang tak ada satu orang pun dalam pandangannya.
Dan
ketika itu sedang terjadi, setelah pulang ke rumahnya. Widya pun kembali pergi
ke tempat dimana dia harus kursus menjahit. Widya melaju ke arah yang sama
dimana Dicky sedang menguntit ketiga orang tersebut.
Akhirnya,
Nasha pun menemukan Dicky dan Nasha pun memanggil sahabatnya itu. Dicky tak
juga mendengar karena terlalu fokus menguntit orang-orang itu, kemudian ditarik
lah baju Dicky oleh Nasha yang sambil berlari mengejarnya.
“Aduh..”
teriak Dicky terkaget.
Nasha pun cekikikan karena melihat
sahabatnya aneh dan berekspresi yang sangat lucu sehingga membuat Nasha
tertawa.
“Apa
sih” Jawab Dicky ketus dan pandangan matanya terus mengintai ketiga orang yang
diikutinya itu.
“Kamu
ngapain, kan tadi aku disuruh beliin kamu rokok. Gimana sih” Jawab Nasha kesal.
Beberapa
menit dari itu, Widya pun terlintas di pandangan Dicky sedang mengenakan motor matic vario-nya. Mengenakan jaket
berwarna hijau, dan jilbabnya yang panjang itulah yang membuat Dicky
terkagum-kagum kepada sosok Widya. Nasha cemburu melihat Dicky memandang Widya
seperti itu. Nasha pun berbalik badan dan meninggalkan Dicky.
“Widyaa…”
teriak seorang pria dari kejauhan yang tak lain adalah salah satu pria yang
sedang diikuti oleh Dicky.
Widya
pun terhenti dan melirik ke belakang mencari di mana suara itu berasal. Dicky
membiarkan Nasha pergi meninggalkannya, dan dia terus memperhatikan orang-orang
tersebut yang ternyata kenal dengan gadis yang dicintainya. Widya pun mendekati
orang-orang itu, dan berbicara sesuatu.
“Ngobrol
apasih mereka?” Gumam Dicky yang terlihat begitu fokus memperhatikan.
“Oh,
makasih banyak. Iya nanti Widya sampaikan” Terdengar dari mulut Widya kepada
gadis yang bersama dengan orang-orang itu.
“Ah,
gak penting. Ngapain aku harus ngikutin mereka. Dikira siapa.” Ketus Dicky
sambil menginjak rokok yang sudah dihisapnya itu. Dicky pun kembali menuju
rumahnya.
Bayang
wajah Widya begitu mempesona dalam benak Dicky. Entah harus dengan cara yang
bagaimana lagi agar Widya mau memandang Dicky dan memberikan kesempatan kepada
Dicky untung mengenalnya lebih jauh lagi. Tapi, Dicky mulai penasaran tentang
apa yang baru saja dilihatnya itu. Memang ketiga orang itu siapa. Dan apa
urusannya dengan Widya. Apa yang dititipkan gadis itu kepada Widya.
“shit.. kenapa aku harus mikirin dia
terus?”
Dan
kisah di sisi lainnya mengenai Widya. Widya yang baru saja mendapatkan sebuah
titipan dari gadis tadi yang ternyata adalah saudara sepupunya yang tinggal
jauh dari rumah Widya namun sedang menjalankan tugasnya sebagai polisi, dan
kedua pria itu adalah teman-temannya dari kepolisian.
Dicky
memang berbeda dengan ayahnya, ayahnya yang terkenal dengan Si Jago. Memang
begitu jauh dari pendidikan dan agama. Sehingga yang dilakukan setiap harinya
bermain judi dan kalah judi, menang dan membayar hutang untuk menutupi
kerugiannya itu. Ibunya memang sudah lama meninggal karena tertusuk oleh pisau
yang sedang digenggam oleh teman dari suaminya karena sedang mabuk berat ketika
malam dimana Dicky sedang sakit demam diusianya yang masih sangat kecil. Namun,
Dicky tumbuh menjadi pria yang santun, dan baik hati. Meski terkadang selalu
terjadi kekacauan di rumahnya, ya karena ulah bapaknya sendiri. Selama ini yang
menjadi teman bicara Dicky adalah Nasha. Sahabat dia sedari dia kecil, meskipun
Nasha terlihat begitu tomboy, tapi Nasha memang memiliki hati yang baik dan
setia kepada sahabatnya walau Nasha tau, ayahnya Dicky memang bukan orang baik.
Saat ini, ayahnya sedang ditahan oleh pihak kepolisian karena ulahnya yang
selalu saja membuat Dicky tak tahan dan membuat onar dimana-mana.
Keesokan
harinya, Nasha nekat mencari Widya dan mencari tahu alasan kenapa Widya tak
pernah mau melihat Dicky dan memberikan kesempatan kepada Dicky tentang cinta
itu.
“Nas,
bukannya Widya gak mau dan gak suka sama Dicky. Bukan itu.”
“Terus
kenapa Widya?”
“Nasha
tau penyebab ayahku meninggal?” Tanya Widya dengan santai.
“Emang
kenapa?” Jawab Nasha sedikit penasaran.
“Waktu
itu, ayahku sedang sakit. Parunya ada benjolan, nah waktu itu Widya sama ibu
anter ayah ke rumah sakit. Waktu di jalan, Widya lihat ayahnya Dicky sedang
mabuk berat sama teman-temannya di warung Pak Karjo. Dan setelah itu, ayahnya
Dicky menghampiri kami yang sedang membopong ayah, karena waktu itu Widya belum
bisa pake motor dan gak ada kendaraan lain selain becak. Ayahnya Dicky pun
melemparkan botol lalu terkena pada kaki ibu, memang tak pecah. Tapi, karena
terlalu lama bertengkar dengan ayahnya Dicky. Nyawa ayah Widya udah gak ada
disitu.”
“Jadi,
kamu dendam sama Dicky?” Tanya Nasha.
“Dendam
gak ada sih Nas, tapi ibuku. Ibu selalu melarang aku dekat dengan Dicky. Jangan
sampai. Ibu takut kalau-kalau aku diapa-apain sama Dicky, karena kata ibu. Buah
tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.” Jelas Widya.
Nasha
hanya terheran-heran dan bingung harus berkata apalagi.
“Sampaikan
saja salamku dan maafku kepada Dicky.” Kata Widya sambil pergi dan menutup
pintu rumahnya.
Nasha
pun menghampiri Dicky yang sedang sibuk memainkan handphonenya di teras rumah.
“Dicky..
aku mau bilang sesuatu” Kata Nasha melemas dan terduduk di lantai saat itu.
“Loyo
banget, kenapa? Mau bilang apa kamu?” Tanya Dicky sedikit heran.
“Soal
Bapak kamu dan Widya..”
“Emang
kenapa?”
“Gara-gara
bertengkar hebat dengan bapakmu, bapaknya Widya jadi gak terselamatkan nyawanya
waktu beliau sakit parah.”
Mendengar
cerita itu hati Dicky serasa tercabik, perih. Bagaimana mungkin hal ini bisa
terjadi, padahal Dicky tak berdosa apapun terhadap ayahnya, apalagi cinta yang
ada untuk Widya dalam hati Dicky pun memang tak ada salahnya. Selama ini Dicky
tak pernah bersikap kurang ajar kepada Widya, tapi mengapa keadaannya serumit
ini. Dicky hanya bisa berpasrah atas semua yang terjadi. Dan dia pun memutuskan
untuk melupakan harapan dan cintanya kepada gadis bernama Widya itu. Berharap
suatu saat nanti akan ada sosok wanita indah yang bisa mengganti posisi Widya
di hati Dicky.
“Memang tak akan
ada yang bisa mengganti cinta dari Ibunda.
Meski telah lama
tiada, namun kasih sayangnya sampai saat ini pun masih terasa.
Memang lelah
mengarungi hidup yang hanya sebatang kara.
Ayahanda seolah
tiada, berteduh di jeruji besi karena kenistaannya.
Gadis elok itupun
seolah tiada gunanya.
Hanya senyuman
dan kepalanya yang tertunduklah yang menjadi gambaran cinta.
Usai..
Semua harapan
pupus saat ini juga.
Seindah dan
sepahit apapun kejadian di dunia
Hanya kepada-Mu
lah tempat kembali yang indah.”
Dicky Azkara
0 komentar:
Posting Komentar