Senin, 03 Maret 2014

Senja Berkabut

Edit Posted by with No comments

Dingin. Udara di tanah Pangalengan ini benar-benar diselimuti oleh kabut. Meski cakrawala di hari ini telah berwarna jingga pun, masih begitu teramat dingin.

            Seorang pria tua terduduk diantara dipan-dipan yang terlihat penuh dengan ukiran debu, serta banyaknya lilitan sarang laba-laba seperti sudah lama tak terurus. Sejauh jarak matanya memandang, terlihat lembayung senja yang cantik nan indah. Langit yang dipenuhi oleh warna antara gelap dan terang, pria tua itu tetap saja memandang dengan penuh penantian.

            “Senja, kapankah kau akan kembali nak?” Begitulah kata-katanya yang semakin hilang termakan usia serta penyakit yang sudah lama dideritanya.

            Senja, sebuah nama yang indah seperti halnya ketika langit berwarna jingga. Kehidupannya yang seolah mirip dengan senja. Hidup diantara banyaknya sudut gelap dan terang, juga sebagai peringatan bahwa kehidupan ini hanya sebentar, bergilir dan berganti. Layaknya manusia yang terlahir, namun ada kalanya manusia itu pun harus kembali menjemput kematian.

            Layaknya mentari yang hanya menyinari bumi ketika segerombol induk burung pergi dari sangkarnya mencari biji-bijian untuk anak-anaknya, ketika ayam jantan berkokok di subuh hari membangunkan sekawanan manusia yang terlelap dalam angan di tidurnya. Begitupun dengan senja, meski hanya hidup sekejap dan sekedar memberi keindahan pada langit ketika gelap kan merenggut cahaya, namun senja tetaplah jingga. Identik dengan energik dan penuh semangat.

            Pria tua itu adalah Pak Darwanto, seorang pria yang tak lain adalah ayah angkat dari Senja, sang jingga dalam hati Pak Darwanto. Mengapa harus jingga? Karena perangainya yang memberikan semangat serta kebahagiaan yang tiada terkira untuknya. Meski Senja tak seperti birunya langit ketika di pagi hari, namun Senja memberikan keindahan yang tak terperi ketika semuanya akan meninggalkan dia seorang diri dalam kegelapan malam.

            Senja, telah lama meninggalkan Desa, tempat dimana ia dibesarkan. Ketika bayi, Senja sudah berada di sebuah Yayasan Panti Asuhan. Bayi kecil, dan cantik itu kemudian diadopsi oleh Pak Darwanto beserta istrinya, karena mereka memang belum juga dikaruniai seorang anak.

            Setelah beberapa tahun Senja dibesarkan oleh orangtua angkatnya. Pak Darwanto pun menyekolahkan putrinya itu ke sekolah terdekat dari rumahnya. Hingga Senja pun memiliki teman-teman, dan tumbuh normal seperti anak-anak yang lain.

            Tepat pada usia Senja yang ke-13th, saat itu dia mulai mencari dan mengkaji dirinya sendiri. Mulai mencari-cari siapa dirinya, dan apa bakat yang ia punya. Ternyata, Senja sangat senang melukis dan juga memotret gambar alam.

            “Pak, Senja ingin sekali pergi ke Surabaya. Senja ingin mendalami apa yang Senja mampu, dengan begitu Senja bisa membuat Ibu dan juga Bapak bangga.” Kata-katanya yang lembut dan penuh dengan senyuman bermaksud untuk meluluhkan hati Bapaknya itu.

            “Bukannya Bapak tidak mengizinkan, tetapi Surabaya itu kan jauh Senja. Di Bandung juga kan ada sekolah untuk memotret dan melukis?” Kata Pak Darwanto yang terbatuk-batuk.

            “Tapi kan, di Bandung sini mana ada yang indah?” Keluh Senja seketika.

            “Bapak tak punya biaya untuk itu Senja.” Jawab Pak Darwanto sambil merebahkan tubuhnya di kursi panjang.

            Senja pun terdiam dan pikirannya terbang melayang ke daerah Surabaya. Senja berpikir, mungkin di sana dia akan menemukan berbagai macam keindahan alam yang tak ia jumpai ketika di sini. Sembari terus memikirkan bagaimana caranya untuk membujuk dan meluluhkan hati sang Ayah. Senja pun pergi ke Kebun Teh yang berada dekat dengan rumah Senja.

            Senja pun duduk di atas bukit yang jauh dari ramainya perkotaan, jauh dari pandangan orang-orang yang melintas di jalan raya.

            Ketika Senja sedang duduk termenung sendiri, tiba-tiba saja mata Senja berubah menjadi merah. Senja pun mengedipkan kedua matanya beberapa kali untuk menghilangkan rasa perih yang teramat. Tangannya mengepal dan menggenggam beberapa helai rumput di atas bukit.

            Senja pun kembali pulang ke rumah dengan perasaan yang takut dan sangat khawatir. Senja tak ingin membuat Ayah dan Ibunya bersedih hati kalau tahu bahwa Senja sedang kesakitan. Begitu sesampainya di rumah, tanpa berbicara sepatah dua patah kata pun Senja membuka pintu kamarnya, dan masuk lalu berbaring di atas tempat tidurnya.

            Pak Darwanto melihat putrinya yang berlalu begitu terburu-buru, dalam benaknya ia berpikir kalau Senja mungkin hanya kelelahan saja. Sementara itu, Ibu Minarsih istri Pak Darwanto malah pingsan ketika sedang menyiapkan makanan untuk keluarganya di dapur. Serentak Pak Darwanto terkaget dan berlari menghampiri bunyi piring yang jatuh ke lantai.

            “Astaghfirullahaladhim…” Teriak Pak Darwanto yang melihat istrinya sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri dengan menggenggam piring yang tak jauh dari kepalanya.

            Senja pun mendengar teriakan Pak Darwanto yang begitu keras. Senja ingin segera melihat apa yang terjadi, namun matanya semakin perih dan tak sanggup untuk melihat.

            “Senja… Senja…” Saut Pak Darwanto yang memanggil anaknya untuk segera membantu dia untuk membopong istrinya ke kamar.

            Senja memang mendengar sahutan Ayahnya, namun ia tak bisa bergerak melawan sakit yang dirasakannya.

            “Iya Paak…” Senja hanya mampu membalas panggilan ayahnya.

            “Kemari, nak!” Teriak Pak Darwanto dari dapur.

            Senja pun memaksakan dirinya untuk keluar dan memastikan bahwa matanya tidak apa-apa. Ia pun berjalan menuju dapur meskipun jalannya tidak karuan dan sempoyongan.

            “Innalillahi Wa innailaihi raji’un…” Kata Pak Darwanto melemas.

            Senja yang mendengar kata-kata ayahnya seketika saja terduduk dan merenung. Masih sambil mengedipkan kedua matanya, menahan rasa sakit dan perih. Menggosok-gosok matanya, namun penglihatannya semakin runyam dan buyar. Akhirnya, Senja pun menangis sendiri di atas lantai yang retak sebagiannya. Ia menangisi keadaannya yang entah mengapa terjadi dengan begitu saja, memangnya apa yang ia derita? Dan, Senja menangis deras karena keterlambatannya dia untuk menolong. Nyawa ibundanya tidak tertolong dan melayang. Ini membuat Senja begitu bersedih hati.

            Senja tak ingin membuat ayahnya bersedih hati dengan keadaannya yang saat ini. Apalagi, semenjak ayahnya berkata bahwa dia tidak mempunyai biaya untuk sekolahnya di Surabaya itu. Senja semakin tak tega untuk selalu menjadi beban di dalam keluarganya, terlebih ibundanya meninggal. Senja ingin berlari pergi dari rumah ini.

            Pak Darwanto yang mengidap penyakit diabetes pun semakin hari semakin menua, pekerjaannya yang hanya sebagai tukang jahit (konfeksi) tak cukup untuk membiayai cita-cita Senja yang teramat tinggi. Hingga akhirnya, Senja memutuskan untuk pergi dan berjanji bahwa dia akan pulang bersama dengan setumpuk penghargaan dan juga hasil potretan dirinya. Juga, membawakan seorang pria yang akan dijadikannya sebagai pendamping hidup. Pak Darwanto tak bisa menahan langkah kaki Senja dan semangatnya yang begitu menggebu. Dan setelah beberapa hari kepengurusan biaya serta perbekalan baju, akhirnya di perbatasan waktu antara gelap dan terang. Di saat cakrawala berwarna jingga, lambaian tangan Senja kepada ayahnya begitu menghunus dada, meresahkan jiwa. Itulah perpisahan terakhir seorang Senja, gadis yang entah siapa orangtuanya. Namun, begitu disayangi oleh ayah angkatnya. Itulah lambaian terakhir Senja kepada ayahnya, saat-saat senyum manis yang Senja lemparkan kepada ayahnya, begitu terngiang di pelupuk mata Pak Darwanto.

            “Senja, sudah beberapa tahun Senja ini Bapak lalui seorang diri, hanya menanti kepulanganmu. Menanti setiap janji-janji yang kau berikan kepada Bapak. Bapak tak menerima apapun kabar darimu, setelah beberapa tahun kau meninggalkan Bapak dengan berbagai macam potretan dan lukisanmu di sini. Kapankah kau akan kembali pulang kemari, Bapak tak sanggup menahan sesak di dada ini. Senja, apakah kamu tidak merindukan Bapak? Bapak memang bukan orangtua kandungmu, tetapi sayang bapak ini sungguh.” Jeritan hati Pak Darwanto begitu menggelegar sehingga membuat air matanya berjatuhan ke setiap sudut pipinya. Rindu yang tak terkira, seorang ayah tua yang merindukan anaknya pulang dari perantauan sana. Tidak ada komunikasi yang sampai, karena memang Senja dilahirkan dari keluarga yang biasa-biasa saja, jauh dari kemewahan. Alat komunikasi seperti orang-orang kaya miliki pun Senja tak punya. Uang yang Senja bawa ketika pergi pun, tidak cukup untuk memenuhi hidupnya dalam waktu setahun pun.

            Sementara di tanah yang lain. Tepatnya di Ibu Kota Provinsi Jawa Barat, Jakarta. Seorang pria bernama Yuda beserta satu orang anaknya sedang mengumpulkan biaya untuk kembali pulang menjenguk ayah dari Senja Karmila. Ya, Yuda adalah suami Senja. Dan setelah tiga tahun lamanya pernikahan, Senja pun dihadiahi seorang anak perempuan yang sengaja Senja berinama yang sama seperti dirinya. Senja Karmila. Saat ini, Senja kecil masih berusia 4 tahun. Ibunya Senja kecil ini sudah meninggal ketika Senja dilahirkan, karena Senja tak sanggup untuk menahan sesaknya dada ketika melahirkan. Nafasnya yang terbatas sehingga membuat ia tersiksa ketika mencoba melepaskan bayi yang ada di rahimnya. Dan ketika Senja menikah pun, kedua matanya sudah tidak bisa melihat dengan sempurna. Selalu ada saja bayang-bayang antara gelap dan terang melintas dalam penglihatannya. Sehingga membuat Senja tak fokus untuk berjalan. Sebelum Senja menikah, pernah ia titipkan surat untuk ayahnya di Bandung sana. Hanya saja, Senja tidak sampai ingatan untuk lanjut mengirimkan surat itu. Suratnya tergeletak di atas kasur karena lupa, saking banyaknya jadwal travelling untuk memotret gambar alam, surat-suratnya pun tak terkirim ke ayahnya.

        ***

            Begitu selesai mengepak segala baju dan perlengkapan menginap, akhirnya Yuda pun pergi menuju desa tempat dimana Senja (istrinya) dibesarkan.

            Pria tua itu sedang membuat teh manis yang hangat, karena cuacanya begitu dingin. Hujan terus mengguyur warga Desa Pangalengan ini. Tak terbesit dalam benak Pak Darwanto bahwa hari ini akan ada seorang pria beserta satu anak perempuan menjenguk dirinya.

            “Assalamu’alaikum..” Sapa Yuda ketika melihat gubuk tua yang tak lain itu adalah rumah Pak Darwanto.

            “Wa’alaikumussalaam warahmatullah.. Tunggu sebentar!” Kata Pak Darwanto sambil mengaduk-aduk tehnya.

            Pak Darwanto pun menghampiri tamunya, dan mempersilahkan mereka duduk di ruangan yang hanya teramparkan karpet kusam penuh debu.

            Yuda hanya memandang heran dan sedikit mengharu karena melihat Ayahanda istrinya begitu pucat dan terlihat seperti kelelahan, tak ada semangat dan juga gairah dalam menjalani hidupnya. Melihat sekitar yang penuh dengan banyak debu dan sarang laba-laba, Yuda prihatin dan tak tahan membendung rasa sedih juga harunya.

            “Mau mencari siapa, Nak?” Tanya Pak Darwanto sambil meletakkan cangkir yang berisi teh hangatnya di atas karpet.

            “Pak, sebelumnya saya mau memberikan surat ini kepada Bapak. Mohon diterima.” Yuda pun memberikan kumpulan kertas yang telah lama ditulis Senja istrinya teruntuk Bapak tercintanya itu.

            Pak Darwanto pun menerima sekumpulan kertas itu, dan sedikit demi sedikit membaca pesan-pesan yang tertulis di dalamnya.

            “Assalamu’alaikum Bapak, apakabar? Senja sehat di sini, Senja juga bahagia banget ada di tanah Surabaya ini. Bapak, ini adalah surat pertama Senja untuk bapak. Maaf, Senja belum bisa pulang untuk tahun ini. Karena Senja memang belum bisa mencari uang dengan begitu mudah dan banyak di sini. Senja ingat terus sama Bapak, sebenarnya Senja ingin sekali pulang, tetapi Senja tak punya ongkosnya Pak..”

            “Assalamu’alaikum Bapak.. Maaf, Senja belum bisa pulang. Alhamdulillah saat ini Senja sudah kerja di salah satu percetakan buku. Memang sangat berbenturan dengan keinginan juga cita-cita Senja untuk pergi ke sini. Saat ini, Senja tidak lagi tinggal di Surabaya. Tetapi, Senja dipindahkan ke Jakarta. Bapak, Sehatkah? Senja sangat sehat meskipun mata senja sekarang sering kabur. Seperti layaknya langit Senja, Bapak.. Senja rindu sama Bapak..”

            “Ini surat ke-tiga untuk Bapak, lagi-lagi Senja sedikit sesak karena menahan rindu yang bergejolak ini untuk Bapak, Senja takut kalau Bapak sakit di sana.”

            “Bapak, Senja saat ini sudah menikah. Tetapi, Senja tetaplah Senja yang hanya melihat setiap sudut antara gelap dan juga terang. Senja hanya sebuah pengantar dari terang menuju gelap. Bapak, Senja sangat merindukan Bapak..”

            Pak Darwanto berhenti sejenak, dan kemudian bertanya. “Lalu, kemana Senja?” Tanyanya begitu pilu dan matanya berkaca-kaca.

            “Kakek, ini Senja.” Kata Senja kecil sambil menghampiri Pak Darwanto dan memeluk kaki Pak Darwanto yang terlihat begitu keriput dan kurus.

            “Namamu Senja? Lengkapnya?” Tanya Pak Darwanto sambil mengais si Senja kecil ke pangkuannya.

            “Senja Karmila..” Kata Senja kecil.

            Degg.. Gemetarlah hati Pak Darwanto ketika mendengar nama Senja Karmila, ia teringat bahwa namanya itu adalah nama putri semata wayangnya. Tak bisa menahan segala rasa sakit dan juga rindu, akhirnya Bapak tua itu menangis dihadapan sang menantu juga cucunya.

            “Aku anaknya mamah Senja. Tapi waktu mamah melahirkan aku, mamah meninggal.” Kata Senja menjelaskan kepada kakeknya.

            Pak Darwanto benar-benar bersedih mendengar berita tersebut dari seorang bocah kecil bernama Senja pula. Yang tak lain itu adalah cucunya, ia ingat kembali ketika Senja masih kecil. Saat ia bermanja kepadanya, dekat dengan tubuhnya, dipangkunya kemana pun ia pergi. Saat berjalan-jalan di kebun teh, ketika Senja merintih kesakitan karena terjatuh, dan banyak hal indah lainnya yang Pak Darwanto ingat ketika bersama dengan Senja dahulu. Ia begitu tak menyangka, bahwa lambaian tangan anaknya ketika itu adalah lambaian yang terakhir. Senja benar-benar pergi untuk selamanya. Senja telah lama pergi meninggalkan kesedihan yang teramat dalam. Kepergian Senja, benar-benar membuat sang ayah sangat merasa kehilangan.

            “Kakek, jangan nangis. Ada Senja di sini.” Kata Senja kecil sambil mengusap air mata Pak Darwanto yang tua itu.

            Yuda pun akhirnya tetap tinggal di rumah lama istrinya, karena ingin merawat mertuanya yang sedang sakit. Juga, untuk menghibur Pak Darwanto dengan menghadirkan Senja kecil sebagai pengganti anaknya yang telah lama tiada.


SENJA BERKABUT


Cakrawala jingga  
Antara gelap dan terang  
Seolah ada namun tiada  
Dari kehidupan menuju kematian

Kala senja termenung sendiri  
Pelangi hadir membawa warna
Seketika gelap merenggut cahaya  
Bintang bertabur menyerbu cakrawala

Laksana burung yang berkicau
Jangkrik dan katak pun bersuara  
Laksana mentari pagi yang cerah  
Rembulan hadir penawar lelah

Meski kabut tebal berselimut

Rindu bersemi bak daun beringin

Andai cinta mampu ku rajut

Rindu kan sampai dibawa angin



Senja tetaplah senja

Jingganya tetap diingat

Meski rindu menjadi lara 
 Ada senyum penawar duka

 


































0 komentar:

Posting Komentar