Dingin. Udara di tanah Pangalengan ini benar-benar
diselimuti oleh kabut. Meski cakrawala di hari ini telah berwarna jingga pun,
masih begitu teramat dingin.
Seorang
pria tua terduduk diantara dipan-dipan yang terlihat penuh dengan ukiran debu, serta
banyaknya lilitan sarang laba-laba seperti sudah lama tak terurus. Sejauh jarak
matanya memandang, terlihat lembayung senja yang cantik nan indah. Langit yang
dipenuhi oleh warna antara gelap dan terang, pria tua itu tetap saja memandang
dengan penuh penantian.
“Senja, kapankah kau akan kembali nak?”
Begitulah kata-katanya yang semakin hilang termakan usia serta penyakit yang
sudah lama dideritanya.
Senja,
sebuah nama yang indah seperti halnya ketika langit berwarna jingga.
Kehidupannya yang seolah mirip dengan senja. Hidup diantara banyaknya sudut
gelap dan terang, juga sebagai peringatan bahwa kehidupan ini hanya sebentar,
bergilir dan berganti. Layaknya manusia yang terlahir, namun ada kalanya
manusia itu pun harus kembali menjemput kematian.
Layaknya
mentari yang hanya menyinari bumi ketika segerombol induk burung pergi dari
sangkarnya mencari biji-bijian untuk anak-anaknya, ketika ayam jantan berkokok
di subuh hari membangunkan sekawanan manusia yang terlelap dalam angan di tidurnya.
Begitupun dengan senja, meski hanya hidup sekejap dan sekedar memberi keindahan
pada langit ketika gelap kan merenggut cahaya, namun senja tetaplah jingga.
Identik dengan energik dan penuh semangat.
Pria
tua itu adalah Pak Darwanto, seorang pria yang tak lain adalah ayah angkat dari
Senja, sang jingga dalam hati Pak Darwanto. Mengapa harus jingga? Karena
perangainya yang memberikan semangat serta kebahagiaan yang tiada terkira untuknya.
Meski Senja tak seperti birunya langit ketika di pagi hari, namun Senja memberikan
keindahan yang tak terperi ketika semuanya akan meninggalkan dia seorang diri
dalam kegelapan malam.
Senja,
telah lama meninggalkan Desa, tempat dimana ia dibesarkan. Ketika bayi, Senja
sudah berada di sebuah Yayasan Panti Asuhan. Bayi kecil, dan cantik itu
kemudian diadopsi oleh Pak Darwanto beserta istrinya, karena mereka memang
belum juga dikaruniai seorang anak.
Setelah
beberapa tahun Senja dibesarkan oleh orangtua angkatnya. Pak Darwanto pun
menyekolahkan putrinya itu ke sekolah terdekat dari rumahnya. Hingga Senja pun
memiliki teman-teman, dan tumbuh normal seperti anak-anak yang lain.
Tepat
pada usia Senja yang ke-13th, saat itu dia mulai mencari dan
mengkaji dirinya sendiri. Mulai mencari-cari siapa dirinya, dan apa bakat yang
ia punya. Ternyata, Senja sangat senang melukis dan juga memotret gambar alam.
“Pak,
Senja ingin sekali pergi ke Surabaya. Senja ingin mendalami apa yang Senja
mampu, dengan begitu Senja bisa membuat Ibu dan juga Bapak bangga.”
Kata-katanya yang lembut dan penuh dengan senyuman bermaksud untuk meluluhkan
hati Bapaknya itu.
“Bukannya
Bapak tidak mengizinkan, tetapi Surabaya itu kan jauh Senja. Di Bandung juga
kan ada sekolah untuk memotret dan melukis?” Kata Pak Darwanto yang
terbatuk-batuk.
“Tapi
kan, di Bandung sini mana ada yang indah?” Keluh Senja seketika.
“Bapak
tak punya biaya untuk itu Senja.” Jawab Pak Darwanto sambil merebahkan tubuhnya
di kursi panjang.
Senja
pun terdiam dan pikirannya terbang melayang ke daerah Surabaya. Senja berpikir,
mungkin di sana dia akan menemukan berbagai macam keindahan alam yang tak ia
jumpai ketika di sini. Sembari terus memikirkan bagaimana caranya untuk
membujuk dan meluluhkan hati sang Ayah. Senja pun pergi ke Kebun Teh yang
berada dekat dengan rumah Senja.
Senja
pun duduk di atas bukit yang jauh dari ramainya perkotaan, jauh dari pandangan
orang-orang yang melintas di jalan raya.
Ketika
Senja sedang duduk termenung sendiri, tiba-tiba saja mata Senja berubah menjadi
merah. Senja pun mengedipkan kedua matanya beberapa kali untuk menghilangkan
rasa perih yang teramat. Tangannya mengepal dan menggenggam beberapa helai
rumput di atas bukit.
Senja
pun kembali pulang ke rumah dengan perasaan yang takut dan sangat khawatir.
Senja tak ingin membuat Ayah dan Ibunya bersedih hati kalau tahu bahwa Senja
sedang kesakitan. Begitu sesampainya di rumah, tanpa berbicara sepatah dua
patah kata pun Senja membuka pintu kamarnya, dan masuk lalu berbaring di atas
tempat tidurnya.
Pak
Darwanto melihat putrinya yang berlalu begitu terburu-buru, dalam benaknya ia
berpikir kalau Senja mungkin hanya kelelahan saja. Sementara itu, Ibu Minarsih
istri Pak Darwanto malah pingsan ketika sedang menyiapkan makanan untuk
keluarganya di dapur. Serentak Pak Darwanto terkaget dan berlari menghampiri
bunyi piring yang jatuh ke lantai.
“Astaghfirullahaladhim…” Teriak Pak
Darwanto yang melihat istrinya sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri
dengan menggenggam piring yang tak jauh dari kepalanya.
Senja
pun mendengar teriakan Pak Darwanto yang begitu keras. Senja ingin segera
melihat apa yang terjadi, namun matanya semakin perih dan tak sanggup untuk
melihat.
“Senja…
Senja…” Saut Pak Darwanto yang memanggil anaknya untuk segera membantu dia
untuk membopong istrinya ke kamar.
Senja
memang mendengar sahutan Ayahnya, namun ia tak bisa bergerak melawan sakit yang
dirasakannya.
“Iya
Paak…” Senja hanya mampu membalas panggilan ayahnya.
“Kemari,
nak!” Teriak Pak Darwanto dari dapur.
Senja
pun memaksakan dirinya untuk keluar dan memastikan bahwa matanya tidak apa-apa.
Ia pun berjalan menuju dapur meskipun jalannya tidak karuan dan sempoyongan.
“Innalillahi Wa innailaihi raji’un…” Kata
Pak Darwanto melemas.
Senja
yang mendengar kata-kata ayahnya seketika saja terduduk dan merenung. Masih
sambil mengedipkan kedua matanya, menahan rasa sakit dan perih. Menggosok-gosok
matanya, namun penglihatannya semakin runyam dan buyar. Akhirnya, Senja pun
menangis sendiri di atas lantai yang retak sebagiannya. Ia menangisi keadaannya
yang entah mengapa terjadi dengan begitu saja, memangnya apa yang ia derita?
Dan, Senja menangis deras karena keterlambatannya dia untuk menolong. Nyawa
ibundanya tidak tertolong dan melayang. Ini membuat Senja begitu bersedih hati.
Senja
tak ingin membuat ayahnya bersedih hati dengan keadaannya yang saat ini.
Apalagi, semenjak ayahnya berkata bahwa dia tidak mempunyai biaya untuk
sekolahnya di Surabaya itu. Senja semakin tak tega untuk selalu menjadi beban
di dalam keluarganya, terlebih ibundanya meninggal. Senja ingin berlari pergi
dari rumah ini.
Pak
Darwanto yang mengidap penyakit diabetes pun semakin hari semakin menua,
pekerjaannya yang hanya sebagai tukang jahit (konfeksi) tak cukup untuk
membiayai cita-cita Senja yang teramat tinggi. Hingga akhirnya, Senja
memutuskan untuk pergi dan berjanji bahwa dia akan pulang bersama dengan
setumpuk penghargaan dan juga hasil potretan dirinya. Juga, membawakan seorang
pria yang akan dijadikannya sebagai pendamping hidup. Pak Darwanto tak bisa
menahan langkah kaki Senja dan semangatnya yang begitu menggebu. Dan setelah
beberapa hari kepengurusan biaya serta perbekalan baju, akhirnya di perbatasan
waktu antara gelap dan terang. Di saat cakrawala berwarna jingga, lambaian
tangan Senja kepada ayahnya begitu menghunus dada, meresahkan jiwa. Itulah
perpisahan terakhir seorang Senja, gadis yang entah siapa orangtuanya. Namun,
begitu disayangi oleh ayah angkatnya. Itulah lambaian terakhir Senja kepada
ayahnya, saat-saat senyum manis yang Senja lemparkan kepada ayahnya, begitu
terngiang di pelupuk mata Pak Darwanto.
“Senja, sudah beberapa tahun Senja ini Bapak
lalui seorang diri, hanya menanti kepulanganmu. Menanti setiap janji-janji yang
kau berikan kepada Bapak. Bapak tak menerima apapun kabar darimu, setelah
beberapa tahun kau meninggalkan Bapak dengan berbagai macam potretan dan
lukisanmu di sini. Kapankah kau akan kembali pulang kemari, Bapak tak sanggup
menahan sesak di dada ini. Senja, apakah kamu tidak merindukan Bapak? Bapak
memang bukan orangtua kandungmu, tetapi sayang bapak ini sungguh.” Jeritan
hati Pak Darwanto begitu menggelegar sehingga membuat air matanya berjatuhan ke
setiap sudut pipinya. Rindu yang tak terkira, seorang ayah tua yang merindukan
anaknya pulang dari perantauan sana. Tidak ada komunikasi yang sampai, karena
memang Senja dilahirkan dari keluarga yang biasa-biasa saja, jauh dari
kemewahan. Alat komunikasi seperti orang-orang kaya miliki pun Senja tak punya.
Uang yang Senja bawa ketika pergi pun, tidak cukup untuk memenuhi hidupnya dalam
waktu setahun pun.
Sementara
di tanah yang lain. Tepatnya di Ibu Kota Provinsi Jawa Barat, Jakarta. Seorang
pria bernama Yuda beserta satu orang anaknya sedang mengumpulkan biaya untuk
kembali pulang menjenguk ayah dari Senja Karmila. Ya, Yuda adalah suami Senja.
Dan setelah tiga tahun lamanya pernikahan, Senja pun dihadiahi seorang anak
perempuan yang sengaja Senja berinama yang sama seperti dirinya. Senja Karmila.
Saat ini, Senja kecil masih berusia 4 tahun. Ibunya Senja kecil ini sudah
meninggal ketika Senja dilahirkan, karena Senja tak sanggup untuk menahan
sesaknya dada ketika melahirkan. Nafasnya yang terbatas sehingga membuat ia
tersiksa ketika mencoba melepaskan bayi yang ada di rahimnya. Dan ketika Senja
menikah pun, kedua matanya sudah tidak bisa melihat dengan sempurna. Selalu ada
saja bayang-bayang antara gelap dan terang melintas dalam penglihatannya.
Sehingga membuat Senja tak fokus untuk berjalan. Sebelum Senja menikah, pernah
ia titipkan surat untuk ayahnya di Bandung sana. Hanya saja, Senja tidak sampai
ingatan untuk lanjut mengirimkan surat itu. Suratnya tergeletak di atas kasur
karena lupa, saking banyaknya jadwal travelling
untuk memotret gambar alam, surat-suratnya pun tak terkirim ke ayahnya.
***
Begitu
selesai mengepak segala baju dan perlengkapan menginap, akhirnya Yuda pun pergi
menuju desa tempat dimana Senja (istrinya) dibesarkan.
Pria
tua itu sedang membuat teh manis yang hangat, karena cuacanya begitu dingin.
Hujan terus mengguyur warga Desa Pangalengan ini. Tak terbesit dalam benak Pak
Darwanto bahwa hari ini akan ada seorang pria beserta satu anak perempuan
menjenguk dirinya.
“Assalamu’alaikum..” Sapa Yuda ketika
melihat gubuk tua yang tak lain itu adalah rumah Pak Darwanto.
“Wa’alaikumussalaam warahmatullah.. Tunggu
sebentar!” Kata Pak Darwanto sambil mengaduk-aduk tehnya.
Pak
Darwanto pun menghampiri tamunya, dan mempersilahkan mereka duduk di ruangan
yang hanya teramparkan karpet kusam penuh debu.
Yuda
hanya memandang heran dan sedikit mengharu karena melihat Ayahanda istrinya
begitu pucat dan terlihat seperti kelelahan, tak ada semangat dan juga gairah
dalam menjalani hidupnya. Melihat sekitar yang penuh dengan banyak debu dan
sarang laba-laba, Yuda prihatin dan tak tahan membendung rasa sedih juga
harunya.
“Mau
mencari siapa, Nak?” Tanya Pak Darwanto sambil meletakkan cangkir yang berisi
teh hangatnya di atas karpet.
“Pak,
sebelumnya saya mau memberikan surat ini kepada Bapak. Mohon diterima.” Yuda
pun memberikan kumpulan kertas yang telah lama ditulis Senja istrinya teruntuk
Bapak tercintanya itu.
Pak
Darwanto pun menerima sekumpulan kertas itu, dan sedikit demi sedikit membaca
pesan-pesan yang tertulis di dalamnya.
“Assalamu’alaikum Bapak, apakabar? Senja
sehat di sini, Senja juga bahagia banget ada di tanah Surabaya ini. Bapak, ini
adalah surat pertama Senja untuk bapak. Maaf, Senja belum bisa pulang untuk
tahun ini. Karena Senja memang belum bisa mencari uang dengan begitu mudah dan
banyak di sini. Senja ingat terus sama Bapak, sebenarnya Senja ingin sekali
pulang, tetapi Senja tak punya ongkosnya Pak..”
“Assalamu’alaikum Bapak.. Maaf, Senja belum
bisa pulang. Alhamdulillah saat ini Senja sudah kerja di salah satu percetakan
buku. Memang sangat berbenturan dengan keinginan juga cita-cita Senja untuk
pergi ke sini. Saat ini, Senja tidak lagi tinggal di Surabaya. Tetapi, Senja
dipindahkan ke Jakarta. Bapak, Sehatkah? Senja sangat sehat meskipun mata senja
sekarang sering kabur. Seperti layaknya langit Senja, Bapak.. Senja rindu sama
Bapak..”
“Ini surat ke-tiga untuk Bapak, lagi-lagi
Senja sedikit sesak karena menahan rindu yang bergejolak ini untuk Bapak, Senja
takut kalau Bapak sakit di sana.”
“Bapak, Senja saat ini sudah
menikah. Tetapi, Senja tetaplah Senja yang hanya melihat setiap sudut antara
gelap dan juga terang. Senja hanya sebuah pengantar dari terang menuju gelap.
Bapak, Senja sangat merindukan Bapak..”
Pak
Darwanto berhenti sejenak, dan kemudian bertanya. “Lalu, kemana Senja?”
Tanyanya begitu pilu dan matanya berkaca-kaca.
“Kakek,
ini Senja.” Kata Senja kecil sambil menghampiri Pak Darwanto dan memeluk kaki
Pak Darwanto yang terlihat begitu keriput dan kurus.
“Namamu
Senja? Lengkapnya?” Tanya Pak Darwanto sambil mengais si Senja kecil ke
pangkuannya.
“Senja
Karmila..” Kata Senja kecil.
Degg.. Gemetarlah hati Pak Darwanto
ketika mendengar nama Senja Karmila, ia teringat bahwa namanya itu adalah nama
putri semata wayangnya. Tak bisa menahan segala rasa sakit dan juga rindu,
akhirnya Bapak tua itu menangis dihadapan sang menantu juga cucunya.
“Aku
anaknya mamah Senja. Tapi waktu mamah melahirkan aku, mamah meninggal.” Kata
Senja menjelaskan kepada kakeknya.
Pak
Darwanto benar-benar bersedih mendengar berita tersebut dari seorang bocah
kecil bernama Senja pula. Yang tak lain itu adalah cucunya, ia ingat kembali
ketika Senja masih kecil. Saat ia bermanja kepadanya, dekat dengan tubuhnya,
dipangkunya kemana pun ia pergi. Saat berjalan-jalan di kebun teh, ketika Senja
merintih kesakitan karena terjatuh, dan banyak hal indah lainnya yang Pak
Darwanto ingat ketika bersama dengan Senja dahulu. Ia begitu tak menyangka,
bahwa lambaian tangan anaknya ketika itu adalah lambaian yang terakhir. Senja
benar-benar pergi untuk selamanya. Senja telah lama pergi meninggalkan
kesedihan yang teramat dalam. Kepergian Senja, benar-benar membuat sang ayah
sangat merasa kehilangan.
“Kakek,
jangan nangis. Ada Senja di sini.” Kata Senja kecil sambil mengusap air mata
Pak Darwanto yang tua itu.
Yuda
pun akhirnya tetap tinggal di rumah lama istrinya, karena ingin merawat
mertuanya yang sedang sakit. Juga, untuk menghibur Pak Darwanto dengan
menghadirkan Senja kecil sebagai pengganti anaknya yang telah lama tiada.
SENJA BERKABUT
Cakrawala jingga
Antara gelap dan terang
Seolah ada namun tiada
Dari kehidupan menuju kematian
Kala senja termenung sendiri
Pelangi hadir membawa warna
Seketika gelap merenggut cahaya
Bintang bertabur menyerbu cakrawala
Laksana burung yang berkicau
Jangkrik dan katak pun bersuara
Laksana mentari pagi yang cerah
Rembulan hadir penawar lelah
Antara gelap dan terang
Seolah ada namun tiada
Dari kehidupan menuju kematian
Kala senja termenung sendiri
Pelangi hadir membawa warna
Seketika gelap merenggut cahaya
Bintang bertabur menyerbu cakrawala
Laksana burung yang berkicau
Jangkrik dan katak pun bersuara
Laksana mentari pagi yang cerah
Rembulan hadir penawar lelah
Meski kabut tebal berselimut
Rindu bersemi bak daun beringin
Andai cinta mampu ku rajut
Rindu kan sampai dibawa angin
Senja tetaplah senja
Jingganya tetap diingat
Meski rindu menjadi lara
Ada
senyum penawar duka

0 komentar:
Posting Komentar