Berbeda
dengan apa yang ada pada jiwa. Bahkan langkah seringkali teledor, buta
membedakan mana sikap yang menegaskan keadaan lemah atau bahkan sebaliknya.
Terkadang, kehidupan ini sering kali tak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Ketika semuanya tersampaikan dan terlihat dengan mata, semua ilmu, semua
kejadian akan mudah terserap dan tersimpan dalam pikiran. Ketika ingin
menegaskan bahwa diri ini mampu menggoyahkan, mampu mengoyakkan yang terlena
hingga mereka kembali terbangun bahkan yang ada mataku sendiri yang terpejam
karena tak kuat menahan segala rasa haru dan sendu.
Dari
jenis lagunya saja sudah berbeda, meski seringkali ada rasa cinta tapi tak se-allay lagu yang dibawakan oleh apa yang
diteriakinya. Segala yang tertanam dalam hati tak mudah disampaikan, terlalu
sempit lubang cahaya yang mampu mengeluarkan sisi terang dalam dada. Hingga
yang terkupas dan yang terjadi hanya sendu serta air mata pun selalu saja
menjadi minuman setiap malamku.
Sebuah
karya, rangkaian kata yang menegaskan bahwa cinta tak lagi indah jika tak bisa
saling mengerti. Ketika semua itu terekam dalam otak, yang kusampaikan hanyalah
kegundahan karena terlalu banyak bersikap pesimis dan takut bahwa di depan
nanti akan menemukan masalah dan tak bisa melewatinya. Hingga yang terasa
hanyalah gambaran seekor kancil yang takut dipenjara oleh seorang manusia
pemilik kebun yang akan dia datangi.
Ema.. Ema..
keur naon silaing ema? Keur
naon silaing triping Ema?
Eta sirah gudag gideg Pan geus puguh
gara-gara triping ema
Make kacapanon hideung Hirup
silaing jadi pakusut
Ema.. Mimiti
harga diri
Geura
balik silaing Ema Nepi
ka kahormatan
Hayam
jalu geus kongkorongok Dimorah
mareh ngabelaan ekstasi
Panon
poe tereh bijil
Lagu
diatas itulah yang sering kali ku dengar ketika aku masih berusia 8 tahun,
selalu diputar oleh ayahku ketika bersantai di rumah. Hiruk pikuknya kehidupan,
tak seimbang dengan keimanan akhirnya terbawa oleh keadaan yang malah semakin
menjerumuskan. Tak ubahnya seperti lepas dari mulut hiu lalu bertemu dengan
mulut ikan paus. Kegilaan manusia akan terlihat ketika ia mulai beranjak
dewasa, lepas dari masa remajanya yang berusia masih belasan tahun. Ketika
menginjak kepala dua dia akan menyadari bahwa kehidupannya begitu amatlah berat
jika tak diimbangi dengan hal yang baik dan pikiran yang baik pula. Menyadari
akan rapuh dan semrautnya kehidupan tak elak dan tak bisa juga dipungkiri bahwa
kisah cinta pun ikut mengharu dalam hidup. Meyakini diri ini kuat hanya sekedar
membaca sebuah artikel bertajuk motivasi islami, berharap apa yang akan
diteriakan itu adalah sama dengan apa yang didapatkan. Dan nyatanya selalu saja
berbeda. Hanya ego yang muncul ketika prinsip bersembunyi entah dimana.
Ku menatap langit yang tenang
Dan tak kan menangisi malam
Ku akan berdiri tuk melawan hari
Ku akan berarti, ku tak kan mati
Mengapa terjadi kepada diriku aku tak
percaya kau telah tiada
Haruskah ku pergi tinggalkan dunia agar aku
dapat berjumpa denganmu
Ku
tak selalu berdiri terkadang hidup memilukan
Jalan
yang ku lalui untuk sekedar bercerita
Pegang
tanganku ini dan rasakan yang ku derita
Semua
yang ku berikan tak pernah jadi kehidupan
Apa
yang ku inginkan menjauh dari kehidupan
Kita adalah hati yang tertindas
Kita-lah langkah yang berhenti berjalan
Kita-lah mimpi yang tak terwujudkan
Apa yang ada dalam jiwaku ini
berenergikan positif, tetapi entah mengapa setiap yang menerobos melalui lubang
yang ada pada otakku itu hanyalah bernuansakan negatif. Mengapa yang dirasakan
hanyalah gambaran kekecewaan, kepedihan, kesusahan, kemelaratan. Begitu
siniskah aku terhadap apa-apa yang telah diberikan oleh Tuhanku? Rasanya aku
begitu tak adil dan kejam.
Dalam perjalanan hidupku yang
masih seusia jagung ini, aku hanya ingin memperbaiki dan menempatkan diri yang
sekurang-kurangnya menjadi lebih berarti tanpa harus mengubah yang ada. Dan
anehnya lagi, mengapa kepahitan selalu cepat dirasakan dan direspon oleh tubuh
bahkan begitu lama dirasakan dan sulit untuk dilupakan, berbeda dengan halnya
kebaikan dan kesenangan. Mudah lupa, dan hanya dalam waktu lima menitpun, cerah
itu berubah menjadi kelabu. Layaknya pergantian hari yang tadinya siang sudah
berganti lagi menjadi malam. Mungkin hanya sekedar perpindahan waktu dan
pergantian kebahagiaan untuk yang membutuhkan.
Inilah saatnya menyadari, bahwa
ternyata hidup ini sangat indah apabila hati dan pikiran kita mengindahkannya.
Aku hanya ingin meneriakkan apa-apa yang sebenarnya aku yakini, aku pahami.
Bukan hanya sekedar wacana yang bertuliskan “ilmuku yang kutahui adalah sumber
kebohonganku”. Rasanya seperti seorang pencuri yang tak ingin mengakui tentang
apa yang menjadi gelarnya.
Hidup ini begitu luas jika
dimaknai, bahkan setetes tinta hitam pun tak mampu merubah warna birunya lautan
yang begitu luas. Ilmu yang terekam dalam otak mungkin hanya setitik noda hitam
pada kertas putih.
“Jika saja aku mampu mengulang waktuku, aku tak ingin kembali lagi
kepada masa-masa yang begitu melenakanku, aku selalu bersedih hati ketika apa
yang diharapkan seperti sudah ada di depan mata tetapi nyatanya ia hanya
menyamarkan raganya, dan membuat sebuah bayangan dan berdiri di depan pintu
tanpa memasuki ruang kosong dalam hati ini. Dan lagi-lagi selalu saja
berhiaskan luka, sembilu syahdu. Alunan cinta tak mampu merubah keyakinan, yang
ada hanya sedikit bijaksana melihat segalanya menjadi lebih baik. Itulah makna
cinta seiyanya. Ketegasan dan kekuatan seringkali bersembunyi dan selalu saja
kesalahan yang berperan aktif dalam hidupku yang singkat ini. Maka dikatakanlah
Doel Soembang yang kaya akan tema lagu dan selalu ceria membawakan lagu,
berbeda dengan Ariel Peterpan yang selalu saja mengeluh akan hidup dan mengemis
kasih dari setiap apa yang ia ungkapkan kepada seluruh alam raya Begitulah
jiwaku yang tegas dan kuat namun layu karena teriknya matahari yang membuat
gersang jiwaku.”
0 komentar:
Posting Komentar