Selasa, 28 Januari 2014

Doel Soembang Berteriak Ariel

Edit Posted by with No comments


Berbeda dengan apa yang ada pada jiwa. Bahkan langkah seringkali teledor, buta membedakan mana sikap yang menegaskan keadaan lemah atau bahkan sebaliknya. Terkadang, kehidupan ini sering kali tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Ketika semuanya tersampaikan dan terlihat dengan mata, semua ilmu, semua kejadian akan mudah terserap dan tersimpan dalam pikiran. Ketika ingin menegaskan bahwa diri ini mampu menggoyahkan, mampu mengoyakkan yang terlena hingga mereka kembali terbangun bahkan yang ada mataku sendiri yang terpejam karena tak kuat menahan segala rasa haru dan sendu.
Dari jenis lagunya saja sudah berbeda, meski seringkali ada rasa cinta tapi tak se-allay lagu yang dibawakan oleh apa yang diteriakinya. Segala yang tertanam dalam hati tak mudah disampaikan, terlalu sempit lubang cahaya yang mampu mengeluarkan sisi terang dalam dada. Hingga yang terkupas dan yang terjadi hanya sendu serta air mata pun selalu saja menjadi minuman setiap malamku.
Sebuah karya, rangkaian kata yang menegaskan bahwa cinta tak lagi indah jika tak bisa saling mengerti. Ketika semua itu terekam dalam otak, yang kusampaikan hanyalah kegundahan karena terlalu banyak bersikap pesimis dan takut bahwa di depan nanti akan menemukan masalah dan tak bisa melewatinya. Hingga yang terasa hanyalah gambaran seekor kancil yang takut dipenjara oleh seorang manusia pemilik kebun yang akan dia datangi.
Ema..                                                                                    Ema..
keur naon silaing ema?                                                 Keur naon silaing triping Ema?
Eta sirah gudag gideg                                                    Pan geus puguh gara-gara triping ema
Make kacapanon hideung                                           Hirup silaing jadi pakusut
                Ema..                                                                                    Mimiti harga diri
                Geura balik silaing Ema                                                 Nepi ka kahormatan
                Hayam jalu geus kongkorongok                                               Dimorah mareh ngabelaan ekstasi
                Panon poe tereh bijil
Lagu diatas itulah yang sering kali ku dengar ketika aku masih berusia 8 tahun, selalu diputar oleh ayahku ketika bersantai di rumah. Hiruk pikuknya kehidupan, tak seimbang dengan keimanan akhirnya terbawa oleh keadaan yang malah semakin menjerumuskan. Tak ubahnya seperti lepas dari mulut hiu lalu bertemu dengan mulut ikan paus. Kegilaan manusia akan terlihat ketika ia mulai beranjak dewasa, lepas dari masa remajanya yang berusia masih belasan tahun. Ketika menginjak kepala dua dia akan menyadari bahwa kehidupannya begitu amatlah berat jika tak diimbangi dengan hal yang baik dan pikiran yang baik pula. Menyadari akan rapuh dan semrautnya kehidupan tak elak dan tak bisa juga dipungkiri bahwa kisah cinta pun ikut mengharu dalam hidup. Meyakini diri ini kuat hanya sekedar membaca sebuah artikel bertajuk motivasi islami, berharap apa yang akan diteriakan itu adalah sama dengan apa yang didapatkan. Dan nyatanya selalu saja berbeda. Hanya ego yang muncul ketika prinsip bersembunyi entah dimana.
Ku menatap langit yang tenang
Dan tak kan menangisi malam
Ku akan berdiri tuk melawan hari
Ku akan berarti, ku tak kan mati
Mengapa terjadi kepada diriku aku tak percaya kau telah tiada
Haruskah ku pergi tinggalkan dunia agar aku dapat berjumpa denganmu
                Ku tak selalu berdiri terkadang hidup memilukan
                Jalan yang ku lalui untuk sekedar bercerita
                Pegang tanganku ini dan rasakan yang ku derita
                Semua yang ku berikan tak pernah jadi kehidupan
                Apa yang ku inginkan menjauh dari kehidupan
Kita adalah hati yang tertindas
Kita-lah langkah yang berhenti berjalan
Kita-lah mimpi yang tak terwujudkan
                Apa yang ada dalam jiwaku ini berenergikan positif, tetapi entah mengapa setiap yang menerobos melalui lubang yang ada pada otakku itu hanyalah bernuansakan negatif. Mengapa yang dirasakan hanyalah gambaran kekecewaan, kepedihan, kesusahan, kemelaratan. Begitu siniskah aku terhadap apa-apa yang telah diberikan oleh Tuhanku? Rasanya aku begitu tak adil dan kejam.
                Dalam perjalanan hidupku yang masih seusia jagung ini, aku hanya ingin memperbaiki dan menempatkan diri yang sekurang-kurangnya menjadi lebih berarti tanpa harus mengubah yang ada. Dan anehnya lagi, mengapa kepahitan selalu cepat dirasakan dan direspon oleh tubuh bahkan begitu lama dirasakan dan sulit untuk dilupakan, berbeda dengan halnya kebaikan dan kesenangan. Mudah lupa, dan hanya dalam waktu lima menitpun, cerah itu berubah menjadi kelabu. Layaknya pergantian hari yang tadinya siang sudah berganti lagi menjadi malam. Mungkin hanya sekedar perpindahan waktu dan pergantian kebahagiaan untuk yang membutuhkan.
                Inilah saatnya menyadari, bahwa ternyata hidup ini sangat indah apabila hati dan pikiran kita mengindahkannya. Aku hanya ingin meneriakkan apa-apa yang sebenarnya aku yakini, aku pahami. Bukan hanya sekedar wacana yang bertuliskan “ilmuku yang kutahui adalah sumber kebohonganku”. Rasanya seperti seorang pencuri yang tak ingin mengakui tentang apa yang menjadi gelarnya.
                Hidup ini begitu luas jika dimaknai, bahkan setetes tinta hitam pun tak mampu merubah warna birunya lautan yang begitu luas. Ilmu yang terekam dalam otak mungkin hanya setitik noda hitam pada kertas putih.
                Jika saja aku mampu mengulang waktuku, aku tak ingin kembali lagi kepada masa-masa yang begitu melenakanku, aku selalu bersedih hati ketika apa yang diharapkan seperti sudah ada di depan mata tetapi nyatanya ia hanya menyamarkan raganya, dan membuat sebuah bayangan dan berdiri di depan pintu tanpa memasuki ruang kosong dalam hati ini. Dan lagi-lagi selalu saja berhiaskan luka, sembilu syahdu. Alunan cinta tak mampu merubah keyakinan, yang ada hanya sedikit bijaksana melihat segalanya menjadi lebih baik. Itulah makna cinta seiyanya. Ketegasan dan kekuatan seringkali bersembunyi dan selalu saja kesalahan yang berperan aktif dalam hidupku yang singkat ini. Maka dikatakanlah Doel Soembang yang kaya akan tema lagu dan selalu ceria membawakan lagu, berbeda dengan Ariel Peterpan yang selalu saja mengeluh akan hidup dan mengemis kasih dari setiap apa yang ia ungkapkan kepada seluruh alam raya Begitulah jiwaku yang tegas dan kuat namun layu karena teriknya matahari yang membuat gersang jiwaku.

0 komentar:

Posting Komentar