Rabu, 28 September 2016

Shaffa's Diary

Edit Posted by with No comments
Penulis? Menulis? Naskah? Tulisan? Inspirasi? Penerbit?

Sepertinya semua hal itu semakin sulit untuk dilakukan, apatah lagi untuk diwujudkan dalam bentuk nyata. Ingin menjadi penulis katanya? Ingin menerbitkan buku sendiri katanya? Dan masih banyak lagi impian lainnya yang hanya dibiarkan menjadi sebuah mimpi. Hanya mengejar angan kosong, yakinkah itu semua dapat terwujud? Jangan bermimpi!

Terkadang, ingin sekali rasanya menghukum diri yang banyak menunda-nunda, ingin sekali rasanya menghukum diri yang banyak melewati kesempatan-kesempatan emas hanya karena terlalu banyak berpikir. Memang berapa kali kesempatan emas itu datang? Sepertinya tidak ada, nyaris tak pernah. Dasar!

Oke, kita mulai mengasah otak kembali dan mencoba menemukan inspirasi disela-sela kebingungan ini. Ingin kembali menyuguhkan seuntai kisah kepada para pembaca, kali dapet anugerah.

Kita kasih judul "Sayap-sayap Patah".
Begini awal mulanya. Mm.. Mulai darimana ya? Cerita awalnya gimana ya? Gini deh..

Langkah kaki Kania terhenti di sudut gerbang sekolah yang hanya beberapa meter dari rumahnya, ia memandang gedung itu dengan mata yang berbinar penuh harap.
"Seandainya.. Seandainya.. Seandainya.."
Seandainya apa? Apa yang Kania inginkan sebenarnya? Entahlah, lanjutkan saja.

"Kania.." Teriak salah seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu kandung Kania, memanggilnya sambil membawa baki berisi opak mentah. "Sedang apa kamu berdiri di situ? Ayo bantu ibu." Kania terkejut dan menoleh ke arah ibunya, ia pun melepaskan pandangannya dari gedung bertingkat itu dengan berat hati. "Bu, Kania ingin sekolah." matanya berubah mendung. Terlihat dari sorot bola mata ibunya, bahwa ibunya pun merasa sangat terpukul atas pernyataan anaknya itu. Tapi apa daya, ekonomi tak memungkinkan untuk mewujudkan keinginan putrinya itu. 
"Jual opak dulu, kali aja kamu nanti bisa sekolah, ya?" Ibunya mencoba menghibur.
"Kita sudah lama bu menjual opak, tapi keinginan Kania gak pernah terwujud. Uangnya selalu terpakai untuk menutupi kekurangan kita. Kania pengen kita maju bu, biarpun hanya dari jualan opak."
"Kania pengen melanjutkan sekolah bu." Lanjut Kania yang terlihat begitu bersemangat.
Ibunya hanya tersenyum mengangguk, semoga keinginan anaknya dapat terwujud.

Kania seharusnya sudah menginjak bangku SMA kelas 3, tapi karena tersendat biaya jadinya terpaksa untuk keluar sekolah. Tidak ada beasiswa untuk Kania saat itu, karena kalah pintar oleh teman-teman yang lainnya. Kania memang jarang belajar karena terlalu sibuk membantu ibunya jualan opak. Belajar pun alakadarnya. Intinya pada masanya itu, Kania memang sangat sulit untuk fokus dengan studinya. Karena sudah berbulan-bulan menunggak dan akhirnya bengkak, ibunya tak sanggup membayar dan terjadilah hal demikian.

Ah, tuh kan buntu. Mau gimana ya kelanjutannya. Berasa gak seru gini. Terlalu umum ceritanya. Ganti jangan? wkwkw...

Intinya sih yang mau aku ceritain tu gimana menyesalnya aku ketika harus memilih menyerah hanya karena nggak bisa menikmati hidup dengan santai dan optimis. Kalau waktu bisa diputer lagi mungkin aku bakalan minta ditaruh di angka 2013 dan merubah semuanya, aku pengen perbaiki semua kesalahan itu.

Lalu, Kania pun berusaha mencari kerja di pabrik-pabrik, Untuk masuk sekolah kejuruan mungkin nggak terlalu banyak membutuhkan biaya.
"Tapi.." Kania termenung sejenak. Ia tak tega melihat Ibunya banting tulang sendiri dengan pekerjaannya.

Sebentar, ayahnya kemana? Kenapa ceritanya gak dikasih peran ayah aja gitu biar idupnya nggak susah? wkwkw..
Oh, dikasih aja. Tapi ayahnya...

"Ah, kalau kayak gini suka keingetan bapak. Kalau bapak masih ada mungkin ibu nggak perlu susah payah gini." Keluh Kania.

Ya, ceritanya bapanya dah meninggal dunia karena gak sanggup bayar hutang. Titik. Dia kena serangan jantung. Begitu ceritanya.

Kania pun berlari menghampiri ibunya, "Bu, ibu berhenti saja jualan opak. Biar Kania yang gantikan ibu kerja,"
Ibunya berhenti menggoreng lalu menoleh ke arah putrinya, "Terus ibu di rumah ngapain?"
"Ya ibu diam saja, tunggu Kania pulang. Masak deh buat Kania"
"Memangnya kamu sudah melamar kerja kemana? Ada yang nerima?"
"Ya belum ada panggilan sih bu, tapi ibu mending gak usah kerja kaya gini deh biar Kania aja. Ya?"
"Ah, nanti ibu berasa kayak pengangguran. Ibu gak tenang jadi pengangguran."
"Aduh Ibu, susah banget ya dikasih taunya. Atau gini aja deh bu, jangan jualan opak. Ganti gitu jualan seblak. Hehehe.."
"Seblak?"
"Iya Bu, lagipula yang seneng opak kan jarang-jarang. Lagian ibu juga gak terlalu kudet kok, cuma bikin seblak ma ibu juga bisa kan? Iya kan?"
"Hmm, kenapa gak bilang dari dulu?"
"Ah, Ibu suka belaga jadi kaya orang susah aja."

Ini ceritanya kenapa jadi kayak gini ya? Hahaha... Bodo amat, lanjutkan!
Ya pokoknya mereka jualan seblak. Seblak Mpo Uni wwkwkwk...
Ya, meskipun cuma jualan seblak, tapi jangan salah. Jual seblak di Bandung ma marema ciga jualan baso. :D

Memang masih banyak lagi modal yang harus ditambahkan untuk perlengkapan jualan seblak saat itu, mereka masih harus bersabar menjual opak sampai semua perlengkapan kumplit dan mulai jualan seblak.

Tiga Bulan Kemudian

Ya katakanlah tiga bulan kemudian, biar cepet.

Semua modal sudah siap, Mpo Uni beralih profesi menjadi penjual seblak.

Ceritanya bersambung aja dulu deh ya, pusing. wkwkwk











0 komentar:

Posting Komentar