“Awan, Burung, Udara, Angin, Air, dan segala
keindahan yang ada di bumi ini. Subhanallah.
Bahkan, aku tak menyangka bahwa semuanya ini hanya ada di dalam sebuah mimpi
panjangku.” Ucap seorang gadis bermata biru dengan mengenakan jilbab, dan
busana gamis seusai menghadiri kajian ilmu dari sebuah tempat yang mana tempat
itu adalah majelis ta’lim.
Sepanjang
dia berjalan melewati rumah ke rumah menuju pulang mengendarai sepeda motor,
gadis yang bernama Gina itu menggunakan waktu luangnya untuk merenung dan
bertafakur.
“Detik
ke menit, hingga menit pun beralih kepada jam. Dan berjam-jam terlewati, hingga
muncullah satu hari dan begitu selanjutnya hingga berganti tahun. MasyaAllah.. sudah berapa banyak waktu
yang terbuang? Dan, dihabiskan untuk apa sajakah?” Tanyanya dalam hati kepada
nuraninya sendiri.
“Astaghfirullahaladhiim…” Teriak Gina
terkaget karena ia hampir saja menabrak kucing yang sedang berjalan tepat di
depan motornya berjalan. Kemudian, Gina pun berhenti sejenak untuk mengambil
sebuah tupperware yang berisikan air
putih untuk diminumnya. “Ada-ada saja ini kucing, kalau ketabrak motor gimana ini.
Haduuh…” Keluhnya sambil menghela nafas untuk menenangkan jantungnya yang seketika
berdegup kencang akibat kejadian secepat kilat seperti tadi. Kemudian, Gina pun
meneruskan perjalanannya setelah merasa agak tenang.
***
“Assalamu’alaikum..”
Ucap Gina sebegitu ia sampai pada rumahnya. Tapi, setelah lama menunggu
jawaban. Tak ada juga orang rumah yang menjawab salamnya. Gina terheran
seketika. Ia pun duduk di pohon kayu yang sudah lama ditebang, bola matanya
mencari kemana mamahnya berada. Tengok ke kiri, kemudian ke kanan. Namun, belum
juga tiba seseorang mendatanginya.
“Ginaa…”
Tiba-tiba saja Jaka teman sebayanya memanggil dia dari kejauhan dengan
mengenakan busana sehabis pulang dari masjid, nampaknya Jaka habis melaksanakan
shalat ashar. Gina pun melirik ke arah Jaka berada.
“Apa
Jaka?” Teriak Gina dari teras rumahnya.
“Mamahmu
sedang di pemakaman Bu Widi. Baru saja Bu Widi meninggal karena penyakit maag
kronisnya.” Tukas Jaka yang tengah berjalan menghampiri Gina.
“Innalillah.. Jaka, panggilkan Naima
adikmu. Suruh dia kemari.” Jawab Gina.
“Naima?”
Tanya Jaka keheranan, dia berpikir mengapa Naima harus ia panggil. Apa
hubungannya dan apa yang akan Gina lakukan.
“Iya,
Naima. Ana mau melihat pemakaman Bu Widi, tapi ana ingin ada teman untuk ke
sananya”
“Oh,
begitu. Kenapa tidak dengan saya saja?” Kata Jaka.
“Ah,
Jaka. Antum kan Ikhwan. Ada hijab diantara kita.” Tukas Gina.
“Iya,
saya mengerti. Tunggu saya akan panggilkan.” Jawab Jaka sambil melangkahkan
kakinya dengan cepat untuk memanggil adiknya.
***
“Assalamu’alaikum,
teteh..” Ucap gadis kecil yang tak
lain adalah Naima, adik kandung Jaka satu-satunya.
“Wa’alaikumussalaam..
Dek, ayo temani teteh ke pemakaman
sana.” Ajak Gina sembari meraih jari-jemari Naima.
“Iya,
mari teh.”
Mereka
berdua pun pergi berdua, dan Jaka mengikuti mereka berdua dari belakang.
Tiba-tiba saja awan yang tadinya putih seputih kapas, kini berganti menjadi
abu. Gelap. Langit yang biru pun seketika berubah menjadi abu-abu.
“Kayaknya
mau turun hujan ya teh,” Kata Naima
sambil menerawang ke langit-langit.
“Iya
dek. Gak apa-apa, ayo agak cepat sedikit jalannya.”
Sesampainya
mereka berdua di sana, ternyata jenazah sudah di masukkan ke dalam tanah. Tiba-tiba
saja air mata awan menetes membasahi bumi. Gina dan Naima pun berteduh di rumah
kecil yang lokasinya dekat dengan pemakaman. Dan tak lama dari itu, Naima
menangis dengan derasnya. Gina terdiam sembari memperhatikan Naima begitu
dalamnya.
“Kenapa
dek?” Tanya Gina penasaran sambil menepuk bahu Naima.
“….”
Naima sepertinya tak bisa menjawab pertanyaan Gina, ia hanya menggelengkan
kepalanya sambil memeluk kedua lututnya. Menyembunyikan air matanya yang
terjatuh seperti derasnya air hujan yang turun membasahi tanah sekitarnya.
“Semuanya
memang bukan punya kita. Semuanya bakalan pulang. Ada yang lahir, baru singgah
sebentar, kemudian harus pulang. Hm..
waktu. ” Kata-kata Gina yang mencoba untuk memancing Naima berbicara.
“Seperti
mentari yang hanya singgah ketika pagi hingga akan petang, kita tak pernah tahu
sampai kapan mentari akan tetap hidup dan menyinari bumi. Kalau matahari mati,
seisinya pun akan mati.” Kata Naima yang ikut merasakan betapa berharganya
waktu.
“Sedih,
nanti kita akan berbaring di dalam tanah sana. Semua keindahan ini, hujan. Air
ini akan membasahi tanah dan dedaunan yang kering, sepertinya kita akan begitu
merindukan suasana hujan seperti ini. Apakah kita tidak akan dilanda kemarau di
dalam sana?” Lanjut Naima.
Gina
pun melirik ke samping Naima, kemudian ia pun ikut menangis juga.
“Entahlah,
hanya perbuatan baik yang Dia (Allah SWT) sukai yang akan menolong kita dari
panasnya alam di bawah tanah itu. Astaghfirullah..”
Jawab Gina ikut membenarkan.
“Suatu
saat nanti, cepat atau lambat. Kematian itu akan datang menghampiri kita. Bu
Widi adalah tetangga kita, rumahnya pun tak jauh dari rumah kita. Mungkin,
kalau saja petugas langit itu diizinkan Allah untuk menjemput salah satu
diantara kita, mungkin saja air hujan ini adalah air yang Allah berikan untuk
kita, agar kita tidak merasa kekeringan ketika dikuburkan di sana.”
“Tapi,
kalau hujan kayak gini. Dan saat akan dimasukkan ke dalam tanah, kasian
jenazahnya. Masa, harus disimpan di tanah dalam keadaan tergenang oleh air?”
Sambut Gina.
“Aduh,
syukurlah kalau pemakaman Bu Widi sudah selesai. Semoga air hujan yang turun
ini adalah berkah untuknya. Semoga, ia diberikan cahaya di alam sana. Aamiin..” Kata Naima memanjatkan do’a.
“Itulah,
kita harus bersyukur baik kemarau ataupun hujan. Karena, belum tentu ketika di
sana kita akan tahan dengan genangan air, meskipun tidak sadar. Tapi, kita
hidup di alam sana. Semoga saja, kita mendapatkan seni yang indah, dan mampu
untuk mewujudkan kematian dalam khusnul
khatimah. Aamiin” Lanjut Gina.
“Yasudahlah
teh, sebaiknya kita pulang saja.
Mamah teteh juga kayaknya udah
pulang.” Ajak Naima yang tengah berdiri membersihkan pakaiannya dari kotoran
pasir akibat cipratan air hujan..
“Yuk..
Alhamdulillah, semoga hari ini
bernilaikan amalan shalih untuk kita.”
“Aamiin aamiin aamiin..” Jawab Naima
melemparkan senyum.
Mereka
berdua pun kemudian pulang ke rumahnya masing-masing. Dan ketika di perjalanan
pulang, mereka melihat Jaka sedang duduk di batu yang ukurannya cukup besar
dikelilingi oleh nisan-nisan. Gina pun kemudian bertanya kepada Jaka.
“Sedang
apa Jaka? Bajumu basah kuyup seperti itu.”
“Teringat
almarhum kakek.” Jawab Jaka seadanya.
“Oh
Iya, Aa pernah diwasiatkan oleh Aki katanya jangan lupa sholat, katanya
itu yang paling utama.” Kata Naima.
“Bukan
itu saja, tetapi harus menjaga sholat agar tidak ternodai maksiat. Astaghfirullahaladhim..” Tukas Jaka
sembari menundukkan kepalanya.
“Sebisa
mungkin, inilah ikhtiar dan tantangan untuk kita semua. Alhamdulillah, kita mendapatkan pelajaran dari kejadian ini.” Kata
Gina memberikan semangat untuk mereka semua.
“Mari
kita pulang. Aa.. sudah, kita
teruskan bertafakur di rumah. Mari teh”
Sambut Naima sambil menarik lengan kakaknya.
***
“Assalamu’alaikum,
maah..” Panggil Gina di depan pintu rumahnya.
“Wa’alaikumussalaam,
aduuuh Gina anak mamah udah pulang. Maaf ya udah buat Gina nunggu.” Jawab
mamahnya penuh dengan senyuman.
Tak
ada jawaban dari Gina, Gina pun langsung memeluk tubuh ibunya dengan erat. Ia
mencium pipi kiri dan pipi kanan mamahnya dengan penuh manja.
“Kenapa
Gina, tumben sekali kamu genit sama mamah” Kata Mamahnya sedikt bercanda.
“Mah,
bisa aja kan setelah Bu Widi aku atau mamah atau siapapun orang di rumah ini
yang dipanggil sama Allah?” Kata Gina
yang semakin erat mendekap tubuh ibundanya.
Mamahnya
pun tersenyum haru mendengar perkataan anaknya.
“InsyaAllah.. Semoga kita semua bisa
berkumpul lagi.” Jawab Mamahnya yang mulai terlihat berkaca-kaca dan sedikit
berat untuk berkata.
“Aamiin” Jawab Gina tersenyum.
Setelah
itu, Gina pun masuk ke ruang pribadinya. Ia segera mengganti pakaian dan lekas
mandi. Kebetulan, adzan maghrib sudah berkumandang. Gina pun melaksanakan
shalat maghrib.
Selesai
membaca do’a dan juga dzikir. Gina
melihat dinding-dinding di kamarnya, melihat benda-benda yang terletak di
setiap sudutnya.
”Kamar
ini, awalnya kosong tak berpenghuni. Awalnya tanah. Hanya tanah kosong. Sebelum
bangunan rumahku ini ada, entah apa yang hidup di sini. Tetapi yang jelas,
suatu saat nanti. Entah waktunya kapan, semua ruangan ini akan kembali kosong
tak berpenghuni. Semuanya. Aku bingung, semua benda-benda yang aku sukai ini, astaghfirullah.. Aku sedih Allah.
Mungkin aku telah mencintai apa-apa yang ada di dunia ini. Tetapi, bukan karena
aku terkena penyakit Al-wahn (Cinta
dunia takut mati). Aku hanya berpikir, untuk apa barang sebanyak ini jika pada
akhirnya akan musnah? Benar, aku terlahir memang miskin. Semua ini adalah milik
Engkau. MaasyaAllah..” Gumam Gina
dalam hati.
Gina
pun segera melipat sajadah dan kain mukenanya. Ia pun bergegas keluar untuk
makan bersama dengan keluarganya.
Tak
sempat menikmati hidangan yang telah disediakan oleh ibunya, Gina malah
menangis bersedih karena mungkin suatu saat nanti, senyum tawa dan kebahagiaan
yang ada di keluarganya belum tentu ia dapatkan. Karena, amalan shalih itulah
yang menentukan takdir seseorang. Gina hanya mampu tersungkur dan bersujud di
atas sajadah birunya.
0 komentar:
Posting Komentar