Kamis, 06 Maret 2014

Tangisan Mentari

Edit Posted by with No comments
“Awan, Burung, Udara, Angin, Air, dan segala keindahan yang ada di bumi ini. Subhanallah. Bahkan, aku tak menyangka bahwa semuanya ini hanya ada di dalam sebuah mimpi panjangku.” Ucap seorang gadis bermata biru dengan mengenakan jilbab, dan busana gamis seusai menghadiri kajian ilmu dari sebuah tempat yang mana tempat itu adalah majelis ta’lim.
            Sepanjang dia berjalan melewati rumah ke rumah menuju pulang mengendarai sepeda motor, gadis yang bernama Gina itu menggunakan waktu luangnya untuk merenung dan bertafakur.
            “Detik ke menit, hingga menit pun beralih kepada jam. Dan berjam-jam terlewati, hingga muncullah satu hari dan begitu selanjutnya hingga berganti tahun. MasyaAllah.. sudah berapa banyak waktu yang terbuang? Dan, dihabiskan untuk apa sajakah?” Tanyanya dalam hati kepada nuraninya sendiri.
            Astaghfirullahaladhiim…” Teriak Gina terkaget karena ia hampir saja menabrak kucing yang sedang berjalan tepat di depan motornya berjalan. Kemudian, Gina pun berhenti sejenak untuk mengambil sebuah tupperware yang berisikan air putih untuk diminumnya. “Ada-ada saja ini kucing, kalau ketabrak motor gimana ini. Haduuh…” Keluhnya sambil menghela nafas untuk menenangkan jantungnya yang seketika berdegup kencang akibat kejadian secepat kilat seperti tadi. Kemudian, Gina pun meneruskan perjalanannya setelah merasa agak tenang.
***
            “Assalamu’alaikum..” Ucap Gina sebegitu ia sampai pada rumahnya. Tapi, setelah lama menunggu jawaban. Tak ada juga orang rumah yang menjawab salamnya. Gina terheran seketika. Ia pun duduk di pohon kayu yang sudah lama ditebang, bola matanya mencari kemana mamahnya berada. Tengok ke kiri, kemudian ke kanan. Namun, belum juga tiba seseorang mendatanginya.
            “Ginaa…” Tiba-tiba saja Jaka teman sebayanya memanggil dia dari kejauhan dengan mengenakan busana sehabis pulang dari masjid, nampaknya Jaka habis melaksanakan shalat ashar. Gina pun melirik ke arah Jaka berada.
            “Apa Jaka?” Teriak Gina dari teras rumahnya.
            “Mamahmu sedang di pemakaman Bu Widi. Baru saja Bu Widi meninggal karena penyakit maag kronisnya.” Tukas Jaka yang tengah berjalan menghampiri Gina.
            Innalillah.. Jaka, panggilkan Naima adikmu. Suruh dia kemari.” Jawab Gina.
            “Naima?” Tanya Jaka keheranan, dia berpikir mengapa Naima harus ia panggil. Apa hubungannya dan apa yang akan Gina lakukan.
            “Iya, Naima. Ana mau melihat pemakaman Bu Widi, tapi ana ingin ada teman untuk ke sananya”
            “Oh, begitu. Kenapa tidak dengan saya saja?” Kata Jaka.
            “Ah, Jaka. Antum kan Ikhwan. Ada hijab diantara kita.” Tukas Gina.
            “Iya, saya mengerti. Tunggu saya akan panggilkan.” Jawab Jaka sambil melangkahkan kakinya dengan cepat untuk memanggil adiknya.
***
            “Assalamu’alaikum, teteh..” Ucap gadis kecil yang tak lain adalah Naima, adik kandung Jaka satu-satunya.
            “Wa’alaikumussalaam.. Dek, ayo temani teteh ke pemakaman sana.” Ajak Gina sembari meraih jari-jemari Naima.
            “Iya, mari teh.
            Mereka berdua pun pergi berdua, dan Jaka mengikuti mereka berdua dari belakang. Tiba-tiba saja awan yang tadinya putih seputih kapas, kini berganti menjadi abu. Gelap. Langit yang biru pun seketika berubah menjadi abu-abu.
            “Kayaknya mau turun hujan ya teh,” Kata Naima sambil menerawang ke langit-langit.
            “Iya dek. Gak apa-apa, ayo agak cepat sedikit jalannya.”
            Sesampainya mereka berdua di sana, ternyata jenazah sudah di masukkan ke dalam tanah. Tiba-tiba saja air mata awan menetes membasahi bumi. Gina dan Naima pun berteduh di rumah kecil yang lokasinya dekat dengan pemakaman. Dan tak lama dari itu, Naima menangis dengan derasnya. Gina terdiam sembari memperhatikan Naima begitu dalamnya.
            “Kenapa dek?” Tanya Gina penasaran sambil menepuk bahu Naima.
            “….” Naima sepertinya tak bisa menjawab pertanyaan Gina, ia hanya menggelengkan kepalanya sambil memeluk kedua lututnya. Menyembunyikan air matanya yang terjatuh seperti derasnya air hujan yang turun membasahi tanah sekitarnya.
            “Semuanya memang bukan punya kita. Semuanya bakalan pulang. Ada yang lahir, baru singgah sebentar, kemudian harus pulang. Hm.. waktu. ” Kata-kata Gina yang mencoba untuk memancing Naima berbicara.
            “Seperti mentari yang hanya singgah ketika pagi hingga akan petang, kita tak pernah tahu sampai kapan mentari akan tetap hidup dan menyinari bumi. Kalau matahari mati, seisinya pun akan mati.” Kata Naima yang ikut merasakan betapa berharganya waktu.
            “Sedih, nanti kita akan berbaring di dalam tanah sana. Semua keindahan ini, hujan. Air ini akan membasahi tanah dan dedaunan yang kering, sepertinya kita akan begitu merindukan suasana hujan seperti ini. Apakah kita tidak akan dilanda kemarau di dalam sana?” Lanjut Naima.
            Gina pun melirik ke samping Naima, kemudian ia pun ikut menangis juga.
            “Entahlah, hanya perbuatan baik yang Dia (Allah SWT) sukai yang akan menolong kita dari panasnya alam di bawah tanah itu. Astaghfirullah..” Jawab Gina ikut membenarkan.
            “Suatu saat nanti, cepat atau lambat. Kematian itu akan datang menghampiri kita. Bu Widi adalah tetangga kita, rumahnya pun tak jauh dari rumah kita. Mungkin, kalau saja petugas langit itu diizinkan Allah untuk menjemput salah satu diantara kita, mungkin saja air hujan ini adalah air yang Allah berikan untuk kita, agar kita tidak merasa kekeringan ketika dikuburkan di sana.”
            “Tapi, kalau hujan kayak gini. Dan saat akan dimasukkan ke dalam tanah, kasian jenazahnya. Masa, harus disimpan di tanah dalam keadaan tergenang oleh air?” Sambut Gina.
            “Aduh, syukurlah kalau pemakaman Bu Widi sudah selesai. Semoga air hujan yang turun ini adalah berkah untuknya. Semoga, ia diberikan cahaya di alam sana. Aamiin..” Kata Naima memanjatkan do’a.
            “Itulah, kita harus bersyukur baik kemarau ataupun hujan. Karena, belum tentu ketika di sana kita akan tahan dengan genangan air, meskipun tidak sadar. Tapi, kita hidup di alam sana. Semoga saja, kita mendapatkan seni yang indah, dan mampu untuk mewujudkan kematian dalam khusnul khatimah. Aamiin” Lanjut Gina.
            “Yasudahlah teh, sebaiknya kita pulang saja. Mamah teteh juga kayaknya udah pulang.” Ajak Naima yang tengah berdiri membersihkan pakaiannya dari kotoran pasir akibat cipratan air hujan..
            “Yuk.. Alhamdulillah, semoga hari ini bernilaikan amalan shalih untuk kita.”
            Aamiin aamiin aamiin..” Jawab Naima melemparkan senyum.
            Mereka berdua pun kemudian pulang ke rumahnya masing-masing. Dan ketika di perjalanan pulang, mereka melihat Jaka sedang duduk di batu yang ukurannya cukup besar dikelilingi oleh nisan-nisan. Gina pun kemudian bertanya kepada Jaka.
            “Sedang apa Jaka? Bajumu basah kuyup seperti itu.”
            “Teringat almarhum kakek.” Jawab Jaka seadanya.
            “Oh Iya, Aa pernah diwasiatkan oleh Aki katanya jangan lupa sholat, katanya itu yang paling utama.” Kata Naima.
            “Bukan itu saja, tetapi harus menjaga sholat agar tidak ternodai maksiat. Astaghfirullahaladhim..” Tukas Jaka sembari menundukkan kepalanya.
            “Sebisa mungkin, inilah ikhtiar dan tantangan untuk kita semua. Alhamdulillah, kita mendapatkan pelajaran dari kejadian ini.” Kata Gina memberikan semangat untuk mereka semua.
            “Mari kita pulang. Aa.. sudah, kita teruskan bertafakur di rumah. Mari teh” Sambut Naima sambil menarik lengan kakaknya.
***
            “Assalamu’alaikum, maah..” Panggil Gina di depan pintu rumahnya.
            “Wa’alaikumussalaam, aduuuh Gina anak mamah udah pulang. Maaf ya udah buat Gina nunggu.” Jawab mamahnya penuh dengan senyuman.
            Tak ada jawaban dari Gina, Gina pun langsung memeluk tubuh ibunya dengan erat. Ia mencium pipi kiri dan pipi kanan mamahnya dengan penuh manja.
            “Kenapa Gina, tumben sekali kamu genit sama mamah” Kata Mamahnya sedikt bercanda.
            “Mah, bisa aja kan setelah Bu Widi aku atau mamah atau siapapun orang di rumah ini yang dipanggil sama  Allah?” Kata Gina yang semakin erat mendekap tubuh ibundanya.
            Mamahnya pun tersenyum haru mendengar perkataan anaknya.
            InsyaAllah.. Semoga kita semua bisa berkumpul lagi.” Jawab Mamahnya yang mulai terlihat berkaca-kaca dan sedikit berat untuk berkata.
            Aamiin” Jawab Gina tersenyum.
                    Setelah itu, Gina pun masuk ke ruang pribadinya. Ia segera mengganti pakaian dan lekas mandi. Kebetulan, adzan maghrib sudah berkumandang. Gina pun melaksanakan shalat maghrib.
          Selesai membaca do’a dan juga dzikir. Gina melihat dinding-dinding di kamarnya, melihat benda-benda yang terletak di setiap sudutnya.
            ”Kamar ini, awalnya kosong tak berpenghuni. Awalnya tanah. Hanya tanah kosong. Sebelum bangunan rumahku ini ada, entah apa yang hidup di sini. Tetapi yang jelas, suatu saat nanti. Entah waktunya kapan, semua ruangan ini akan kembali kosong tak berpenghuni. Semuanya. Aku bingung, semua benda-benda yang aku sukai ini, astaghfirullah.. Aku sedih Allah. Mungkin aku telah mencintai apa-apa yang ada di dunia ini. Tetapi, bukan karena aku terkena penyakit Al-wahn (Cinta dunia takut mati). Aku hanya berpikir, untuk apa barang sebanyak ini jika pada akhirnya akan musnah? Benar, aku terlahir memang miskin. Semua ini adalah milik Engkau. MaasyaAllah..” Gumam Gina dalam hati.
            Gina pun segera melipat sajadah dan kain mukenanya. Ia pun bergegas keluar untuk makan bersama dengan keluarganya.
            Tak sempat menikmati hidangan yang telah disediakan oleh ibunya, Gina malah menangis bersedih karena mungkin suatu saat nanti, senyum tawa dan kebahagiaan yang ada di keluarganya belum tentu ia dapatkan. Karena, amalan shalih itulah yang menentukan takdir seseorang. Gina hanya mampu tersungkur dan bersujud di atas sajadah birunya.

0 komentar:

Posting Komentar