Sekilas ku
memandang sekitar, “Hmm..” gumamku. Tak lama dari itu, ku sandarkan tubuhku
pada dinding yang berada tepat di belakangku. Mataku terbelalak melihat ke
langit-langit di angkasa yang terhampar luas. “Hanya ada lengkung fatamorgana,
sekilas memang terlihat. Sedikit saja ku langkahkan beberapa meter, lengkung
itu nyaris tak terlihat.” Terdengar bisik dalam hati. Kakiku mendadak lemas tak
berdaya, aku pun terduduk seketika di atas lantai putih bergaris hitam dengan
noda coklat akibat injakan kaki para manusia yang berlalu lalang di kota yang
begitu ramai ini.
“Lelah, jenuh, muak, rasanya
ingin pergi dari kota ini. Sedikit saja aku ingin menghirup udara segar yang
menyehatkan tubuhku. Tak adakah?” Keluhku dalam hati seakan ingin berteriak
mengeluarkan segala penat dalam jiwa. Kedua tanganku memegang erat kepalaku yang
bising mendengar segala keluh kesah manusia yang seakan memberikan seluruh
bebannya kepadaku. “Apa? Ini apa? Kenapa harus aku yang menanggung segala
kelemahan mereka?” Teriakku dalam hati. “Haah.. sudahlah” Ucapku sambil membawa
badanku untuk tegak berdiri lepas dari segala lamunan dan amarahku itu. Aku
angkat kakiku dengan paksa untuk melangkah melihat jalan yang ada di depan
mataku. Namun jiwa, jiwaku lumpuh tak berdaya. Aku ingin menangis, tapi rasanya
air mata ini sudah mengering karena terlalu sering aku menangis. Aku ingin
bersusah payah melihat semua ini, tapi aku sudah terlalu sering juga menjadikan
semua ini susah payah.
“Hmm..
bagaimana mungkin aku bisa bahagia di tempat yang begitu gelap seperti ini. Tak
ada dunia yang membuatku senyum bahagia. Karena yang bisa membuatku bahagia
hanyalah satu jawaban pasti, “Allah menerima cintaku yang tertatih ini” namun
aku belum bisa berbuat sesuatu hal yang bisa membuat-Nya yakin dengan cintaku
yang setengah-setengah ini. Inilah alasan mengapa aku selalu saja bersedih
hati. Aku tak bisa membendung cintaku kepada-Nya, namun dunia ini begitu
kelabu. Gelap. Bahkan selalu saja aku disesatkan oleh cinta-cinta kecil di bulatan
fatamorgana ini. Tapi, apa yang bisa ku lakukan. Aku pun tak pernah tau jalan
hidupku akan begini. Siapa yang membuatku hidup dalam jalan ini? Bahkan ini
terlalu ghaib untuk ku tahui.” Gumamku dalam hati yang terus berjalan menyisir
setiap rumah di jalan raya itu.
Karena
sudah terlalu jauh berjalan, ku putuskan untuk menaiki kendaraan mobil di jalan
itu untuk menuju pulang ke rumahku.
Lagi,
dan lagi aku berjalan menyusuri rumah penduduk. Asing, begitu asing. Setiap
kedua bola mata mereka selalu saja mengarah kepadaku. Sedang aku? Hanya
menunduk dengan sebuah ketidakpastian apakah aku sanggup membalas setiap senyum
kaku dari bibir tipis mereka? Hanya bisa membungkuk dan kepala tertunduk ke
bawah. Lalu berjalan dengan dingin layaknya seekor ayam tak tahu etika.
“Hampir
sampai” kedua bola mataku mengarah pada pagar berwarna coklat kopi. Perlahan ku
membuka pagar itu dan aku masuk ke dalam rumah. Dan seperti biasa, langsung
saja aku masuk ke dalam ruangan yang tak begitu ramai. Ruangan pribadiku
sendiri. Kubaringkan seluruh tubuhku di atas tempat tidur yang hanya cukup
untukku saja. Tak begitu penting membahas benda tak bernyawa satu itu. Perlahan
ku pejamkan kedua bola mataku yang tengah lelah menjalani hidup di siang ini.
Apa yang sebenarnya aku pikirkan, aku
takutkan, aku khawatirkan. Bahkan tanpa ditakuti pun segalanya akan hilang
dengan waktu yang telah ditentukan. Merasa memiliki, Yaa Allah. Tentramkanlah
selalu hati ini. Aku lelah mengatur nafas yang selalu saja tak sampai pada
hitungan satu menitpun. Nafasku ini begitu pendek, bahkan untuk mengerjakan
satu pekerjaan yang cukup ringanpun rasanya seperti mengangkat satu karung
beras. Mengapa semua kejadian yang begitu pahit dari-Mu selalu saja aku tak
bisa rela menerimanya. Aku seperti berkeluh kesah dan marah kepada-Mu dengan
semua kejadian ini. Tanpa tahu apa yang akan aku dapatkan, aku berlaku semauku
tanpa perduli bagaimana dengan-Mu. Cinta, Engkaupun mempunyai rasa cinta. Tak
jauh dengan cinta-cinta yang sedang manusia alami di bumi-Mu ini. Bagaimana
rasa-Mu melihatku? Adakah cemburu-Mu ketika aku melakukan suatu perbuatan yang
begitu menyakitkan-Mu? Allah. Rasaku terhadap-Mu begitu mendalam, tetapi
mengapa selalu saja aku tersesat menuju-Mu?
“Hmm…
Astaghfirullah…” Ucapku sembari mengangkat kepalaku sambil mengalihkan
lamunanku, lalu akupun mulai menatap ke arah jendela kamarku. Usang dan berdebu
yang kulihat, seperti tak ada penghuninya. “Sebegitu acuhkah aku terhadap
lingkunganku?”, “Mengenaskan”. Dan aku hanya menatapnya tanpa memberikan sebuah
sikap yang membantu mereka agar terhindar dari berbagai kotoran yang hinggap
pada tubuh mereka itu.
“Bahkan
untuk hal terkecilpun aku begitu enggan, tak ada gairah sama sekali. Tak ada
semangat, tak ada kehidupan. Layaknya mumi yang dipaksa untuk terus bergerak!”
Gumamku mengalihkan pandangan ke arah notebookku.
Aku pun menekan tombol power untuk
menghidupkan notebook kesayanganku
itu. Untuk apa lagi? Yah, hanya sekedar mencari hiburan dalam dunia maya. Facebook.
Ketika
membuka jejaring sosial facebook itu,
aku lebih memilih membuka dan menulis sebuah catatan di dalamnya. Apa yang akan
aku catat? Entahlah. Hanya segumpal darah yang berdenyut menegaskan rasa luka,
seperti hampa tak bernyawa. Padahal sejatinya, aku ini hidup bahkan saking
hidupnya tak menyadari bahwa semuanya bergerak menuju sebuah kehidupan yang
abadi. Yang penuh dengan kesedihan atau mungkin kebahagiaan yang selalu saja
dinanti.
“Ricuh gemuruh angin berderu menaruh rasa
haru. Sedih yang berkepanjangan hanyalah segumpal darah yang ada pada tubuh mencoba
berbicara menegaskan. Mencari sebuah kepastian cinta yang selalu saja tak
berujung temu. Harap cemas menanti kehadiran sang pangeran yang akan menjemput
sang puteri dengan berjuta kebahagiaan. Akankah semua itu hanya terjadi pada
negeri dongeng? Bahkan negeri dongeng sendiripun begitu sinis melihat dunia
yang terjal dan tandus kaku tak beraturan seperti yang ada saat ini. Sekelumit
kisah cinta, yang bermuara dari-Nya perlahan turun menemui sang adam, kemudian
diciptakanlah seorang hawa yang setia menemani seorang adam. Lalu, terjadilah
lagi sebuah perjalanan cinta yang dilakukan oleh sepasang manusia yang begitu
ramai diperbincangkan. Tak ada faedahnya. Tak ada yang mesti dibanggakan. Hanya
tersisa sesak dalam dada yang tak mampu ditopang oleh rusuk-rusuk yang ada di
dalam tubuh ini. Bahkan nyaris segumpal darah itu menerobos tulang belulang
bernama rusuk itu, menjalar dan terus menyebar hingga sampailah pada sebuah
sistem dimana semua hal terfokus padanya, disitulah sebuah pemikiran muncul.
Akankah cinta ini berpulang kembali kepada-Nya? Ataukah mungkin akan terselip
di labirin yang kan berujung pada jurang kematian. Disana pun ada air yang
mengalir, bahkan bermuara pada sebuah lautan yang terhampar begitu luas seperti
langit diatas sana. Segumpal darah bernama cinta ini akankah sampai pada-Nya
atau akan tenggelam dan diguyur oleh derasnya air hujan dan tercampur dengan
gulungan ombak di lautan sana? Lalu, nyaris tertabrak batu karang lalu pecah.
Musnah. Aku hanya ingin, cinta ini tak berakhir tragis dalam sebuah
ketidakpastian dan melahirkan air mata yang tak berkesudahan. Allah, aku hanya
ingin bertemu dengan-Mu. Kasihilah dan sayangilah aku. Aku mengemis cinta
dari-Mu agar aku mampu melewati segala air yang mampu mengambil segumpal darah
dari-Mu yang bernama cinta ini. Dengannya seorang pria yang aku nantikan,
semoga kan sampai segumpal darah dari-Mu ini kepada-Mu lagi. Aamiin aamiin
aamiin”
Lalu,
aku simpan catatan itu dalam akun facebookku.
Aku tutup dan aku matikan barang elektronik ini. Kemudian aku tidur dengan
pulasnya untuk menyambut hari esok yang semoga menjadi lebih baik dari hari
ini.
0 komentar:
Posting Komentar