Selasa, 28 Januari 2014

Glasses Of My Life

Edit Posted by with No comments


Sekilas ku memandang sekitar, “Hmm..” gumamku. Tak lama dari itu, ku sandarkan tubuhku pada dinding yang berada tepat di belakangku. Mataku terbelalak melihat ke langit-langit di angkasa yang terhampar luas. “Hanya ada lengkung fatamorgana, sekilas memang terlihat. Sedikit saja ku langkahkan beberapa meter, lengkung itu nyaris tak terlihat.” Terdengar bisik dalam hati. Kakiku mendadak lemas tak berdaya, aku pun terduduk seketika di atas lantai putih bergaris hitam dengan noda coklat akibat injakan kaki para manusia yang berlalu lalang di kota yang begitu ramai ini.
                “Lelah, jenuh, muak, rasanya ingin pergi dari kota ini. Sedikit saja aku ingin menghirup udara segar yang menyehatkan tubuhku. Tak adakah?” Keluhku dalam hati seakan ingin berteriak mengeluarkan segala penat dalam jiwa. Kedua tanganku memegang erat kepalaku yang bising mendengar segala keluh kesah manusia yang seakan memberikan seluruh bebannya kepadaku. “Apa? Ini apa? Kenapa harus aku yang menanggung segala kelemahan mereka?” Teriakku dalam hati. “Haah.. sudahlah” Ucapku sambil membawa badanku untuk tegak berdiri lepas dari segala lamunan dan amarahku itu. Aku angkat kakiku dengan paksa untuk melangkah melihat jalan yang ada di depan mataku. Namun jiwa, jiwaku lumpuh tak berdaya. Aku ingin menangis, tapi rasanya air mata ini sudah mengering karena terlalu sering aku menangis. Aku ingin bersusah payah melihat semua ini, tapi aku sudah terlalu sering juga menjadikan semua ini susah payah.
“Hmm.. bagaimana mungkin aku bisa bahagia di tempat yang begitu gelap seperti ini. Tak ada dunia yang membuatku senyum bahagia. Karena yang bisa membuatku bahagia hanyalah satu jawaban pasti, “Allah menerima cintaku yang tertatih ini” namun aku belum bisa berbuat sesuatu hal yang bisa membuat-Nya yakin dengan cintaku yang setengah-setengah ini. Inilah alasan mengapa aku selalu saja bersedih hati. Aku tak bisa membendung cintaku kepada-Nya, namun dunia ini begitu kelabu. Gelap. Bahkan selalu saja aku disesatkan oleh cinta-cinta kecil di bulatan fatamorgana ini. Tapi, apa yang bisa ku lakukan. Aku pun tak pernah tau jalan hidupku akan begini. Siapa yang membuatku hidup dalam jalan ini? Bahkan ini terlalu ghaib untuk ku tahui.” Gumamku dalam hati yang terus berjalan menyisir setiap rumah di jalan raya itu.
Karena sudah terlalu jauh berjalan, ku putuskan untuk menaiki kendaraan mobil di jalan itu untuk menuju pulang ke rumahku.
Lagi, dan lagi aku berjalan menyusuri rumah penduduk. Asing, begitu asing. Setiap kedua bola mata mereka selalu saja mengarah kepadaku. Sedang aku? Hanya menunduk dengan sebuah ketidakpastian apakah aku sanggup membalas setiap senyum kaku dari bibir tipis mereka? Hanya bisa membungkuk dan kepala tertunduk ke bawah. Lalu berjalan dengan dingin layaknya seekor ayam tak tahu etika.
“Hampir sampai” kedua bola mataku mengarah pada pagar berwarna coklat kopi. Perlahan ku membuka pagar itu dan aku masuk ke dalam rumah. Dan seperti biasa, langsung saja aku masuk ke dalam ruangan yang tak begitu ramai. Ruangan pribadiku sendiri. Kubaringkan seluruh tubuhku di atas tempat tidur yang hanya cukup untukku saja. Tak begitu penting membahas benda tak bernyawa satu itu. Perlahan ku pejamkan kedua bola mataku yang tengah lelah menjalani hidup di siang ini.
Apa yang sebenarnya aku pikirkan, aku takutkan, aku khawatirkan. Bahkan tanpa ditakuti pun segalanya akan hilang dengan waktu yang telah ditentukan. Merasa memiliki, Yaa Allah. Tentramkanlah selalu hati ini. Aku lelah mengatur nafas yang selalu saja tak sampai pada hitungan satu menitpun. Nafasku ini begitu pendek, bahkan untuk mengerjakan satu pekerjaan yang cukup ringanpun rasanya seperti mengangkat satu karung beras. Mengapa semua kejadian yang begitu pahit dari-Mu selalu saja aku tak bisa rela menerimanya. Aku seperti berkeluh kesah dan marah kepada-Mu dengan semua kejadian ini. Tanpa tahu apa yang akan aku dapatkan, aku berlaku semauku tanpa perduli bagaimana dengan-Mu. Cinta, Engkaupun mempunyai rasa cinta. Tak jauh dengan cinta-cinta yang sedang manusia alami di bumi-Mu ini. Bagaimana rasa-Mu melihatku? Adakah cemburu-Mu ketika aku melakukan suatu perbuatan yang begitu menyakitkan-Mu? Allah. Rasaku terhadap-Mu begitu mendalam, tetapi mengapa selalu saja aku tersesat menuju-Mu?
“Hmm… Astaghfirullah…” Ucapku sembari mengangkat kepalaku sambil mengalihkan lamunanku, lalu akupun mulai menatap ke arah jendela kamarku. Usang dan berdebu yang kulihat, seperti tak ada penghuninya. “Sebegitu acuhkah aku terhadap lingkunganku?”, “Mengenaskan”. Dan aku hanya menatapnya tanpa memberikan sebuah sikap yang membantu mereka agar terhindar dari berbagai kotoran yang hinggap pada tubuh mereka itu.
“Bahkan untuk hal terkecilpun aku begitu enggan, tak ada gairah sama sekali. Tak ada semangat, tak ada kehidupan. Layaknya mumi yang dipaksa untuk terus bergerak!” Gumamku mengalihkan pandangan ke arah notebookku. Aku pun menekan tombol power untuk menghidupkan notebook kesayanganku itu. Untuk apa lagi? Yah, hanya sekedar mencari hiburan dalam dunia maya. Facebook.
Ketika membuka jejaring sosial facebook itu, aku lebih memilih membuka dan menulis sebuah catatan di dalamnya. Apa yang akan aku catat? Entahlah. Hanya segumpal darah yang berdenyut menegaskan rasa luka, seperti hampa tak bernyawa. Padahal sejatinya, aku ini hidup bahkan saking hidupnya tak menyadari bahwa semuanya bergerak menuju sebuah kehidupan yang abadi. Yang penuh dengan kesedihan atau mungkin kebahagiaan yang selalu saja dinanti.
“Ricuh gemuruh angin berderu menaruh rasa haru. Sedih yang berkepanjangan hanyalah segumpal darah yang ada pada tubuh mencoba berbicara menegaskan. Mencari sebuah kepastian cinta yang selalu saja tak berujung temu. Harap cemas menanti kehadiran sang pangeran yang akan menjemput sang puteri dengan berjuta kebahagiaan. Akankah semua itu hanya terjadi pada negeri dongeng? Bahkan negeri dongeng sendiripun begitu sinis melihat dunia yang terjal dan tandus kaku tak beraturan seperti yang ada saat ini. Sekelumit kisah cinta, yang bermuara dari-Nya perlahan turun menemui sang adam, kemudian diciptakanlah seorang hawa yang setia menemani seorang adam. Lalu, terjadilah lagi sebuah perjalanan cinta yang dilakukan oleh sepasang manusia yang begitu ramai diperbincangkan. Tak ada faedahnya. Tak ada yang mesti dibanggakan. Hanya tersisa sesak dalam dada yang tak mampu ditopang oleh rusuk-rusuk yang ada di dalam tubuh ini. Bahkan nyaris segumpal darah itu menerobos tulang belulang bernama rusuk itu, menjalar dan terus menyebar hingga sampailah pada sebuah sistem dimana semua hal terfokus padanya, disitulah sebuah pemikiran muncul. Akankah cinta ini berpulang kembali kepada-Nya? Ataukah mungkin akan terselip di labirin yang kan berujung pada jurang kematian. Disana pun ada air yang mengalir, bahkan bermuara pada sebuah lautan yang terhampar begitu luas seperti langit diatas sana. Segumpal darah bernama cinta ini akankah sampai pada-Nya atau akan tenggelam dan diguyur oleh derasnya air hujan dan tercampur dengan gulungan ombak di lautan sana? Lalu, nyaris tertabrak batu karang lalu pecah. Musnah. Aku hanya ingin, cinta ini tak berakhir tragis dalam sebuah ketidakpastian dan melahirkan air mata yang tak berkesudahan. Allah, aku hanya ingin bertemu dengan-Mu. Kasihilah dan sayangilah aku. Aku mengemis cinta dari-Mu agar aku mampu melewati segala air yang mampu mengambil segumpal darah dari-Mu yang bernama cinta ini. Dengannya seorang pria yang aku nantikan, semoga kan sampai segumpal darah dari-Mu ini kepada-Mu lagi. Aamiin aamiin aamiin”
Lalu, aku simpan catatan itu dalam akun facebookku. Aku tutup dan aku matikan barang elektronik ini. Kemudian aku tidur dengan pulasnya untuk menyambut hari esok yang semoga menjadi lebih baik dari hari ini.

0 komentar:

Posting Komentar