Jumat, 11 April 2014

Tetesan Air Mata Terakhir

Edit Posted by with No comments


Terlihat wajahnya yang nampak kusut dan mulutnya terbata seperti ingin mengungkapkan sesuatu. Zahra yang melihat ayahnya yang begitu terlihat bersedih seolah tak kuasa untuk meneruskan niatannya untuk pergi melanjutkan pendidikannya di Universitas Kairo, Al-Azhar sana.
            “Abi, abi mau berkata apa kepada Zahra?” Tanya Zahra yang mendekat kepada ayahnya yang sedang duduk di kursi roda.
            Dengan berat hati untuk mengatakan itu semua, karena memang usianya yang sudah terbilang sangat tua. Dan ayah Zahra pun sedang mengalami struk ringan. Ayahnya pun berkata sesuatu kepada anak gadis bungsunya itu.
            “Se..ge..ralah.. me..ni..kah, nak!” Ucap ayahnya yang seketika tak kuasa untuk menahan sesak di dadanya. Zahra tak begitu memikirkan apa yang ayahnya katakan, serentak Zahra mengangkat ayahnya untuk berbaring di tempat tidurnya.
            “Umi.. Umi..” Teriak Zahra memanggil ibunya.
            “Ya Zahra.. Ada apa?” Sahut ibunya dari dapur.
            “Abi tiba-tiba sesak nafas Umi, kemarilah.”
            Ibunya pun terkaget dan segera berjalan cepat menghampiri Zahra dan melihat keadaan suaminya.
            “Mengapa seperti ini, Zahra?” Tanya ibunya kepada Zahra yang sedang menangis di samping kiri ayahnya.
            “Abi menginginkan Zahra untuk segera menikah, Umi.” Ucap Zahra yang tak kuasa membendung rasa sedih dalam hatinya.
            “Lalu, bagaimana denganmu nak? Apakah sudah mempunyai calon pendamping?” Tanya ibunya dengan tatapan mata yang begitu mendalam seolah memelas.
            Zahra tak sanggup melihat sorot mata ibundanya, Zahra hanya menunduk dan kemudian ia langsung pergi meninggalkan kamar ayahnya dan segera bergegas ke kamarnya untuk merenungkan perkataan ayahnya.
            Bagaimana mungkin aku bisa menyakiti perasaan seorang ayah, ibu. Mana mungkin. Tetapi aku juga tak bisa lari begitu saja dari kenyataan yang ada. Aku bahkan bingung, mengapa sampai saat ini aku.. apakah aku terlalu banyak dosa-dosa? Ah..
            Begitulah yang dipikirkan oleh Zahra. Ia hanya bisa melamun dan membayangkan, bagaimana jika dia tak bisa membahagiakan ayahnya. Bagaimana jika ayahnya pergi terlebih dahulu sebelum ia menikah. Sangat-sangat menyesakkan batinnya.
            Senja pun berganti menjadi malam, tak ubahnya. Sang ayah hanya bisa terbaring lemah tak berdaya di atas kasurnya. Sang ibu yang tiada hentinya berdzikir dan menangis di atas sajadahnya. Mengadu kepada yang memiliki naskah hidup ini. Sedang Zahra, hanya bisa termenung menopang dagu tak mengerti. Mencari celah untuk menemukan sebuah jawaban, apa yang harus ia lakukan. Sementara segudang prestasi dan impiannya telah hadir di depan mata. Kesempatan ia untuk kuliah di tanah Kairo itu adalah impiannya sedari dulu. Namun, bila kenyataannya seperti ini. Zahra bingung harus mengambil sikap yang seperti apa.
Keesokan Harinya
            “Assalamu’alaikum warahmatullah,” Ucap seorang pria dari balik pintu.
            “Wa’alaikumussalaam warahmatullah,” Jawab Zahra sambil membuka pintu
            “Eh, Kang Hardi. Sengaja mampir Kang?” Ucap Zahra yang terkejut ketika melihat bahwa tamu yang datang ke rumahnya kali ini adalah kakak ke-duanya.
            “Iya, Akang sengaja kesini. Apakabarnya Abi sama Umi?” Tanya Kang Hardi sambil masuk ke rumah dan duduk di karpet yang telah dihamparkan di lantai.
            “Abi masih begitu sajalah Kang, malah kemarin Abi sesak nafas. Umi Alhamdulillah sehat, oh ya. Kemana Teh Melsa?”
            “Abi sesak nafas kenapa? Ada masalah? Pasti karena kamu ya?”
            “Ah, akang. Gitu deh. Umi, ini ada Kang Hardi.” Teriak Zahra memanggilkan ibunya.
            “Tunggu Kang, Zahra ambilkan dulu minum.”
            Zahra pun mengambilkan minum dan suguhan lainnya di dapur, sementara itu Umi dan Abi Zahra pun keluar dari kamar menemui anak ke-duanya.
            “Assalamu’alaikum Umi, Abi. Sehat?” Ucap Kang Hardi sambil menundukkan kepalanya mencium tangan abi dan uminya.
            “Wa’alaikumussalaam, Alhamdulillah. Bagaimana denganmu sendiri nak? Bahagiakah di Jogja sana?” Ucap ibunya.
            “Hardi sehat Umi, Alhamdulillah.”
            Zahra pun kembali dari dapur dengan membawakan minum dan makanan ringan untuk disuguhkan kepada tamu.
            “Umi, Zahra bertanya tentang Teh Melsa belum Kang Hardi jawab. Kemana Kang?”
            “Oh iya, mengapa kamu datang kemari sendirian, Hardi?” tanya ibunya.
            “Melsa baik-baik saja, hanya saja dia tak ikut. Karena, di rumah sedang ada renovasi. Lagipula, Pandu sedang sakit sudah satu minggu.” Jawab Kang Hardi.
            “Innalillah, sakit apa Kang?” Tanya Zahra.
            “Demam, nafsu makannya menurun.” Jawabnya.
            “Gimana, sudah punya calon belum?” Lanjut Kang Hardi kepada Zahra.
            “Ah, Kang. Zahra galau kalau ditanya tentang pasangan.” Jawab Zahra.
            “Lho, kenapa?” Tanya Kang Hardi memasang wajah penasaran.
            “Ah, entahlah Kang.”
            “Sudah, tak perlu membahas pasangan Zahra. Nanti malah jadi pikiran buat Abi.” Ucap Ibunda mereka berdua.
            “Nah kan, kata Akang juga tadi apa. Kamu penyebabnya!” Ucap Kang Hardi sambil menyentil telinga Zahra.
            “Aduuh.. Kang, mana Zahra tahu bakal seperti begini kejadiannya. Lagian, bukannya Zahra tak mau mencari pendamping. Tapi, entahlah. Belum ada yang menyatakan perasaannya kepada Zahra.”
            “Kamu sendiri suka sama siapa Zahra?”
            “Zahra bingung menafsirkan apa itu cinta. Kebanyakan yang Zahra tahu, semua yang mencintai akhirnya tersakiti dan menyalahkan cinta itu sendiri. Zahra takut kalau Zahra pun akan diperlakukan yang sama oleh cinta, sama seperti yang dilakukan cinta kepada mereka.”
            “Kamu ini, seperti tak percaya kepada Allah saja!” Ucap Kang Hardi.
            “Lho, kenapa harus memunculkan pernyataan yang seperti itu Kang?”
            “Setiap orang itu memiliki perjalanan hidup yang berbeda, tidak mungkin akan selalu disakiti oleh cinta. Lagipula, cinta itu sendiri bersih. Yang salah hanya ada dua kemungkinan, salah orang dan salah cara mencintai itu sendiri.”
            “Wah, Akang jago juga ya mendefinisikan apa itu cinta.”
            “Bukannya jago, tapi apa kamu tak berpikir dan tak melihat bagaimana kisah Akang? Akang sudah menikah dengan Teh Melsa, apakah akang tidak bahagia dan tersakiti?”
            “Ya, mungkin kisah hidup akang seperti itu. Tetapi Zahra memang begini. Mungkin, belum baik diri Zahra menurut Allah. Mana mungkin Zahra memberontak dan memprotes?”
            “Banyak-banyaklah berdo’a dan berikhtiar, dengan cara memperbaiki diri. InsyaAllah, nanti kalau memang sudah saatnya kamu siap dan sudah benar-benar bisa membuka hati. Jodohmu akan datang.” Ucap Kang Hardi.
            “Sudah, ayo makan siang dulu.” Ucap ibunya.
            Mereka semua pun makan bersama di rumah.
            Zahra merasa sangat bahagia bisa merasakan kebahagiaan yang teramat dalam keluarganya ini. Dia sempat berpikir bagaimana jika dia tak perlu menikah dan hanya menghabiskan waktunya untuk menjaga dan mengurus kedua orangtuanya. Karena sama saja pada dasarnya hidup ini hanya untuk beribadah, lagipula menikah itu kan perintahnya tidak wajib. Tetapi..
            Wajah Zahra pun akhirnya tiba-tiba pucat, dia seperti bersedih dan ingin menangis. Mengingat kondisi ayahnya yang tak sehat. Mengingat dan terus dihantui oleh kata-kata ayahnya yang ingin melihat Zahra untuk menikah.
            Ayahnya melihat wajah tak bahagia dari anak gadisnya itu. Sang ayah pun akhirnya membawa diri dan kursi rodanya ke luar rumah, ia merenung sendiri melihat pemandangan luar.
            Sang ayah pun mengodok saku celananya, dan di kantung bajunya terdapat kertas dan juga pulpen. Sang ayah pun mulai menuliskan sesuatu di atas kertas putih itu.
            “Zahra, abi sangat tahu apa yang sedang kamu lamunkan dan kamu sedihkan saat ini. Maafkan abi jika permintaan abi membuatmu susah. Abi hanya sangat menyayangi anak gadis abi yang satu-satunya abi miliki. Abi bukannya iri kepada mereka yang telah menikahkan anak gadisnya, hanya saja. Abi tak sanggup menahan rasa sedih jika kamu pun sebenarnya ingin merasakan cinta yang ada di dunia ini walau sebenarnya masih ada yang lebih utama. Namun, menikah tak ada salahnya. Abi sangat ingin melihat kamu memakai gaun pengantin dan mendapatkan pasangan yang shalih, yang lebih dari abimu ini. Do’a abi selalu mengiringi setiap langkah kakimu, nak. Berbahagialah demi Abi dan Umi.”
            Lembar kertas yang telah tertuliskan ayahnya pun sengaja di jatuhkan ke lantai. Zahra yang melihat ayahnya sedang sendirian di luar. Akhirnya Zahra pun menyusul ayahnya keluar. Dan..
            Zahra melihat ada gulungan kertas yang terlihat begitu rapih, Zahra pun mengambilnya dan bermaksud untuk membuang kertas itu ke tempat sampah. Tetapi, setelah semenit dari itu. Ayahnya pun menarik baju Zahra dan menyuruh Zahra untuk membuka kertas itu. Akhirnya, Zahra pun membukanya dan membaca apa yang telah tertulis di dalamnya.
            Zahra pun menangis saat itu juga, ia menangis di pelukan ayahnya. Ia mencium tangan ayahnya yang dibanjiri oleh air matanya yang begitu deras mengalir.
            “InsyaAllah, Zahra akan berikhtiar mencari jodoh Zahra abi. Abi sabar ya.” Ucap Zahra yang meyakinkan ayahnya.
2 Bulan Kemudian
            “Abi, Zahra janji akan menemukannya. Abi jangan dulu pulang.” Ucap Zahra yang berada di samping kanan ayahnya yang terbaring di atas kasur tak sadarkan diri. Ya, ayahnya koma semenjak satu bulan yang lalu.
            Tak terpikir bagaimana caranya untuk menemukan pasangan yang kan menemani hari-hari Zahra nantinya, yang Zahra pikirkan hanyalah kesehatan ayahnya. Batinnya begitu sakit, dadanya begitu sesak. Dilema yang benar-benar tak berkesudahan.
            “Zahra sudahlah, ayo cepat kamu bergegas untuk mencari pasanganmu di manapun, di pesantren atau di sekolah madrasah. Carilah yang terbaik menurut agama.” Ucap Ibunya kepada Zahra yang sedang menangis terisak disamping ayahnya.
            “Umi, masa harus aku yang mencarinya? Aku kan wanita Umi?”
            “Memangnya mengapa dengan wanita? Bukankah Siti Khadijah pun..”
            “Iya Umi, Zahra akan mencobanya.”
2 Minggu kemudian
            Siapapun yang menemukan ini, aku harap dia adalah seorang ikhwan yang terbaik. Ah, tak perlu terbaik. Minimal, mempunyai kebiasaan yang baik dan ingin melakukan kebaikan. Tak perlu tampan hanya sebatas nyaman untuk dipandang. Aku menantimu di rumahku. Ikhwan, seorang ikhwan yang baik. Siapapun.. cepatlah datang dan lamarlah aku.”
Zahrania Khairunnisa
            Disertakan pula alamat rumah lengkap Zahra pada kertas itu. Zahra hanya bisa menuliskannya di sepucuk kertas dan menyelipkannya di semak-semak, taman yang hanya orang-orang tertentu yang mendatanginya. Biasanya sih, banyak juga anak santri yang lewat ke situ. Entahlah, Zahra hanya bisa berikhtiar dan berdo’a agar ada yang menemukan dan membaca surat itu.
            Akhirnya, selang beberapa jam Zahra pulang ke rumahnya. Datanglah seorang pria yang tak lain adalah teman sekolah MTs nya dahulu. Ya, seseorang yang telah lama memendam rasa cinta kepada Zahra. Namun, karena pria itu tak berani mengungkapkan dan melihat Zahra yang sangat pandai juga berparas cantik bahkan shalihah, ia tak percaya diri dengan kondisinya yang sangat jauh berbeda dengan Zahra. Namanya, Noval.
            Noval yang menemukan dan membaca kertas itu tiba-tiba saja terkaget, karena dia tak menyangka bahwa sampai saat ini Zahra belum juga menikah, padahal usianya sudah menginjak 26th. Dan menurut idealnya, usia 26th memang sudah sangat terlambat bagi wanita.
            Kali ini, Noval memantapkan dirinya untuk mempersunting gadis pilihannya sejak Mts lalu. Dengan melibatkan Allah dalam ikhtiarnya, ia pun melaksanakan shalat istikharah untuk meminta petunjuk dari Allah.
            Setelah benar-benar mantap segalanya, Noval pun bergegas meminta izin dan meminta bantuan dari keluarganya untuk melamar Zahra dan datang ke rumah Zahra. Mereka pun akhirnya setuju. Dan dalam hitungan waktu 2 hari, mereka pun datang berkunjung ke rumah Zahra.
2 Hari Kemudian
            “Assalamu’alaikum..” Terdengar suara pria dari luar rumah.
            Zahra pun membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan tamu itu masuk. Zahra tak menyadari bahwa pria itu adalah Noval teman sekelasnya sewaktu MTs.
            “Zahra, bagaimana kabarmu?” Ucap Noval yang terlihat begitu malu-malu.
            “Lho, kok. Kamu tahu namaku?” Tanya Zahra terkaget.
            “Kamu lupa? Aku Noval. Teman sekelasmu waktu MTs, masih ingat?” Jawab Noval.
            “MaasyaAllah.. Hampir saja lupa. Ya, Noval. Yang terkenal dengan sastranya. Setiap di MTs selalu mengirimkan puisi dan menempelkannya di mading. Ya, Zahra ingat.” Ucapnya penuh dengan senyuman.
            “Kamu dari dulu gak berubah ya,”
            “Lho, memang bagaimana?”
            “Tetap manis dan ya begitulah.”
            Zahra pun terlihat begitu malu mendengar pernyataan teman lamanya mengenai dirinya itu.
            “Ada apa kemari Noval?”
            “Lho, bukannya kamu yang menulis surat itu di taman sana kan?”
            “Hmm..” Zahra mencoba mengingat-ingat.
            “Ya Allah, jadi kamu yang menemukan surat itu?” Jawab Zahra terkaget.
            “Iya, kenapa? Keberatan? Atau, aku kurang masuk syarat?”
            “Hehe.. Nggak kok. Aku gak nyangka, yang menemukan surat itu justru kamu yang aku kenal. Aku takutnya malah orang jahat dan orang gila yang menemukan itu, bahkan tak ada yang menemukannya sama sekali. Tapi, memangnya kamu belum menikah?”
            “Belum, kan aku memang sedang menunggu.”
            “Menunggu?”
            “Iya, menunggu gadis pilihanku sedari dulu.”
            “Indahnya, memang siapa?”
            “Hadeuh, kamu gak sadar? Aku kemari memangnya untuk apa?”
            “Memangnya untuk apa?”
            “MaasyaAllah.. Sudah, dengarkan saja ayahku bicara nanti.”
            “Hihi.. Iya, siap deh.”
            Akhirnya, keluarga Noval pun memberitahu maksud kedatangan mereka semua ke rumah Zahra kepada Ibu Zahra. Karena memang pada saat itu, kondisi ayah Zahra masih dalam keadaan koma. Ibu Zahra meminta waktu untuk menunda acara lamaran dan pernikahan anak-anaknya itu dengan alasan ingin menunggu ayah Zahra sadar dari komanya. Dan keluarga Noval pun menyetujuinya.
            Perasaan Zahra diliputi kebahagiaan namun kesedihan yang teramat. Bagaimana kalau ayahnya tak kunjung sadar dan malah justru meninggal. Bagaimana juga kalau pernikahannya tak pernah terjadi sama sekali. Bagaimana, bagaimana dan bagaimana. Itulah yang terus mengelilingi otak Zahra. Pagi, siang bahkan malam sekalipun. Zahra hanya bisa bersabar dan terus bertawakal. Apapun hasilnya, Zahra harus bisa mengikhlaskan.
1 Bulan Kemudian
            “Alhamdulillah..” Ucap Ibu dan Zahra ketika melihat ayahnya tersadar dari komanya.
            Kali ini, di rumah Zahra bukan hanya Zahra dan ibunya saja. Tetapi semua kakak-kakak Zahra beserta keluarganya berkumpul. Karena, mereka tahu bahwa Zahra akan segera menikah. Dan bersiap siaga kalau-kalau terjadi sesuatu dengan ayahnya. Akhirnya, setelah beberapa hari ayahnya Zahra tersadar dari komanya. Zahra pun memutuskan untuk menikah di bulan ini dan tanggalnya pun dipercepat, agar tidak ada lagi kendala yang lain-lain lagi. Akhirnya, setelah beberapa hari ayahnya pulih. Pernikahan itupun dilangsungkan.
            Betapa bahagianya Zahra akan kejadian hari ini. Semua keluarganya tersenyum bahagia, namun Zahra malah menangis bersedih karena dia pun harus meninggalkan ayah dan ibunya untuk pergi bersama dengan Noval yang saat ini jadi suaminya.
            Ketika acara akad dan resepsi pernikahan selesai. Pada malam harinya justru kondisi sang ayah kembali memburuk dan nafasnya pun tak lancar.
            Zahra malah kembali menangis bersedih melihat ayahnya yang kembali tak sehat.
            Ayahnya pun menangis tak tertahankan, dan beliau mengungkapkan sesuatu kepada keluarga semuanya.
            “Abi bahagia akhirnya Zahra menikah, abi sangat bersyukur bisa melihat Zahra menikah. Tapi, abi tahu. Abi sudah terlalu tua, permintaan abi kepada kalian semua hanyalah jaga keimanan dan ketauhidan kalian kepada Allah. Semua akan kembali kepada-Nya.” Air mata sang ayah tua itu terus mengucur deras membasahi pipinya. Semua anak-anaknya pun tak sanggup membendung rasa sedih dan isak tangis, apalagi Zahra.
            Ia mendekap erat tubuh ayahnya yang tak lama dari lima menit kemudian, ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya. Zahra pun mendekap erat tubuh suaminya dan ia menangis dengan derasnya.
            Ya, janur kuning itu. Dibarengi dengan bendera kuning. Kepergianku dari sisi kedua orangtuaku, dan kepergian ayahku dari dunia ini. Allah, entah apa yang harus aku ucapkan saat ini. Apakah aku harus menangis bahagia karena pernikahanku, atau malah menangis karena kepergian ayahku. Sungguh berat Allah, aku tak bisa berbahagia disaat kepulangan ayahku kepada-Mu. Ikhlaskanlah aku.. Terangilah perjalanannya di sana, ampunilah dosanya Allah.. Aamiin aamiin aamiin..
            Dan seluruh keluarga pun menshalati jenazah dan keesokan harinya mengubur jenazah ayahnya.