Terlahir sebagai wanita yang berpenampilan biasa
saja, bahkan sangat terkesan acuh seolah tak peduli dengan fashion apapun. She’s Deasy.
Baru saja lulus dari study-nya di
Universitas terdekat di daerah Solo. Walau memang terlihat sangat acuh, namun
Deasy sangat menyukai pakaian panjang seperti rok panjang, baju panjang, dan
kerudung panjang. Ia ingin sekali berpenampilan cantik tanpa harus
memperlihatkan kemolekan tubuhnya kepada sesiapapun selainnya, bahkan
saudaranya sekalipun.
Tak
sabar ingin segera menikah dan mempunyai anak, Deasy yang akrab disapa Achie
ini mempunyai seorang kekasih yang memang hubungannya sudah berjalan cukup
lama, sekitar 2 tahun lebih beberapa bulan. Namanya Ghian. Memang sedari awal
hubungan mereka, Ghian menjanjikan akan menikahi Deasy secepatnya, itupun kalau
memang sampai pada waktu yang telah ditetapkan dan memang sudah tertulis dalam
guratan takdir bahwa memang mereka adalah sepasang suami istri nantinya, dan
yang lebih pasti jika Ghian sudah mapan dan Deasy sudah lulus kuliahnya. Namun,
ada saja persoalan dalam hubungan mereka. Dimulai dari Ghian yang semakin hari
semakin berbeda sikap dan selalu membuat Deasy melamun disela-sela waktu kala
tak ada kegiatan yang bermanfaat.
“Ney,
kemana aja sih kamu?” Tanya Achie kepada Ghian melalui sms.
“Aku
sibuk kerja Ney. Maaf ya.” Jawabnya singkat.
Setelah
beberapa jam Deasy menunggu balasan dari Ghian, namun ternyata tak kunjung
tiba. Deasy pun meresah, hatinya diselimuti oleh rasa cemas dan khawatir karena
tak ada kabar dari kekasihnya itu. Dia bertanya-tanya sendiri hingga
menyimpulkan kondisi yang buruk tentang Ghian.
“Ghian
kemana sih..” Gumam Deasy resah.
Berulang
kali Deasy melihat isi pesan dalam handphone-nya berharap ada pesan dari Ghian.
Namun hingga 2 jam berlalu pun, Ghian belum saja menghubunginya. Deasy makin
gelisah.
Tak
kuat lagi menahan segala rasa cemas dan gelisah. Deasy mencoba menghubungi
kekasihnya itu. Sekali, dua kali, hingga ke-lima kalinya namun tak ada respon
apapun dari kekasihnya itu. Deasy mulai gamang dan kalut. Pikirannya kacau,
serba salah. Ingin marah dan berteriak, menangis sekencang-kencangnya tapi
Deasy pikir itu sama sekali tak ada gunanya. Hingga akhirnya Deasy memutuskan
untuk tetap tenang dan sabar dalam keadaan yang seperti ini.
“Ah,
Ghian suka bercanda. Kayaknya dia lagi pengen main-main sama aku. Makanya dia
buat aku resah gini. Dia pasti mau kasih kejutan buat aku. Tapi.. Masa kayak
gitu? Gak biasanya juga dia kayak gini, kenapa yah? Aaah.. Kenapa sih.. Apa ada
wanita lain yang mengusik hati dia? Jadi dia berpaling? Aaaah.. Nggak, nggak,
nggak. Ah.. Kemana sih. Menyebalkan!” Gerutunya dalam hati.
Jarum
pendek di jam dinding itu pun sudah menunjuk ke angka 9. Deasy semakin bingung
dan galau karena Ghian.
“Gila,
waktu aku habis cuma buat galau gara-gara si Ghian. Kemana sih itu bocah?
Aaargh..” Gerutunya semakin kesal.
Deasy
pun kembali menghubungi nomor Ghian. Berharap Ghian mengangkat telponnya dan
mau bicara mengapa tak ada kabar sama sekali darinya. Dan..
“Halo,
Ghian.” Kata Deasy.
“Maaf,
Ghiannya udah tidur. Ini Deasy ya?” Ucap seorang wanita yang tak lain adalah
ibunya Ghian.
“Oh..
gitu yah..” Jawab Deasy melemah. Handphone
pun Deasy matikan tanpa ada basa-basi lagi kepada lawan bicaranya itu.
Kenapa Ghian kayak gitu banget sih sama aku
sekarang? Bosen kali ya sama aku. Ah.. Damn, udah lama nungguin ternyata cuma
kayak gini doang? Aaaaaaaargh… Pikirnya.
Daripada
terus menerus kepikiran sikap Ghian, Deasy pun segera menjatuhkan dirinya di
atas kasur, mematikan lampu kamar, menarik selimut dan akhirnya Deasy pun
tertidur.
~ Keesokan
Harinya ~
Haruskah ku mati karenamu..
Terkubur dalam
kesedihan sepanjang waktu..
Haruskah ku relakan hidupku..
Hanya demi cinta
yang mungkin bisa membunuhku..
Terdengar
suara dari handphone Deasy,
menandakan ada panggilan masuk.
“MyGhi’s
Calling” Tertera dalam layar handphone Deasy
bahwa yang memanggilnya melalui telpon adalah Ghian. Deasy pun langsung
mengangkat telponnya.
“Ney..”
Kata Ghian.
“Ya,
Ney. Kenapa? Kamu kemarin kenapa gak ngabarin aku sih Ney?” tanya Deasy yang
seolah tak sabar ingin mendengar penjelasan dari kekasihnya itu.
“Kemarin
aku kecapean Ney, maaf. Hm.. Yaudah, jangan lupa sarapan yah.” Balas Ghian
sambil menutup pembicaraan.
“Tuuttuuutuuut…” Suara dari handphone Achie.
“Ih,
kenapa langsung dimatiin kayak gini. Jadi curiga.” Gumamnya.
Deasy
pun langsung bergegas dari tempat tidurnya dan segera membersihkan seluruh
badannya. Setelah selesai mandi, Deasy pun langsung menyantap hidangan yang
sudah disediakan oleh ibunya.
“Mah,
kenapa yah akhir-akhir ini Ghian jadi beda sama Achie?” Kata Achie kepada
mamanya.
“Beda
gimana?”Jawab Mamanya.
“Ya
sekarang tu dia jarang banget ngobrol lama, terus jarang ngabarin dan malah
sering bikin Achie nunggu lagi mah.” Tukasnya sambil menusuk sosis mengenakan
garpu dan menyantap sosis itu dengan penuh kekesalan.
“Ya,
mana mama tau. Kamu pernah bikin dia kesel ngga?”Kata Mamanya.
“Salah
apa, nggak deh perasaan. Hm..”
“Yaudah,
tunggu aja beberapa episode lagi kayak di sinetron. Kadang, cerita cinta itu
gak harus selalu manis.” Jawab Mamanya yang mencoba menghibur Deasy.
“Ah..
Gak tau deh. Tetep aja mah sakit ke sini nya” Jawab Deasy sambil menunjuk
dadanya dengan jari telunjuknya. Dan Deasy pun pergi dari meja makan ke dapur,
lalu pergi ke halaman belakang rumah untuk mengenang masa-masa indah bersama
Ghian 2 tahun ke belakang.
Bermacam-macam
jenis tumbuhan dan bunga tumbuh di pekarangan rumah Deasy. Ada bunga mawar
berwarna merah jambu, merah, dan juga biru. Ada juga patung angsa putih dekat
kolam ikan dan air mancur di sana. Dan, satu tanaman kecil yang diberikan oleh
Ghian setahun yang lalu. Mm..
“Ghian,
kaktus kecil ini yang selalu membuat aku menangis bahagia karena ingat segala
kenangan indah waktu sama kamu dulu. Kaktus ini kamu kasih ke aku waktu aku
ulang tahun, dan kaktus ini memang aku sangat menginginkannya. Bentuknya yang
lucu, indah, itu sama seperti kamu yang selalu saja indah buat aku. Tapi,
kenapa sekarang kamu jadi menyakitkan kayak kaktus ini? Berduri.” Gumam Deasy
sambil menatap dalam tanaman kaktus kecil itu.
Sama
seperti di hari sebelumnya, waktu Deasy habis hanya untuk menunggu dan menunggu
kabar dari kekasihnya itu. Hingga beberapa minggu tak dapat kabar dari Ghian.
Deasy hampir putus asa untuk melanjutkan hubungannya bersama Ghian ini. Dan ternyata..
“Chie..
Nih ada undangan” Kata Mamanya Deasy sambil menyodorkan kertas undangan yang tertera
nama Ghian di atasnya.
“Ghian
dan Nayla, hari minggu tanggal..” Ucap Deasy yang terhenti seketika membaca
kertas undangan itu.
“Ghian?
Mah, Ghian mah..” Ucap Deasy yang terbata-bata menahan rasa sedih dan kecewa.
Matanya yang mulai berkaca-kaca tak sanggup untuk menahan linangan air mata.
Hingga akhirnya air matanya terjatuh membasahi lesung pipinya.
Deasy
pun menjatuhkan kertas undangan itu dan segera lari ke kamarnya, menutup pintu
kamarnya dengan sekeras mungkin. Deasy menangis sederas-derasnya. Sarung
bantalnya pun basah karena air matanya yang terus saja mengalir.
Awan
pun berubah warna menjadi kelabu, gelap. Petir menggelegar dan gemuruh angin
begitu kencang hingga menerpa tanaman kecil yang diberikan oleh Ghian itu pada
akhirnya terjatuh dari tempatnya. Deasy pun segera bergegas melihat tanaman
kecil itu.
Deasy
menangis mengeluarkan segala penat dan kekecewaan yang tertahan di dadanya
sambil meratapi hancurnya kaktus yang jatuh tepat di hadapannya.
“Seperti
ada biji kedondong di tenggorokanku hingga membuat aku tersedak. Itu karena
kamu Ghian. Bahkan, kaktus ini sepertinya sudah berada tepat di ulu hatiku
karenamu. MasyaAllah.. Aku tak percaya kalau kamu melakukan ini semua tanpa
adanya putusan terlebih dahulu. Sekarang aku harus bagaimana? Merelakan kepergianmu
bersama wanita itu?” Desahnya.
“Deras, hujan yang turun. Aku menangis,
memeluk bayangmu… Derai, air mataku.. Membasuh perih, terluka kau tinggalkan
aku..Cinta putih yang kan kau beri namun tak sempat kau ucapkan, mengisi
kehampaan hatiku di sini.. Sebening embun pagi luruh menetes di dedaunan.. Ku tangisi
kepergianmu cinta..” Suara merdu Deasy menyanyikan sebuah lagu milik “Acha
Septriasa” yang berjudul “Kehampaan Hati” dengan memainkan gitar kesayangannya.
“Terimakasih tuk luka yang kau beri, ku
tak percaya kau tlah begini, dulu kau menjadi malaikat di hati, sampai hati kau
telah begini.. Lumpuhkanlah ingatanku hapuskan tentang dia, kuingin ku
lupakannya.. Aaaah… Kau acuhkan aku, kau biarkan aku..haaaaa aaah… Harusnya ku
tlah melewatkanmu, menghapus kamu dari dalam benakku.. Namun ternyata sulit
bagiku, merelakanmu pergi dari hatiku.. Selalu ingin dekap tubuhmu, namun aku
tak bisa.. karena kau tlah bahagiaa..” lanjutnya dengan menyanyikan
beberapa lagu yang bertemakan kesedihan, menjadikan lambang kehancuran sebuah
harapan yang indah dalam segumpal darah bernama cinta yang dimilikinya.
Deasy
pun menghapus air matanya yang membasahi kedua pipinya. Dia bertekad untuk
tetap kuat meski hatinya ingin terus menangis untuk membasuh perih, luka yang
mencabik-cabik hatinya.
Dengan
menghela dan melepaskan nafas secara perlahan, Deasy pun memejamkan matanya dan
mencari sebuah ketenangan untuk hatinya yang perlahan keropos karena ulah
kekasihnya itu.
Aku harus buktikan ke Ghian, kalau aku pasti
sanggup dan pasti nanti aku dapat penggantinya Ghian, jauh lebih baik daripada
Ghian. Aku percaya itu. Ya, Deasy.. Kamu harus kuat, kamu pasti bisa!!
~ Janur Kuning
Itu.. ~
Menjelang hari
bahagiamu, kau tak pernah tahu aku bersedih..
Kau lupakan
semua kenangan lalu, lalu kau campakkan begitu saja..
Tega..
Aku tahu dirimu
kini, telah ada yang memiliki…
Tapi
bagaimanakah, dengan diriku tak mungkin ku sanggup untuk kehilangan dirimu
Aku tahu, bukan
saatnya tuk mengharap cintamu lagi..
Tapi
bagaimanakah dengan hatiku.. Tak mungkin ku sanggup hidup begini tanpa
cintamu..
Sepanjang
perjalanan dari rumah Deasy ke tempat dimana janur kuning itu melengkung, Deasy
hanya menyanyikan lagu itu terus menerus dan berulang-ulang sampai semua
kekecewaannya berguguran karena terlalu sakit dan perihnya ditinggalkan kekasih
untuk menikah dengan wanita lain. Dan sesampainya di tempat pernikahan
kekasihnya itu, oh lebih tepatnya mantan kekasihnya yang seperti duri kaktus
itu. Deasy pun mengisi buku tamu dan mengambil cinderamata yang diberikan oleh
penunggu tamu di acara pernikahan mantan kekasihnya itu. Ia pun perlahan
berjalan menghampiri kedua mempelai. Tak sanggup menahan rasa kecewa dan
kesedihan yang mendalam. Hanya tinggal beberapa langkah lagi sampai, Deasy pun
berbalik badan karena tak sanggup menahan rasa sakit ketika Ghian menangkap
kedua bola matanya. Deasy pun menghapus air matanya ketika ia sedang berbalik
ke belakang, dan kembali berjalan menghampiri pengantin. “Aku yakin aku kuat, meski harus tertatih”. Gumamnya dalam hati
mencoba untuk menguatkan.
Degg… Jantung Deasy berdegup tak
beraturan. Rasa sakit dan tak rela itu semakin datang bertubi-tubi seperti batu
yang datang dari atas untuk menimpuknya berkali-kali. Ingin menangis, tapi
sudah tak ada artinya lagi. Malah nanti dikatakan yang aneh-aneh oleh
pendamping barunya itu. Dengan kata-kata yang terbata, helaan nafas yang
mendesah. Deasy pun mengucapkan satu kata yang cukup singkat, jelas, dan padat
untuk mantan kekasihnya yang seperti duri kaktus itu.
“Selamat.”
Begitulah kata-kata dari Deasy. Tanpa basa-basi dan tanpa mencicipi hidangan
yang sudah disediakan oleh yang mempunyai acara. Deasy pun pulang dengan
membawa luka yang semakin menumpuk dalam hatinya.
Ketika
Ghian melihat wajah dan ekspresi dari mantan kekasihnya itu, memang tergurat
rasa sesal dan kesal serta kekecewaan yang serupa pula dalam hatinya. Karena
memang tak bisa dipungkiri bahwa pilihannya yang tak memberitahukan sedari awal
tentang rencana pernikahannya kepada Deasy itu memang menyakitkan sekali untuk
Deasy. Tapi, Ghian memang tak punya pilihan lain selain itu. Awalnya memang tak
akan mengundang Deasy sama sekali karena takut kalau Deasy lebih-lebih terluka
karena ini. Tapi, jika tak diundang pun itu akan mengundang pertanyaan yang
lebih banyak lagi dalam benak Deasy.
“Kenapa,
Mas?” Tanya Nayla kepada Ghian ketika melihat wajah Ghian berubah pucat dan
sedikit resah.
“Nggak
apa-apa, dik.” Ucap Ghian santai sambil menyambut hangat jabatan tangan dari
orang-orang yang berdatangan memberikan ucapan selamat kepada dirinya.
Deasy
belum saja sembuh dari lukanya. Namun, dengan beriringnya waktu. Deasy bertekad untuk menjauhi segala kenangan yang
tercipta bersama Ghian dahulu. Dan saat ini Ghian sudah menjadi suami wanita
lain. Lalu untuk apa Deasy selalu saja menangisi dan terus menelan rasa kecewa
dan menikmati kesakitan yang hanya menyiksa dirinya sendiri.
Setelah
sebulan lamanya mencoba melupakan kenangan indah dan juga kenangan memerihkan
bagai tanaman kaktus itu. Akhirnya, Deasy mendapatkan pengganti Ghian. Jauh
lebih tampan dan mapan segala-galanya ketimbang Ghian. Dan, rencananya
minggu-minggu ini mereka akan melangsungkan pernikahan. Alhamdulillah.

0 komentar:
Posting Komentar