Selasa, 28 Januari 2014

Cintamu Bak Duri Kaktus

Edit Posted by with No comments


Terlahir sebagai wanita yang berpenampilan biasa saja, bahkan sangat terkesan acuh seolah tak peduli dengan fashion apapun. She’s Deasy. Baru saja lulus dari study-nya di Universitas terdekat di daerah Solo. Walau memang terlihat sangat acuh, namun Deasy sangat menyukai pakaian panjang seperti rok panjang, baju panjang, dan kerudung panjang. Ia ingin sekali berpenampilan cantik tanpa harus memperlihatkan kemolekan tubuhnya kepada sesiapapun selainnya, bahkan saudaranya sekalipun.
            Tak sabar ingin segera menikah dan mempunyai anak, Deasy yang akrab disapa Achie ini mempunyai seorang kekasih yang memang hubungannya sudah berjalan cukup lama, sekitar 2 tahun lebih beberapa bulan. Namanya Ghian. Memang sedari awal hubungan mereka, Ghian menjanjikan akan menikahi Deasy secepatnya, itupun kalau memang sampai pada waktu yang telah ditetapkan dan memang sudah tertulis dalam guratan takdir bahwa memang mereka adalah sepasang suami istri nantinya, dan yang lebih pasti jika Ghian sudah mapan dan Deasy sudah lulus kuliahnya. Namun, ada saja persoalan dalam hubungan mereka. Dimulai dari Ghian yang semakin hari semakin berbeda sikap dan selalu membuat Deasy melamun disela-sela waktu kala tak ada kegiatan yang bermanfaat.
            “Ney, kemana aja sih kamu?” Tanya Achie kepada Ghian melalui sms.
            “Aku sibuk kerja Ney. Maaf ya.” Jawabnya singkat.
            Setelah beberapa jam Deasy menunggu balasan dari Ghian, namun ternyata tak kunjung tiba. Deasy pun meresah, hatinya diselimuti oleh rasa cemas dan khawatir karena tak ada kabar dari kekasihnya itu. Dia bertanya-tanya sendiri hingga menyimpulkan kondisi yang buruk tentang Ghian.
            “Ghian kemana sih..” Gumam Deasy resah.
            Berulang kali Deasy melihat isi pesan dalam handphone-nya berharap ada pesan dari Ghian. Namun hingga 2 jam berlalu pun, Ghian belum saja menghubunginya. Deasy makin gelisah.
            Tak kuat lagi menahan segala rasa cemas dan gelisah. Deasy mencoba menghubungi kekasihnya itu. Sekali, dua kali, hingga ke-lima kalinya namun tak ada respon apapun dari kekasihnya itu. Deasy mulai gamang dan kalut. Pikirannya kacau, serba salah. Ingin marah dan berteriak, menangis sekencang-kencangnya tapi Deasy pikir itu sama sekali tak ada gunanya. Hingga akhirnya Deasy memutuskan untuk tetap tenang dan sabar dalam keadaan yang seperti ini.
            “Ah, Ghian suka bercanda. Kayaknya dia lagi pengen main-main sama aku. Makanya dia buat aku resah gini. Dia pasti mau kasih kejutan buat aku. Tapi.. Masa kayak gitu? Gak biasanya juga dia kayak gini, kenapa yah? Aaah.. Kenapa sih.. Apa ada wanita lain yang mengusik hati dia? Jadi dia berpaling? Aaaah.. Nggak, nggak, nggak. Ah.. Kemana sih. Menyebalkan!” Gerutunya dalam hati.
            Jarum pendek di jam dinding itu pun sudah menunjuk ke angka 9. Deasy semakin bingung dan galau karena Ghian.
            “Gila, waktu aku habis cuma buat galau gara-gara si Ghian. Kemana sih itu bocah? Aaargh..” Gerutunya semakin kesal.
            Deasy pun kembali menghubungi nomor Ghian. Berharap Ghian mengangkat telponnya dan mau bicara mengapa tak ada kabar sama sekali darinya. Dan..
            “Halo, Ghian.” Kata Deasy.
            “Maaf, Ghiannya udah tidur. Ini Deasy ya?” Ucap seorang wanita yang tak lain adalah ibunya Ghian.
            “Oh.. gitu yah..” Jawab Deasy melemah. Handphone pun Deasy matikan tanpa ada basa-basi lagi kepada lawan bicaranya itu.
            Kenapa Ghian kayak gitu banget sih sama aku sekarang? Bosen kali ya sama aku. Ah.. Damn, udah lama nungguin ternyata cuma kayak gini doang? Aaaaaaaargh… Pikirnya.
            Daripada terus menerus kepikiran sikap Ghian, Deasy pun segera menjatuhkan dirinya di atas kasur, mematikan lampu kamar, menarik selimut dan akhirnya Deasy pun tertidur.
~ Keesokan Harinya ~
            Haruskah ku mati karenamu..
Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu..
            Haruskah ku relakan hidupku..
Hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku..
            Terdengar suara dari handphone Deasy, menandakan ada panggilan masuk.
            “MyGhi’s Calling” Tertera dalam layar handphone Deasy bahwa yang memanggilnya melalui telpon adalah Ghian. Deasy pun langsung mengangkat telponnya.
            “Ney..” Kata Ghian.
            “Ya, Ney. Kenapa? Kamu kemarin kenapa gak ngabarin aku sih Ney?” tanya Deasy yang seolah tak sabar ingin mendengar penjelasan dari kekasihnya itu.
            “Kemarin aku kecapean Ney, maaf. Hm.. Yaudah, jangan lupa sarapan yah.” Balas Ghian sambil menutup pembicaraan.
            “Tuuttuuutuuut…” Suara dari handphone Achie.
            “Ih, kenapa langsung dimatiin kayak gini. Jadi curiga.” Gumamnya.
            Deasy pun langsung bergegas dari tempat tidurnya dan segera membersihkan seluruh badannya. Setelah selesai mandi, Deasy pun langsung menyantap hidangan yang sudah disediakan oleh ibunya.
            “Mah, kenapa yah akhir-akhir ini Ghian jadi beda sama Achie?” Kata Achie kepada mamanya.
            “Beda gimana?”Jawab Mamanya.
            “Ya sekarang tu dia jarang banget ngobrol lama, terus jarang ngabarin dan malah sering bikin Achie nunggu lagi mah.” Tukasnya sambil menusuk sosis mengenakan garpu dan menyantap sosis itu dengan penuh kekesalan.
            “Ya, mana mama tau. Kamu pernah bikin dia kesel ngga?”Kata Mamanya.
            “Salah apa, nggak deh perasaan. Hm..”
            “Yaudah, tunggu aja beberapa episode lagi kayak di sinetron. Kadang, cerita cinta itu gak harus selalu manis.” Jawab Mamanya yang mencoba menghibur Deasy.
            “Ah.. Gak tau deh. Tetep aja mah sakit ke sini nya” Jawab Deasy sambil menunjuk dadanya dengan jari telunjuknya. Dan Deasy pun pergi dari meja makan ke dapur, lalu pergi ke halaman belakang rumah untuk mengenang masa-masa indah bersama Ghian 2 tahun ke belakang.
            Bermacam-macam jenis tumbuhan dan bunga tumbuh di pekarangan rumah Deasy. Ada bunga mawar berwarna merah jambu, merah, dan juga biru. Ada juga patung angsa putih dekat kolam ikan dan air mancur di sana. Dan, satu tanaman kecil yang diberikan oleh Ghian setahun yang lalu. Mm..
            “Ghian, kaktus kecil ini yang selalu membuat aku menangis bahagia karena ingat segala kenangan indah waktu sama kamu dulu. Kaktus ini kamu kasih ke aku waktu aku ulang tahun, dan kaktus ini memang aku sangat menginginkannya. Bentuknya yang lucu, indah, itu sama seperti kamu yang selalu saja indah buat aku. Tapi, kenapa sekarang kamu jadi menyakitkan kayak kaktus ini? Berduri.” Gumam Deasy sambil menatap dalam tanaman kaktus kecil itu.
            Sama seperti di hari sebelumnya, waktu Deasy habis hanya untuk menunggu dan menunggu kabar dari kekasihnya itu. Hingga beberapa minggu tak dapat kabar dari Ghian. Deasy hampir putus asa untuk melanjutkan hubungannya bersama Ghian ini. Dan ternyata..
            “Chie.. Nih ada undangan” Kata Mamanya Deasy sambil menyodorkan kertas undangan yang tertera nama Ghian di atasnya.
            “Ghian dan Nayla, hari minggu tanggal..” Ucap Deasy yang terhenti seketika membaca kertas undangan itu.
            “Ghian? Mah, Ghian mah..” Ucap Deasy yang terbata-bata menahan rasa sedih dan kecewa. Matanya yang mulai berkaca-kaca tak sanggup untuk menahan linangan air mata. Hingga akhirnya air matanya terjatuh membasahi lesung pipinya.
            Deasy pun menjatuhkan kertas undangan itu dan segera lari ke kamarnya, menutup pintu kamarnya dengan sekeras mungkin. Deasy menangis sederas-derasnya. Sarung bantalnya pun basah karena air matanya yang terus saja mengalir.
            Awan pun berubah warna menjadi kelabu, gelap. Petir menggelegar dan gemuruh angin begitu kencang hingga menerpa tanaman kecil yang diberikan oleh Ghian itu pada akhirnya terjatuh dari tempatnya. Deasy pun segera bergegas melihat tanaman kecil itu.
            Deasy menangis mengeluarkan segala penat dan kekecewaan yang tertahan di dadanya sambil meratapi hancurnya kaktus yang jatuh tepat di hadapannya.
            “Seperti ada biji kedondong di tenggorokanku hingga membuat aku tersedak. Itu karena kamu Ghian. Bahkan, kaktus ini sepertinya sudah berada tepat di ulu hatiku karenamu. MasyaAllah.. Aku tak percaya kalau kamu melakukan ini semua tanpa adanya putusan terlebih dahulu. Sekarang aku harus bagaimana? Merelakan kepergianmu bersama wanita itu?” Desahnya.
            “Deras, hujan yang turun. Aku menangis, memeluk bayangmu… Derai, air mataku.. Membasuh perih, terluka kau tinggalkan aku..Cinta putih yang kan kau beri namun tak sempat kau ucapkan, mengisi kehampaan hatiku di sini.. Sebening embun pagi luruh menetes di dedaunan.. Ku tangisi kepergianmu cinta..” Suara merdu Deasy menyanyikan sebuah lagu milik “Acha Septriasa” yang berjudul “Kehampaan Hati” dengan memainkan gitar kesayangannya. “Terimakasih tuk luka yang kau beri, ku tak percaya kau tlah begini, dulu kau menjadi malaikat di hati, sampai hati kau telah begini.. Lumpuhkanlah ingatanku hapuskan tentang dia, kuingin ku lupakannya.. Aaaah… Kau acuhkan aku, kau biarkan aku..haaaaa aaah… Harusnya ku tlah melewatkanmu, menghapus kamu dari dalam benakku.. Namun ternyata sulit bagiku, merelakanmu pergi dari hatiku.. Selalu ingin dekap tubuhmu, namun aku tak bisa.. karena kau tlah bahagiaa..” lanjutnya dengan menyanyikan beberapa lagu yang bertemakan kesedihan, menjadikan lambang kehancuran sebuah harapan yang indah dalam segumpal darah bernama cinta yang dimilikinya.
            Deasy pun menghapus air matanya yang membasahi kedua pipinya. Dia bertekad untuk tetap kuat meski hatinya ingin terus menangis untuk membasuh perih, luka yang mencabik-cabik hatinya.
            Dengan menghela dan melepaskan nafas secara perlahan, Deasy pun memejamkan matanya dan mencari sebuah ketenangan untuk hatinya yang perlahan keropos karena ulah kekasihnya itu.
            Aku harus buktikan ke Ghian, kalau aku pasti sanggup dan pasti nanti aku dapat penggantinya Ghian, jauh lebih baik daripada Ghian. Aku percaya itu. Ya, Deasy.. Kamu harus kuat, kamu pasti bisa!!
~ Janur Kuning Itu.. ~
Menjelang hari bahagiamu, kau tak pernah tahu aku bersedih..
Kau lupakan semua kenangan lalu, lalu kau campakkan begitu saja..
Tega..
Aku tahu dirimu kini, telah ada yang memiliki…
Tapi bagaimanakah, dengan diriku tak mungkin ku sanggup untuk kehilangan dirimu
Aku tahu, bukan saatnya tuk mengharap cintamu lagi..
Tapi bagaimanakah dengan hatiku.. Tak mungkin ku sanggup hidup begini tanpa cintamu..
            Sepanjang perjalanan dari rumah Deasy ke tempat dimana janur kuning itu melengkung, Deasy hanya menyanyikan lagu itu terus menerus dan berulang-ulang sampai semua kekecewaannya berguguran karena terlalu sakit dan perihnya ditinggalkan kekasih untuk menikah dengan wanita lain. Dan sesampainya di tempat pernikahan kekasihnya itu, oh lebih tepatnya mantan kekasihnya yang seperti duri kaktus itu. Deasy pun mengisi buku tamu dan mengambil cinderamata yang diberikan oleh penunggu tamu di acara pernikahan mantan kekasihnya itu. Ia pun perlahan berjalan menghampiri kedua mempelai. Tak sanggup menahan rasa kecewa dan kesedihan yang mendalam. Hanya tinggal beberapa langkah lagi sampai, Deasy pun berbalik badan karena tak sanggup menahan rasa sakit ketika Ghian menangkap kedua bola matanya. Deasy pun menghapus air matanya ketika ia sedang berbalik ke belakang, dan kembali berjalan menghampiri pengantin. “Aku yakin aku kuat, meski harus tertatih”. Gumamnya dalam hati mencoba untuk menguatkan.
            Degg… Jantung Deasy berdegup tak beraturan. Rasa sakit dan tak rela itu semakin datang bertubi-tubi seperti batu yang datang dari atas untuk menimpuknya berkali-kali. Ingin menangis, tapi sudah tak ada artinya lagi. Malah nanti dikatakan yang aneh-aneh oleh pendamping barunya itu. Dengan kata-kata yang terbata, helaan nafas yang mendesah. Deasy pun mengucapkan satu kata yang cukup singkat, jelas, dan padat untuk mantan kekasihnya yang seperti duri kaktus itu.
            “Selamat.” Begitulah kata-kata dari Deasy. Tanpa basa-basi dan tanpa mencicipi hidangan yang sudah disediakan oleh yang mempunyai acara. Deasy pun pulang dengan membawa luka yang semakin menumpuk dalam hatinya.
            Ketika Ghian melihat wajah dan ekspresi dari mantan kekasihnya itu, memang tergurat rasa sesal dan kesal serta kekecewaan yang serupa pula dalam hatinya. Karena memang tak bisa dipungkiri bahwa pilihannya yang tak memberitahukan sedari awal tentang rencana pernikahannya kepada Deasy itu memang menyakitkan sekali untuk Deasy. Tapi, Ghian memang tak punya pilihan lain selain itu. Awalnya memang tak akan mengundang Deasy sama sekali karena takut kalau Deasy lebih-lebih terluka karena ini. Tapi, jika tak diundang pun itu akan mengundang pertanyaan yang lebih banyak lagi dalam benak Deasy.
            “Kenapa, Mas?” Tanya Nayla kepada Ghian ketika melihat wajah Ghian berubah pucat dan sedikit resah.
            “Nggak apa-apa, dik.” Ucap Ghian santai sambil menyambut hangat jabatan tangan dari orang-orang yang berdatangan memberikan ucapan selamat kepada dirinya.
            Deasy belum saja sembuh dari lukanya. Namun, dengan beriringnya waktu. Deasy  bertekad untuk menjauhi segala kenangan yang tercipta bersama Ghian dahulu. Dan saat ini Ghian sudah menjadi suami wanita lain. Lalu untuk apa Deasy selalu saja menangisi dan terus menelan rasa kecewa dan menikmati kesakitan yang hanya menyiksa dirinya sendiri.
            Setelah sebulan lamanya mencoba melupakan kenangan indah dan juga kenangan memerihkan bagai tanaman kaktus itu. Akhirnya, Deasy mendapatkan pengganti Ghian. Jauh lebih tampan dan mapan segala-galanya ketimbang Ghian. Dan, rencananya minggu-minggu ini mereka akan melangsungkan pernikahan. Alhamdulillah.      

0 komentar:

Posting Komentar