Selasa, 28 Januari 2014

Berburu Sajadah Di Balik Bui

Edit Posted by with No comments


            Ketika udara di pagi hari mulai terasa begitu dingin, kicauan suara burung pun ikut meramaikan suasana di kota terpencil dibalik jeruji. Dimana orang-orang yang tersalah, penuh dengan linangan air mata penyesalan, dan bahkan tak sempat untuk bertaubat pun berkumpul di balik jeruji besi itu. Pak Karjo, adalah seorang pria separuh baya yang tertuduh melakukan sebuah penganiayaan terhadap anak kandungnya sendiri, Mila. Mila adalah sesosok gadis yang terlihat begitu pendiam, polos, taat dalam menjalankan perintah Allah SWT. Ia lahir dalam keadaan buta, dan memiliki enam jari di tangan kirinya. Saat ini, ia baru berusia 16th, dan dia sama sekali tidak mengikuti pendidikan formal di sekolah-sekolah, seperti teman-temannya yang lain. Namun, meskipun keadaannya seperti begitu. Mila tak pernah berhenti untuk selalu bersyukur kepada Tuhannya, karena meski dia terlahir dengan begitu banyak kekurangan dan sering kali dihina, dicemooh dan bahkan direndahkan oleh teman-teman sebayanya, Mila tetap yakin dan percaya bahwa Tuhannya tidak mungkin membenci Mila yang seperti begitu keadaannya. Istri Pak Karjo, Bu Saima. Ia begitu menyayangi putrinya Mila, meski anaknya lahir dengan serba kekurangan bahkan bisa dikatakan cacat, ia tak pernah lelah untuk terus memberikan kasih sayang dan motivasi untuk anaknya itu dalam mengarungi hidup yang singkat ini. Pak Karjo, memang kurang menerima Mila sejak beliau mengetahui bahwa kelahiran putrinya itu tidak normal seperti anak-anak yang lainnya. Awalnya, Pak Karjo itu sangat taat dan getol menjalankan peribadatan kepada Tuhannya. Namun, ketika berita kelahiran putrinya itu terdengar di telinganya. Pak Karjo berubah dengan sedikit demi sedikit. Dari mulai ia sering meninggalkan shalat lima waktu, hingga sering keluar kata-kata yang tak pantas disebutkan dari mulutnya, dan yang paling parah adalah sering memukul istrinya, dan anaknya Mila kalau Mila melakukan suatu kesalahan seperti tak sengaja menjatuhkan pot bunga di halaman rumah, menjatuhkan gelas kesayangan Pak Karjo, dan juga menginjak kaki Pak Karjo.
            Bruuuuuuk” Suara kardus-kardus yang berisi makanan ringan milik Pak Karjo yang akan diantarkan ke toko untuk dijual, terjatuh karena tak sengaja ditubruk Mila.
            “Heh, kamu itu sudah buta masih aja nyusahin orang tua! Bereskan kardus-kardus itu sekarang juga!” Teriak Pak Karjo kesal.
            “Maaf Pak, Mila tak sengaja.” Sambil mencari dimana kardus-kardus itu terjatuh dengan tangannya.
            “Ya kalau kamu tau kamu itu tidak bisa melihat, sudah diam saja di kamar. Tak usah kemana-mana. Bikin susah saja!” Tukas Pak Karjo semakin kesal.
            Mila hanya bisa menangis dan kembali ke kamarnya jika sudah terkena sentakan dari ayahnya itu. Bu Saima hanya bisa memberikan semangat yang tiada hentinya kepada Mila atas sikap dari suaminya itu. Bu Saima tak pernah bisa berkata sesuatu apapun kepada suaminya jika suaminya tersalah, karena memang sifatnya yang sedari awal mereka kenal, Pak Karjo memang tak pernah bisa untuk mengakui kesalahannya, dan tak pernah mau mengalah apalagi terlihat lemah oleh orang lain. Bu Saima hanya bisa mengadu nasib kepada Rabb-nya di saat-saat setelah shalat.
            “Mak, kenapa Bapak begitu benci kepada Mila? Mila salah apa sama Bapak?” Tanya Mila kepada Ibunya sambil menangis tersedu.
            “Sudahlah Mila, tak usah memikirkan orang yang selalu menyakitimu. Mila tak pernah berbuat salah kepada Emak, dan Bapak. Meski Bapak begitu, nanti juga Bapak akan menerima balasannya dari Allah.” Jawab Bu Saima mencoba menenangkan anak kesayangannya.
            “Mak, mungkin Bapak malu mempunyai anak seperti Mila. Bapak juga belum pernah mencoba mengajak atau menyekolahkan Mila seperti anak-anak yang lainnya. Bapak malu kan Mak punya anak seperti Mila?” Keluh Mila yang terus menerus kepada Ibunya.
            “Meskipun Bapak malu, Emak tak pernah malu punya Mila. Mila itu tetaplah sebuah titipan yang mesti dijaga oleh Emak dari Allah. Yang terpenting, Mila tumbuh menjadi wanita yang tegar, yang shalihah, yang kuat, yang istiqomah, menjadi qurrata’ayun nya Emak.” Jawab Bu Saima.
            “Meski Bapak begitu membenci Mila? Bisakah Mila menjadi Qurrata’ayuninya Bapak?” Tanya Mila lagi.
            Ketika mereka berdua sedang berbicara, datanglah Pak Karjo dengan membawa gunting dan juga tali rapia dengan wajah yang garang. Datang dengan langkah kaki yang sangat keras dan gerasa-gerusu.
            “Mila! Kesini kamu..” Teriak Pak Karjo sambil menarik tangan Mila.
            “Astaghfirullah Bapak, mau diapakan Mila ini?” Ucap Bu Saima yang terlihat begitu panik sambil memegang tangan Mila.
            “Diam kamu!” Tukas Pak Karjo sambil mendorong istrinya hingga terjatuh ke lantai.
            “Ampuun Pak, ampuun. Jangan siksa Mila.” Isak Mila yang mencoba melepaskan genggaman erat tangan Bapaknya.
            “Diam! Kamu kalau tidak diikat dan dikurung pasti banyak barang-barang Bapak yang rusak.” Kata Pak Karjo yang terus menarik badan Mila ke teras belakang rumah.
            Di dalam gudang yang banyak tersimpan barang-barang bekas dan tidak terpakai, gelap, dan hanya sedikit saja lubang ventilasi dari jendela kecil di atas. Dibawa-lah Mila oleh Pak Karjo ke dalam gudang tersebut, lalu diikatlah Mila di dalamnya. Bu Saima berlari mengejar suaminya dan mencoba menghalangi tapi tak bisa karena Pak Karjo selalu mendorong dan menahan aksi dari istrinya itu.
            “Bapak sudah keterlaluan sama anak sendiri! Pak, istighfar!” Ucap Bu Saima sambil menangis terisak karena melihat perlakuan suaminya terhadap anaknya sendiri.
            Terdengar suara rintihan tangis air mata Mila dari dalam memanggil Ibunya.
            “Emaaaak, maafkan Mila untuk Bapaak. Mila minta ampun” Kata Mila sambil menangis.
            “Dengar itu Pak, dengar! Anak itu tidak bersalah sama sekali Pak, sadar!” Ucap Bu Saima yang terus mencoba menyadarkan suaminya.
            “Berisik Bu, tak usah banyak bicara. Bapak tau apa yang harus Bapak lakukan. Ini demi kelancaran ekonomi dan segala urusan untuk kita. Kalau Mila tidak diikat, dia akan terus menerus merusak barang-barang yang ada di rumah kita karena kebutaannya itu.” Tukas Pak Karjo yang terus berjalan cepat tak mendengarkan apa kata istrinya.
            “Kalau begitu kurung juga Ibu bersama Mila!” Ucap Bu Saima.
            “Kalau kamu ikut dikurung, nanti yang urus saya siapa?” Sentak Pak Karjo sambil duduk di kursi depan.
            Bu Saima tidak tahan melihat kelakuan suaminya itu. Bu Saima mencoba untuk bersabar dan menghadapi kejadian ini dengan tenang. Bu Saima tetap yakin bahwa Allah akan selalu menjaga dan melindungi anak terkasihnya itu.
            Ketika malam, Mila pun merintih kesakitan karena perutnya lapar dan resah karena dia tidak bisa shalat. Ibunya mendengar keluhan dari anaknya itu. Tapi Pak Karjo tetap tidak memberikan izin kepada istrinya untuk melihat dan memberi makan Mila, takutnya Mila dilepaskan dari ikatannya. Hingga akhirnya Mila pun tertidur karena tak sanggup menahan rasa sakit, dan kepalanya begitu pusing, dada terasa sesak seperti terhimpit bebatuan yang besar.
            Keesokan harinya, Bu Saima melaporkan kejadian kemarin ke Pak RT. Dengan berberat hati, namun penuh dengan keyakinan dalam dirinya. Bu Saima melaporkan suaminya untuk segera ditahan di kapolsek terdekat, untuk menerima balasan atas apa yang sudah ia lakukan. Dan Bu Saima berharap agar suaminya kelak sadar setelah ditahan dibalik jeruji besi sana.
            Tak lama lagi, setelah Bu Saima menyiapkan makanan untuk suaminya. Datanglah beberapa polisi dan Pak RT ke rumahnya.
            “Assalamu’alaikum.” Kata Pak RT begitu datang ke rumah Pak Karjo.
            “Wa’alaikumsalam, eh Pak. Ada apa?” Sambut Pak Karjo dan sedikit heran ketika melihat ada tiga orang polisi datang bersama dengan Pak RT.
            “Begini Pak, ada yang ingin bicara dengan Bapak” Kata Pak RT sambil mempersilahkan polisi untuk melakukan tugasnya.
            “Maaf, anda tertuduh melakukan penganiayaan terhadap anak kandung sendiri. Dan atas laporan dari saksi, anda kami tangkap untuk dimintai keterangan dan anda ikut saya ke kantor.” Kata salah satu polisi tersebut.
            “Siapa yang melaporkan ini?” Tanya Pak Karjo sedikit meresah.
            “Istri anda sendiri” Jawab Pak RT.
            Pak Karjo pun berbalik badan ke belakang mencari bola mata istrinya, dan ketika tertangkap Pak Karjo menatap dalam-dalam wajah istrinya. Terlihat seperti ada kesedihan serta kekecewaan yang menahan nafasnya di dada. Hingga akhirnya Pak Karjo menuruti apa yang diperintahkan polisi dan Pak Karjo ikut bersama petugas negara itu.
            Sudah tiga bulan lamanya Pak Karjo tinggal dibalik jeruji besi. Rintihan air mata anaknya Mila selalu saja menghantui setiap tidur malamnya, ketika ia sedang melamun, berdiam diri dan melaksanakan kegiatan yang diberikan polisi untuk setiap tahanan. Bayang wajah Mila yang terlihat begitu polos, raut wajahnya yang masam, selalu bersedih ketika dimarahi oleh dirinya begitu membayangi setiap desahan nafasnya.
            Air mata Pak Karjo selalu mengalir dengan derasnya jika mengingat-ingat kesalahannya dahulu kepada anak semata wayangnya itu. Begitu kejam dan nistanya dia kepada anaknya sendiri. Tak ada seorang pun yang datang menjenguk, bahkan menanyakan kabar tentang dirinya. Hingga sesekali waktu Pak Karjo selalu tersenyum dan tertawa sendiri menertawai segala kekhilafannya. Ketika ia makan, kejadian gelas pecah yang tersenggol oleh Mila begitu terngiang-ngiang dalam ingatan Pak Karjo, sehingga ia makan dengan sekaligus meneguk air mata yang mengalir di pipinya sendiri.
            Malam demi malam Pak Karjo jalani sendiri, teman-teman yang ada di tahanan memang tak pernah menegur sapa. Karena Pak Karjo merasa bahwa dirinya berbeda dengan mereka, Pak Karjo tidak merasa bahwa dirinya seperti mereka yang banyak salah dan dosa. Pak Karjo hanya khilaf karena merasa malu memiliki anak seperti Mila. Dan apa yang telah dilakukannya kepada Mila memang belum seberapa. Sehingga Pak Karjo selalu sendiri menjalani hari-hari di sel.
            Sesekali ia teringat dan tersadar akan segala dosa yang memerihkan jiwanya. Ia takut kalau-kalau Allah mengutus petugas dari langit untuk mencabut nyawanya. Usianya yang sudah cukup dibilang tua, separuh baya. Memang sudah tak ada lagi harapan untuk mengejar gemerlapnya dunia. Pak Karjo begitu menyesali apa yang sudah dilakukannya. Air matanya itu adalah saksi atas sesal dan sesak yang menahan nafasnya untuk menghirup udara yang segar di sepanjang harinya.
            Sementara di rumah, Mila selalu teringat akan Bapak tuanya itu. Sesekali ia merayu Ibunya untuk mengajak Mila menjenguk Bapaknya itu, namun berulang kali Ibunya menolak. Ia tak ingin Mila disakiti kesekian kalinya oleh suaminya itu.
            “Mak, Mila masih hidup meskipun Bapak selalu menghantam Mila dengan kata-kata dan perlakuan kasarnya. Mila masih bersyukur Allah masih memberikan nafas untuk Mila. Tapi Bapak, Bapak sudah tua Mak. Mila khawatir Bapak disana sakit-sakitan.” Kata Mila dengan nada yang lembut mencoba merayu Ibunya untuk mau mengajak Mila menjenguk ayahnya.
            “Besok, kita ke sana lihat Bapak.” Jawab Bu Saima pelan mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk tegar dan siap menerima segala kejadian yang ada.
            “Asik, makasih Mak.” Jawab Mila dengan penuh senyuman.
            Keesokan harinya, Pak Karjo mengalami demam yang cukup tinggi. Sesekali ia batuk dan kepalanya begitu sakit. Pak Karjo khawatir dan semakin gelisah. Ketika salah satu petugas melewati sel yang ditempatinya, Pak Karjo memanggil petugas itu.
            “Pak..” Ucap Pak Karjo kepada petugas dengan ucapan yang terbata-bata, tertahan oleh batuknya yang sebegitu.
            “Ya, ada apa Pak Karjo?” Tanya sang petugas.
            “Saya ingin keluar mencari udara segar, dan saya ingin ke mushalla untuk melaksanakan shalat” Jawab Pak Karjo yang suaranya semakin melemah.
            “Ya, silahkan.” Jawab si petugas sambil membuka gembok yang terkunci di sel tempat Pak Karjo.
            Pak Karjo pun keluar dan mencari dimana mushalla berada. Ketika akan memasuki halaman belakang, terdengar langkah kaki dan tongkat milik Mila di telinga Pak Karjo. Pak Karjo pun mencari suara tersebut. Matanya melihat ke arah samping kanan, kiri, serta belakang. Dan..
            “Bapak..” Teriak Ibu Saima yang terkaget melihat suaminya sangat terlihat begitu lemas.
            Pak Karjo melirik ke arah dimana suara istrinya itu muncul. Pak Karjo pun pingsan ketika melihat istrinya. Serentak Bu Saima dan Mila bergegas menghampiri Pak Karjo yang terjatuh tergeletak di lantai dekat pintu keluar. Akhirnya, Bu Saima membawa Pak Karjo ke ruang kesehatan yang berada di dekat tahanan. Dengan ditemani dua orang polisi untuk mengawasi tahanannya.
            Beberapa menit kemudian, Pak Karjo tersadar. Dan ia menangis terharu melihat Mila yang masih saja terlihat begitu polos namun kali ini Pak Karjo melihat wajah anaknya itu penuh dengan senyum bahagia, tak terlintas raut yang menandakan kekesalan dan kebencian untuk dirinya. Pak Karjo pun meraih tangan Mila dan menggenggam erat tangan Mila. Mila merasa kaget, dan merasakan sentuhan yang begitu kasar dan asing. “Mungkinkah ini adalah tangan Bapak”. Begitu pikirnya.
            “Mila, maafkan Bapak ya” Kata Pak Karjo dengan nada yang terbata dan mata yang mulai terlihat berkaca-kaca.
            Hati Mila serasa kuat merasakan degupan jantung yang tak beraturan pada Bapaknya, dari cara ia berbicara, begitu mendesah dan ada yang tertahan dalam dadanya.
            “Bapak jangan menangis, Mila sudah memaafkan Bapak dari awal juga.” Kata Mila sambil menyunggingkan senyuman.
            “Mila memang anak baik, makasih.” Kata Bapaknya yang terhenti karena batuknya yang semakin parah.
            “Bapak tadi mau kemana?” Kata Bu Saima sambil memegang erat tangan suaminya.
            “Bapak mau ke mushalla, Bapak mau meminta ampun kepada Allah.” Jawabnya seolah menagih simpati.
            Mereka semua pun berjalan dan menghampiri mushalla. Dan sepuluh langkah sebelum masuk ke mushalla. Mila terjatuh karena tersandung kaki dari orang-orang tahanan yang akan memasuki mushalla. Hingga akhirnya Pak Karjo pun terbungkuk-bungkuk untuk menolong dan membangunkan anaknya yang terjatuh. Entah mengapa, mushalla jadi penuh dengan orang-orang. Hingga Pak Karjo dan keluarganya begitu sulit untuk masuk ke dalam. Mila pun beberapa kali terjatuh dan tersandung karena banyaknya orang-orang yang berlalu lalang di mushalla. Ada yang sekedar masuk dan terus keluar lagi, ada pula yang berdesak-desakan hanya karena ingin makan bubur ayam dan makanan lainnya yang jualannya dekat dengan mushalla.
            Pak Karjo memilih untuk berwudhu dulu, Mila dan ibunya menunggu di luar. Setelah itu Pak Karjo pun masuk ke dalam mushalla. Tak ada sajadah yang tersisa kala itu. Karena mushalla nya memang sempit, dan serba kekurangan. Makanya banyak para tahanan yang shalat secara bergiliran dalam waktu yang lama. Ada yang menangis dan menyesali, ada juga yang tertidur karena lelah mengerjakan kegiatan yang diberikan polisi untuk para tahanan.
            “Bismillahirrahmanirrahiim.. Laa haula wa laa quwwata ilaa billah” Ucap Pak Karjo ketika berhasil mendapati sejadah yang baru saja ditinggalkan oleh salah satu tahanan. Pak Karjo pun shallat dzuhur empat raka’at. Setelah shalat, ia berdo’a kepada Tuhannya dan memohon ampun atas segala dosa dan khilaf yang ia lakukan.
            Tak ada manusia yang bersih dari dosa dan khilaf
            Barang sedetik waktu yang bergulir
            Tak ada yang sanggup menahan segala amarah, nafsu, jiwa yang melalap ketamakan, kedustaan, dan kenistaan yang lainnya jika tidak Engkau yang menghendakinya untuk menahan segala perbuatan keji yang ada.
            Allah..
            Aku berburu sajadah diantara orang-orang yang penuh dosa dan salah.
            Aku yang dengan keadaanku saat ini lemah, dan memang lemah sedari awal
            Kau yang menguatkanku hingga aku bisa duduk bersimpuh menghambakan diri kepada-Mu. Dan …
            Allah..
Aku adalah manusia yang melampaui batas, dan aku kembali kepada-Mu untuk memohon ampun, dan rahmat dari-Mu. Maafkan kesalahanku… Aamiin..

0 komentar:

Posting Komentar