Ketika
udara di pagi hari mulai terasa begitu dingin, kicauan suara burung pun ikut
meramaikan suasana di kota terpencil dibalik jeruji. Dimana orang-orang yang
tersalah, penuh dengan linangan air mata penyesalan, dan bahkan tak sempat
untuk bertaubat pun berkumpul di balik jeruji besi itu. Pak Karjo, adalah
seorang pria separuh baya yang tertuduh melakukan sebuah penganiayaan terhadap
anak kandungnya sendiri, Mila. Mila adalah sesosok gadis yang terlihat begitu
pendiam, polos, taat dalam menjalankan perintah Allah SWT. Ia lahir dalam
keadaan buta, dan memiliki enam jari di tangan kirinya. Saat ini, ia baru
berusia 16th, dan dia sama sekali tidak mengikuti pendidikan formal
di sekolah-sekolah, seperti teman-temannya yang lain. Namun, meskipun
keadaannya seperti begitu. Mila tak pernah berhenti untuk selalu bersyukur
kepada Tuhannya, karena meski dia terlahir dengan begitu banyak kekurangan dan
sering kali dihina, dicemooh dan bahkan direndahkan oleh teman-teman sebayanya,
Mila tetap yakin dan percaya bahwa Tuhannya tidak mungkin membenci Mila yang
seperti begitu keadaannya. Istri Pak Karjo, Bu Saima. Ia begitu menyayangi
putrinya Mila, meski anaknya lahir dengan serba kekurangan bahkan bisa
dikatakan cacat, ia tak pernah lelah untuk terus memberikan kasih sayang dan
motivasi untuk anaknya itu dalam mengarungi hidup yang singkat ini. Pak Karjo,
memang kurang menerima Mila sejak beliau mengetahui bahwa kelahiran putrinya
itu tidak normal seperti anak-anak yang lainnya. Awalnya, Pak Karjo itu sangat
taat dan getol menjalankan
peribadatan kepada Tuhannya. Namun, ketika berita kelahiran putrinya itu
terdengar di telinganya. Pak Karjo berubah dengan sedikit demi sedikit. Dari
mulai ia sering meninggalkan shalat lima waktu, hingga sering keluar kata-kata
yang tak pantas disebutkan dari mulutnya, dan yang paling parah adalah sering
memukul istrinya, dan anaknya Mila kalau Mila melakukan suatu kesalahan seperti
tak sengaja menjatuhkan pot bunga di halaman rumah, menjatuhkan gelas
kesayangan Pak Karjo, dan juga menginjak kaki Pak Karjo.
“Bruuuuuuk” Suara kardus-kardus yang
berisi makanan ringan milik Pak Karjo yang akan diantarkan ke toko untuk
dijual, terjatuh karena tak sengaja ditubruk Mila.
“Heh,
kamu itu sudah buta masih aja nyusahin orang tua! Bereskan kardus-kardus itu
sekarang juga!” Teriak Pak Karjo kesal.
“Maaf
Pak, Mila tak sengaja.” Sambil mencari dimana kardus-kardus itu terjatuh dengan
tangannya.
“Ya
kalau kamu tau kamu itu tidak bisa melihat, sudah diam saja di kamar. Tak usah
kemana-mana. Bikin susah saja!” Tukas Pak Karjo semakin kesal.
Mila
hanya bisa menangis dan kembali ke kamarnya jika sudah terkena sentakan dari
ayahnya itu. Bu Saima hanya bisa memberikan semangat yang tiada hentinya kepada
Mila atas sikap dari suaminya itu. Bu Saima tak pernah bisa berkata sesuatu
apapun kepada suaminya jika suaminya tersalah, karena memang sifatnya yang
sedari awal mereka kenal, Pak Karjo memang tak pernah bisa untuk mengakui
kesalahannya, dan tak pernah mau mengalah apalagi terlihat lemah oleh orang
lain. Bu Saima hanya bisa mengadu nasib kepada Rabb-nya di saat-saat setelah
shalat.
“Mak,
kenapa Bapak begitu benci kepada Mila? Mila salah apa sama Bapak?” Tanya Mila
kepada Ibunya sambil menangis tersedu.
“Sudahlah
Mila, tak usah memikirkan orang yang selalu menyakitimu. Mila tak pernah
berbuat salah kepada Emak, dan Bapak. Meski Bapak begitu, nanti juga Bapak akan
menerima balasannya dari Allah.” Jawab Bu Saima mencoba menenangkan anak
kesayangannya.
“Mak,
mungkin Bapak malu mempunyai anak seperti Mila. Bapak juga belum pernah mencoba
mengajak atau menyekolahkan Mila seperti anak-anak yang lainnya. Bapak malu kan
Mak punya anak seperti Mila?” Keluh Mila yang terus menerus kepada Ibunya.
“Meskipun
Bapak malu, Emak tak pernah malu punya Mila. Mila itu tetaplah sebuah titipan
yang mesti dijaga oleh Emak dari Allah. Yang terpenting, Mila tumbuh menjadi
wanita yang tegar, yang shalihah, yang kuat, yang istiqomah, menjadi
qurrata’ayun nya Emak.” Jawab Bu Saima.
“Meski
Bapak begitu membenci Mila? Bisakah Mila menjadi Qurrata’ayuninya Bapak?” Tanya
Mila lagi.
Ketika
mereka berdua sedang berbicara, datanglah Pak Karjo dengan membawa gunting dan
juga tali rapia dengan wajah yang garang. Datang dengan langkah kaki yang
sangat keras dan gerasa-gerusu.
“Mila!
Kesini kamu..” Teriak Pak Karjo sambil menarik tangan Mila.
“Astaghfirullah
Bapak, mau diapakan Mila ini?” Ucap Bu Saima yang terlihat begitu panik sambil
memegang tangan Mila.
“Diam
kamu!” Tukas Pak Karjo sambil mendorong istrinya hingga terjatuh ke lantai.
“Ampuun
Pak, ampuun. Jangan siksa Mila.” Isak Mila yang mencoba melepaskan genggaman
erat tangan Bapaknya.
“Diam!
Kamu kalau tidak diikat dan dikurung pasti banyak barang-barang Bapak yang
rusak.” Kata Pak Karjo yang terus menarik badan Mila ke teras belakang rumah.
Di
dalam gudang yang banyak tersimpan barang-barang bekas dan tidak terpakai,
gelap, dan hanya sedikit saja lubang ventilasi dari jendela kecil di atas.
Dibawa-lah Mila oleh Pak Karjo ke dalam gudang tersebut, lalu diikatlah Mila di
dalamnya. Bu Saima berlari mengejar suaminya dan mencoba menghalangi tapi tak
bisa karena Pak Karjo selalu mendorong dan menahan aksi dari istrinya itu.
“Bapak
sudah keterlaluan sama anak sendiri! Pak, istighfar!” Ucap Bu Saima sambil
menangis terisak karena melihat perlakuan suaminya terhadap anaknya sendiri.
Terdengar
suara rintihan tangis air mata Mila dari dalam memanggil Ibunya.
“Emaaaak,
maafkan Mila untuk Bapaak. Mila minta ampun” Kata Mila sambil menangis.
“Dengar
itu Pak, dengar! Anak itu tidak bersalah sama sekali Pak, sadar!” Ucap Bu Saima
yang terus mencoba menyadarkan suaminya.
“Berisik
Bu, tak usah banyak bicara. Bapak tau apa yang harus Bapak lakukan. Ini demi
kelancaran ekonomi dan segala urusan untuk kita. Kalau Mila tidak diikat, dia
akan terus menerus merusak barang-barang yang ada di rumah kita karena
kebutaannya itu.” Tukas Pak Karjo yang terus berjalan cepat tak mendengarkan
apa kata istrinya.
“Kalau
begitu kurung juga Ibu bersama Mila!” Ucap Bu Saima.
“Kalau
kamu ikut dikurung, nanti yang urus saya siapa?” Sentak Pak Karjo sambil duduk
di kursi depan.
Bu
Saima tidak tahan melihat kelakuan suaminya itu. Bu Saima mencoba untuk
bersabar dan menghadapi kejadian ini dengan tenang. Bu Saima tetap yakin bahwa
Allah akan selalu menjaga dan melindungi anak terkasihnya itu.
Ketika
malam, Mila pun merintih kesakitan karena perutnya lapar dan resah karena dia
tidak bisa shalat. Ibunya mendengar keluhan dari anaknya itu. Tapi Pak Karjo
tetap tidak memberikan izin kepada istrinya untuk melihat dan memberi makan
Mila, takutnya Mila dilepaskan dari ikatannya. Hingga akhirnya Mila pun
tertidur karena tak sanggup menahan rasa sakit, dan kepalanya begitu pusing,
dada terasa sesak seperti terhimpit bebatuan yang besar.
Keesokan
harinya, Bu Saima melaporkan kejadian kemarin ke Pak RT. Dengan berberat hati,
namun penuh dengan keyakinan dalam dirinya. Bu Saima melaporkan suaminya untuk
segera ditahan di kapolsek terdekat, untuk menerima balasan atas apa yang sudah
ia lakukan. Dan Bu Saima berharap agar suaminya kelak sadar setelah ditahan
dibalik jeruji besi sana.
Tak
lama lagi, setelah Bu Saima menyiapkan makanan untuk suaminya. Datanglah
beberapa polisi dan Pak RT ke rumahnya.
“Assalamu’alaikum.”
Kata Pak RT begitu datang ke rumah Pak Karjo.
“Wa’alaikumsalam,
eh Pak. Ada apa?” Sambut Pak Karjo dan sedikit heran ketika melihat ada tiga
orang polisi datang bersama dengan Pak RT.
“Begini
Pak, ada yang ingin bicara dengan Bapak” Kata Pak RT sambil mempersilahkan
polisi untuk melakukan tugasnya.
“Maaf,
anda tertuduh melakukan penganiayaan terhadap anak kandung sendiri. Dan atas
laporan dari saksi, anda kami tangkap untuk dimintai keterangan dan anda ikut
saya ke kantor.” Kata salah satu polisi tersebut.
“Siapa
yang melaporkan ini?” Tanya Pak Karjo sedikit meresah.
“Istri
anda sendiri” Jawab Pak RT.
Pak
Karjo pun berbalik badan ke belakang mencari bola mata istrinya, dan ketika
tertangkap Pak Karjo menatap dalam-dalam wajah istrinya. Terlihat seperti ada
kesedihan serta kekecewaan yang menahan nafasnya di dada. Hingga akhirnya Pak
Karjo menuruti apa yang diperintahkan polisi dan Pak Karjo ikut bersama petugas
negara itu.
Sudah
tiga bulan lamanya Pak Karjo tinggal dibalik jeruji besi. Rintihan air mata
anaknya Mila selalu saja menghantui setiap tidur malamnya, ketika ia sedang
melamun, berdiam diri dan melaksanakan kegiatan yang diberikan polisi untuk
setiap tahanan. Bayang wajah Mila yang terlihat begitu polos, raut wajahnya
yang masam, selalu bersedih ketika dimarahi oleh dirinya begitu membayangi
setiap desahan nafasnya.
Air
mata Pak Karjo selalu mengalir dengan derasnya jika mengingat-ingat
kesalahannya dahulu kepada anak semata wayangnya itu. Begitu kejam dan nistanya
dia kepada anaknya sendiri. Tak ada seorang pun yang datang menjenguk, bahkan
menanyakan kabar tentang dirinya. Hingga sesekali waktu Pak Karjo selalu
tersenyum dan tertawa sendiri menertawai segala kekhilafannya. Ketika ia makan,
kejadian gelas pecah yang tersenggol oleh Mila begitu terngiang-ngiang dalam
ingatan Pak Karjo, sehingga ia makan dengan sekaligus meneguk air mata yang
mengalir di pipinya sendiri.
Malam
demi malam Pak Karjo jalani sendiri, teman-teman yang ada di tahanan memang tak
pernah menegur sapa. Karena Pak Karjo merasa bahwa dirinya berbeda dengan
mereka, Pak Karjo tidak merasa bahwa dirinya seperti mereka yang banyak salah
dan dosa. Pak Karjo hanya khilaf karena merasa malu memiliki anak seperti Mila.
Dan apa yang telah dilakukannya kepada Mila memang belum seberapa. Sehingga Pak
Karjo selalu sendiri menjalani hari-hari di sel.
Sesekali
ia teringat dan tersadar akan segala dosa yang memerihkan jiwanya. Ia takut
kalau-kalau Allah mengutus petugas dari langit untuk mencabut nyawanya. Usianya
yang sudah cukup dibilang tua, separuh baya. Memang sudah tak ada lagi harapan
untuk mengejar gemerlapnya dunia. Pak Karjo begitu menyesali apa yang sudah
dilakukannya. Air matanya itu adalah saksi atas sesal dan sesak yang menahan
nafasnya untuk menghirup udara yang segar di sepanjang harinya.
Sementara
di rumah, Mila selalu teringat akan Bapak tuanya itu. Sesekali ia merayu Ibunya
untuk mengajak Mila menjenguk Bapaknya itu, namun berulang kali Ibunya menolak.
Ia tak ingin Mila disakiti kesekian kalinya oleh suaminya itu.
“Mak,
Mila masih hidup meskipun Bapak selalu menghantam Mila dengan kata-kata dan
perlakuan kasarnya. Mila masih bersyukur Allah masih memberikan nafas untuk
Mila. Tapi Bapak, Bapak sudah tua Mak. Mila khawatir Bapak disana
sakit-sakitan.” Kata Mila dengan nada yang lembut mencoba merayu Ibunya untuk
mau mengajak Mila menjenguk ayahnya.
“Besok,
kita ke sana lihat Bapak.” Jawab Bu Saima pelan mencoba meyakinkan dirinya
sendiri untuk tegar dan siap menerima segala kejadian yang ada.
“Asik,
makasih Mak.” Jawab Mila dengan penuh senyuman.
Keesokan
harinya, Pak Karjo mengalami demam yang cukup tinggi. Sesekali ia batuk dan
kepalanya begitu sakit. Pak Karjo khawatir dan semakin gelisah. Ketika salah
satu petugas melewati sel yang ditempatinya, Pak Karjo memanggil petugas itu.
“Pak..”
Ucap Pak Karjo kepada petugas dengan ucapan yang terbata-bata, tertahan oleh
batuknya yang sebegitu.
“Ya,
ada apa Pak Karjo?” Tanya sang petugas.
“Saya
ingin keluar mencari udara segar, dan saya ingin ke mushalla untuk melaksanakan
shalat” Jawab Pak Karjo yang suaranya semakin melemah.
“Ya,
silahkan.” Jawab si petugas sambil membuka gembok yang terkunci di sel tempat
Pak Karjo.
Pak
Karjo pun keluar dan mencari dimana mushalla berada. Ketika akan memasuki
halaman belakang, terdengar langkah kaki dan tongkat milik Mila di telinga Pak
Karjo. Pak Karjo pun mencari suara tersebut. Matanya melihat ke arah samping
kanan, kiri, serta belakang. Dan..
“Bapak..”
Teriak Ibu Saima yang terkaget melihat suaminya sangat terlihat begitu lemas.
Pak
Karjo melirik ke arah dimana suara istrinya itu muncul. Pak Karjo pun pingsan
ketika melihat istrinya. Serentak Bu Saima dan Mila bergegas menghampiri Pak
Karjo yang terjatuh tergeletak di lantai dekat pintu keluar. Akhirnya, Bu Saima
membawa Pak Karjo ke ruang kesehatan yang berada di dekat tahanan. Dengan
ditemani dua orang polisi untuk mengawasi tahanannya.
Beberapa
menit kemudian, Pak Karjo tersadar. Dan ia menangis terharu melihat Mila yang
masih saja terlihat begitu polos namun kali ini Pak Karjo melihat wajah anaknya
itu penuh dengan senyum bahagia, tak terlintas raut yang menandakan kekesalan
dan kebencian untuk dirinya. Pak Karjo pun meraih tangan Mila dan menggenggam
erat tangan Mila. Mila merasa kaget, dan merasakan sentuhan yang begitu kasar
dan asing. “Mungkinkah ini adalah tangan Bapak”. Begitu pikirnya.
“Mila,
maafkan Bapak ya” Kata Pak Karjo dengan nada yang terbata dan mata yang mulai
terlihat berkaca-kaca.
Hati
Mila serasa kuat merasakan degupan jantung yang tak beraturan pada Bapaknya,
dari cara ia berbicara, begitu mendesah dan ada yang tertahan dalam dadanya.
“Bapak
jangan menangis, Mila sudah memaafkan Bapak dari awal juga.” Kata Mila sambil
menyunggingkan senyuman.
“Mila
memang anak baik, makasih.” Kata Bapaknya yang terhenti karena batuknya yang
semakin parah.
“Bapak
tadi mau kemana?” Kata Bu Saima sambil memegang erat tangan suaminya.
“Bapak
mau ke mushalla, Bapak mau meminta ampun kepada Allah.” Jawabnya seolah menagih
simpati.
Mereka
semua pun berjalan dan menghampiri mushalla. Dan sepuluh langkah sebelum masuk
ke mushalla. Mila terjatuh karena tersandung kaki dari orang-orang tahanan yang
akan memasuki mushalla. Hingga akhirnya Pak Karjo pun terbungkuk-bungkuk untuk
menolong dan membangunkan anaknya yang terjatuh. Entah mengapa, mushalla jadi
penuh dengan orang-orang. Hingga Pak Karjo dan keluarganya begitu sulit untuk
masuk ke dalam. Mila pun beberapa kali terjatuh dan tersandung karena banyaknya
orang-orang yang berlalu lalang di mushalla. Ada yang sekedar masuk dan terus
keluar lagi, ada pula yang berdesak-desakan hanya karena ingin makan bubur ayam
dan makanan lainnya yang jualannya dekat dengan mushalla.
Pak
Karjo memilih untuk berwudhu dulu, Mila dan ibunya menunggu di luar. Setelah
itu Pak Karjo pun masuk ke dalam mushalla. Tak ada sajadah yang tersisa kala
itu. Karena mushalla nya memang sempit, dan serba kekurangan. Makanya banyak
para tahanan yang shalat secara bergiliran dalam waktu yang lama. Ada yang
menangis dan menyesali, ada juga yang tertidur karena lelah mengerjakan
kegiatan yang diberikan polisi untuk para tahanan.
“Bismillahirrahmanirrahiim..
Laa haula wa laa quwwata ilaa billah” Ucap Pak Karjo ketika berhasil mendapati
sejadah yang baru saja ditinggalkan oleh salah satu tahanan. Pak Karjo pun
shallat dzuhur empat raka’at. Setelah shalat, ia berdo’a kepada Tuhannya dan
memohon ampun atas segala dosa dan khilaf yang ia lakukan.
Tak ada manusia yang bersih dari dosa dan
khilaf
Barang sedetik waktu yang bergulir
Tak ada yang sanggup menahan segala
amarah, nafsu, jiwa yang melalap ketamakan, kedustaan, dan kenistaan yang
lainnya jika tidak Engkau yang menghendakinya untuk menahan segala perbuatan
keji yang ada.
Allah..
Aku berburu sajadah diantara
orang-orang yang penuh dosa dan salah.
Aku yang dengan keadaanku saat ini
lemah, dan memang lemah sedari awal
Kau yang menguatkanku hingga aku
bisa duduk bersimpuh menghambakan diri kepada-Mu. Dan …
Allah..
Aku adalah
manusia yang melampaui batas, dan aku kembali kepada-Mu untuk memohon ampun,
dan rahmat dari-Mu. Maafkan kesalahanku… Aamiin..
0 komentar:
Posting Komentar