Selasa, 28 Januari 2014

Berburu Sajadah Di Balik Bui



            Ketika udara di pagi hari mulai terasa begitu dingin, kicauan suara burung pun ikut meramaikan suasana di kota terpencil dibalik jeruji. Dimana orang-orang yang tersalah, penuh dengan linangan air mata penyesalan, dan bahkan tak sempat untuk bertaubat pun berkumpul di balik jeruji besi itu. Pak Karjo, adalah seorang pria separuh baya yang tertuduh melakukan sebuah penganiayaan terhadap anak kandungnya sendiri, Mila. Mila adalah sesosok gadis yang terlihat begitu pendiam, polos, taat dalam menjalankan perintah Allah SWT. Ia lahir dalam keadaan buta, dan memiliki enam jari di tangan kirinya. Saat ini, ia baru berusia 16th, dan dia sama sekali tidak mengikuti pendidikan formal di sekolah-sekolah, seperti teman-temannya yang lain. Namun, meskipun keadaannya seperti begitu. Mila tak pernah berhenti untuk selalu bersyukur kepada Tuhannya, karena meski dia terlahir dengan begitu banyak kekurangan dan sering kali dihina, dicemooh dan bahkan direndahkan oleh teman-teman sebayanya, Mila tetap yakin dan percaya bahwa Tuhannya tidak mungkin membenci Mila yang seperti begitu keadaannya. Istri Pak Karjo, Bu Saima. Ia begitu menyayangi putrinya Mila, meski anaknya lahir dengan serba kekurangan bahkan bisa dikatakan cacat, ia tak pernah lelah untuk terus memberikan kasih sayang dan motivasi untuk anaknya itu dalam mengarungi hidup yang singkat ini. Pak Karjo, memang kurang menerima Mila sejak beliau mengetahui bahwa kelahiran putrinya itu tidak normal seperti anak-anak yang lainnya. Awalnya, Pak Karjo itu sangat taat dan getol menjalankan peribadatan kepada Tuhannya. Namun, ketika berita kelahiran putrinya itu terdengar di telinganya. Pak Karjo berubah dengan sedikit demi sedikit. Dari mulai ia sering meninggalkan shalat lima waktu, hingga sering keluar kata-kata yang tak pantas disebutkan dari mulutnya, dan yang paling parah adalah sering memukul istrinya, dan anaknya Mila kalau Mila melakukan suatu kesalahan seperti tak sengaja menjatuhkan pot bunga di halaman rumah, menjatuhkan gelas kesayangan Pak Karjo, dan juga menginjak kaki Pak Karjo.
            Bruuuuuuk” Suara kardus-kardus yang berisi makanan ringan milik Pak Karjo yang akan diantarkan ke toko untuk dijual, terjatuh karena tak sengaja ditubruk Mila.
            “Heh, kamu itu sudah buta masih aja nyusahin orang tua! Bereskan kardus-kardus itu sekarang juga!” Teriak Pak Karjo kesal.
            “Maaf Pak, Mila tak sengaja.” Sambil mencari dimana kardus-kardus itu terjatuh dengan tangannya.
            “Ya kalau kamu tau kamu itu tidak bisa melihat, sudah diam saja di kamar. Tak usah kemana-mana. Bikin susah saja!” Tukas Pak Karjo semakin kesal.
            Mila hanya bisa menangis dan kembali ke kamarnya jika sudah terkena sentakan dari ayahnya itu. Bu Saima hanya bisa memberikan semangat yang tiada hentinya kepada Mila atas sikap dari suaminya itu. Bu Saima tak pernah bisa berkata sesuatu apapun kepada suaminya jika suaminya tersalah, karena memang sifatnya yang sedari awal mereka kenal, Pak Karjo memang tak pernah bisa untuk mengakui kesalahannya, dan tak pernah mau mengalah apalagi terlihat lemah oleh orang lain. Bu Saima hanya bisa mengadu nasib kepada Rabb-nya di saat-saat setelah shalat.
            “Mak, kenapa Bapak begitu benci kepada Mila? Mila salah apa sama Bapak?” Tanya Mila kepada Ibunya sambil menangis tersedu.
            “Sudahlah Mila, tak usah memikirkan orang yang selalu menyakitimu. Mila tak pernah berbuat salah kepada Emak, dan Bapak. Meski Bapak begitu, nanti juga Bapak akan menerima balasannya dari Allah.” Jawab Bu Saima mencoba menenangkan anak kesayangannya.
            “Mak, mungkin Bapak malu mempunyai anak seperti Mila. Bapak juga belum pernah mencoba mengajak atau menyekolahkan Mila seperti anak-anak yang lainnya. Bapak malu kan Mak punya anak seperti Mila?” Keluh Mila yang terus menerus kepada Ibunya.
            “Meskipun Bapak malu, Emak tak pernah malu punya Mila. Mila itu tetaplah sebuah titipan yang mesti dijaga oleh Emak dari Allah. Yang terpenting, Mila tumbuh menjadi wanita yang tegar, yang shalihah, yang kuat, yang istiqomah, menjadi qurrata’ayun nya Emak.” Jawab Bu Saima.
            “Meski Bapak begitu membenci Mila? Bisakah Mila menjadi Qurrata’ayuninya Bapak?” Tanya Mila lagi.
            Ketika mereka berdua sedang berbicara, datanglah Pak Karjo dengan membawa gunting dan juga tali rapia dengan wajah yang garang. Datang dengan langkah kaki yang sangat keras dan gerasa-gerusu.
            “Mila! Kesini kamu..” Teriak Pak Karjo sambil menarik tangan Mila.
            “Astaghfirullah Bapak, mau diapakan Mila ini?” Ucap Bu Saima yang terlihat begitu panik sambil memegang tangan Mila.
            “Diam kamu!” Tukas Pak Karjo sambil mendorong istrinya hingga terjatuh ke lantai.
            “Ampuun Pak, ampuun. Jangan siksa Mila.” Isak Mila yang mencoba melepaskan genggaman erat tangan Bapaknya.
            “Diam! Kamu kalau tidak diikat dan dikurung pasti banyak barang-barang Bapak yang rusak.” Kata Pak Karjo yang terus menarik badan Mila ke teras belakang rumah.
            Di dalam gudang yang banyak tersimpan barang-barang bekas dan tidak terpakai, gelap, dan hanya sedikit saja lubang ventilasi dari jendela kecil di atas. Dibawa-lah Mila oleh Pak Karjo ke dalam gudang tersebut, lalu diikatlah Mila di dalamnya. Bu Saima berlari mengejar suaminya dan mencoba menghalangi tapi tak bisa karena Pak Karjo selalu mendorong dan menahan aksi dari istrinya itu.
            “Bapak sudah keterlaluan sama anak sendiri! Pak, istighfar!” Ucap Bu Saima sambil menangis terisak karena melihat perlakuan suaminya terhadap anaknya sendiri.
            Terdengar suara rintihan tangis air mata Mila dari dalam memanggil Ibunya.
            “Emaaaak, maafkan Mila untuk Bapaak. Mila minta ampun” Kata Mila sambil menangis.
            “Dengar itu Pak, dengar! Anak itu tidak bersalah sama sekali Pak, sadar!” Ucap Bu Saima yang terus mencoba menyadarkan suaminya.
            “Berisik Bu, tak usah banyak bicara. Bapak tau apa yang harus Bapak lakukan. Ini demi kelancaran ekonomi dan segala urusan untuk kita. Kalau Mila tidak diikat, dia akan terus menerus merusak barang-barang yang ada di rumah kita karena kebutaannya itu.” Tukas Pak Karjo yang terus berjalan cepat tak mendengarkan apa kata istrinya.
            “Kalau begitu kurung juga Ibu bersama Mila!” Ucap Bu Saima.
            “Kalau kamu ikut dikurung, nanti yang urus saya siapa?” Sentak Pak Karjo sambil duduk di kursi depan.
            Bu Saima tidak tahan melihat kelakuan suaminya itu. Bu Saima mencoba untuk bersabar dan menghadapi kejadian ini dengan tenang. Bu Saima tetap yakin bahwa Allah akan selalu menjaga dan melindungi anak terkasihnya itu.
            Ketika malam, Mila pun merintih kesakitan karena perutnya lapar dan resah karena dia tidak bisa shalat. Ibunya mendengar keluhan dari anaknya itu. Tapi Pak Karjo tetap tidak memberikan izin kepada istrinya untuk melihat dan memberi makan Mila, takutnya Mila dilepaskan dari ikatannya. Hingga akhirnya Mila pun tertidur karena tak sanggup menahan rasa sakit, dan kepalanya begitu pusing, dada terasa sesak seperti terhimpit bebatuan yang besar.
            Keesokan harinya, Bu Saima melaporkan kejadian kemarin ke Pak RT. Dengan berberat hati, namun penuh dengan keyakinan dalam dirinya. Bu Saima melaporkan suaminya untuk segera ditahan di kapolsek terdekat, untuk menerima balasan atas apa yang sudah ia lakukan. Dan Bu Saima berharap agar suaminya kelak sadar setelah ditahan dibalik jeruji besi sana.
            Tak lama lagi, setelah Bu Saima menyiapkan makanan untuk suaminya. Datanglah beberapa polisi dan Pak RT ke rumahnya.
            “Assalamu’alaikum.” Kata Pak RT begitu datang ke rumah Pak Karjo.
            “Wa’alaikumsalam, eh Pak. Ada apa?” Sambut Pak Karjo dan sedikit heran ketika melihat ada tiga orang polisi datang bersama dengan Pak RT.
            “Begini Pak, ada yang ingin bicara dengan Bapak” Kata Pak RT sambil mempersilahkan polisi untuk melakukan tugasnya.
            “Maaf, anda tertuduh melakukan penganiayaan terhadap anak kandung sendiri. Dan atas laporan dari saksi, anda kami tangkap untuk dimintai keterangan dan anda ikut saya ke kantor.” Kata salah satu polisi tersebut.
            “Siapa yang melaporkan ini?” Tanya Pak Karjo sedikit meresah.
            “Istri anda sendiri” Jawab Pak RT.
            Pak Karjo pun berbalik badan ke belakang mencari bola mata istrinya, dan ketika tertangkap Pak Karjo menatap dalam-dalam wajah istrinya. Terlihat seperti ada kesedihan serta kekecewaan yang menahan nafasnya di dada. Hingga akhirnya Pak Karjo menuruti apa yang diperintahkan polisi dan Pak Karjo ikut bersama petugas negara itu.
            Sudah tiga bulan lamanya Pak Karjo tinggal dibalik jeruji besi. Rintihan air mata anaknya Mila selalu saja menghantui setiap tidur malamnya, ketika ia sedang melamun, berdiam diri dan melaksanakan kegiatan yang diberikan polisi untuk setiap tahanan. Bayang wajah Mila yang terlihat begitu polos, raut wajahnya yang masam, selalu bersedih ketika dimarahi oleh dirinya begitu membayangi setiap desahan nafasnya.
            Air mata Pak Karjo selalu mengalir dengan derasnya jika mengingat-ingat kesalahannya dahulu kepada anak semata wayangnya itu. Begitu kejam dan nistanya dia kepada anaknya sendiri. Tak ada seorang pun yang datang menjenguk, bahkan menanyakan kabar tentang dirinya. Hingga sesekali waktu Pak Karjo selalu tersenyum dan tertawa sendiri menertawai segala kekhilafannya. Ketika ia makan, kejadian gelas pecah yang tersenggol oleh Mila begitu terngiang-ngiang dalam ingatan Pak Karjo, sehingga ia makan dengan sekaligus meneguk air mata yang mengalir di pipinya sendiri.
            Malam demi malam Pak Karjo jalani sendiri, teman-teman yang ada di tahanan memang tak pernah menegur sapa. Karena Pak Karjo merasa bahwa dirinya berbeda dengan mereka, Pak Karjo tidak merasa bahwa dirinya seperti mereka yang banyak salah dan dosa. Pak Karjo hanya khilaf karena merasa malu memiliki anak seperti Mila. Dan apa yang telah dilakukannya kepada Mila memang belum seberapa. Sehingga Pak Karjo selalu sendiri menjalani hari-hari di sel.
            Sesekali ia teringat dan tersadar akan segala dosa yang memerihkan jiwanya. Ia takut kalau-kalau Allah mengutus petugas dari langit untuk mencabut nyawanya. Usianya yang sudah cukup dibilang tua, separuh baya. Memang sudah tak ada lagi harapan untuk mengejar gemerlapnya dunia. Pak Karjo begitu menyesali apa yang sudah dilakukannya. Air matanya itu adalah saksi atas sesal dan sesak yang menahan nafasnya untuk menghirup udara yang segar di sepanjang harinya.
            Sementara di rumah, Mila selalu teringat akan Bapak tuanya itu. Sesekali ia merayu Ibunya untuk mengajak Mila menjenguk Bapaknya itu, namun berulang kali Ibunya menolak. Ia tak ingin Mila disakiti kesekian kalinya oleh suaminya itu.
            “Mak, Mila masih hidup meskipun Bapak selalu menghantam Mila dengan kata-kata dan perlakuan kasarnya. Mila masih bersyukur Allah masih memberikan nafas untuk Mila. Tapi Bapak, Bapak sudah tua Mak. Mila khawatir Bapak disana sakit-sakitan.” Kata Mila dengan nada yang lembut mencoba merayu Ibunya untuk mau mengajak Mila menjenguk ayahnya.
            “Besok, kita ke sana lihat Bapak.” Jawab Bu Saima pelan mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk tegar dan siap menerima segala kejadian yang ada.
            “Asik, makasih Mak.” Jawab Mila dengan penuh senyuman.
            Keesokan harinya, Pak Karjo mengalami demam yang cukup tinggi. Sesekali ia batuk dan kepalanya begitu sakit. Pak Karjo khawatir dan semakin gelisah. Ketika salah satu petugas melewati sel yang ditempatinya, Pak Karjo memanggil petugas itu.
            “Pak..” Ucap Pak Karjo kepada petugas dengan ucapan yang terbata-bata, tertahan oleh batuknya yang sebegitu.
            “Ya, ada apa Pak Karjo?” Tanya sang petugas.
            “Saya ingin keluar mencari udara segar, dan saya ingin ke mushalla untuk melaksanakan shalat” Jawab Pak Karjo yang suaranya semakin melemah.
            “Ya, silahkan.” Jawab si petugas sambil membuka gembok yang terkunci di sel tempat Pak Karjo.
            Pak Karjo pun keluar dan mencari dimana mushalla berada. Ketika akan memasuki halaman belakang, terdengar langkah kaki dan tongkat milik Mila di telinga Pak Karjo. Pak Karjo pun mencari suara tersebut. Matanya melihat ke arah samping kanan, kiri, serta belakang. Dan..
            “Bapak..” Teriak Ibu Saima yang terkaget melihat suaminya sangat terlihat begitu lemas.
            Pak Karjo melirik ke arah dimana suara istrinya itu muncul. Pak Karjo pun pingsan ketika melihat istrinya. Serentak Bu Saima dan Mila bergegas menghampiri Pak Karjo yang terjatuh tergeletak di lantai dekat pintu keluar. Akhirnya, Bu Saima membawa Pak Karjo ke ruang kesehatan yang berada di dekat tahanan. Dengan ditemani dua orang polisi untuk mengawasi tahanannya.
            Beberapa menit kemudian, Pak Karjo tersadar. Dan ia menangis terharu melihat Mila yang masih saja terlihat begitu polos namun kali ini Pak Karjo melihat wajah anaknya itu penuh dengan senyum bahagia, tak terlintas raut yang menandakan kekesalan dan kebencian untuk dirinya. Pak Karjo pun meraih tangan Mila dan menggenggam erat tangan Mila. Mila merasa kaget, dan merasakan sentuhan yang begitu kasar dan asing. “Mungkinkah ini adalah tangan Bapak”. Begitu pikirnya.
            “Mila, maafkan Bapak ya” Kata Pak Karjo dengan nada yang terbata dan mata yang mulai terlihat berkaca-kaca.
            Hati Mila serasa kuat merasakan degupan jantung yang tak beraturan pada Bapaknya, dari cara ia berbicara, begitu mendesah dan ada yang tertahan dalam dadanya.
            “Bapak jangan menangis, Mila sudah memaafkan Bapak dari awal juga.” Kata Mila sambil menyunggingkan senyuman.
            “Mila memang anak baik, makasih.” Kata Bapaknya yang terhenti karena batuknya yang semakin parah.
            “Bapak tadi mau kemana?” Kata Bu Saima sambil memegang erat tangan suaminya.
            “Bapak mau ke mushalla, Bapak mau meminta ampun kepada Allah.” Jawabnya seolah menagih simpati.
            Mereka semua pun berjalan dan menghampiri mushalla. Dan sepuluh langkah sebelum masuk ke mushalla. Mila terjatuh karena tersandung kaki dari orang-orang tahanan yang akan memasuki mushalla. Hingga akhirnya Pak Karjo pun terbungkuk-bungkuk untuk menolong dan membangunkan anaknya yang terjatuh. Entah mengapa, mushalla jadi penuh dengan orang-orang. Hingga Pak Karjo dan keluarganya begitu sulit untuk masuk ke dalam. Mila pun beberapa kali terjatuh dan tersandung karena banyaknya orang-orang yang berlalu lalang di mushalla. Ada yang sekedar masuk dan terus keluar lagi, ada pula yang berdesak-desakan hanya karena ingin makan bubur ayam dan makanan lainnya yang jualannya dekat dengan mushalla.
            Pak Karjo memilih untuk berwudhu dulu, Mila dan ibunya menunggu di luar. Setelah itu Pak Karjo pun masuk ke dalam mushalla. Tak ada sajadah yang tersisa kala itu. Karena mushalla nya memang sempit, dan serba kekurangan. Makanya banyak para tahanan yang shalat secara bergiliran dalam waktu yang lama. Ada yang menangis dan menyesali, ada juga yang tertidur karena lelah mengerjakan kegiatan yang diberikan polisi untuk para tahanan.
            “Bismillahirrahmanirrahiim.. Laa haula wa laa quwwata ilaa billah” Ucap Pak Karjo ketika berhasil mendapati sejadah yang baru saja ditinggalkan oleh salah satu tahanan. Pak Karjo pun shallat dzuhur empat raka’at. Setelah shalat, ia berdo’a kepada Tuhannya dan memohon ampun atas segala dosa dan khilaf yang ia lakukan.
            Tak ada manusia yang bersih dari dosa dan khilaf
            Barang sedetik waktu yang bergulir
            Tak ada yang sanggup menahan segala amarah, nafsu, jiwa yang melalap ketamakan, kedustaan, dan kenistaan yang lainnya jika tidak Engkau yang menghendakinya untuk menahan segala perbuatan keji yang ada.
            Allah..
            Aku berburu sajadah diantara orang-orang yang penuh dosa dan salah.
            Aku yang dengan keadaanku saat ini lemah, dan memang lemah sedari awal
            Kau yang menguatkanku hingga aku bisa duduk bersimpuh menghambakan diri kepada-Mu. Dan …
            Allah..
Aku adalah manusia yang melampaui batas, dan aku kembali kepada-Mu untuk memohon ampun, dan rahmat dari-Mu. Maafkan kesalahanku… Aamiin..

Thanks For All, Allah!

Kicau suara burung di pagi itu sangat nyaring, mentari di atas langit pun begitu berani menampakkan seluruh tubuhnya, walau sedikit malu-malu bersembunyi di balik awan tapi savana di ujung sana terlihat begitu ceria walau panasnya mentari begitu menyengat. Lambaian dedaunan di pohon itu pun nampak begitu riang, menari ke kiri dan ke kanan ketika belaian angin menyentuh tubuhnya. Subhanallah, indah sekali pagi itu. Tetapi, entah mengapa air matanya menetes membasahi pipinya. Air mata seorang gadis yang ketika pagi itu sedang mencari ketenangan jiwa, menuju sebuah tempat yang tak ramai dikunjungi oleh semua penduduk di kota itu. Panggil saja dia Zee. Gadis yang cantik, berkulit putih, bermata tajam dan yang pasti dari kalangan orang mewah, orangtuanya begitu mapan. Segala apapun yang Zee pinta memang selalu diberikan, tapi yang satu itu. Sepertinya begitu sulit untuk ia dapatkan. Zee adalah anak yang begitu baik, pendiam dan sangat ramah bermasyarakat dengan tetangganya. Namun, ketika ayahnya menikah lagi dengan wanita lain. Perasaannya begitu tersiksa. Dan mamah kandungnya selalu saja dijadikan bahan hinaan oleh mamah tirinya itu. Dan tanpa sepengetahuan ayahnya, mamah tirinya selalu memperlakukan Zee tak sebagai mana mestinya, setiap hari Zee selalu dibentak. Mamah kandungnya tak bisa berbuat sesuatu untuk meringankan derita anaknya itu, karena dia tak ingin suaminya berpikir hal yang buruk kepada anaknya dan juga dirinya sendiri. Dia hanya bisa berpasrah agar suatu saat pertolongan Allah itu datang menghampiri dirinya.
            “Hmm…” Keluhnya saat melihat anak kucing yang sedang sendirian di pinggir jalan dekat batu besar itu. Zee merasa iba melihat anak kucing itu, tak lama dari itu Zee pun menghampiri dan menggendong kucing itu lalu duduk di batu yang ada di bawahnya.
“Hai kucing kecil, kenapa kamu sendiri disini? Kemana mamamu?” Tanya Zee kepada kucing kecil itu. Kucing kecil itu hanya bersuara dengan bahasanya sendiri, dengan suara yang begitu lembut dan lemah sekali.
“Kamu haus ya? Atau kamu rindu saudara-saudaramu?” Tanyanya lagi. Namun memang kucing tak pernah bisa mengerti bahasa manusia. Kucing itu hanya bisa menunduk dan mengusap-usapkan kepalanya ke tangan Zee dengan manjanya. Zee memeluknya dengan penuh kasih sayang.
“Yaa Allah, betapa kasihannya kucing ini. Dia sendirian di jalan yang begitu luas ini. Tapi aku tetap yakin kalau dia memang tak akan pernah sengsara selagi masih ada Engkau yang menjaganya, begitu juga dengan aku saat ini. Aku yakin itu Allah.” Zee pun membawa kucing kecil itu ke masjid yang berada di depan toko obat yang hanya tinggal beberapa rumah lagi dari tempatnya diam saat itu.
Kucing itu Zee taruh di atas lap kaki yang berada di atas lantai, kemudian ia tinggalkan untuk shalat dhuha. Dalam shalatnya, Zee memanjatkan do’a kepada Tuhannya.
“Allah, berikanlah aku kekuatan untuk mempertahankan hakku, hak ibuku. Berikanlah pengertian kepada ayahku agar mampu bijaksana dalam masalah ini, berikanlah sedikit cahaya cinta-Mu kepada istri kedua ayah. Allah, besok adalah bulan suci ramadhan. Dalam bulan yang penuh dengan maghfirah-Mu ini aku memohon agar Kau mau menolongku agar aku kuat dalam menjalani ini semua. Untuk kali ini saja, aku mohon. Aamiin Allahuma Aamiin”
Selesai menjalankan shalat dhuha. Zee pun kembali membereskan alat shalatnya dan segera pergi keluar. Namun ketika Zee berada di dekat pintu keluar, Zee tak melihat kucing kecil itu. Dicarinya ke setiap penjuru namun tak juga ia temui.
“Haah sudahlah, mungkin dia sudah menemukan jalannya sendiri untuk bahagiakan dirinya.” Gumamnya pasrah. Zee pun kembali pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, dia melihat sang ayah sedang berbicara serius dengan ibu kandungnya. Sepertinya memang ada hal yang begitu penting, tapi wajah ayahnya begitu terlihat kesal dan…
“Terimakasih yah, untuk semua ini ibu terima. Maafkan ibu jika ibu belum bisa menjadi istri yang baik untuk ayah. Semoga ayah tidak pernah menyesal dengan keputusan ayah, ibu dan Zee akan pergi dari sini. Secepat mungkin!” Kata-kata ibunya yang terdengar oleh Zee dari luar rumah membuat Zee tak sanggup menahan air matanya. Ia pun kembali menangis. Dengan terkapar begitu lemahnya, Zee pun menjatuhkan badannya ke lantai. Dia menangis sendiri di luar sana. Tangisan kecilnya itu terdengar oleh ayahnya, kemudian sang ayah keluar dan menghampiri anaknya itu.
“Zee, kenapa nangis?” Tanya ayahnya sambil membelai rambut anak semata wayangnya itu. Namun Zee tak menjawab apapun dan hanya menggelengkan kepalanya. Ayahnya terus bertanya, namun tangis itu semakin deras saja. Ayahnya terdiam, dia bingung melihat anak gadisnya begitu sangat sedih. Dia pun memanggil istri keduanya untuk membuatkan minuman untuk anaknya, dan istrinya pun melaksanakannya.
Ketika ibu tirinya memberikan minuman kepada Zee, Zee menepaknya hingga gelas yang digenggam ibunya pecah berkeping-keping. Saking kagetnya, sang ibu tiri marah dan langsung menjewer telinga Zee, dan mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Zee menangkasnya, kemudian Zee mengeluarkan segala apapun yang dipendamnya selama ini.
“Puas? Tante puas nyakitin Zee? Makasih. Zee ga peduli tante mau jadi ibu tiri Zee atau istrinya ayah, bagi Zee kalian semua ga ada artinya! Makasih udah mau nampung Zee disini. Tapi sayang, disini bukan rumah Zee. Zee asing disini.” Dengan berderai air mata Zee pun melangkahkan kakinya pergi keluar dan lari sekencang-kencangnya.
Ayahnya pun mengejar anaknya itu, namun Zee terus berlari kencang hingga akhirnya Zee berhenti ditengah-tengah karena melihat kucing kecil yang ia temui tadi pagi. Ayahnya pun sampai dan mencoba berbicara kepada Zee lagi.
“Zee, marah sama ayah?” Tanya ayahnya.
“Tepatnya kecewa yah. Zee ga bisa marah sama siapapun. Karena Zee tau, hidup Zee bukan Zee yang atur.”
“Lalu Zee inginnya ayah itu bagaimana?” Tanya ayahnya lagi.
“Zee ga minta ayah berubah, tapi Zee minta satu hal sama ayah. Tolong lebih dewasa lagi mengambil keputusan. Ayah tau siapa yang lebih tulus mencintai ayah? Ayah tau siapa yang lebih menyayangi ayah? Siapa?”
“Ibu kandungmu” Jawab ayahnya sambil menunduk.
“Bukan yah.” Jawab Zee dengan nada tinggi.
“Lalu siapa?” Tanya ayahnya heran.
“Allah. Allah yang begitu tulus mencintai dan menyayangi ayah hingga ayah mampu bertemu dengan ibu dan melahirkan aku. Lalu siapa orang asing itu? Bahkan ayah diberikan kepercayaan oleh-Nya untuk mempunyai istri lagi tanpa ada percekcokan dari istri ayah yang pertama, tapi apa yah? Apa balasan ayah? Ayah ga adil..” Jawab Zee dengan isak tangisnya.
Namun ayahnya hanya terdiam membisu.
“Lalu apa harus Zee yang jadi korban percintaan kalian? Zee?” Tanya Zee penuh harap.
“Ayah bingung nak!” Jawab ayahnya.
“Demi Allah yah, besok mulai shaum ramadhan. Zee pengen jiwa Zee tenang. Zee selalu kena marah istri kedua ayah, bahkan ibu selalu dijadikan pembantu di rumah. Tapi ibu juga ga bisa melakukan sesuatu untuk Zee itu karena ibu menghormati ayah. Sekarang Zee yang harusnya bingung yah, bukan ayah!”
“Apa harus ayah ceraikan ibu tirimu nak?” Tanya ayahnya.
“Itu urusan ayah, tapi cerai itu sangat dibenci oleh Allah!” Jawab Zee sambil pergi meninggalkan ayahnya dengan membawa kucing kecilnya itu.
“Zee mau kemana?” Tanya ayahnya.
“Kemana aja, kalau besok ayah udah punya jawabannya Zee bakalan pulang!”
Ayahnya pun merenung, dan kembali pulang ke rumahnya. Istri pertamanya sangat sedih mengalami kejadian pahit ini, sedangkan istri keduanya begitu terlihat ketakutan begitu melihat suaminya pulang tak membawa anak semata wayangnya itu.
Sang suami pun mengumpulkan kedua istrinya, dan bertanya kepada istri kedua tentang yang ingin ditanyakannya.
“La, saya mau tanya. Apa yang membuatmu menjadi hilang kendali dan begitu ingin menguasai isi rumah ini? Apakah karena hartaku?” Tanya sang suami kepada istri keduanya itu.
“Ya mungkin karena saya juga diliputi rasa cemburu, karena sampai detik inipun kamu belum ada rasa perhatiannya sama saya, kamu terlalu sibuk sama kerjaan kamu.” Jawabnya.
“Lalu kamu Nay, kenapa kamu tak bisa lebih tegas dan lebih pasrah dengan segalanya. Apakah karena kamu sudah tak mencintai saya lagi?” Tanya sang ayah kepada istri pertamanya.
“Aku hanya tak ingin menambah bebanmu saja dengan tingkah kekanak-kanakannya itu, karena aku tau pasti dia cemburu padaku. Dan apapun yang terjadi kepadaku, aku tak takut karena kebenaran berpihak padaku. Meskipun kamu buta, tapi Allah Maha Melihat!” Jawabnya.
“Aku ingin kalian semua rukun dan berikanlah sikap terbaik kepada Zee, seharusnya kita memberikan sikap yang baik, dan lebih mengontrol emosi kita. Bisa?”
Kedua istrinya pun mengangguk, dan..
“Besok bulan ramadhan, ada baiknya kita semua saling memaafkan.” Kata sang suami kepada kedua istrinya. Mereka pun saling memaafkan.
Ternyata, Zee mengintip dari luar jendela. Zee senang dan merasa bangga memiliki ayah seperti ayahnya walau pernah berbuat kesalahan yang membuat Zee terluka bahkan tersiksa jiwanya.
“Allah, aku yakin. Pertolongan-Mu begitu dekat. Hmm.. terimakasih Allah...”
Zee pun masuk ke dalam rumah, dan memeluk ayahnya dengan penuh kasih sayang, dan terdengar bisik di telinga ayahnya..
“Ayah hebat! Ayah mampu berpikir dewasa.. Selamat!”
            Ayahnya pun tersenyum bahagia.
            “Terimakasih Allah untuk semuanya” Gumam sang ayah dalam hati.
            Kemudian mereka semua melakukan shalat tarawih bersama di rumah. Begitu bahagianya. Benar-benar membuat keimanan kembali terisi dan termotivasi kembali untuk menjalani hidup. “Selamat datang bulan ramadhan!” Ucap Zee memandang langit.

Glasses Of My Life



Sekilas ku memandang sekitar, “Hmm..” gumamku. Tak lama dari itu, ku sandarkan tubuhku pada dinding yang berada tepat di belakangku. Mataku terbelalak melihat ke langit-langit di angkasa yang terhampar luas. “Hanya ada lengkung fatamorgana, sekilas memang terlihat. Sedikit saja ku langkahkan beberapa meter, lengkung itu nyaris tak terlihat.” Terdengar bisik dalam hati. Kakiku mendadak lemas tak berdaya, aku pun terduduk seketika di atas lantai putih bergaris hitam dengan noda coklat akibat injakan kaki para manusia yang berlalu lalang di kota yang begitu ramai ini.
                “Lelah, jenuh, muak, rasanya ingin pergi dari kota ini. Sedikit saja aku ingin menghirup udara segar yang menyehatkan tubuhku. Tak adakah?” Keluhku dalam hati seakan ingin berteriak mengeluarkan segala penat dalam jiwa. Kedua tanganku memegang erat kepalaku yang bising mendengar segala keluh kesah manusia yang seakan memberikan seluruh bebannya kepadaku. “Apa? Ini apa? Kenapa harus aku yang menanggung segala kelemahan mereka?” Teriakku dalam hati. “Haah.. sudahlah” Ucapku sambil membawa badanku untuk tegak berdiri lepas dari segala lamunan dan amarahku itu. Aku angkat kakiku dengan paksa untuk melangkah melihat jalan yang ada di depan mataku. Namun jiwa, jiwaku lumpuh tak berdaya. Aku ingin menangis, tapi rasanya air mata ini sudah mengering karena terlalu sering aku menangis. Aku ingin bersusah payah melihat semua ini, tapi aku sudah terlalu sering juga menjadikan semua ini susah payah.
“Hmm.. bagaimana mungkin aku bisa bahagia di tempat yang begitu gelap seperti ini. Tak ada dunia yang membuatku senyum bahagia. Karena yang bisa membuatku bahagia hanyalah satu jawaban pasti, “Allah menerima cintaku yang tertatih ini” namun aku belum bisa berbuat sesuatu hal yang bisa membuat-Nya yakin dengan cintaku yang setengah-setengah ini. Inilah alasan mengapa aku selalu saja bersedih hati. Aku tak bisa membendung cintaku kepada-Nya, namun dunia ini begitu kelabu. Gelap. Bahkan selalu saja aku disesatkan oleh cinta-cinta kecil di bulatan fatamorgana ini. Tapi, apa yang bisa ku lakukan. Aku pun tak pernah tau jalan hidupku akan begini. Siapa yang membuatku hidup dalam jalan ini? Bahkan ini terlalu ghaib untuk ku tahui.” Gumamku dalam hati yang terus berjalan menyisir setiap rumah di jalan raya itu.
Karena sudah terlalu jauh berjalan, ku putuskan untuk menaiki kendaraan mobil di jalan itu untuk menuju pulang ke rumahku.
Lagi, dan lagi aku berjalan menyusuri rumah penduduk. Asing, begitu asing. Setiap kedua bola mata mereka selalu saja mengarah kepadaku. Sedang aku? Hanya menunduk dengan sebuah ketidakpastian apakah aku sanggup membalas setiap senyum kaku dari bibir tipis mereka? Hanya bisa membungkuk dan kepala tertunduk ke bawah. Lalu berjalan dengan dingin layaknya seekor ayam tak tahu etika.
“Hampir sampai” kedua bola mataku mengarah pada pagar berwarna coklat kopi. Perlahan ku membuka pagar itu dan aku masuk ke dalam rumah. Dan seperti biasa, langsung saja aku masuk ke dalam ruangan yang tak begitu ramai. Ruangan pribadiku sendiri. Kubaringkan seluruh tubuhku di atas tempat tidur yang hanya cukup untukku saja. Tak begitu penting membahas benda tak bernyawa satu itu. Perlahan ku pejamkan kedua bola mataku yang tengah lelah menjalani hidup di siang ini.
Apa yang sebenarnya aku pikirkan, aku takutkan, aku khawatirkan. Bahkan tanpa ditakuti pun segalanya akan hilang dengan waktu yang telah ditentukan. Merasa memiliki, Yaa Allah. Tentramkanlah selalu hati ini. Aku lelah mengatur nafas yang selalu saja tak sampai pada hitungan satu menitpun. Nafasku ini begitu pendek, bahkan untuk mengerjakan satu pekerjaan yang cukup ringanpun rasanya seperti mengangkat satu karung beras. Mengapa semua kejadian yang begitu pahit dari-Mu selalu saja aku tak bisa rela menerimanya. Aku seperti berkeluh kesah dan marah kepada-Mu dengan semua kejadian ini. Tanpa tahu apa yang akan aku dapatkan, aku berlaku semauku tanpa perduli bagaimana dengan-Mu. Cinta, Engkaupun mempunyai rasa cinta. Tak jauh dengan cinta-cinta yang sedang manusia alami di bumi-Mu ini. Bagaimana rasa-Mu melihatku? Adakah cemburu-Mu ketika aku melakukan suatu perbuatan yang begitu menyakitkan-Mu? Allah. Rasaku terhadap-Mu begitu mendalam, tetapi mengapa selalu saja aku tersesat menuju-Mu?
“Hmm… Astaghfirullah…” Ucapku sembari mengangkat kepalaku sambil mengalihkan lamunanku, lalu akupun mulai menatap ke arah jendela kamarku. Usang dan berdebu yang kulihat, seperti tak ada penghuninya. “Sebegitu acuhkah aku terhadap lingkunganku?”, “Mengenaskan”. Dan aku hanya menatapnya tanpa memberikan sebuah sikap yang membantu mereka agar terhindar dari berbagai kotoran yang hinggap pada tubuh mereka itu.
“Bahkan untuk hal terkecilpun aku begitu enggan, tak ada gairah sama sekali. Tak ada semangat, tak ada kehidupan. Layaknya mumi yang dipaksa untuk terus bergerak!” Gumamku mengalihkan pandangan ke arah notebookku. Aku pun menekan tombol power untuk menghidupkan notebook kesayanganku itu. Untuk apa lagi? Yah, hanya sekedar mencari hiburan dalam dunia maya. Facebook.
Ketika membuka jejaring sosial facebook itu, aku lebih memilih membuka dan menulis sebuah catatan di dalamnya. Apa yang akan aku catat? Entahlah. Hanya segumpal darah yang berdenyut menegaskan rasa luka, seperti hampa tak bernyawa. Padahal sejatinya, aku ini hidup bahkan saking hidupnya tak menyadari bahwa semuanya bergerak menuju sebuah kehidupan yang abadi. Yang penuh dengan kesedihan atau mungkin kebahagiaan yang selalu saja dinanti.
“Ricuh gemuruh angin berderu menaruh rasa haru. Sedih yang berkepanjangan hanyalah segumpal darah yang ada pada tubuh mencoba berbicara menegaskan. Mencari sebuah kepastian cinta yang selalu saja tak berujung temu. Harap cemas menanti kehadiran sang pangeran yang akan menjemput sang puteri dengan berjuta kebahagiaan. Akankah semua itu hanya terjadi pada negeri dongeng? Bahkan negeri dongeng sendiripun begitu sinis melihat dunia yang terjal dan tandus kaku tak beraturan seperti yang ada saat ini. Sekelumit kisah cinta, yang bermuara dari-Nya perlahan turun menemui sang adam, kemudian diciptakanlah seorang hawa yang setia menemani seorang adam. Lalu, terjadilah lagi sebuah perjalanan cinta yang dilakukan oleh sepasang manusia yang begitu ramai diperbincangkan. Tak ada faedahnya. Tak ada yang mesti dibanggakan. Hanya tersisa sesak dalam dada yang tak mampu ditopang oleh rusuk-rusuk yang ada di dalam tubuh ini. Bahkan nyaris segumpal darah itu menerobos tulang belulang bernama rusuk itu, menjalar dan terus menyebar hingga sampailah pada sebuah sistem dimana semua hal terfokus padanya, disitulah sebuah pemikiran muncul. Akankah cinta ini berpulang kembali kepada-Nya? Ataukah mungkin akan terselip di labirin yang kan berujung pada jurang kematian. Disana pun ada air yang mengalir, bahkan bermuara pada sebuah lautan yang terhampar begitu luas seperti langit diatas sana. Segumpal darah bernama cinta ini akankah sampai pada-Nya atau akan tenggelam dan diguyur oleh derasnya air hujan dan tercampur dengan gulungan ombak di lautan sana? Lalu, nyaris tertabrak batu karang lalu pecah. Musnah. Aku hanya ingin, cinta ini tak berakhir tragis dalam sebuah ketidakpastian dan melahirkan air mata yang tak berkesudahan. Allah, aku hanya ingin bertemu dengan-Mu. Kasihilah dan sayangilah aku. Aku mengemis cinta dari-Mu agar aku mampu melewati segala air yang mampu mengambil segumpal darah dari-Mu yang bernama cinta ini. Dengannya seorang pria yang aku nantikan, semoga kan sampai segumpal darah dari-Mu ini kepada-Mu lagi. Aamiin aamiin aamiin”
Lalu, aku simpan catatan itu dalam akun facebookku. Aku tutup dan aku matikan barang elektronik ini. Kemudian aku tidur dengan pulasnya untuk menyambut hari esok yang semoga menjadi lebih baik dari hari ini.