Selasa, 28 Januari 2014

Thanks For All, Allah!

Edit Posted by with No comments
Kicau suara burung di pagi itu sangat nyaring, mentari di atas langit pun begitu berani menampakkan seluruh tubuhnya, walau sedikit malu-malu bersembunyi di balik awan tapi savana di ujung sana terlihat begitu ceria walau panasnya mentari begitu menyengat. Lambaian dedaunan di pohon itu pun nampak begitu riang, menari ke kiri dan ke kanan ketika belaian angin menyentuh tubuhnya. Subhanallah, indah sekali pagi itu. Tetapi, entah mengapa air matanya menetes membasahi pipinya. Air mata seorang gadis yang ketika pagi itu sedang mencari ketenangan jiwa, menuju sebuah tempat yang tak ramai dikunjungi oleh semua penduduk di kota itu. Panggil saja dia Zee. Gadis yang cantik, berkulit putih, bermata tajam dan yang pasti dari kalangan orang mewah, orangtuanya begitu mapan. Segala apapun yang Zee pinta memang selalu diberikan, tapi yang satu itu. Sepertinya begitu sulit untuk ia dapatkan. Zee adalah anak yang begitu baik, pendiam dan sangat ramah bermasyarakat dengan tetangganya. Namun, ketika ayahnya menikah lagi dengan wanita lain. Perasaannya begitu tersiksa. Dan mamah kandungnya selalu saja dijadikan bahan hinaan oleh mamah tirinya itu. Dan tanpa sepengetahuan ayahnya, mamah tirinya selalu memperlakukan Zee tak sebagai mana mestinya, setiap hari Zee selalu dibentak. Mamah kandungnya tak bisa berbuat sesuatu untuk meringankan derita anaknya itu, karena dia tak ingin suaminya berpikir hal yang buruk kepada anaknya dan juga dirinya sendiri. Dia hanya bisa berpasrah agar suatu saat pertolongan Allah itu datang menghampiri dirinya.
            “Hmm…” Keluhnya saat melihat anak kucing yang sedang sendirian di pinggir jalan dekat batu besar itu. Zee merasa iba melihat anak kucing itu, tak lama dari itu Zee pun menghampiri dan menggendong kucing itu lalu duduk di batu yang ada di bawahnya.
“Hai kucing kecil, kenapa kamu sendiri disini? Kemana mamamu?” Tanya Zee kepada kucing kecil itu. Kucing kecil itu hanya bersuara dengan bahasanya sendiri, dengan suara yang begitu lembut dan lemah sekali.
“Kamu haus ya? Atau kamu rindu saudara-saudaramu?” Tanyanya lagi. Namun memang kucing tak pernah bisa mengerti bahasa manusia. Kucing itu hanya bisa menunduk dan mengusap-usapkan kepalanya ke tangan Zee dengan manjanya. Zee memeluknya dengan penuh kasih sayang.
“Yaa Allah, betapa kasihannya kucing ini. Dia sendirian di jalan yang begitu luas ini. Tapi aku tetap yakin kalau dia memang tak akan pernah sengsara selagi masih ada Engkau yang menjaganya, begitu juga dengan aku saat ini. Aku yakin itu Allah.” Zee pun membawa kucing kecil itu ke masjid yang berada di depan toko obat yang hanya tinggal beberapa rumah lagi dari tempatnya diam saat itu.
Kucing itu Zee taruh di atas lap kaki yang berada di atas lantai, kemudian ia tinggalkan untuk shalat dhuha. Dalam shalatnya, Zee memanjatkan do’a kepada Tuhannya.
“Allah, berikanlah aku kekuatan untuk mempertahankan hakku, hak ibuku. Berikanlah pengertian kepada ayahku agar mampu bijaksana dalam masalah ini, berikanlah sedikit cahaya cinta-Mu kepada istri kedua ayah. Allah, besok adalah bulan suci ramadhan. Dalam bulan yang penuh dengan maghfirah-Mu ini aku memohon agar Kau mau menolongku agar aku kuat dalam menjalani ini semua. Untuk kali ini saja, aku mohon. Aamiin Allahuma Aamiin”
Selesai menjalankan shalat dhuha. Zee pun kembali membereskan alat shalatnya dan segera pergi keluar. Namun ketika Zee berada di dekat pintu keluar, Zee tak melihat kucing kecil itu. Dicarinya ke setiap penjuru namun tak juga ia temui.
“Haah sudahlah, mungkin dia sudah menemukan jalannya sendiri untuk bahagiakan dirinya.” Gumamnya pasrah. Zee pun kembali pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, dia melihat sang ayah sedang berbicara serius dengan ibu kandungnya. Sepertinya memang ada hal yang begitu penting, tapi wajah ayahnya begitu terlihat kesal dan…
“Terimakasih yah, untuk semua ini ibu terima. Maafkan ibu jika ibu belum bisa menjadi istri yang baik untuk ayah. Semoga ayah tidak pernah menyesal dengan keputusan ayah, ibu dan Zee akan pergi dari sini. Secepat mungkin!” Kata-kata ibunya yang terdengar oleh Zee dari luar rumah membuat Zee tak sanggup menahan air matanya. Ia pun kembali menangis. Dengan terkapar begitu lemahnya, Zee pun menjatuhkan badannya ke lantai. Dia menangis sendiri di luar sana. Tangisan kecilnya itu terdengar oleh ayahnya, kemudian sang ayah keluar dan menghampiri anaknya itu.
“Zee, kenapa nangis?” Tanya ayahnya sambil membelai rambut anak semata wayangnya itu. Namun Zee tak menjawab apapun dan hanya menggelengkan kepalanya. Ayahnya terus bertanya, namun tangis itu semakin deras saja. Ayahnya terdiam, dia bingung melihat anak gadisnya begitu sangat sedih. Dia pun memanggil istri keduanya untuk membuatkan minuman untuk anaknya, dan istrinya pun melaksanakannya.
Ketika ibu tirinya memberikan minuman kepada Zee, Zee menepaknya hingga gelas yang digenggam ibunya pecah berkeping-keping. Saking kagetnya, sang ibu tiri marah dan langsung menjewer telinga Zee, dan mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Zee menangkasnya, kemudian Zee mengeluarkan segala apapun yang dipendamnya selama ini.
“Puas? Tante puas nyakitin Zee? Makasih. Zee ga peduli tante mau jadi ibu tiri Zee atau istrinya ayah, bagi Zee kalian semua ga ada artinya! Makasih udah mau nampung Zee disini. Tapi sayang, disini bukan rumah Zee. Zee asing disini.” Dengan berderai air mata Zee pun melangkahkan kakinya pergi keluar dan lari sekencang-kencangnya.
Ayahnya pun mengejar anaknya itu, namun Zee terus berlari kencang hingga akhirnya Zee berhenti ditengah-tengah karena melihat kucing kecil yang ia temui tadi pagi. Ayahnya pun sampai dan mencoba berbicara kepada Zee lagi.
“Zee, marah sama ayah?” Tanya ayahnya.
“Tepatnya kecewa yah. Zee ga bisa marah sama siapapun. Karena Zee tau, hidup Zee bukan Zee yang atur.”
“Lalu Zee inginnya ayah itu bagaimana?” Tanya ayahnya lagi.
“Zee ga minta ayah berubah, tapi Zee minta satu hal sama ayah. Tolong lebih dewasa lagi mengambil keputusan. Ayah tau siapa yang lebih tulus mencintai ayah? Ayah tau siapa yang lebih menyayangi ayah? Siapa?”
“Ibu kandungmu” Jawab ayahnya sambil menunduk.
“Bukan yah.” Jawab Zee dengan nada tinggi.
“Lalu siapa?” Tanya ayahnya heran.
“Allah. Allah yang begitu tulus mencintai dan menyayangi ayah hingga ayah mampu bertemu dengan ibu dan melahirkan aku. Lalu siapa orang asing itu? Bahkan ayah diberikan kepercayaan oleh-Nya untuk mempunyai istri lagi tanpa ada percekcokan dari istri ayah yang pertama, tapi apa yah? Apa balasan ayah? Ayah ga adil..” Jawab Zee dengan isak tangisnya.
Namun ayahnya hanya terdiam membisu.
“Lalu apa harus Zee yang jadi korban percintaan kalian? Zee?” Tanya Zee penuh harap.
“Ayah bingung nak!” Jawab ayahnya.
“Demi Allah yah, besok mulai shaum ramadhan. Zee pengen jiwa Zee tenang. Zee selalu kena marah istri kedua ayah, bahkan ibu selalu dijadikan pembantu di rumah. Tapi ibu juga ga bisa melakukan sesuatu untuk Zee itu karena ibu menghormati ayah. Sekarang Zee yang harusnya bingung yah, bukan ayah!”
“Apa harus ayah ceraikan ibu tirimu nak?” Tanya ayahnya.
“Itu urusan ayah, tapi cerai itu sangat dibenci oleh Allah!” Jawab Zee sambil pergi meninggalkan ayahnya dengan membawa kucing kecilnya itu.
“Zee mau kemana?” Tanya ayahnya.
“Kemana aja, kalau besok ayah udah punya jawabannya Zee bakalan pulang!”
Ayahnya pun merenung, dan kembali pulang ke rumahnya. Istri pertamanya sangat sedih mengalami kejadian pahit ini, sedangkan istri keduanya begitu terlihat ketakutan begitu melihat suaminya pulang tak membawa anak semata wayangnya itu.
Sang suami pun mengumpulkan kedua istrinya, dan bertanya kepada istri kedua tentang yang ingin ditanyakannya.
“La, saya mau tanya. Apa yang membuatmu menjadi hilang kendali dan begitu ingin menguasai isi rumah ini? Apakah karena hartaku?” Tanya sang suami kepada istri keduanya itu.
“Ya mungkin karena saya juga diliputi rasa cemburu, karena sampai detik inipun kamu belum ada rasa perhatiannya sama saya, kamu terlalu sibuk sama kerjaan kamu.” Jawabnya.
“Lalu kamu Nay, kenapa kamu tak bisa lebih tegas dan lebih pasrah dengan segalanya. Apakah karena kamu sudah tak mencintai saya lagi?” Tanya sang ayah kepada istri pertamanya.
“Aku hanya tak ingin menambah bebanmu saja dengan tingkah kekanak-kanakannya itu, karena aku tau pasti dia cemburu padaku. Dan apapun yang terjadi kepadaku, aku tak takut karena kebenaran berpihak padaku. Meskipun kamu buta, tapi Allah Maha Melihat!” Jawabnya.
“Aku ingin kalian semua rukun dan berikanlah sikap terbaik kepada Zee, seharusnya kita memberikan sikap yang baik, dan lebih mengontrol emosi kita. Bisa?”
Kedua istrinya pun mengangguk, dan..
“Besok bulan ramadhan, ada baiknya kita semua saling memaafkan.” Kata sang suami kepada kedua istrinya. Mereka pun saling memaafkan.
Ternyata, Zee mengintip dari luar jendela. Zee senang dan merasa bangga memiliki ayah seperti ayahnya walau pernah berbuat kesalahan yang membuat Zee terluka bahkan tersiksa jiwanya.
“Allah, aku yakin. Pertolongan-Mu begitu dekat. Hmm.. terimakasih Allah...”
Zee pun masuk ke dalam rumah, dan memeluk ayahnya dengan penuh kasih sayang, dan terdengar bisik di telinga ayahnya..
“Ayah hebat! Ayah mampu berpikir dewasa.. Selamat!”
            Ayahnya pun tersenyum bahagia.
            “Terimakasih Allah untuk semuanya” Gumam sang ayah dalam hati.
            Kemudian mereka semua melakukan shalat tarawih bersama di rumah. Begitu bahagianya. Benar-benar membuat keimanan kembali terisi dan termotivasi kembali untuk menjalani hidup. “Selamat datang bulan ramadhan!” Ucap Zee memandang langit.

0 komentar:

Posting Komentar