Kicau suara burung di pagi itu sangat nyaring,
mentari di atas langit pun begitu berani menampakkan seluruh tubuhnya, walau
sedikit malu-malu bersembunyi di balik awan tapi savana di ujung sana terlihat
begitu ceria walau panasnya mentari begitu menyengat. Lambaian dedaunan di
pohon itu pun nampak begitu riang, menari ke kiri dan ke kanan ketika belaian
angin menyentuh tubuhnya. Subhanallah, indah sekali pagi itu. Tetapi, entah
mengapa air matanya menetes membasahi pipinya. Air mata seorang gadis yang
ketika pagi itu sedang mencari ketenangan jiwa, menuju sebuah tempat yang tak
ramai dikunjungi oleh semua penduduk di kota itu. Panggil saja dia Zee. Gadis
yang cantik, berkulit putih, bermata tajam dan yang pasti dari kalangan orang
mewah, orangtuanya begitu mapan. Segala apapun yang Zee pinta memang selalu
diberikan, tapi yang satu itu. Sepertinya begitu sulit untuk ia dapatkan. Zee
adalah anak yang begitu baik, pendiam dan sangat ramah bermasyarakat dengan
tetangganya. Namun, ketika ayahnya menikah lagi dengan wanita lain. Perasaannya
begitu tersiksa. Dan mamah kandungnya selalu saja dijadikan bahan hinaan oleh
mamah tirinya itu. Dan tanpa sepengetahuan ayahnya, mamah tirinya selalu
memperlakukan Zee tak sebagai mana mestinya, setiap hari Zee selalu dibentak.
Mamah kandungnya tak bisa berbuat sesuatu untuk meringankan derita anaknya itu,
karena dia tak ingin suaminya berpikir hal yang buruk kepada anaknya dan juga
dirinya sendiri. Dia hanya bisa berpasrah agar suatu saat pertolongan Allah itu
datang menghampiri dirinya.
“Hmm…”
Keluhnya saat melihat anak kucing yang sedang sendirian di pinggir jalan dekat
batu besar itu. Zee merasa iba melihat anak kucing itu, tak lama dari itu Zee
pun menghampiri dan menggendong kucing itu lalu duduk di batu yang ada di
bawahnya.
“Hai kucing kecil, kenapa kamu sendiri disini?
Kemana mamamu?” Tanya Zee kepada kucing kecil itu. Kucing kecil itu hanya
bersuara dengan bahasanya sendiri, dengan suara yang begitu lembut dan lemah
sekali.
“Kamu haus ya? Atau kamu rindu saudara-saudaramu?”
Tanyanya lagi. Namun memang kucing tak pernah bisa mengerti bahasa manusia.
Kucing itu hanya bisa menunduk dan mengusap-usapkan kepalanya ke tangan Zee
dengan manjanya. Zee memeluknya dengan penuh kasih sayang.
“Yaa Allah, betapa kasihannya kucing ini. Dia
sendirian di jalan yang begitu luas ini. Tapi aku tetap yakin kalau dia memang
tak akan pernah sengsara selagi masih ada Engkau yang menjaganya, begitu juga
dengan aku saat ini. Aku yakin itu Allah.” Zee pun membawa kucing kecil itu ke
masjid yang berada di depan toko obat yang hanya tinggal beberapa rumah lagi
dari tempatnya diam saat itu.
Kucing itu Zee taruh di atas lap kaki yang berada di
atas lantai, kemudian ia tinggalkan untuk shalat dhuha. Dalam shalatnya, Zee memanjatkan
do’a kepada Tuhannya.
“Allah, berikanlah aku kekuatan untuk mempertahankan
hakku, hak ibuku. Berikanlah pengertian kepada ayahku agar mampu bijaksana
dalam masalah ini, berikanlah sedikit cahaya cinta-Mu kepada istri kedua ayah.
Allah, besok adalah bulan suci ramadhan. Dalam bulan yang penuh dengan
maghfirah-Mu ini aku memohon agar Kau mau menolongku agar aku kuat dalam
menjalani ini semua. Untuk kali ini saja, aku mohon. Aamiin Allahuma Aamiin”
Selesai menjalankan shalat dhuha. Zee pun kembali membereskan
alat shalatnya dan segera pergi keluar. Namun ketika Zee berada di dekat pintu
keluar, Zee tak melihat kucing kecil itu. Dicarinya ke setiap penjuru namun tak
juga ia temui.
“Haah sudahlah, mungkin dia sudah menemukan jalannya
sendiri untuk bahagiakan dirinya.” Gumamnya pasrah. Zee pun kembali pulang ke
rumahnya.
Sesampainya di rumah, dia melihat sang ayah sedang
berbicara serius dengan ibu kandungnya. Sepertinya memang ada hal yang begitu
penting, tapi wajah ayahnya begitu terlihat kesal dan…
“Terimakasih yah, untuk semua ini ibu terima.
Maafkan ibu jika ibu belum bisa menjadi istri yang baik untuk ayah. Semoga ayah
tidak pernah menyesal dengan keputusan ayah, ibu dan Zee akan pergi dari sini.
Secepat mungkin!” Kata-kata ibunya yang terdengar oleh Zee dari luar rumah
membuat Zee tak sanggup menahan air matanya. Ia pun kembali menangis. Dengan
terkapar begitu lemahnya, Zee pun menjatuhkan badannya ke lantai. Dia menangis
sendiri di luar sana. Tangisan kecilnya itu terdengar oleh ayahnya, kemudian sang
ayah keluar dan menghampiri anaknya itu.
“Zee, kenapa nangis?” Tanya ayahnya sambil membelai
rambut anak semata wayangnya itu. Namun Zee tak menjawab apapun dan hanya
menggelengkan kepalanya. Ayahnya terus bertanya, namun tangis itu semakin deras
saja. Ayahnya terdiam, dia bingung melihat anak gadisnya begitu sangat sedih.
Dia pun memanggil istri keduanya untuk membuatkan minuman untuk anaknya, dan
istrinya pun melaksanakannya.
Ketika ibu tirinya memberikan minuman kepada Zee,
Zee menepaknya hingga gelas yang digenggam ibunya pecah berkeping-keping.
Saking kagetnya, sang ibu tiri marah dan langsung menjewer telinga Zee, dan
mengucapkan kata-kata yang tidak pantas. Zee menangkasnya, kemudian Zee
mengeluarkan segala apapun yang dipendamnya selama ini.
“Puas? Tante puas nyakitin Zee? Makasih. Zee ga
peduli tante mau jadi ibu tiri Zee atau istrinya ayah, bagi Zee kalian semua ga
ada artinya! Makasih udah mau nampung Zee disini. Tapi sayang, disini bukan
rumah Zee. Zee asing disini.” Dengan berderai air mata Zee pun melangkahkan
kakinya pergi keluar dan lari sekencang-kencangnya.
Ayahnya pun mengejar anaknya itu, namun Zee terus
berlari kencang hingga akhirnya Zee berhenti ditengah-tengah karena melihat
kucing kecil yang ia temui tadi pagi. Ayahnya pun sampai dan mencoba berbicara
kepada Zee lagi.
“Zee, marah sama ayah?” Tanya ayahnya.
“Tepatnya kecewa yah. Zee ga bisa marah sama
siapapun. Karena Zee tau, hidup Zee bukan Zee yang atur.”
“Lalu Zee inginnya ayah itu bagaimana?” Tanya
ayahnya lagi.
“Zee ga minta ayah berubah, tapi Zee minta satu hal
sama ayah. Tolong lebih dewasa lagi mengambil keputusan. Ayah tau siapa yang
lebih tulus mencintai ayah? Ayah tau siapa yang lebih menyayangi ayah? Siapa?”
“Ibu kandungmu” Jawab ayahnya sambil menunduk.
“Bukan yah.” Jawab Zee dengan nada tinggi.
“Lalu siapa?” Tanya ayahnya heran.
“Allah. Allah yang begitu tulus mencintai dan
menyayangi ayah hingga ayah mampu bertemu dengan ibu dan melahirkan aku. Lalu
siapa orang asing itu? Bahkan ayah diberikan kepercayaan oleh-Nya untuk
mempunyai istri lagi tanpa ada percekcokan dari istri ayah yang pertama, tapi
apa yah? Apa balasan ayah? Ayah ga adil..” Jawab Zee dengan isak tangisnya.
Namun ayahnya hanya terdiam membisu.
“Lalu apa harus Zee yang jadi korban percintaan
kalian? Zee?” Tanya Zee penuh harap.
“Ayah bingung nak!” Jawab ayahnya.
“Demi Allah yah, besok mulai shaum ramadhan. Zee
pengen jiwa Zee tenang. Zee selalu kena marah istri kedua ayah, bahkan ibu
selalu dijadikan pembantu di rumah. Tapi ibu juga ga bisa melakukan sesuatu
untuk Zee itu karena ibu menghormati ayah. Sekarang Zee yang harusnya bingung
yah, bukan ayah!”
“Apa harus ayah ceraikan ibu tirimu nak?” Tanya
ayahnya.
“Itu urusan ayah, tapi cerai itu sangat dibenci oleh
Allah!” Jawab Zee sambil pergi meninggalkan ayahnya dengan membawa kucing
kecilnya itu.
“Zee mau kemana?” Tanya ayahnya.
“Kemana aja, kalau besok ayah udah punya jawabannya
Zee bakalan pulang!”
Ayahnya pun merenung, dan kembali pulang ke
rumahnya. Istri pertamanya sangat sedih mengalami kejadian pahit ini, sedangkan
istri keduanya begitu terlihat ketakutan begitu melihat suaminya pulang tak
membawa anak semata wayangnya itu.
Sang suami pun mengumpulkan kedua istrinya, dan
bertanya kepada istri kedua tentang yang ingin ditanyakannya.
“La, saya mau tanya. Apa yang membuatmu menjadi
hilang kendali dan begitu ingin menguasai isi rumah ini? Apakah karena hartaku?”
Tanya sang suami kepada istri keduanya itu.
“Ya mungkin karena saya juga diliputi rasa cemburu,
karena sampai detik inipun kamu belum ada rasa perhatiannya sama saya, kamu
terlalu sibuk sama kerjaan kamu.” Jawabnya.
“Lalu kamu Nay, kenapa kamu tak bisa lebih tegas dan
lebih pasrah dengan segalanya. Apakah karena kamu sudah tak mencintai saya
lagi?” Tanya sang ayah kepada istri pertamanya.
“Aku hanya tak ingin menambah bebanmu saja dengan
tingkah kekanak-kanakannya itu, karena aku tau pasti dia cemburu padaku. Dan
apapun yang terjadi kepadaku, aku tak takut karena kebenaran berpihak padaku.
Meskipun kamu buta, tapi Allah Maha Melihat!” Jawabnya.
“Aku ingin kalian semua rukun dan berikanlah sikap
terbaik kepada Zee, seharusnya kita memberikan sikap yang baik, dan lebih
mengontrol emosi kita. Bisa?”
Kedua istrinya pun mengangguk, dan..
“Besok bulan ramadhan, ada baiknya kita semua saling
memaafkan.” Kata sang suami kepada kedua istrinya. Mereka pun saling memaafkan.
Ternyata, Zee mengintip dari luar jendela. Zee
senang dan merasa bangga memiliki ayah seperti ayahnya walau pernah berbuat
kesalahan yang membuat Zee terluka bahkan tersiksa jiwanya.
“Allah, aku yakin. Pertolongan-Mu begitu dekat.
Hmm.. terimakasih Allah...”
Zee pun masuk ke dalam rumah, dan memeluk ayahnya
dengan penuh kasih sayang, dan terdengar bisik di telinga ayahnya..
“Ayah hebat! Ayah mampu berpikir dewasa.. Selamat!”
Ayahnya
pun tersenyum bahagia.
“Terimakasih
Allah untuk semuanya” Gumam sang ayah dalam hati.
Kemudian
mereka semua melakukan shalat tarawih bersama di rumah. Begitu bahagianya.
Benar-benar membuat keimanan kembali terisi dan termotivasi kembali untuk
menjalani hidup. “Selamat datang bulan ramadhan!” Ucap Zee memandang langit.
0 komentar:
Posting Komentar