Selasa, 28 Januari 2014

Cintamu Bak Duri Kaktus

Edit Posted by with No comments


Terlahir sebagai wanita yang berpenampilan biasa saja, bahkan sangat terkesan acuh seolah tak peduli dengan fashion apapun. She’s Deasy. Baru saja lulus dari study-nya di Universitas terdekat di daerah Solo. Walau memang terlihat sangat acuh, namun Deasy sangat menyukai pakaian panjang seperti rok panjang, baju panjang, dan kerudung panjang. Ia ingin sekali berpenampilan cantik tanpa harus memperlihatkan kemolekan tubuhnya kepada sesiapapun selainnya, bahkan saudaranya sekalipun.
            Tak sabar ingin segera menikah dan mempunyai anak, Deasy yang akrab disapa Achie ini mempunyai seorang kekasih yang memang hubungannya sudah berjalan cukup lama, sekitar 2 tahun lebih beberapa bulan. Namanya Ghian. Memang sedari awal hubungan mereka, Ghian menjanjikan akan menikahi Deasy secepatnya, itupun kalau memang sampai pada waktu yang telah ditetapkan dan memang sudah tertulis dalam guratan takdir bahwa memang mereka adalah sepasang suami istri nantinya, dan yang lebih pasti jika Ghian sudah mapan dan Deasy sudah lulus kuliahnya. Namun, ada saja persoalan dalam hubungan mereka. Dimulai dari Ghian yang semakin hari semakin berbeda sikap dan selalu membuat Deasy melamun disela-sela waktu kala tak ada kegiatan yang bermanfaat.
            “Ney, kemana aja sih kamu?” Tanya Achie kepada Ghian melalui sms.
            “Aku sibuk kerja Ney. Maaf ya.” Jawabnya singkat.
            Setelah beberapa jam Deasy menunggu balasan dari Ghian, namun ternyata tak kunjung tiba. Deasy pun meresah, hatinya diselimuti oleh rasa cemas dan khawatir karena tak ada kabar dari kekasihnya itu. Dia bertanya-tanya sendiri hingga menyimpulkan kondisi yang buruk tentang Ghian.
            “Ghian kemana sih..” Gumam Deasy resah.
            Berulang kali Deasy melihat isi pesan dalam handphone-nya berharap ada pesan dari Ghian. Namun hingga 2 jam berlalu pun, Ghian belum saja menghubunginya. Deasy makin gelisah.
            Tak kuat lagi menahan segala rasa cemas dan gelisah. Deasy mencoba menghubungi kekasihnya itu. Sekali, dua kali, hingga ke-lima kalinya namun tak ada respon apapun dari kekasihnya itu. Deasy mulai gamang dan kalut. Pikirannya kacau, serba salah. Ingin marah dan berteriak, menangis sekencang-kencangnya tapi Deasy pikir itu sama sekali tak ada gunanya. Hingga akhirnya Deasy memutuskan untuk tetap tenang dan sabar dalam keadaan yang seperti ini.
            “Ah, Ghian suka bercanda. Kayaknya dia lagi pengen main-main sama aku. Makanya dia buat aku resah gini. Dia pasti mau kasih kejutan buat aku. Tapi.. Masa kayak gitu? Gak biasanya juga dia kayak gini, kenapa yah? Aaah.. Kenapa sih.. Apa ada wanita lain yang mengusik hati dia? Jadi dia berpaling? Aaaah.. Nggak, nggak, nggak. Ah.. Kemana sih. Menyebalkan!” Gerutunya dalam hati.
            Jarum pendek di jam dinding itu pun sudah menunjuk ke angka 9. Deasy semakin bingung dan galau karena Ghian.
            “Gila, waktu aku habis cuma buat galau gara-gara si Ghian. Kemana sih itu bocah? Aaargh..” Gerutunya semakin kesal.
            Deasy pun kembali menghubungi nomor Ghian. Berharap Ghian mengangkat telponnya dan mau bicara mengapa tak ada kabar sama sekali darinya. Dan..
            “Halo, Ghian.” Kata Deasy.
            “Maaf, Ghiannya udah tidur. Ini Deasy ya?” Ucap seorang wanita yang tak lain adalah ibunya Ghian.
            “Oh.. gitu yah..” Jawab Deasy melemah. Handphone pun Deasy matikan tanpa ada basa-basi lagi kepada lawan bicaranya itu.
            Kenapa Ghian kayak gitu banget sih sama aku sekarang? Bosen kali ya sama aku. Ah.. Damn, udah lama nungguin ternyata cuma kayak gini doang? Aaaaaaaargh… Pikirnya.
            Daripada terus menerus kepikiran sikap Ghian, Deasy pun segera menjatuhkan dirinya di atas kasur, mematikan lampu kamar, menarik selimut dan akhirnya Deasy pun tertidur.
~ Keesokan Harinya ~
            Haruskah ku mati karenamu..
Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu..
            Haruskah ku relakan hidupku..
Hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku..
            Terdengar suara dari handphone Deasy, menandakan ada panggilan masuk.
            “MyGhi’s Calling” Tertera dalam layar handphone Deasy bahwa yang memanggilnya melalui telpon adalah Ghian. Deasy pun langsung mengangkat telponnya.
            “Ney..” Kata Ghian.
            “Ya, Ney. Kenapa? Kamu kemarin kenapa gak ngabarin aku sih Ney?” tanya Deasy yang seolah tak sabar ingin mendengar penjelasan dari kekasihnya itu.
            “Kemarin aku kecapean Ney, maaf. Hm.. Yaudah, jangan lupa sarapan yah.” Balas Ghian sambil menutup pembicaraan.
            “Tuuttuuutuuut…” Suara dari handphone Achie.
            “Ih, kenapa langsung dimatiin kayak gini. Jadi curiga.” Gumamnya.
            Deasy pun langsung bergegas dari tempat tidurnya dan segera membersihkan seluruh badannya. Setelah selesai mandi, Deasy pun langsung menyantap hidangan yang sudah disediakan oleh ibunya.
            “Mah, kenapa yah akhir-akhir ini Ghian jadi beda sama Achie?” Kata Achie kepada mamanya.
            “Beda gimana?”Jawab Mamanya.
            “Ya sekarang tu dia jarang banget ngobrol lama, terus jarang ngabarin dan malah sering bikin Achie nunggu lagi mah.” Tukasnya sambil menusuk sosis mengenakan garpu dan menyantap sosis itu dengan penuh kekesalan.
            “Ya, mana mama tau. Kamu pernah bikin dia kesel ngga?”Kata Mamanya.
            “Salah apa, nggak deh perasaan. Hm..”
            “Yaudah, tunggu aja beberapa episode lagi kayak di sinetron. Kadang, cerita cinta itu gak harus selalu manis.” Jawab Mamanya yang mencoba menghibur Deasy.
            “Ah.. Gak tau deh. Tetep aja mah sakit ke sini nya” Jawab Deasy sambil menunjuk dadanya dengan jari telunjuknya. Dan Deasy pun pergi dari meja makan ke dapur, lalu pergi ke halaman belakang rumah untuk mengenang masa-masa indah bersama Ghian 2 tahun ke belakang.
            Bermacam-macam jenis tumbuhan dan bunga tumbuh di pekarangan rumah Deasy. Ada bunga mawar berwarna merah jambu, merah, dan juga biru. Ada juga patung angsa putih dekat kolam ikan dan air mancur di sana. Dan, satu tanaman kecil yang diberikan oleh Ghian setahun yang lalu. Mm..
            “Ghian, kaktus kecil ini yang selalu membuat aku menangis bahagia karena ingat segala kenangan indah waktu sama kamu dulu. Kaktus ini kamu kasih ke aku waktu aku ulang tahun, dan kaktus ini memang aku sangat menginginkannya. Bentuknya yang lucu, indah, itu sama seperti kamu yang selalu saja indah buat aku. Tapi, kenapa sekarang kamu jadi menyakitkan kayak kaktus ini? Berduri.” Gumam Deasy sambil menatap dalam tanaman kaktus kecil itu.
            Sama seperti di hari sebelumnya, waktu Deasy habis hanya untuk menunggu dan menunggu kabar dari kekasihnya itu. Hingga beberapa minggu tak dapat kabar dari Ghian. Deasy hampir putus asa untuk melanjutkan hubungannya bersama Ghian ini. Dan ternyata..
            “Chie.. Nih ada undangan” Kata Mamanya Deasy sambil menyodorkan kertas undangan yang tertera nama Ghian di atasnya.
            “Ghian dan Nayla, hari minggu tanggal..” Ucap Deasy yang terhenti seketika membaca kertas undangan itu.
            “Ghian? Mah, Ghian mah..” Ucap Deasy yang terbata-bata menahan rasa sedih dan kecewa. Matanya yang mulai berkaca-kaca tak sanggup untuk menahan linangan air mata. Hingga akhirnya air matanya terjatuh membasahi lesung pipinya.
            Deasy pun menjatuhkan kertas undangan itu dan segera lari ke kamarnya, menutup pintu kamarnya dengan sekeras mungkin. Deasy menangis sederas-derasnya. Sarung bantalnya pun basah karena air matanya yang terus saja mengalir.
            Awan pun berubah warna menjadi kelabu, gelap. Petir menggelegar dan gemuruh angin begitu kencang hingga menerpa tanaman kecil yang diberikan oleh Ghian itu pada akhirnya terjatuh dari tempatnya. Deasy pun segera bergegas melihat tanaman kecil itu.
            Deasy menangis mengeluarkan segala penat dan kekecewaan yang tertahan di dadanya sambil meratapi hancurnya kaktus yang jatuh tepat di hadapannya.
            “Seperti ada biji kedondong di tenggorokanku hingga membuat aku tersedak. Itu karena kamu Ghian. Bahkan, kaktus ini sepertinya sudah berada tepat di ulu hatiku karenamu. MasyaAllah.. Aku tak percaya kalau kamu melakukan ini semua tanpa adanya putusan terlebih dahulu. Sekarang aku harus bagaimana? Merelakan kepergianmu bersama wanita itu?” Desahnya.
            “Deras, hujan yang turun. Aku menangis, memeluk bayangmu… Derai, air mataku.. Membasuh perih, terluka kau tinggalkan aku..Cinta putih yang kan kau beri namun tak sempat kau ucapkan, mengisi kehampaan hatiku di sini.. Sebening embun pagi luruh menetes di dedaunan.. Ku tangisi kepergianmu cinta..” Suara merdu Deasy menyanyikan sebuah lagu milik “Acha Septriasa” yang berjudul “Kehampaan Hati” dengan memainkan gitar kesayangannya. “Terimakasih tuk luka yang kau beri, ku tak percaya kau tlah begini, dulu kau menjadi malaikat di hati, sampai hati kau telah begini.. Lumpuhkanlah ingatanku hapuskan tentang dia, kuingin ku lupakannya.. Aaaah… Kau acuhkan aku, kau biarkan aku..haaaaa aaah… Harusnya ku tlah melewatkanmu, menghapus kamu dari dalam benakku.. Namun ternyata sulit bagiku, merelakanmu pergi dari hatiku.. Selalu ingin dekap tubuhmu, namun aku tak bisa.. karena kau tlah bahagiaa..” lanjutnya dengan menyanyikan beberapa lagu yang bertemakan kesedihan, menjadikan lambang kehancuran sebuah harapan yang indah dalam segumpal darah bernama cinta yang dimilikinya.
            Deasy pun menghapus air matanya yang membasahi kedua pipinya. Dia bertekad untuk tetap kuat meski hatinya ingin terus menangis untuk membasuh perih, luka yang mencabik-cabik hatinya.
            Dengan menghela dan melepaskan nafas secara perlahan, Deasy pun memejamkan matanya dan mencari sebuah ketenangan untuk hatinya yang perlahan keropos karena ulah kekasihnya itu.
            Aku harus buktikan ke Ghian, kalau aku pasti sanggup dan pasti nanti aku dapat penggantinya Ghian, jauh lebih baik daripada Ghian. Aku percaya itu. Ya, Deasy.. Kamu harus kuat, kamu pasti bisa!!
~ Janur Kuning Itu.. ~
Menjelang hari bahagiamu, kau tak pernah tahu aku bersedih..
Kau lupakan semua kenangan lalu, lalu kau campakkan begitu saja..
Tega..
Aku tahu dirimu kini, telah ada yang memiliki…
Tapi bagaimanakah, dengan diriku tak mungkin ku sanggup untuk kehilangan dirimu
Aku tahu, bukan saatnya tuk mengharap cintamu lagi..
Tapi bagaimanakah dengan hatiku.. Tak mungkin ku sanggup hidup begini tanpa cintamu..
            Sepanjang perjalanan dari rumah Deasy ke tempat dimana janur kuning itu melengkung, Deasy hanya menyanyikan lagu itu terus menerus dan berulang-ulang sampai semua kekecewaannya berguguran karena terlalu sakit dan perihnya ditinggalkan kekasih untuk menikah dengan wanita lain. Dan sesampainya di tempat pernikahan kekasihnya itu, oh lebih tepatnya mantan kekasihnya yang seperti duri kaktus itu. Deasy pun mengisi buku tamu dan mengambil cinderamata yang diberikan oleh penunggu tamu di acara pernikahan mantan kekasihnya itu. Ia pun perlahan berjalan menghampiri kedua mempelai. Tak sanggup menahan rasa kecewa dan kesedihan yang mendalam. Hanya tinggal beberapa langkah lagi sampai, Deasy pun berbalik badan karena tak sanggup menahan rasa sakit ketika Ghian menangkap kedua bola matanya. Deasy pun menghapus air matanya ketika ia sedang berbalik ke belakang, dan kembali berjalan menghampiri pengantin. “Aku yakin aku kuat, meski harus tertatih”. Gumamnya dalam hati mencoba untuk menguatkan.
            Degg… Jantung Deasy berdegup tak beraturan. Rasa sakit dan tak rela itu semakin datang bertubi-tubi seperti batu yang datang dari atas untuk menimpuknya berkali-kali. Ingin menangis, tapi sudah tak ada artinya lagi. Malah nanti dikatakan yang aneh-aneh oleh pendamping barunya itu. Dengan kata-kata yang terbata, helaan nafas yang mendesah. Deasy pun mengucapkan satu kata yang cukup singkat, jelas, dan padat untuk mantan kekasihnya yang seperti duri kaktus itu.
            “Selamat.” Begitulah kata-kata dari Deasy. Tanpa basa-basi dan tanpa mencicipi hidangan yang sudah disediakan oleh yang mempunyai acara. Deasy pun pulang dengan membawa luka yang semakin menumpuk dalam hatinya.
            Ketika Ghian melihat wajah dan ekspresi dari mantan kekasihnya itu, memang tergurat rasa sesal dan kesal serta kekecewaan yang serupa pula dalam hatinya. Karena memang tak bisa dipungkiri bahwa pilihannya yang tak memberitahukan sedari awal tentang rencana pernikahannya kepada Deasy itu memang menyakitkan sekali untuk Deasy. Tapi, Ghian memang tak punya pilihan lain selain itu. Awalnya memang tak akan mengundang Deasy sama sekali karena takut kalau Deasy lebih-lebih terluka karena ini. Tapi, jika tak diundang pun itu akan mengundang pertanyaan yang lebih banyak lagi dalam benak Deasy.
            “Kenapa, Mas?” Tanya Nayla kepada Ghian ketika melihat wajah Ghian berubah pucat dan sedikit resah.
            “Nggak apa-apa, dik.” Ucap Ghian santai sambil menyambut hangat jabatan tangan dari orang-orang yang berdatangan memberikan ucapan selamat kepada dirinya.
            Deasy belum saja sembuh dari lukanya. Namun, dengan beriringnya waktu. Deasy  bertekad untuk menjauhi segala kenangan yang tercipta bersama Ghian dahulu. Dan saat ini Ghian sudah menjadi suami wanita lain. Lalu untuk apa Deasy selalu saja menangisi dan terus menelan rasa kecewa dan menikmati kesakitan yang hanya menyiksa dirinya sendiri.
            Setelah sebulan lamanya mencoba melupakan kenangan indah dan juga kenangan memerihkan bagai tanaman kaktus itu. Akhirnya, Deasy mendapatkan pengganti Ghian. Jauh lebih tampan dan mapan segala-galanya ketimbang Ghian. Dan, rencananya minggu-minggu ini mereka akan melangsungkan pernikahan. Alhamdulillah.      

Kisah Dua Abjad Ke-18

Edit Posted by with No comments


Rindu itu hadir menyelimuti hati yang beku.
Indahnya lukisan alam tak mampu meruntuhkan setiap ego yang mendalam.
Senandung lagu cinta selalu dikumandangkan di berbagai penjuru.
Walau terkesan tak berharga dan begitu mengharukan.
Akan ada saat-saat dimana bunga yang menguncup kembali merekah.
Namun dimana dan kapan waktunya, itulah yang harus ditunggu.
Dan..
Rasa cinta yang perlahan mengusik ketenangan jiwa.
Entah rasa duka atau suka yang tersirat.
Isyarat cinta pada sebuah kertas putih tak mampu uraikan semua.
Selalu ada hal yang tak pernah disadari apa ragamnya.
Haruskah semua ini terucap secara dzahirnya?
Atau hanya berpasrah sembari menerawang pada cakrawala senja.

***
            Tak sengaja angin menyentuh tubuh dandelion yang sedang layu karena telah lama menantikan sang hujan membasahi tubuhnya. Namun hujan tak kunjung tiba, dan kebaikan hati manusia pun sama sekali tak bisa menjadi sandaran untuk dandelion tetap hidup. Ketika angin yang lembut menyapanya itu datang berhembus, sang dandelion terheran dan terkaget. Ia tak ingin hancur dan mati tanpa sebuah alasan yang pasti dengan hadirnya angin yang datang menyapanya itu. Namun perlahan, dandelion itu terbangkit dan agak sedikit menegakkan batang tubuhnya. Sang angin terus membelainya dengan lembut, membuat dandelion tak bisa menangkis segala ketakutannya.

“Merasakan sapaan angin yang begitu lembut menyentuh jiwa ini. Angin itu , datang dari utara. Angin itu. Perlahan menyejukkan hati yang gersang karena kerinduan yang terus bergemuruh. Angin itu, kemudian pergi lagi dan kembali membawa kesejukkan yang baru.” Kata seorang wanita bernama Dandelion.
“Merasakan kelembutan dalam keluguan hati, tertunduk namun tetap tersenyum walau air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi pipi. Ada do’a terbaik dan ada semangat nyata dari mereka yang begitu peduli dan juga menyayangi. Tak boleh ada kesedihan karena ini adalah permulaan langkahku yang pasti” Kata seorang pria bernama Angin.
***
~ Percakapan Antara Wanita dan Pria ~
            “Siapa ikhwannya yang akan mendampingiku kelak? Aku bahkan tak pernah mengetahuinya” Curahan hati seorang Dandelion kepada Angin lewat udara.
            “Hanya Angin, dan Tuhan yang tahu itu. Tinggal menunggu kapan waktu itu tiba.” Jawab Pria itu.
            “Kenapa harus berbicara angin? Kau mengetahui sesuatu tentang angin?” Kata sang wanita.
            “Yaa.. Mungkin, anginnya mengintip. Hihi..” Jawaban yang penuh dengan canda.
            “Apa yang harus dilakukan seorang wanita jika rindu sudah terus bergemuruh di kedalaman hatinya? Haruskah mengungkapkan kepada insan yang ditujunya?”
            “Kalau tak bisa ditahan, ya ungkapkan. Tapi, jangan terlalu cepat untuk mencintai. Karena yang terlalu cepat datang, akan mudah cepat juga untuk pergi. Jadi, dalami saja dulu.” Jawabnya.
            “Tapi kenapa Tuhan memberikan jalan yang seperti ini, tiba-tiba ada angin yang lembut menyibakkan beberapa helai rambut, yang awalnya mereka tak pernah tahu kedalaman isi hati. Namun, mengapa angin yang kali ini mampu meluruhkan semuanya? Apa maksud Tuhan?”
            “Maksudnya, semoga saja baik.” Jawabnya begitu singkat.
            “Baiklah, kalau begitu aku hanya akan menanti angin itu datang.”
            “Siapa anginnya?”
            “Angin yang perlahan datang memberikan sebuah kesejukan yang baru. Memberikan sebuah arti walau tak cukup untuk memaknai apa arti dari hidupku yang singkat. Angin itu dari arah utara. Dan entah siapa angin yang akan aku nanti. Bagaimana jika itu kamu?”
            “Jauh juga ya. Hanya bisa mengatakan, aku sayang sama kamu”
            “Sayang? Sayang apanya? Haha..”
            “Sayang hidungmu, matamu, bibirmu, senyummu.”
            “Lalu, kalau semua itu sirna. Hilang jugakah sayang itu?”
            “Iya hilang, tapi biar tidak mubadzir. Kayaknya dititipkan pada tetangga saja deh ya.. haha”
            “Hmm.. Jadi, haruskah aku menunggumu di sini? Tau kan? Mengejar cinta itu seperti mengejar kupu-kupu. Yang semakin dikejar, dia semakin menjauh. Jadi, tunggu saja.”
            “Ada kok kupu-kupu yang kalau dikejar dia tidak akan pergi, tunggu kupu-kupunya terbaring melemah saja”
            “Apakah ini adalah sebuah isyarat aku harus menunggu?”
            “Sekedar saran, tidak usah ditunggu.”
            “Kenapa?”
            “Karena masih banyak kupu-kupu yang indah dan terbaik di atas sana.”     
            “Jadi, kenapa kamu ungkapin semuanya kemarin? Apakah semua yang terlontar dari mulutmu itu adalah sebuah candaan belaka?”
            “Salah, karena aku masih tak ingin terlalu cepat mendefinisikan itu adalah cinta. Karena tau sendiri kan, cinta yang datang begitu cepat akan begitu cepat juga untuk pergi. Trauma ditinggalkan cinta”
            “Ya sudahlah, aku hanya bisa menunggu angin membawaku terbang hingga akhir hayatku. Atau hanya menanti pelangi menghiasi langit yang senja ini”
***
            “Lama-lama, kamu ini seperti pelangi.” Kata sang wanita
            “Kok pelangi?” Tanyanya.
            Pelangi itu hanya bisa dilihat dari kejauhan, gak bisa disentuh. Karena saking indahnya, beberapa kali hujan deras juga, kadang pelangi gak pernah muncul.. Jadi bikin kangen hahaha. Beda sama angin, emang gak kelihatan wujudnya, tapi kerasa hadirnya..Dan dia bisa menempati sebuah ruang meski ga terlihat wujudnya dan pastinya, angin itu mnyejukkan.
            So sweet, kalau gitu. Kamu kayak bunga sakura dong”
            “Bunga sakura, apa?”
            “Bunga yang hanya ada di kota Jepang. Kota yang penuh warna, penuh budaya. Tempat yang special buat yang ingin menikmati keindahan. Bunga sakura hanya berbunga dan mekar di musim semi dan hanya meninggalkan ranting di musim gugur. Sakura selalu dinanti dan selalu tetap indah pada waktunya”
            “Seperti aku kah?”
            “Iya, mirip”
            “Tetaplah seperti angin. Biar aku yang menjadi dandelion yang terbang kesana kemari menikmati kebersamaan dengan angin”
            “Siap deh”
***
            Siapa yang tidak iri melihat dandelion yang menikmati kebersamaannya dengan angin. Tapi, inilah letak keindahannya. Hingga akhirnya, dandelion pun jatuh cinta kepada angin.

Menghapus Si Hitam Yang Mengejar

Edit Posted by with No comments


“Kalau melihat Timeline di Facebook, waktu itu bergulir serasa cepat sekali. Entah karena terlalu sibuk update status sehingga waktu diabaikan begitu saja, atau..” Gumam seorang pria genap berusia 20th anak semata wayang ibundanya itu, sebut saja dia Dicky.
            Dicky seorang pria tampan yang selalu diincar para gadis, dahulu ketika dia masih berusia belasan tahun. Tepat ketika dia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), ada seorang gadis yang begitu ia cintai, namanya Widya. Widya yang terlihat begitu anggun, berparas cantik, dan begitu ia cintai. Namun sayangnya, Widya tak pernah memandang Dicky sedikitpun. Entah apa sebabnya, padahal banyak teman-teman Widya sangat mendukung jika Dicky dan Widya bisa memiliki hubungan yang lebih, bukan hanya sebatas teman belajar ketika di rumah. Dicky dan Widya berbeda sekolah, tapi mereka berdekatan rumahnya. Hanya terhalang oleh 2 rumah, samping kiri sebelah rumah Dicky.
            Sampai saat ini pun, cinta Dicky kepada gadis itu masih bergelora di hatinya. Bisikan untuk memiliki gadis itu semakin terngiang di telinga Dicky, hingga akal sehatnya tergantikan oleh pemikiran-pemikiran bodoh yang ada pada dirinya.
            Sore itu, Widya baru saja selesai mengajar di sekolah dasar dekat SMA nya dulu. Dan kebetulan juga, bertemulah kedua insan itu di dekat patung kartini yang terletak tepat di depan SMA nya itu. Dicky memandang wajah Widya dengan dalamnya. Kemudian..
            “Assalamu’alaikum, Widya..” Kata Dicky sambil melemparkan senyuman.
            “Wa’alaikumussalaam..” Jawab Widya singkat sambil menundukkan pandangannya dan berlalu dari hadapan Dicky.
            Dicky hanya berdiam diri, membiarkan gadis yang dicintainya pergi dan berlalu begitu saja. Dicky pun melanjutkan perjalanannya menuju sebuah tempat dimana dia dan teman-temannya suka berkumpul.
            “Hai Dicky..” Teriak seorang gadis berpenampilan seperti pria (tomboy) dan mendekati Dicky.
            “Hmm.. Udah lama kamu di sini?” Tanya Dicky sambil menepuk bahu gadis yang sedang diajak bicaranya itu.
            “Nggak, baru 15 menit kok. Kenapa wajah kamu? Pucat gitu.” Jawab gadis itu sambil menertawakan Dicky.
            “Ah, ada rokok gak? Minta dong. Stres aku.” Kata Dicky sambil duduk di atas kaleng besar dekat pepohonan yang rindang.
            “Rokok? Ada tuh di warung. By The Way kenapa sih kamu Ki?” Tanyanya lagi memaksa.
            “Biasa deh, Widya. Ayolah Nas.. Mana rokoknya. Beliin dong!” Jawab Dicky sambil mendorong tubuh Nasha agar Nasha mau membelikan rokok untuknya.
            “Ih, iya iya iya. Tunggu sebentar.” Jawab Nasha.
            Nasha pun pergi ke warung untuk membelikan rokok untuk sahabat terdekatnya itu. Dan ketika Dicky sedang sendiri menunggu Nasha kembali. Datanglah beberapa orang pria dan satu wanita sedang berbicara sesuatu yang terlihatnya seperti pembicaraan rahasia. Dicky pun bersembunyi di balik pepohonan yang berada satu langkah dekat dengan dirinya. Tak melihat ada bungkus aqua di bawah dekat kakinya, terinjaklah bungkus aqua itu oleh Dicky. Dan..
            “Suara apa itu?” Tanya seorang gadis di antara sekumpulan orang-orang itu.
            “Kalau ada yang mendengar pembicaraan kita ini, pasti bakal terjadi hal yang di luar dugaan. Kayaknya kita pindah aja dari sini.” Kata salah satu seorang pria diantaranya.
            Mereka pun berpindah tempat, dan Dicky diam-diam mengikuti kemana mereka pergi. Sementara Dicky sedang menguntit ketiga orang itu. Nasha pun kembali ke tempat semula, namun Dicky sudah tiada. Nasha pun mencari kemana perginya Dicky.
            “Seperti ada yang mengikuti kita di belakang.” Kata salah satu pria diantara mereka.
            Dicky pun bersembunyi di balik mobil yang ada di depannya. Mereka menoleh ke kiri, ke kanan, dan ke belakang namun memang tak ada satu orang pun dalam pandangannya.
            Dan ketika itu sedang terjadi, setelah pulang ke rumahnya. Widya pun kembali pergi ke tempat dimana dia harus kursus menjahit. Widya melaju ke arah yang sama dimana Dicky sedang menguntit ketiga orang tersebut.
            Akhirnya, Nasha pun menemukan Dicky dan Nasha pun memanggil sahabatnya itu. Dicky tak juga mendengar karena terlalu fokus menguntit orang-orang itu, kemudian ditarik lah baju Dicky oleh Nasha yang sambil berlari mengejarnya.
            “Aduh..” teriak Dicky terkaget.
            Nasha pun cekikikan karena melihat sahabatnya aneh dan berekspresi yang sangat lucu sehingga membuat Nasha tertawa.
            “Apa sih” Jawab Dicky ketus dan pandangan matanya terus mengintai ketiga orang yang diikutinya itu.
            “Kamu ngapain, kan tadi aku disuruh beliin kamu rokok. Gimana sih” Jawab Nasha kesal.
            Beberapa menit dari itu, Widya pun terlintas di pandangan Dicky sedang mengenakan motor matic vario-nya. Mengenakan jaket berwarna hijau, dan jilbabnya yang panjang itulah yang membuat Dicky terkagum-kagum kepada sosok Widya. Nasha cemburu melihat Dicky memandang Widya seperti itu. Nasha pun berbalik badan dan meninggalkan Dicky.
            “Widyaa…” teriak seorang pria dari kejauhan yang tak lain adalah salah satu pria yang sedang diikuti oleh Dicky.
            Widya pun terhenti dan melirik ke belakang mencari di mana suara itu berasal. Dicky membiarkan Nasha pergi meninggalkannya, dan dia terus memperhatikan orang-orang tersebut yang ternyata kenal dengan gadis yang dicintainya. Widya pun mendekati orang-orang itu, dan berbicara sesuatu.
            “Ngobrol apasih mereka?” Gumam Dicky yang terlihat begitu fokus memperhatikan.
            “Oh, makasih banyak. Iya nanti Widya sampaikan” Terdengar dari mulut Widya kepada gadis yang bersama dengan orang-orang itu.
            “Ah, gak penting. Ngapain aku harus ngikutin mereka. Dikira siapa.” Ketus Dicky sambil menginjak rokok yang sudah dihisapnya itu. Dicky pun kembali menuju rumahnya.
            Bayang wajah Widya begitu mempesona dalam benak Dicky. Entah harus dengan cara yang bagaimana lagi agar Widya mau memandang Dicky dan memberikan kesempatan kepada Dicky untung mengenalnya lebih jauh lagi. Tapi, Dicky mulai penasaran tentang apa yang baru saja dilihatnya itu. Memang ketiga orang itu siapa. Dan apa urusannya dengan Widya. Apa yang dititipkan gadis itu kepada Widya.
            shit.. kenapa aku harus mikirin dia terus?”
            Dan kisah di sisi lainnya mengenai Widya. Widya yang baru saja mendapatkan sebuah titipan dari gadis tadi yang ternyata adalah saudara sepupunya yang tinggal jauh dari rumah Widya namun sedang menjalankan tugasnya sebagai polisi, dan kedua pria itu adalah teman-temannya dari kepolisian.
            Dicky memang berbeda dengan ayahnya, ayahnya yang terkenal dengan Si Jago. Memang begitu jauh dari pendidikan dan agama. Sehingga yang dilakukan setiap harinya bermain judi dan kalah judi, menang dan membayar hutang untuk menutupi kerugiannya itu. Ibunya memang sudah lama meninggal karena tertusuk oleh pisau yang sedang digenggam oleh teman dari suaminya karena sedang mabuk berat ketika malam dimana Dicky sedang sakit demam diusianya yang masih sangat kecil. Namun, Dicky tumbuh menjadi pria yang santun, dan baik hati. Meski terkadang selalu terjadi kekacauan di rumahnya, ya karena ulah bapaknya sendiri. Selama ini yang menjadi teman bicara Dicky adalah Nasha. Sahabat dia sedari dia kecil, meskipun Nasha terlihat begitu tomboy, tapi Nasha memang memiliki hati yang baik dan setia kepada sahabatnya walau Nasha tau, ayahnya Dicky memang bukan orang baik. Saat ini, ayahnya sedang ditahan oleh pihak kepolisian karena ulahnya yang selalu saja membuat Dicky tak tahan dan membuat onar dimana-mana.
            Keesokan harinya, Nasha nekat mencari Widya dan mencari tahu alasan kenapa Widya tak pernah mau melihat Dicky dan memberikan kesempatan kepada Dicky tentang cinta itu.
            “Nas, bukannya Widya gak mau dan gak suka sama Dicky. Bukan itu.”
            “Terus kenapa Widya?”
            “Nasha tau penyebab ayahku meninggal?” Tanya Widya dengan santai.
            “Emang kenapa?” Jawab Nasha sedikit penasaran.
            “Waktu itu, ayahku sedang sakit. Parunya ada benjolan, nah waktu itu Widya sama ibu anter ayah ke rumah sakit. Waktu di jalan, Widya lihat ayahnya Dicky sedang mabuk berat sama teman-temannya di warung Pak Karjo. Dan setelah itu, ayahnya Dicky menghampiri kami yang sedang membopong ayah, karena waktu itu Widya belum bisa pake motor dan gak ada kendaraan lain selain becak. Ayahnya Dicky pun melemparkan botol lalu terkena pada kaki ibu, memang tak pecah. Tapi, karena terlalu lama bertengkar dengan ayahnya Dicky. Nyawa ayah Widya udah gak ada disitu.”
            “Jadi, kamu dendam sama Dicky?” Tanya Nasha.
            “Dendam gak ada sih Nas, tapi ibuku. Ibu selalu melarang aku dekat dengan Dicky. Jangan sampai. Ibu takut kalau-kalau aku diapa-apain sama Dicky, karena kata ibu. Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.” Jelas Widya.
            Nasha hanya terheran-heran dan bingung harus berkata apalagi.
            “Sampaikan saja salamku dan maafku kepada Dicky.” Kata Widya sambil pergi dan menutup pintu rumahnya.
            Nasha pun menghampiri Dicky yang sedang sibuk memainkan handphonenya di teras rumah.
            “Dicky.. aku mau bilang sesuatu” Kata Nasha melemas dan terduduk di lantai saat itu.
            “Loyo banget, kenapa? Mau bilang apa kamu?” Tanya Dicky sedikit heran.
            “Soal Bapak kamu dan Widya..”
            “Emang kenapa?”
            “Gara-gara bertengkar hebat dengan bapakmu, bapaknya Widya jadi gak terselamatkan nyawanya waktu beliau sakit parah.”
            Mendengar cerita itu hati Dicky serasa tercabik, perih. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi, padahal Dicky tak berdosa apapun terhadap ayahnya, apalagi cinta yang ada untuk Widya dalam hati Dicky pun memang tak ada salahnya. Selama ini Dicky tak pernah bersikap kurang ajar kepada Widya, tapi mengapa keadaannya serumit ini. Dicky hanya bisa berpasrah atas semua yang terjadi. Dan dia pun memutuskan untuk melupakan harapan dan cintanya kepada gadis bernama Widya itu. Berharap suatu saat nanti akan ada sosok wanita indah yang bisa mengganti posisi Widya di hati Dicky.
“Memang tak akan ada yang bisa mengganti cinta dari Ibunda.
Meski telah lama tiada, namun kasih sayangnya sampai saat ini pun masih terasa.
Memang lelah mengarungi hidup yang hanya sebatang kara.
Ayahanda seolah tiada, berteduh di jeruji besi karena kenistaannya.
Gadis elok itupun seolah tiada gunanya.
Hanya senyuman dan kepalanya yang tertunduklah yang menjadi gambaran cinta.
Usai..
Semua harapan pupus saat ini juga.
Seindah dan sepahit apapun kejadian di dunia
Hanya kepada-Mu lah tempat kembali yang indah.”

Dicky Azkara