Rindu
itu hadir menyelimuti hati yang beku.
Indahnya
lukisan alam tak mampu meruntuhkan setiap ego yang mendalam.
Senandung
lagu cinta selalu dikumandangkan di berbagai penjuru.
Walau terkesan tak berharga dan begitu
mengharukan.
Akan
ada saat-saat dimana bunga yang menguncup kembali merekah.
Namun dimana dan kapan waktunya, itulah yang
harus ditunggu.
Dan..
Rasa
cinta yang perlahan mengusik ketenangan jiwa.
Entah
rasa duka atau suka yang tersirat.
Isyarat
cinta pada sebuah kertas putih tak mampu uraikan semua.
Selalu
ada hal yang tak pernah disadari apa ragamnya.
Haruskah
semua ini terucap secara dzahirnya?
Atau
hanya berpasrah sembari menerawang pada cakrawala senja.
***
Tak
sengaja angin menyentuh tubuh dandelion yang sedang layu karena telah lama
menantikan sang hujan membasahi tubuhnya. Namun hujan tak kunjung tiba, dan
kebaikan hati manusia pun sama sekali tak bisa menjadi sandaran untuk dandelion
tetap hidup. Ketika angin yang lembut menyapanya itu datang berhembus, sang
dandelion terheran dan terkaget. Ia tak ingin hancur dan mati tanpa sebuah
alasan yang pasti dengan hadirnya angin yang datang menyapanya itu. Namun
perlahan, dandelion itu terbangkit dan agak sedikit menegakkan batang tubuhnya.
Sang angin terus membelainya dengan lembut, membuat dandelion tak bisa
menangkis segala ketakutannya.
“Merasakan
sapaan angin yang begitu lembut menyentuh jiwa ini. Angin itu , datang dari
utara. Angin itu. Perlahan menyejukkan hati yang gersang karena kerinduan yang
terus bergemuruh. Angin itu, kemudian pergi lagi dan kembali membawa kesejukkan
yang baru.” Kata seorang wanita bernama
Dandelion.
“Merasakan
kelembutan dalam keluguan hati, tertunduk namun tetap tersenyum walau air mata
tak henti-hentinya mengalir membasahi pipi. Ada do’a terbaik dan ada semangat
nyata dari mereka yang begitu peduli dan juga menyayangi. Tak boleh ada
kesedihan karena ini adalah permulaan langkahku yang pasti” Kata seorang pria bernama Angin.
***
~ Percakapan Antara Wanita dan Pria ~
“Siapa
ikhwannya yang akan mendampingiku kelak? Aku bahkan tak pernah mengetahuinya”
Curahan hati seorang Dandelion kepada Angin lewat udara.
“Hanya
Angin, dan Tuhan yang tahu itu. Tinggal menunggu kapan waktu itu tiba.” Jawab
Pria itu.
“Kenapa
harus berbicara angin? Kau mengetahui sesuatu tentang angin?” Kata sang wanita.
“Yaa..
Mungkin, anginnya mengintip. Hihi..” Jawaban yang penuh dengan canda.
“Apa
yang harus dilakukan seorang wanita jika rindu sudah terus bergemuruh di
kedalaman hatinya? Haruskah mengungkapkan kepada insan yang ditujunya?”
“Kalau
tak bisa ditahan, ya ungkapkan. Tapi, jangan terlalu cepat untuk mencintai.
Karena yang terlalu cepat datang, akan mudah cepat juga untuk pergi. Jadi,
dalami saja dulu.” Jawabnya.
“Tapi
kenapa Tuhan memberikan jalan yang seperti ini, tiba-tiba ada angin yang lembut
menyibakkan beberapa helai rambut, yang awalnya mereka tak pernah tahu
kedalaman isi hati. Namun, mengapa angin yang kali ini mampu meluruhkan
semuanya? Apa maksud Tuhan?”
“Maksudnya,
semoga saja baik.” Jawabnya begitu singkat.
“Baiklah,
kalau begitu aku hanya akan menanti angin itu datang.”
“Siapa
anginnya?”
“Angin
yang perlahan datang memberikan sebuah kesejukan yang baru. Memberikan sebuah
arti walau tak cukup untuk memaknai apa arti dari hidupku yang singkat. Angin
itu dari arah utara. Dan entah siapa angin yang akan aku nanti. Bagaimana jika
itu kamu?”
“Jauh
juga ya. Hanya bisa mengatakan, aku sayang sama kamu”
“Sayang?
Sayang apanya? Haha..”
“Sayang
hidungmu, matamu, bibirmu, senyummu.”
“Lalu,
kalau semua itu sirna. Hilang jugakah sayang itu?”
“Iya
hilang, tapi biar tidak mubadzir. Kayaknya dititipkan pada tetangga saja deh
ya.. haha”
“Hmm..
Jadi, haruskah aku menunggumu di sini? Tau kan? Mengejar cinta itu seperti
mengejar kupu-kupu. Yang semakin dikejar, dia semakin menjauh. Jadi, tunggu
saja.”
“Ada
kok kupu-kupu yang kalau dikejar dia tidak akan pergi, tunggu kupu-kupunya
terbaring melemah saja”
“Apakah
ini adalah sebuah isyarat aku harus menunggu?”
“Sekedar
saran, tidak usah ditunggu.”
“Kenapa?”
“Karena
masih banyak kupu-kupu yang indah dan terbaik di atas sana.”
“Jadi,
kenapa kamu ungkapin semuanya kemarin? Apakah semua yang terlontar dari mulutmu
itu adalah sebuah candaan belaka?”
“Salah,
karena aku masih tak ingin terlalu cepat mendefinisikan itu adalah cinta.
Karena tau sendiri kan, cinta yang datang begitu cepat akan begitu cepat juga
untuk pergi. Trauma ditinggalkan cinta”
“Ya
sudahlah, aku hanya bisa menunggu angin membawaku terbang hingga akhir hayatku.
Atau hanya menanti pelangi menghiasi langit yang senja ini”
***
“Lama-lama,
kamu ini seperti pelangi.” Kata sang wanita
“Kok
pelangi?” Tanyanya.
“Pelangi itu
hanya bisa dilihat dari kejauhan, gak bisa disentuh. Karena saking indahnya, beberapa
kali hujan deras juga, kadang pelangi gak pernah muncul.. Jadi bikin kangen
hahaha. Beda sama angin, emang gak kelihatan wujudnya, tapi kerasa hadirnya..Dan
dia bisa menempati sebuah ruang meski ga terlihat wujudnya dan pastinya, angin
itu mnyejukkan.”
“So sweet, kalau gitu. Kamu kayak bunga
sakura dong”
“Bunga
sakura, apa?”
“Bunga
yang hanya ada di kota Jepang. Kota yang penuh warna, penuh budaya. Tempat yang
special buat yang ingin menikmati
keindahan. Bunga sakura hanya berbunga dan mekar di musim semi dan hanya
meninggalkan ranting di musim gugur. Sakura selalu dinanti dan selalu tetap
indah pada waktunya”
“Seperti
aku kah?”
“Iya,
mirip”
“Tetaplah
seperti angin. Biar aku yang menjadi dandelion yang terbang kesana kemari
menikmati kebersamaan dengan angin”
“Siap
deh”
***
Siapa yang tidak iri melihat
dandelion yang menikmati kebersamaannya dengan angin. Tapi, inilah letak
keindahannya. Hingga akhirnya, dandelion pun jatuh cinta kepada angin.
0 komentar:
Posting Komentar