Selasa, 28 Januari 2014

Kisah Dua Abjad Ke-18

Edit Posted by with No comments


Rindu itu hadir menyelimuti hati yang beku.
Indahnya lukisan alam tak mampu meruntuhkan setiap ego yang mendalam.
Senandung lagu cinta selalu dikumandangkan di berbagai penjuru.
Walau terkesan tak berharga dan begitu mengharukan.
Akan ada saat-saat dimana bunga yang menguncup kembali merekah.
Namun dimana dan kapan waktunya, itulah yang harus ditunggu.
Dan..
Rasa cinta yang perlahan mengusik ketenangan jiwa.
Entah rasa duka atau suka yang tersirat.
Isyarat cinta pada sebuah kertas putih tak mampu uraikan semua.
Selalu ada hal yang tak pernah disadari apa ragamnya.
Haruskah semua ini terucap secara dzahirnya?
Atau hanya berpasrah sembari menerawang pada cakrawala senja.

***
            Tak sengaja angin menyentuh tubuh dandelion yang sedang layu karena telah lama menantikan sang hujan membasahi tubuhnya. Namun hujan tak kunjung tiba, dan kebaikan hati manusia pun sama sekali tak bisa menjadi sandaran untuk dandelion tetap hidup. Ketika angin yang lembut menyapanya itu datang berhembus, sang dandelion terheran dan terkaget. Ia tak ingin hancur dan mati tanpa sebuah alasan yang pasti dengan hadirnya angin yang datang menyapanya itu. Namun perlahan, dandelion itu terbangkit dan agak sedikit menegakkan batang tubuhnya. Sang angin terus membelainya dengan lembut, membuat dandelion tak bisa menangkis segala ketakutannya.

“Merasakan sapaan angin yang begitu lembut menyentuh jiwa ini. Angin itu , datang dari utara. Angin itu. Perlahan menyejukkan hati yang gersang karena kerinduan yang terus bergemuruh. Angin itu, kemudian pergi lagi dan kembali membawa kesejukkan yang baru.” Kata seorang wanita bernama Dandelion.
“Merasakan kelembutan dalam keluguan hati, tertunduk namun tetap tersenyum walau air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi pipi. Ada do’a terbaik dan ada semangat nyata dari mereka yang begitu peduli dan juga menyayangi. Tak boleh ada kesedihan karena ini adalah permulaan langkahku yang pasti” Kata seorang pria bernama Angin.
***
~ Percakapan Antara Wanita dan Pria ~
            “Siapa ikhwannya yang akan mendampingiku kelak? Aku bahkan tak pernah mengetahuinya” Curahan hati seorang Dandelion kepada Angin lewat udara.
            “Hanya Angin, dan Tuhan yang tahu itu. Tinggal menunggu kapan waktu itu tiba.” Jawab Pria itu.
            “Kenapa harus berbicara angin? Kau mengetahui sesuatu tentang angin?” Kata sang wanita.
            “Yaa.. Mungkin, anginnya mengintip. Hihi..” Jawaban yang penuh dengan canda.
            “Apa yang harus dilakukan seorang wanita jika rindu sudah terus bergemuruh di kedalaman hatinya? Haruskah mengungkapkan kepada insan yang ditujunya?”
            “Kalau tak bisa ditahan, ya ungkapkan. Tapi, jangan terlalu cepat untuk mencintai. Karena yang terlalu cepat datang, akan mudah cepat juga untuk pergi. Jadi, dalami saja dulu.” Jawabnya.
            “Tapi kenapa Tuhan memberikan jalan yang seperti ini, tiba-tiba ada angin yang lembut menyibakkan beberapa helai rambut, yang awalnya mereka tak pernah tahu kedalaman isi hati. Namun, mengapa angin yang kali ini mampu meluruhkan semuanya? Apa maksud Tuhan?”
            “Maksudnya, semoga saja baik.” Jawabnya begitu singkat.
            “Baiklah, kalau begitu aku hanya akan menanti angin itu datang.”
            “Siapa anginnya?”
            “Angin yang perlahan datang memberikan sebuah kesejukan yang baru. Memberikan sebuah arti walau tak cukup untuk memaknai apa arti dari hidupku yang singkat. Angin itu dari arah utara. Dan entah siapa angin yang akan aku nanti. Bagaimana jika itu kamu?”
            “Jauh juga ya. Hanya bisa mengatakan, aku sayang sama kamu”
            “Sayang? Sayang apanya? Haha..”
            “Sayang hidungmu, matamu, bibirmu, senyummu.”
            “Lalu, kalau semua itu sirna. Hilang jugakah sayang itu?”
            “Iya hilang, tapi biar tidak mubadzir. Kayaknya dititipkan pada tetangga saja deh ya.. haha”
            “Hmm.. Jadi, haruskah aku menunggumu di sini? Tau kan? Mengejar cinta itu seperti mengejar kupu-kupu. Yang semakin dikejar, dia semakin menjauh. Jadi, tunggu saja.”
            “Ada kok kupu-kupu yang kalau dikejar dia tidak akan pergi, tunggu kupu-kupunya terbaring melemah saja”
            “Apakah ini adalah sebuah isyarat aku harus menunggu?”
            “Sekedar saran, tidak usah ditunggu.”
            “Kenapa?”
            “Karena masih banyak kupu-kupu yang indah dan terbaik di atas sana.”     
            “Jadi, kenapa kamu ungkapin semuanya kemarin? Apakah semua yang terlontar dari mulutmu itu adalah sebuah candaan belaka?”
            “Salah, karena aku masih tak ingin terlalu cepat mendefinisikan itu adalah cinta. Karena tau sendiri kan, cinta yang datang begitu cepat akan begitu cepat juga untuk pergi. Trauma ditinggalkan cinta”
            “Ya sudahlah, aku hanya bisa menunggu angin membawaku terbang hingga akhir hayatku. Atau hanya menanti pelangi menghiasi langit yang senja ini”
***
            “Lama-lama, kamu ini seperti pelangi.” Kata sang wanita
            “Kok pelangi?” Tanyanya.
            Pelangi itu hanya bisa dilihat dari kejauhan, gak bisa disentuh. Karena saking indahnya, beberapa kali hujan deras juga, kadang pelangi gak pernah muncul.. Jadi bikin kangen hahaha. Beda sama angin, emang gak kelihatan wujudnya, tapi kerasa hadirnya..Dan dia bisa menempati sebuah ruang meski ga terlihat wujudnya dan pastinya, angin itu mnyejukkan.
            So sweet, kalau gitu. Kamu kayak bunga sakura dong”
            “Bunga sakura, apa?”
            “Bunga yang hanya ada di kota Jepang. Kota yang penuh warna, penuh budaya. Tempat yang special buat yang ingin menikmati keindahan. Bunga sakura hanya berbunga dan mekar di musim semi dan hanya meninggalkan ranting di musim gugur. Sakura selalu dinanti dan selalu tetap indah pada waktunya”
            “Seperti aku kah?”
            “Iya, mirip”
            “Tetaplah seperti angin. Biar aku yang menjadi dandelion yang terbang kesana kemari menikmati kebersamaan dengan angin”
            “Siap deh”
***
            Siapa yang tidak iri melihat dandelion yang menikmati kebersamaannya dengan angin. Tapi, inilah letak keindahannya. Hingga akhirnya, dandelion pun jatuh cinta kepada angin.

0 komentar:

Posting Komentar