“Sungguh
aku tak bisa, sampai kapanpun tak bisa membenci dirimu sesungguhnya aku tak
mampu...”. Terdengar suara
merdu dari mulut Chilla sembari menangis meratapi kesedihan dihatinya.“Tak kuat ku menahanmu
mempertahankan cintaku, namun kau begitu saja tak pernah merindu...” Lanjutnya
sambil menghisap habis cairan yang ada di hidungnya dan memetik keras senar gitar
yang sedang digenggamnya “gonjreeeng...”.
Chilla pun berdiri tegak dan melepas semua rasa penatnya dengan olahraga kecil,
seperti lari ditempat dan sedikit memutar balikan kepalanya ke kanan dan ke
kiri. Lalu berteriaklah Chilla sekencang-kencangnya, kebetulan dirumah memang
sedang tidak ada siapapun. “Aaaarrrggghhh...Benci
aku benci benci benci... Chilla benci Chicko!!!”. Dan Chilla pun menangis
sambil memeluk erat guling kesayangannya. Karena terlalu lama menangis, Chilla
pun tertidur hingga ia bermimpi.
~
Didalam Mimpi ~
Sangat terlihat jelas rambutnya yang
hitam legam, matanya yang sipit dan pandangan mata tajamnya menyorot ke arah
Chilla, siapa dia? Ya, dia adalah Chicko. Chicko kemudian mendekati Chilla yang
sedang asyik memainkan rambutnya. Ketika Chilla akan beranjak dari pijakannya
dan berjalan ke arah dapur, Chicko mengikutinya. Chilla benar-benar merasakan bahwa
Chicko memang sedang berada didekatnya dan akan menyatakan cinta untuknya.
Namun, sekejap bayang Chicko berubah menjadi orang asing. Wajahnya terlihat
bukan seperti Chicko lagi, kulitnya mengelupas hingga tergambarlah sosok pria
tak berkulit. Tengkorak putih yang mempunyai mata yang merah dan tengkorak itu
menatap dalam wajah Chilla. Chilla merasa takut kalau-kalau akan terjadi
sesuatu yang buruk menimpanya. Di alam bawah sadarnya, Chilla merasa bahwa
tengkorak itu adalah jelmaan dari Chicko yang akan membunuh habis Chilla karena
selalu saja mencoba mendapatkan cintanya. Chilla mulai resah karena tengkorak
itu semakin medekatinya. Dan.. byaaar....
semuanya usai. Chilla pun terbangun karena takutnya yang teramat.
Chilla pun melamun dan mencoba
menerka-nerka, memaknai apa maksud dari mimpi yang tadi ia impikan. Apa maksud
dari semua itu? Apakah karena dia tak membaca do’a dahulu sebelum tidur? Atau
karena tak menerima keadaan yang ada kalau toh Chicko memang tak pernah bisa
untuk menerima semua kasih sayang dan cinta yang tulus dari Chilla. Chilla pun
menuliskan apa yang baru saja dia alami ketika tidur dan mengirimkan cerita
tersebut kepada teman dekatnya melalui SMS(Short
Message Sending).
“Ran, tadi aku mimpi sesuatu yang
mengerikan.” Kata Chilla kepada Ranti lewat sms.
“Mimpi apaan?” Jawab Ranti.
“Chicko berubah jadi tengkorak dan
dia mau membunuh aku.” Jawab Chilla lagi.
“Masa sih? Ah, gak usah terlalu
dipikirin. Itu kan hanya bunga tidur!” Jawab Ranti.
“Tapi ini semua membuat aku berpikir
dan membenarkan apa yang aku pikirkan.”
“Apa yang kamu pikirkan?”
“Mungkin memang ini peringatan dari
Tuhan untukku, karena aku mungkin terlalu dalam mencintai makhluk-Nya.”
“Ya mungkin bisa jadi itu!”
“Hmm...”
Keduanya terdiam, tanda bahwa sms sudah diakhiri. Chilla kembali
terdiam, dia seakan-akan lupa bahwa dirinya sedang mengidap penyakit hati
karena melihat Chicko yang sedang asyik makan berdua dengan mesranya dengan
sahabat Chilla sendiri. Padahal Chicko mengetahui bahwa Chilla menyimpan rasa
kagum terhadap dirinya. Tapi, entahlah.
Chilla masih terdiam, saat itu arah
jarum jam berhenti tepat pada angka 8 dan 12, artinya waktu menunjukan pukul
delapan malam. Chilla sepertinya masih merasakan shockmatic akibat mimpi tadi sore. Chilla resah tak bisa tidur. Berulang
kali bola matanya mencari keberadaan sosok Chicko, dia takut kalau-kalau Chicko
berubah lagi menjadi tengkorak yang mengerikan seperti yang dia lihat didalam
mimpinya. Tapi tak ada apapun yang Chilla lihat. Chilla pun mengangkatkan
kakinya dan membaringkan tubuhnya diatas kasur, menarik selimutnya hingga
menutupi tubuhnya hingga ke dada dan mendekap hangat guling kesayangannya.
Chilla pun berkomat-kamit membaca mantra
“Bismikaallahumaahyawaamuut”. Chilla pun tertidur lelap. Tak
bermimpi apapun, tapi dia mendengar suara-suara yang berhembus, suara itu
nyaring seperti suara Chicko yangb sedang memanggil menyebut namanya. Chilla
mendekap erat gulingnya lebih erat lagi, menandakan dia sedang ketakutan.
“Chilla...
Jangan kejar aku lagi.. Chilla, lepaskan aku....” Suara itu menghilang
seketika. Chilla terbangunkan lagi. Degupan jantungnya kencang tak beraturan,
Chilla resah. Bola mata Chilla terus menerawang ke langit-langit kamarnya, ke
sudut lemari, ke kolong kasurnya dan ke setiap penjuru di rumahnya. “Ini nampak seperti teror!” Gumamnya
dalam hati. Chilla melihat ke arah jam dinding yang berada di atas lemari baju,
waktu tepat menunjukan pukul dua pagi. “Aku
tak bisa tidur lagi, gimana ini?” Pikirnya meresah. Lalu, Chilla mencari
berbagai macam buku di dalam lemari belajarnya, dia mencari berbagai macam buku
yang bisa membuatnya tenang dan lupa dengan semua ketakutannya. Ini dia.. Al-Qur’an pun dia genggam,
berharap bahwa buku kecil itu dapat menenangkannya.
Tak sengaja Chilla pun membaca satu
buah ayat yang berbunyi, “Wahai
hamba-hamba-Ku yang beriman! Sungguh, bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku (saja).”[1]
Chilla terdiam, sambil menutup bibirnya yang menganga karena terkaget ketika
membaca ayat itu. Aku seperti memuja
Chicko.. Astaghfirullah... pikirnya. Kemudian Chilla membaca lagi dan
membuka lembaran-lembaran berikutnya, dan dengan ekspresi wajah yang sama.
Chilla menangis ketika membaca “Katakanlah,
“Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu,
harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan
kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai
daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai
Allah memberikan keputusan-Nya.”Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang fasik.”[2]
Sejam berlalu, air matanya masih
saja terus mengalir mengingat segala dosa yang telah Chilla lakukan. Sekejap
bayangan Chicko menghilang, musnah entah kemana. Mungkin terbawa aliran air
mata Chilla yang menetes sejak sejam yang lalu, meresap kedalam pori-pori kulit
kain sarung bantalnya. Chilla termenung. Dia heran, mengapa Chilla harus
merasakan cinta yang sebegininya. Tak bisa memiliki, padahal cinta itu amatlah
suci. Mengapa harus disakiti? Chilla menghapus air matanya dan pergi ke toilet. Di dalam toilet, Chilla memandang wajahnya yang begitu pucat dan sembab.
Matanya yang bengkak karena terlalu lama menangis, “seperti mayat hidup!” Tukasnya. Dia mencoba meraih keran yang
menempel di dinding westafel, air itu
mengucur dan di basuhnya wajah Chilla dengan air yang bening itu. “Air itu bisa aku rasakan, bisa aku sentuh,
tapi setiap aku ingin mengukir sesuatu di atasnya aku tak mampu. Aku senang melihat
butiran-butiran kristal air ketika aku mencipratkan air itu ke atas udara dan
jatuh ke permukaan lantai. Pecah, air itu pecah dan musnah. Ini semua bagaikan
cintaku yang ku coba ukir di hatimu. Semua tidak membekas dan tidak bisa aku
miliki. Dalam tubuh ini terdapat milyaran air, bahkan darah yang mengalir pun
berupa air. Apakah cinta itu abstrak? Dia mengalir di tubuh ini, apakah cinta
itu benar-benar terukir di atas air? Darah yang mengalir ini bukan karena
cintaku atau cintanya, tapi karena Allah Sang Maha Cinta yang mengalirkannya
untukku... Jadi? Bisakah aku mengukir cintaku di atas air yang aku lihat saat
ini?” Gumamnya.
Chilla tersadar, bahwa cintanya
kepada Chicko memang berlebihan. Untuk saat ini Chilla janji kepada dirinya
sendiri bahwa dia tidak akan pernah lagi memaksakan diri dan akan menerima
segala apapun yang telah dimilikinya dengan rasa syukur.
~
Dua Tahun Kemudian ~
Chilla
meneruskan kuliahnya di Kairo, Mesir. Sedangkan Chicko sepertinya sudah menjadi
pengusaha sukses di Indonesia. Chilla sedang belajar menjadi seorang penulis,
dan memang sudah ada dua buah buku yang Chilla terbitkan sendiri. Saat itu,
Chilla sedang berkunjung ke pameran buku di daerah Bandung, Landmark braga.
Ketika Chilla sedang asyik membaca sinopsis setiap buku yang dia pilih,
terdengar bunyi langkahan kaki yang semakin dekat menghampiri Chilla. Chilla
sangat sensitif jika mendengar suara-suara yang menyeramkan seperti itu,
kemudian Chilla membalikan badannya dan mencari dimana suara sepatu itu. Dan
ketika berbalik lagi ke arah semula.
“Hai Chilla...” Sapa seorang lelaki
berbaju putih mengenakan jaket hijau army dengan gaya rambut yang modern dan
populer saat ini. Cool abis! Siapa
dia?
“Eh.. Kaa..Kamu..?” Ucapannya
terhenti ketika pria itu mengeluarkan kotak merah berbentuk hati yang di
dalamnya terdapat cincin permata kepadanya.
“Iya.. Aku. Apa kabarnya kamu
Chilla?” Tanya pria itu.
“Aaa..Aku..Apa ini?” Tanya Chilla
heran.
“Kamu gak tau? Ini cincin..”
Jawabnya dengan penuh senyum.
“Iya aku tau ini cincin, tapi untuk
apa?” Tanya Chilla dengan nada tinggi.
“Would
you to be my girl? Marry with me?” Tanyanya serius dengan pandangan yang
begitu dalam dan tajam.
“Serius? Kok bisa?” Chilla panik.
“Kamu gak lagi mau berusaha membunuh aku kan?” Lanjutnya sambil menjauhkan
kotak itu dari hadapannya.
“Aku serius Chilla! I really really seurious.. Please...”
Ucapnya memelas.
“Aku bener-bener gak ngerti Chicko,
aku gak ngerti sama sikap kamu!” Tukas Chilla.
“Setiap orang itu bisa berubah
Chilla, dan aku sudah berubah. Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu. Hiduplah
bersamaku, mendampingiku!”
“Kamu menjadikan aku sebagai
pelarian hidupmu? Begitu?” Jawabku dengan nada membentak.
“Tidak! Aku benar-benar ingin
membalas cintamu saat ini.” Jawab Chicko mencoba meyakinkan.
“Semuanya sudah berubah Chicko, aku
berubah. Aku tak sama seperti dulu lagi.”
“Kenapa?”
“Karena aku sudah memiliki calon
suami dan minggu depan kita akan menikah.” Jawab Chilla dan langsung saja
Chilla pergi menjauh dari Chicko.
Chicko tidak diam, dia mengejar
Chilla dan menarik tangan Chilla supaya Chilla tetap tinggal dan merubah semua
pikirannya dan mau menerima cinta Chicko.
“Plaaaak...” Chilla layangkan
tangannya dan didaratkan ke pipi kiri Chicko. “Kamu tau? Aku bukan benda yang
seenaknya bisa kamu miliki dengan mudahnya! Kamu tau? Aku seorang wanita yang
dulu pernah kamu sakiti! Kamu tau? 3 tahun lamanya aku mencoba melupakanmu dan
sekarang kamu mau aku nerima kamu?”
“Kalau begitu kamu belum berubah
Chilla..”
“Aku berubah!”
“Kamu masih menyimpan rasa sakit di
beberapa tahun yang lalu, itu karena dalamnya cintamu terhadapku. Dan kamu
belum bisa menerima kenyataan di hari ini. Dulu pun kamu masih sama, masih
belum bisa menerima kenyataan yang terjadi...” Chicko berhenti berbicara karena
Chilla memotong pembicaraannya.
“Cukup Chicko! Aku gak bisa... Masih
ada wanita yang lebih baik dan pantas untukmu.” Jawab Chilla.
“Yasudah, aku gak akan maksa kamu..
Pergilah..” Jawab Chicko yang mencoba merelakan.
Uhibbuka
fillah akhi..Cinta ini belum saatnya, aku masih kuliah dan kamu pun masih harus
bekerja. Jika memang kamu adalah pemilik dari tulang rusukku, aku yakin kamu
akan kembali dan memintaku lagi...
And
the last story of Chilla’s life. Chicko menikah dengan Tanti adik sepupu
Chilla, dan Chilla menikah dengan seorang ikhwan dari Kairo, yang merupakan
teman sekampusnya. Dan Chilla hidup berbahagia dengan suaminya saat ini.
Cinta
mengajarkan bagaimana indah dan pahitnya kehidupan, mengajarkan bagaimana dan
apa peranan yang paling utama bagi manusia sealam raya. Cinta juga yang
mengajarkan bagaimana caranya untuk hidup berbahagia dengan cinta yang
dimiliki. Cinta yang semu bagaikan cinta yang terlukis di atas air, dan
bagaikan kita bermimpi di siang bolong atau di larut malam yang tak pernah bisa
kita miliki keindahannya. Seperti terbangunkan dari kematian ketika di bangkitkan.
Semua hanyalah bayangan yang tak kan pernah benar-benar bisa dimiliki. Cinta
yang sejati tak akan mungkin mengeluarkan kata-kata yang membuat terpesona,
jikalau begitu itu hanyalah ujian keimanan semata. Cinta yang hakiki adalah
cinta kepada Illahi.
Kini, cintaku bermuara di dalam air
yang terwadahi. Cinta yang aku genggam,
dan aku rawat dalam naungan cinta Illahi. Ijab kabul di hari itu membuat
segalanya menjadi indah. Bukan lagi di atas air, namun air itu adalah cintanya.
Terimakasih Allah atas segala cinta dari-Mu..
-Frissilla Anggraeni-
0 komentar:
Posting Komentar