Terkadang hidup itu menjelma menjadi sebuah penjara
bagiku, setiap tetesan air mataku ini menjadi saksi cintaku yang membelenggu
dan tertahan dalam sekat-sekat dinding kalbu. Rinduku pada setiap senyuman
terindahmu, dekapan hangat tubuhmu, dan segalanya yang membahagiakanmu itu
semakin membesar dan terus mendesah, hingga cintaku tak bisa lagi kubendung.
Karena saking tak terbendung, jatuhlah air bening yang keluar dari sepasang
mataku hingga derasnya, ketika nama dan sketsa wajahmu begitu terbayang dalam
benakku, Ibu lewat tulisan ini aku mengungkap segalanya, cinta yang begitu
mendesah dan air mata inilah sebagai saksinya.
Mungkin karena memang pola hidup, pola pikir, dan pola yang
lainnya dalam kehidupanku ini sedikit berbeda dan juga sedikit terjungkal dari
manusia yang lainnya. Sehingga seringkali tindakanku ini malah menyerang balik
diriku dan membuat efek negatif yang begitu menggigit kalbuku. “Malas” adalah
musuh besar dan juga sahabat sejatiku, selalu saja begitu disepanjang harinya.
Sampai-sampai ocehan, dan omelan kasih sayang dari ibuku nyaring terngiang-ngiang
di telinga dan di pikiranku.
“Gadis itu harus rajin, masa’ jam segini baru bangun?”
Teriak ibuku dari luar kamar yang mencoba membangunkanku dari tidur.
“Euumm pagi-pagi udah ngomel, Yaa Allah tolong” Keluhku
ketika mendengar semua ungkapan ibuku. Dan mataku sedikit mengintip jam yang
muncul di layar handphoneku ternyata
memang sudah menunjukkan waktu tepat pukul 09.00 pagi.
Akupun segera mengangkat seluruh tubuhku dan melepaskan
segala peralatan tidurku seperti kaos kaki, selimut, dan yang lainnya. Lalu
kubuka pintu kamarku dan aku segera membasuh wajahku yang masih lembab dan
sedikit mengantuk karena lamanya tertidur. Setelah selesai membasuh wajah dan
menggosok gigi, akupun langsung memakai kacamataku dan aku mulai mencuci
peralatan makan yang menumpuk dari hari
kemarin di dapur. Dan jika semuanya sudah selesai, biasanya aku langsung
menyalakan televisi dan menonton
tayangan sinema indonesia yang ditayangkan di channel televisi swasta indosiar dan sctv “serial ftv setiap jam 10
pagi”. Dan masih selalu saja diomeli. Hingga tiada senyum yang tersimpul dari
wajah ayunya. Hmm, aku ingin sekali membuat ibuku tersenyum. Ingin sekali aku
membuang, menendang, dan mengusir jauh musuhku yang menjelma menjadi sahabat
setiaku disepanjang waktuku itu. Namun memang sepertinya sulit untuk mengusir musuhku
itu, mungkin karena moodku yang
selalu mengendalikanku dalam beraktifitas. Kalau sahabatku itu sudah datang,
lenyaplah sudah segala harapan dan agendaku yang telah kubuat. Entah mengapa
aku masih saja bertindak dan berpikir seperti anak kecil, menyalahkan orang
lain dari setiap kejadian buruk yang menimpaku itu. Yah, kalau ibuku sudah
mengomeli aku, aku selalu mencari alasan agar aku tidak tersalahkan, aku selalu
saja menyebut ibuku itu kejam tak berperasaan dan tak bisa mengerti keadaanku
yang sedang lelah dalam mengarungi kehidupan yang terjadi pada diriku, di
lingkunganku seperti pada saat sekolah, dan kalau saat ini kuliah. Tapi
sebenarnya yang kuinginkan hanyalah satu, aku ingin ibuku tersenyum dan aku
ingin sekali menendang jauh kebiasaan malasku yang sudah mengakar dan mendarah
daging dalam hidupku. Aku hanya ingin membahagiakan ibu, itu saja.
Aku begitu mengingat kata-kata cinta dari ibuku, “Ibu itu
sayang sama kamu. Ibu pengen kamu jadi wanita yang segala bisa, yang kuat, yang
gak manja. Kalau kamu udah berumah tangga dan bersuami kan repot dan
malu-maluin kalau kamu malas kayak gini, kamu itu kalau dikasih tau gak pernah
mau denger. Ibu harus kayak gimana lagi sih biar kamu berubah?” dan kalau aku
mengingat kata-kata itu hatiku serasa ditusuk oleh garpu, atau seperti dipatuk
oleh paruh burung. Setiap aku ingin mencoba mengukir kata bahagia dalam
kalbunya, dan ingin menebar senyum di wajahnya. Aku selalu terjatuh lagi oleh
perkataannya yang selalu saja pedas dan menyakitkan hatiku.
“Kamu itu sudah
besar, masa gak bisa? Bodoh!”
Rasanya tak tahan
jika mengingat itu semua. Aku hanya bisa menangis dan mengadu nasib dalam do’a
kepada Sang Maha segalanya. Aku hanya ingin ibu bahagia dan tersenyum, aku
ingin berarti. Aku ingin beliau mengajari aku dengan penuh ketulusan dan penuh
dengan senyuman, bukan dengan sebuah celaan bahkan amarah. Walau aku tau, obat
itu rasanya pasti pahit, tapi itu semua sangat berkhasiat. Namun tetap saja
hatiku terluka dan semakin aku tak bisa berbuat banyak untuknya, apalagi
membuatnya tersenyum. Kalau begitu, aku hanya bisa pasrah dan terus berusaha
melawan kepedihan yang menghantam jiwa.
Kebiasaan tidur
terlalu malam memang sulit juga aku sembuhkan, inilah penyebab aku selalu
bangun siang. Biarlah, mungkin dengan bergulirnya sang waktu. Kedewasaan itu
akan datang menghampiriku. Dan setiap kejadian pahit yang menimpaku, setiap air
mata yang jatuh membasahi kedua pipiku itu menyadarkanku betapa berartinya dan
begitu besarnya kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
Terkadang memang
rasa cinta dan sayang itu tak ditunjukkan dengan sikap yang lembut dan halus,
tapi dengan sikap yang tegas dan keras. Seperti halnya ibu elang yang
mengajarkan anaknya untuk terbang. Dia mengangkat anaknya dan membawanya
terbang kemudian dia hempaskan anaknya hingga terjatuh, apa yang terjadi? Sang
anak bahkan bisa terbang dalam usia sedini mungkin. Ya, obat memang begitu pahit
diawal mula. Namun, khasiatnya begitu manjur jika dibarengi dengan do’a dan
usaha untuk sembuh dari penyakit yang diderita.
Ibu, aku ingin
menyampaikan sesuatu untukmu meski hanya dengan sebuah tulisan. Yang tiada
pernah bisa aku ungkapkan, yang tertahan didalam sanubariku. Aku harap suatu
saat nanti engkau kan mengetahuinya, bahwa didalam dada ini terselip rindu yang
mendalam kepadamu.
~Puisi Untuk Ibu~
Cintaku padamu tersekat dalam ruang sembilu
Kelu rasanya jika harus kukatakan padamu
Hanya dapat kutuliskan di secarik kertas berwarna merah jambu
Kurajut rasa itu dengan penuh takjub dan haru
Menatap kedua bola matamu sungguh ku tak mampu
Melihat eloknya senyummu sungguh ku mau
Hanya harap ingin mendekap tubuhmu dalam benakku
Sebelum detak jantungmu itu tak lagi berdegup
Kelu rasanya jika harus kukatakan padamu
Hanya dapat kutuliskan di secarik kertas berwarna merah jambu
Kurajut rasa itu dengan penuh takjub dan haru
Menatap kedua bola matamu sungguh ku tak mampu
Melihat eloknya senyummu sungguh ku mau
Hanya harap ingin mendekap tubuhmu dalam benakku
Sebelum detak jantungmu itu tak lagi berdegup
Ibu..
Izinkan aku mengecup keningmu ketika kau sedang tertidur
Izinkan aku tuk mengukir kata bahagia dalam sanubarimu
Izinkan aku tuk membuat senyum manismu merekah
Izinkan aku tuk mendekap erat hangat tubuhmu
Izinkan aku mengecup keningmu ketika kau sedang tertidur
Izinkan aku tuk mengukir kata bahagia dalam sanubarimu
Izinkan aku tuk membuat senyum manismu merekah
Izinkan aku tuk mendekap erat hangat tubuhmu
Sebelum kau pergi
tinggalkanku
Sebelum kata sesal menyelubungi pikiranku
Sebelum sepi mengintai jiwaku
Sebelum air mata menjadi saksi cintaku
Ibu..
Aku tau, rasa cinta itu ada didalam hati kita
Meski sulit rasanya tuk diungkap
Ibu..
Aku tau, sayangmu padaku sungguh tak terkira
Meski selalu saja berderai air mata
Izinkan aku membahagiakanmu ibu
Di dunia dan di akhirat
Senyummu kan selalu ku ingat
Saat ini dan untuk selamanya
Sebelum kata sesal menyelubungi pikiranku
Sebelum sepi mengintai jiwaku
Sebelum air mata menjadi saksi cintaku
Ibu..
Aku tau, rasa cinta itu ada didalam hati kita
Meski sulit rasanya tuk diungkap
Ibu..
Aku tau, sayangmu padaku sungguh tak terkira
Meski selalu saja berderai air mata
Izinkan aku membahagiakanmu ibu
Di dunia dan di akhirat
Senyummu kan selalu ku ingat
Saat ini dan untuk selamanya
Akhir kata hanya kalimat inilah yang bisa kuutarakan
melalui guratan pena dimalam ini untuk seorang wanita yang sering kusebut
dengan sebutan ibu;
“Walau penuh dengan deraian air mata, serta pengorbanan
jiwa yang teramat menyesakkan dada, tetapi jika untuk yang disayang tak apalah
jika harus bersusah payah mengejar senyummu yang menawan. Ibu, satu hal yang harus
kau tahu, bahwa seorang anak pun punya cara tersendiri untuk menunjukkan kasih
sayang kepada orangtuanya, terutama kepada seorang ibu.”
0 komentar:
Posting Komentar