Parasnya yang ayu, jalannya yang
anggun, pakaiannya yang sopan, sikapnya yang lemah lembut, senyumnya yang khas,
membuat semua orang yang berada di dekatnya sangat tak ingin kehilangan sosok
gadis itu. Namanya Kiena, dia gadis yang sangat rendah hati dan ceria.
Orang-orang yang berada di dekatnya pun nyaris tak pernah melihat setetes pun
air mata yang jatuh membasahi pipi Kiena. Dan mereka sering bertanya-tanya
mengapa Kiena seperti nya sangat senang menjalani hidup ini bagaikan tanpa
masalah, namun Kiena hanya membalas pertanyaan teman-temannya itu dengan sebuah
senyuman.
*Saat Di Kuliahan*
"Naa... Kamu udah ngerjain tugas dari
Pak Gunawan?" Kata Dinda teman sekampus Kiena.
"Hmm?" Jawab Kiena sambil
mengingat-ingat.
"Udah atau belum?" Tanya Dinda
sekali lagi.
"Oh... Yang mana yah?"
"Yaah diaa.. beuuuhh... Itu loh yang
di suruh bikin makalah tentang manajemen keuangan."
"Oh.. Udah.. Udah.. ada di tas, dari
waktu itu juga udah selesai kok.."
"Enak banget, kok aku belum selesai
yah? Kamu apa sih resepnya ko bisa cepet banget ngerjainnya?"
"Hehe.. Waktu yang aku punya ga
banyak, sedangkan yang harus aku lakukan itu banyak."
"Itu doang? Gimana bisa?"
"Intinya.. hargai waktu :D "
Dinda hanya terdiam dan mencoba untuk
mencerna perkataan yang keluar dari mulut Kiena, tapi sampai keesokan harinya,
kata-kata itu pun masih menjadi sebuah misteri yang belum bisa dipecahkan.
Kebetulan rumah Dinda dan Kiena berdekatan, akhirnya Dinda segera menanyakan
kembali apa yang di maksud oleh Kiena, karena dia masih belum mengerti dan
tugas dari Pak Gunawan belum terselesaikan.
“Kienaa... Aku mau nanya lagi !”
“Kamu mau nanya apa sih? Nanya mulu..
hihihi”
“Langsung ke intinya aja deh yaah, bantuin
aku donk naa buat ngerjain tugas nya Pak Gunawan.. yah yah yah ;)”
“Emang apa sih susahnya? Tinggal nyari
inspirasi di google terus edit sedikit kata-katanya, tambahin aja sama ilmu
yang kamu punya tentang materi itu.”
“Yaah...” Jawab Dinda sedikit kecewa.
“Oh iyaa... coba deh kamu bayangin, fikirin
sama kamu. Ayah kamu tiba-tiba males buat kerja, males aja deh pokoknya.”
“Yahh.. kalau males gimana aku bisa makan
sama keluarga aku yang lainnya, bahaya tuh kalau papah aku jadi males gitu.”
“Sip, jawabanmu tepat sekali. Males itu
adalah sikap yang negatif, dan hasilnya pun bakalan negatif. Buat diri sendiri
atau bahkan buat orang lain. Sekarang kamu itu lagi mengidap penyakit MALES
stadium.... euumm..”
“Oh tidak mungkin Kiena sayang, aku ini
anak nya rajin kok.. Liat aja, besok tugas dari Pak Gunawan udah selesai.”
“Kamu yakin waktu yang kamu punya itu
banyak?”
“Hmm.. 24jam cukup kan?”
“Cukup?”
“Ih Kiena apa-apaan sih ah.. aku jadi serem
kalau ditanyain gitu terus sama kamu..”
“Hahahahaha... Aku selalu mikir, gimana
kalau tiba-tiba kaki aku gak bisa aku gerakin lagi, tangan aku juga tiba-tiba
kaku, aliran darah aku berhenti, mata jadi kunang-kunang, aku juga gak bisa
nafas lagi, dan itu terjadi ketika aku memikirkan hal ini.. Aku selalu saja
membayangkan bagaimana jika itu semua terjadi.”
“Ih.. Kiena.. Lagi-lagi aku jadi parno nih,
asli ini aku takut banget dengernya..”
“Kenapa harus takut? Bukannya itu semua
bakal kita alamin kan?”
“Yaa tapi kan aku gak mau itu semua terjadi
sama aku atau kamu sekarang juga, masih banyak hal yang kurang di perhatikan
dalam hidup aku.”
“Alhamdulillah, sekarang kamu udah ngerti
kan maksud ucapan dari aku kemarin?”
“Hah?Hmm...” Dinda hanya menggaruk-garuk
kepala tanda dia masih belum mengerti apa yang di maksud Kiena.
*Ketika Malam Tiba*
Tepat pada pukul 23.30 WIB,
lagi-lagi Kiena tidak bisa tidur karena sibuk memanaje waktu agar semua yang
dia harapkan dan ingin diperjuangkan bisa terwujud secepatnya. Harapannya dalam
dekat ini sangat simple, dia ingin melihat adik-adiknya yang putus sekolah
kembali bersekolah, dan ayahnya yang berhenti bekerja karena terkena PHK bisa
menyambung kembali untuk bekerja. Dan ibunya berhenti menjadi seorang TKW di
Negeri Arab sana. Dan untuk masalah pribadinya, Kiena ingin sekali penyakit
yang di deritanya itu pergi yang jauh dan vonis dokter terhadap dirinya yang
katanya masa hidup Kiena sudah tidak lama lagi karena penyakit yang di
deritanya itu adalah kebohongan yang nyata, dan itu sama sekali mustahil. Kiena
masih ingin hidup di dunia ini, karena Kiena ingin menjadi pribadi yang tangguh
dan menyenangkan di mata orang-orang yang melihatnya dan tentu saja yang utama
adalah di pandangan Tuhannya, Allah SWT karena Kiena menganut keyakinan Islam.
Setiap malam hari jika terbangun, Kiena
selalu melakukan sholat tahajud, Kiena selalu berdo’a agar semua harapan yang
sedang dia usahakan itu dapat terwujud sebelum semuanya terhenti. Meskipun
Kiena masih ingin merasakan indahnya hidup di dunia, namun Kiena tak bisa
mengelak jika masa hidupnya memang harus berakhir dalam waktu yang tak jauh
dari ini, Kiena ikhlas jika dia harus mati.
“Asalkan aku gak diam, asalkan aku terus
berusaha dan terus menggerakkan anggota tubuhku untuk melakukan hal-hal yang
positif dan Allah mengizinkannya, aku akan tenang jika aku harus mati dalam
waktu dekat ini.” Begitulah kata-kata Kiena kepada dirinya sendiri ketika
sedang melakukan sholat tahajud.
Setelah melakukan sholat tahajud, Kiena
langsung berbaring di atas kasurnya dan kemudian dia memejamkan matanya dan dia
mulai tertidur.
*Pagi harinya*
Saat itu Kiena sedang memakai sepatu
di depan rumahnya dan Dinda sedang berjalan melewati rumah Kiena ketika akan
pergi ke kampusnya. Dan setelah Kiena selesai memakai sepatunya dia mulai
berdiri, namun tiba-tiba saja Kiena terdiam sambil memegang erat kepalanya.
Kiena merasa kesakitan dan menjerit-jerit karena saking sakitnya. Dinda yang
melihat kejadian itu merasa kaget dan segera menghampiri Kiena, namun Kiena
malah membalikkan tubuhnya karena tak ingin Dinda melihat keadaannya yang
seperti itu. Tak lama dari itu Kiena terjatuh ke lantai, dan banyak darah yang
keluar dari hidungnya. Dinda menangis melihat keadaan teman dekatnya itu lemah
terkapar tak berdaya. Dinda tak menyangka bahwa orang sebaik Kiena dan seriang
Kiena ternyata harus mengalami hal yang menyakitkan seperti itu.
Dinda langsung membawa Kiena ke dalam
rumahnya, dan Dinda menanyakan keadaan Kiena kepada adik-adik dan ayahnya.
“Pak, sejak kapan Kiena seperti ini?” Tanya
Dinda kepada ayahnya Kiena.
“Bapak sendiri juga tidak tahu nak kalau
Kiena seperti ini, Kiena gak pernah kayak gini sebelumnya. Setau Bapak Kiena
itu sehat-sehat saja.” Jawab ayah Kiena.
“Hmm... Masa sih Pak? Memangnya Kiena gak
pernah cerita apa-apa gitu sama Bapak? Takutnya Kiena emang punya penyakit yang
cuma Kiena sendiri yang tau.”
“Aduh, itu anak emang bandel.” Sambil
menepuk jidatnya.
“Hmm.. Pak, gimana kalau bawa Kiena ke
rumah sakit aja? Soal biaya udah biar Dinda aja yang minta tolong ke papah
Dinda, gimana?”
“Iya, terimakasih yaa nak. Bapak cari dulu
mobil”
“Nggak usah Pak, papah belum pergi kerja
kok. Biar sekalian aja. Dinda telpon dulu deh papahnya.”
“Alhamdulillah, beruntung sekali Kiena
punya teman dekat seperti Dinda.”
Dinda pun segera menelpon papahnya dan
menceritakan kejadian yang baru saja terjadi terhadap Kiena temannya. Dan
papahnya menyetujui keinginan Dinda untuk mengantarkan Kiena ke rumah sakit.
Dinda pun segera mengirimkan SMS kepada
teman sekampusnya untuk memberitahu kan kepada dosennya bahwa Dinda dan Kiena
tidak bisa hadir ke kampus hari ini di karenakan Kiena masuk rumah sakit.
*Ketika di Rumah Sakit*
Ketika sesampainya di
rumah sakit Kiena langsung dibawa ke ruang UGD dan di periksa oleh dokter yang
bersangkutan.
Setelah beberapa menit Kiena di periksa,
kemudian dokter yang menangani Kiena keluar dari ruangan UGD tersebut. Ayah
Kiena beserta yang lainnya langsung menanyakan bagaimana keadaan Kiena kepada
dokter.
“Bagaimana keadaan Kiena anak saya, dok?”
“Mari ikut ke ruangan saya, hanya Bapak
saja.” Jawab dokter serius.
Ayah Kiena pun segera
mengikuti dokter ke ruangannya. Dan setelah sampai...
“Bagaimana Pak? Sebenarnya ada apa dengan
anak saya? Apakah dia punya penyakit yang serius?”
“Benar Pak, penyakit ini sudah lama sekali
di derita oleh Kiena anak Bapak, sudah sampai ke bagian otak kanannya.”
“Memang anak saya mengidap penyakit apa ya
dok?”
“Ada tumor di otaknya, dan itu membuat
Kiena selalu merasa kesakitan.”
“Apakah penyakitnya mematikan, dok?”
“Itu hanya Tuhan yang mengetahui, apa yang
terbaik untuk Kiena saat ini. Namun memang, untuk saat ini di prediksikan hidup
Kiena sudah tidak lama lagi, hanya tinggal beberapa minggu lagi. Karena
penyakitnya memang sudah parah sekali.”
“Astaghfirullahaladziim.. Apakah masih bisa
di sembuhkan dok penyakitnya? Adakah cara lain agar Kiena sembuh?”
“Satu-satunya jalan adalah melakukan operasi.”
“Berapa biayanya kira-kira dok?”
“Untuk pengobatan itu saya kisarkan sekitar
30jt”
“Astaghfirullahaladziim...” Gumamnya dalam
hati sambil menundukkan kepalanya. “Baiklah dok, saya usahakan uangnya. Asal
anak saya bisa sembuh dari penyakitnya.”
“Baiklah akan saya usahakan, tetap tegar
dan terus berusaha Pak, bersabarlah semoga Allah senantiasa memberikan yang
terbaik untuk Bapak dan keluarga Bapak.”
“Terimakasih dok atas bantuannya.
Kira-kira, kapan Kiena bisa melakukan operasi?”
“Secepatnya.. Besok, bagaimana?”
“Iya dok, terimakasih. Saya akan
membicarakan hal ini dulu kepada Kiena.”
“Yaa..”
“Permisi dok.”
“Yaa silahkan... :) ”
*Kamar Kiena*
Ayahnya pun masuk ke kamar tempat Kiena di
rawat, ayahnya melihat Kiena sedang tertidur. Lalu ayahnya duduk di samping
Kiena, ayahnya menatap dalam-dalam wajah Kiena, kemudian ayahnya menangis dan
berkata.
“Anakku sayang, kenapa kamu diam saja tak
membicarakan hal ini kepada ayah? Kenapa kamu menyembunyikan hal ini sayang?”
Tak lama dari itu, Kiena terbangunkan dan
langsung melirik ke wajah ayahnya yang sedang menangis. Kiena pun tersenyum
melihat ayahnya menangis.
“Ayah, kenapa nangis yah?”
“Kamu kenapa senyum ngeliat ayah nangis?”
“Masa aku harus nangis juga yah? Ayah
kenapa?”
“Ayah mau tau, kenapa kamu menyembunyikan
penyakit kamu dari ayah? Kenapa kamu gak bilang sama ayah?”
“Ayah, ayah udah cukup pusing dengan
masalah yang ayah punya. Kiena gak mau ngebebanin ayah sama penyakit yang Kiena
punya. Kiena gak mau ayah stress mikirin Kiena, apalagi ayah juga kan baru aja
ngalamin PHK. Kiena gak tega yah..”
“Kamu anak ayah ! Sesulit apapun masalah
yang ada di hidup ayah itu gak akan berarti ketika masalah anak ayah lebih
berat.”
“Begitu juga dengan Kiena yah.. Ketika
Kiena punya masalah dan ayah juga punya masalah, yang Kiena pikirin itu cuma
pengen ngebahagiain ayah.”
“Sudah... Besok kamu bakal di operasi, itu
demi penyembuhan penyakit kamu.”
“Ayah, tapi uangnya dari mana? Udah Kiena
ikhlas kok kalau Kiena harus mati dalam waktu dekat ini, berapa lama lagi Kiena
hidup kata dokter yah?”
“Hanya dalam waktu beberapa minggu lagi.”
“Tuh kan, masih ada waktu beberapa minggu
lagi. Udah Kiena mau pergi dari sini.. Kiena mau ngurusin urusan Kiena yang
belum selesai.”
“Kamu masih sakit Kiena.. !”
“Kiena yakin Allah lebih tau segalanya
tentang ayah, tentang Kiena. Kalau emang hidup Kiena udah gak lama lagi Kiena
ikhlas yah, tapi sebelum Kiena mati Kiena pengen ngelakuin hal-hal yang bisa
bikin Daffa, ayah, ibu sama Rini bahagia dulu, biar Kiena perginya juga
tenang.”
“Emang kamu mau melakukan apa untuk ayah
dan ibu?”
“Udah, yang penting Kiena sekarang harus
keluar dulu dari rumah sakit ini. Lagian ini siapa sih yang bawa Kiena ke rumah
sakit, emangnya ayah punya biaya buat bayar rumah sakit ini?”
“Biaya rumah sakit ini sudah di urus oleh
Bapaknya Dinda temen kamu.”
“Hah? Dinda?”
Kiena pun langsung bergegas dari tempat
tidurnya dan segera meminta pulang kepada dokter dan memastikan dirinya sudah
tidak sakit lagi. Awalnya dokter tidak mengizinkan, namun karena Kiena yang
memintanya dan keadaannya sangat menghawatirkan dokter pun mengizinkan Kiena
untuk pulang.
*Dalam waktu 2 minggu*
Dalam waktu beberapa minggu ini
Kiena sibuk mencari uang untuk membantu adik-adiknya agar bersekolah, dan
beberapa kali mendatangi perusahaan yang pernah di tempati oleh ayahnya untuk
bekerja. Kiena melakukan apa saja yang dia mampu agar semua harapannya itu bisa
tercapai. Meskipun penyakit yang di deritanya kerap kali terasa ketika Kiena
sedang sibuk mengurusi urusannya itu, namun karena Kiena yakin akan pertolongan
Allah, Kiena terus berusaha agar semuanya terwujud.
Dalam waktu 2 minggu ini Kiena terus saja
berusaha dan berdo’a, dan alhasil... sampai lebih dari sebulan pun Kiena masih
tetap bisa menghirup udara dan bebas bergerak. Operasi yang sudah disepakati
ayah dan dokter nya pun tidak dilakukan karena Kiena yakin Allah lebih tau
segalanya. Semua yang di usahakan Kiena selama beberapa minggu ini tidaklah
sia-sia. Secara perlahan, ibunya Kiena memutuskan untuk pulang ke rumah dan
berhenti bekerja karena tak ingin jauh-jauh dari Kiena dan ingin mengurus Kiena
agar tidak mudah capek dan lain sebagainya. Ayahnya pun kembali bekerja seperti
semula di tempat kerjanya yang dulu karena ayahnya hanya di tuduh melakukan
tindakan korupsi padahal ayah Kiena tidak bersalah, dan atasan ayahnya Kiena
pun meminta maaf kepada ayah Kiena karena sudah melakukan kesalahan yang besar
karena sudah memecat ayah Kiena.
Adik-adiknya pun bisa bersekolah karena
hasil dari kerja ayahnya, dan uang gaji yang dibawa oleh ibunya dari Arab sana.
Kiena sangat bahagia sekali dan bersyukur kepada Allah karena telah membantu
mewujudkan segalanya, dan tentang penyakit yang di derita Kiena itu... dia
hanya bisa berpendapat..
“Hanya Kau yang bisa merubah segala yang
tidak mungkin menjadi mungkin.. dan yang mungkin menjadi tidak mungkin... :D”
Kiena pun kembali melakukan aktivitas
rutinnya yaitu menjadi seorang mahasiswi yang rajin dan ulet, gadis yang riang
dan tak pernah bersedih hati. Dinda sangat bahagia melihat sahabatnya sudah
kembali sehat seperti sediakala, dia hanya berkomentar terhadap penyakit yang
di derita Kiena..
“Entahlah apapun penyakitnya itu, dengan
tekad dan do’a yang tiada henti dan ketulusan hati menerima segala kenyataan
yang ada.. mungkin semua nya akan menghilang dan lenyap karena takut dengan
kegigihan dan tekad yang bulat pada diri kita ... so.. i believe in miracle
from Allah”
“Dinda, makasih yah udah mau bantuin aku
kemarin ini.. sekarang udah ngerti belum maksud perkataan aku di bulan lalu?”
“hahaha.. iyaa sama-sama Kiena sayang, love
you muah muah... Hmm.. ngerti lah sekarang mah, kamu kemarin ngomong kayak gitu
gara-gara ngerasa hidup kamu bakalan the end kan? Padahal ngga..”
“hahaha tetep aja waktu itu harus di
hargai, karena kematian itu pasti datang, tapi tentang waktu dan caranya itu
yang kita gak tau gimana.. Intinya, Hanya Allah yang bisa mengubah segala hal
yang di luar nalar kita..”
“Setuju...”
“hahahahaha”
tawa keduanya
0 komentar:
Posting Komentar