Alunan merdu dan membuat hati semua orang yang
mendengarnya merasa tentram itu terdengar ketika semua penduduk kota dalam
keadaan tertidur pulas, semua lampu dan sinaran lainnya pun memenuhi setiap
sudut jalan yang Gissa dan Rangga lewati ketika malam itu. Awalnya Gissa
berfikir bahwa suara itu bukan suara manusia, melainkan suara makhluk halus
sekitaran rumah warga di kota itu.
“Bodoh! Kamu jangan ngarang cerita Giss,
nanti kalau memang benar-benar datang makhluk halus itu bagaimana?”
“Mana aku tau, tenang sajalah.. Semoga
perkiraan ku salah.”
Mereka
pun melanjutkan lagi pencariannya untuk membongkar rahasia dibalik semua ini,
sebenarnya siapa yang selalu memainkan musik di malam hari dengan suara yang
merdu dan melenakan ketika semua orang tertidur dengan lelapnya.
“Jam
berapa ini Ga?” Tanya Gissa sambil mencari sesuatu di saku celananya.
“Jam
1 kurang nih, kenapa?”
“Aku
gak tau pencarian kita akan berhasil atau tidak, tapi sepertinya kita tidak
akan berhasil untuk malam ini.”
“Jadi,
kita pulang saja sekarang?”
“Sepertinya
iya, kita lanjut besok hari.”
“Oke
kalau begitu, aku ikuti saja apa perkataanmu.”
“Sip,
istirahat yang banyak Ga supaya besok malam kita fit !”
“Yapz...”
Mereka
berdua pun akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan pencariannya di malam ini,
karena tak ada tanda-tanda dimana suara itu muncul. Semua rumah sudah di lewati
tapi hasilnya nihil, itu semua membuat Gissa dan Rangga menjadi semakin
penasaran kepada seseorang di balik semua ini.
Ketika
pagi hari saat Rangga akan pergi ke sekolah nya, Rangga bertemu dengan wanita
yang berjilbab panjang dan bercadar, ketika Rangga melihatnya dengan pandangan
mata yang tajam karena heran melihat wanita itu, wanita itu tidak lagi menatap
wajah Rangga dan langsung berlari kencang meninggalkan Rangga. Dibuatnya
begitu, Rangga semakin heran dan ingin mencari tahu mengapa dia berlari dan
Rangga sempat mengira kalau yang sering memainkan musik di malam hari itu
adalah wanita yang di temuinya tadi.
Kejadian
tadi pagi sangat berkesan rupanya bagi wanita bercadar itu, dia merasakan ada
yang berbeda pada dirinya. Karena baru tadi pagi lah wanita bercadar yang
bernama Bintang itu keluar dari rumahnya di pagi hari dan bertemu dengan
tetangganya sendiri, yang memang belum pernah bertemu sebelumnya.
Dia membayangkan kejadian yang baru saja di
alaminya, membayangkan sosok Rangga yang tampan, mempunyai lesung di pipinya,
hidung yang mancung layaknya orang arab campuran india. Hanya itu yang baru
tergambar dalam pikiran Bintang mengenai Rangga. Entahlah apa yang saat itu
Bintang rasakan, jatuh cinta.. Mungkinkah???
Namun
berbeda dengan Rangga, sejak kejadian tadi pagi Rangga malah menceritakan yang
bukan-bukan kepada Gissa tentang apa yang baru di alaminya tadi pagi.
“Gissa,
aku tau kayaknya siapa yang setiap hari suka bikin resah warga.”
“Siapa?”
“Wanita
bercadar, tadi aku bertemu dengannya.. Yaa sebenarnya sih baru asumsi aku aja,
tapi gak tau kenapa aku yakin kalau dia lah orangnya.”
“Wanita
bercadar? Siapa? Aku tidak pernah melihat ada tetangga kita yang bercadar,
bahkan yang memakai jilbab biasa pun nyaris tidak ada.”
“Ya
entahlah, tapi aku yakin kalau dia orangnya.”
“Oke
kita buktikan nanti malam, oke?”
“Siaap..”
Setelah
beberapa minggu tak keluar rumah, akhirnya Bintang pun memberanikan diri untuk
tampil di ajang festival musik yang di selenggarakan di pusat Kota jauh dari
tempat tinggalnya, awalnya Bintang merasa kurang percaya diri karena keadaan
tubuhnya yang cacat. Mulutnya yang sumbing membuat Bintang tak mampu untuk memperlihatkan
seluruh anggota tubuhnya kepada sebagian orang yang ada di sekitarnya itu,
apalagi jika harus memperlihatkan kepada orang-orang yang akan melihat dirinya
bermain musik di atas panggung.
Dengan
langkah yang tertatih, dan degupan jantung yang sedikit berdetak tak beraturan.
Bintang naik ke atas panggung tanpa melepaskan cadar yang menutupi sebagian
wajahnya itu. Namun sesaat dari itu, salah satu juri di ajang festival musik
itu meminta Bintang untuk melepas cadarnya agar semua orang bisa mengenali
siapa dirinya. Tak mengikuti apa yang di perintahkan sang juri, Bintang malah
beranjak pergi dan berlari dengan cepatnya tanpa memperdulikan festival yang
sedang di ikutinya itu, semua harapannya terbawa oleh angin yang dia hantarkan
ketika berlari, semua itu musnah.
Ketika
Bintang sampai di rumahnya, dia merenung sendiri. Dan ketika malam tiba,
Bintang kembali memainkan musiknya dan bernyanyi menyanyikan lagu ciptaannya
yang saat ini dia rasakan. Dan dalam waktu yang sama Gissa dan Rangga pun
sedang melakukan misinya untuk memecahkan misteri dibalik alunan musik itu.
Ketika sampai pada rumah yang pagarnya berwarna coklat tua, serta dindingnya
yang berwarna biru langit bernomor 15, ya tepat itu adalah rumah Bintang. Dan
suara itu semakin jelas terdengar begitu Rangga dan Gissa berdiri tepat di
depan rumah Bintang.
“Ga,
kamu denger suara ini kan? Suaranya jelas banget ada disini..”
“Iya
Gis, aku denger. Kayaknya ini rumah si wanita bercadar itu deh, kamu berani gak
kalau kita panggil orangnya sekarang?”
“Yakin?”
“Iya..
satu.. dua.. tiga..”
Keduanya
pun memanggil-manggil siapapun yang ada di rumah Bintang dengan sebutan
“Spadaa...”
Bintang
terkaget ketika mendengar suara orang-orang di depan rumah nya itu, Bintang
mengintip dari jendela kamarnya dan dia melihat ada Rangga dan seorang gadis
yang entah siapa gadis itu. Bintang pun segera keluar untuk membukakan pintu
dan tak lupa mengenakan cadar yang selama ini menjadi sahabatnya di bumi ini.
Ketika dia akan keluar, namun kejadian yang tak di sangka-sangka. Bintang
terjatuh dari tangga dan kepalanya terbentur keras pada sudut meja yang ada di
dekat tangga di rumahnya.
Terdengar benturan yang sangat keras, Rangga segera
mendobrak pintu depan rumah Bintang dan melihat Bintang sedang terbaring dan
kepalanya bercucuran dengan darah. Rangga tidak sanggup jika harus membuka
cadar wanita yang ada di hadapan matanya itu, Gissa akhirnya membukakan
cadarnya dan segera meminta pertolongan kepada warga sekitar untuk membantunya
membawa Bintang ke rumah sakit.
Waktu
menunjukkan pukul 04.00 pagi ketika itu, tak terselamatkan nyawa Bintang.
Karena pihak rumah sakit pada saat itu menolak kedatangan Bintang yang kondisi
ekonominya tidak tercukupi, mungkin inilah sebagian kejamnya orang-orang di
dunia jaman sekarang. Rangga dan Gissa merasa sangat iba dan sedih melihat
seseorang yang memiliki talenta dan keahlian yang mungkin semua orang tak
memiliki keahlian itu harus meninggalkan dunia dengan cepat dan dalam kejadian
yang tak di duga sebelumnya. Ironinya, apa yang selama ini dia impikan tidak
sempat di wujudkan, dia meninggalkan dunia ini dengan membawa cita-citanya yang
ingin menjadi seorang musisi.
Dan
ketika jenazah Bintang akan di kebumikan, Rangga melihat catatan kecil yang
ditulis oleh Bintang di buku hariannya pada hari lusa kemarin. Dan kemudian
Rangga membacakannya di depan Gissa.
Keindahannya tak lagi nampak ketika semua
cahaya meredup dan semua harapan itu melupas seperti karatan pada besi yang
telah lama menguning. Atau bahkan seperti dedaunan yang kering jatuh berguguran
sehingga daunnya dapat di daur ulang oleh seseorang yang mempunyai ahli dalam
berkreatifitas. Aku hanyalah gadis biasa dan bahkan mempunyai banyak kekurangan
dalam diri, aku belum bisa memaknai apa arti hidupku sebenarnya. Cita-cita yang
membumbung tinggi mungkin tak kan pernah bisa aku wujudkan di dunia yang ramai
ini. Dan aku belum pandai untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah Dia
berikan untukku. Nafas ini mungkin kan terhenti saat aku tak mengharapkan
kehadirannya, bagi sesiapapun yang menemukan tulisan kecil dalam catatan mungil
ini. Aku harap, dia adalah seseorang yang tepat dan memiliki keahlian dalam
bersyukur serta keberanian untuk menerima segala kenyataan hidup yang ada,
meskipun pahit adanya. Tak seperti aku yang menyerah pada keadaan. Kekurangan
yang belum bisa aku terima. Dan kali ini aku bersyukur, karena aku dapat
menemukan hikmah dari perjalanan hidupku di hari ini...
Bintang
Ariensta
Setelah
selesai membaca tulisan kecil milik Bintang itu, Rangga merasa haru dan merasa
mendapatkan pelajaran yang paling berharga. Meskipun tak pernah mengenal lebih
jauh siapa Bintang itu, namun dari sepenggal kisah kehidupan Bintang yang
Rangga ketahui Rangga menjadi tergugah semangatnya, dia pun segera mengusap
habis air matanya yang menetes setelah membaca tulisan milik Bintang itu dan
mewujudkan impiannya yang sempat tertunda. Rangga ingin sekali menjadi seorang
penulis, dan sebelum semua ini berakhir Rangga akan terus melangkah demi
tercapainya cita-cita dan harapannya itu.
Gissa
pun sama, tetapi Gissa hanya membantu Rangga dari samping saja, dia terus
memberikan gagasan-gagasan agar tulisannya berbobot dan bermanfaat bagi semua
orang.
“Kamu
harus pandai-pandai mendalami karakter setiap orang, dan berikan contoh pada
studi kasus dalam tulisanmu, ketika ada permasalahan yang sebenarnya sulit
untuk kau hadapi, sampaikanlah tindakan apa yang seharusnya kamu lakukan dan
itu adalah tindakan yang terbaik dan tidak merugikan semua orang.” Itulah saran
dari Gissa kepada Rangga sahabat kecilnya.
“Thanks
Giss, I'm proud
to have a friend like you, I'll
be a writer of
useful and responsible.”
0 komentar:
Posting Komentar