Selasa, 28 Januari 2014

Bersinarlah Kau Bintang

Edit Posted by with No comments


Alunan merdu dan membuat hati semua orang yang mendengarnya merasa tentram itu terdengar ketika semua penduduk kota dalam keadaan tertidur pulas, semua lampu dan sinaran lainnya pun memenuhi setiap sudut jalan yang Gissa dan Rangga lewati ketika malam itu. Awalnya Gissa berfikir bahwa suara itu bukan suara manusia, melainkan suara makhluk halus sekitaran rumah warga di kota itu.
“Bodoh! Kamu jangan ngarang cerita Giss, nanti kalau memang benar-benar datang makhluk halus itu bagaimana?”
“Mana aku tau, tenang sajalah.. Semoga perkiraan ku salah.”
Mereka pun melanjutkan lagi pencariannya untuk membongkar rahasia dibalik semua ini, sebenarnya siapa yang selalu memainkan musik di malam hari dengan suara yang merdu dan melenakan ketika semua orang tertidur dengan lelapnya.
            “Jam berapa ini Ga?” Tanya Gissa sambil mencari sesuatu di saku celananya.
            “Jam 1 kurang nih, kenapa?”
            “Aku gak tau pencarian kita akan berhasil atau tidak, tapi sepertinya kita tidak akan berhasil untuk malam ini.”
            “Jadi, kita pulang saja sekarang?”
            “Sepertinya iya, kita lanjut besok hari.”
            “Oke kalau begitu, aku ikuti saja apa perkataanmu.”
            “Sip, istirahat yang banyak Ga supaya besok malam kita fit !”
            “Yapz...”
Mereka berdua pun akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan pencariannya di malam ini, karena tak ada tanda-tanda dimana suara itu muncul. Semua rumah sudah di lewati tapi hasilnya nihil, itu semua membuat Gissa dan Rangga menjadi semakin penasaran kepada seseorang di balik semua ini.
            Ketika pagi hari saat Rangga akan pergi ke sekolah nya, Rangga bertemu dengan wanita yang berjilbab panjang dan bercadar, ketika Rangga melihatnya dengan pandangan mata yang tajam karena heran melihat wanita itu, wanita itu tidak lagi menatap wajah Rangga dan langsung berlari kencang meninggalkan Rangga. Dibuatnya begitu, Rangga semakin heran dan ingin mencari tahu mengapa dia berlari dan Rangga sempat mengira kalau yang sering memainkan musik di malam hari itu adalah wanita yang di temuinya tadi.
            Kejadian tadi pagi sangat berkesan rupanya bagi wanita bercadar itu, dia merasakan ada yang berbeda pada dirinya. Karena baru tadi pagi lah wanita bercadar yang bernama Bintang itu keluar dari rumahnya di pagi hari dan bertemu dengan tetangganya sendiri, yang memang belum pernah bertemu sebelumnya.
Dia membayangkan kejadian yang baru saja di alaminya, membayangkan sosok Rangga yang tampan, mempunyai lesung di pipinya, hidung yang mancung layaknya orang arab campuran india. Hanya itu yang baru tergambar dalam pikiran Bintang mengenai Rangga. Entahlah apa yang saat itu Bintang rasakan, jatuh cinta.. Mungkinkah???
            Namun berbeda dengan Rangga, sejak kejadian tadi pagi Rangga malah menceritakan yang bukan-bukan kepada Gissa tentang apa yang baru di alaminya tadi pagi.
            “Gissa, aku tau kayaknya siapa yang setiap hari suka bikin resah warga.”
            “Siapa?”
            “Wanita bercadar, tadi aku bertemu dengannya.. Yaa sebenarnya sih baru asumsi aku aja, tapi gak tau kenapa aku yakin kalau dia lah orangnya.”
            “Wanita bercadar? Siapa? Aku tidak pernah melihat ada tetangga kita yang bercadar, bahkan yang memakai jilbab biasa pun nyaris tidak ada.”
            “Ya entahlah, tapi aku yakin kalau dia orangnya.”
            “Oke kita buktikan nanti malam, oke?”
            “Siaap..”
            Setelah beberapa minggu tak keluar rumah, akhirnya Bintang pun memberanikan diri untuk tampil di ajang festival musik yang di selenggarakan di pusat Kota jauh dari tempat tinggalnya, awalnya Bintang merasa kurang percaya diri karena keadaan tubuhnya yang cacat. Mulutnya yang sumbing membuat Bintang tak mampu untuk memperlihatkan seluruh anggota tubuhnya kepada sebagian orang yang ada di sekitarnya itu, apalagi jika harus memperlihatkan kepada orang-orang yang akan melihat dirinya bermain musik di atas panggung.
            Dengan langkah yang tertatih, dan degupan jantung yang sedikit berdetak tak beraturan. Bintang naik ke atas panggung tanpa melepaskan cadar yang menutupi sebagian wajahnya itu. Namun sesaat dari itu, salah satu juri di ajang festival musik itu meminta Bintang untuk melepas cadarnya agar semua orang bisa mengenali siapa dirinya. Tak mengikuti apa yang di perintahkan sang juri, Bintang malah beranjak pergi dan berlari dengan cepatnya tanpa memperdulikan festival yang sedang di ikutinya itu, semua harapannya terbawa oleh angin yang dia hantarkan ketika berlari, semua itu musnah.
            Ketika Bintang sampai di rumahnya, dia merenung sendiri. Dan ketika malam tiba, Bintang kembali memainkan musiknya dan bernyanyi menyanyikan lagu ciptaannya yang saat ini dia rasakan. Dan dalam waktu yang sama Gissa dan Rangga pun sedang melakukan misinya untuk memecahkan misteri dibalik alunan musik itu. Ketika sampai pada rumah yang pagarnya berwarna coklat tua, serta dindingnya yang berwarna biru langit bernomor 15, ya tepat itu adalah rumah Bintang. Dan suara itu semakin jelas terdengar begitu Rangga dan Gissa berdiri tepat di depan rumah Bintang.
            “Ga, kamu denger suara ini kan? Suaranya jelas banget ada disini..”
            “Iya Gis, aku denger. Kayaknya ini rumah si wanita bercadar itu deh, kamu berani gak kalau kita panggil orangnya sekarang?”
            “Yakin?”
            “Iya.. satu.. dua.. tiga..”
Keduanya pun memanggil-manggil siapapun yang ada di rumah Bintang dengan sebutan “Spadaa...”
            Bintang terkaget ketika mendengar suara orang-orang di depan rumah nya itu, Bintang mengintip dari jendela kamarnya dan dia melihat ada Rangga dan seorang gadis yang entah siapa gadis itu. Bintang pun segera keluar untuk membukakan pintu dan tak lupa mengenakan cadar yang selama ini menjadi sahabatnya di bumi ini. Ketika dia akan keluar, namun kejadian yang tak di sangka-sangka. Bintang terjatuh dari tangga dan kepalanya terbentur keras pada sudut meja yang ada di dekat tangga di rumahnya.
Terdengar benturan yang sangat keras, Rangga segera mendobrak pintu depan rumah Bintang dan melihat Bintang sedang terbaring dan kepalanya bercucuran dengan darah. Rangga tidak sanggup jika harus membuka cadar wanita yang ada di hadapan matanya itu, Gissa akhirnya membukakan cadarnya dan segera meminta pertolongan kepada warga sekitar untuk membantunya membawa Bintang ke rumah sakit.
            Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi ketika itu, tak terselamatkan nyawa Bintang. Karena pihak rumah sakit pada saat itu menolak kedatangan Bintang yang kondisi ekonominya tidak tercukupi, mungkin inilah sebagian kejamnya orang-orang di dunia jaman sekarang. Rangga dan Gissa merasa sangat iba dan sedih melihat seseorang yang memiliki talenta dan keahlian yang mungkin semua orang tak memiliki keahlian itu harus meninggalkan dunia dengan cepat dan dalam kejadian yang tak di duga sebelumnya. Ironinya, apa yang selama ini dia impikan tidak sempat di wujudkan, dia meninggalkan dunia ini dengan membawa cita-citanya yang ingin menjadi seorang musisi.
            Dan ketika jenazah Bintang akan di kebumikan, Rangga melihat catatan kecil yang ditulis oleh Bintang di buku hariannya pada hari lusa kemarin. Dan kemudian Rangga membacakannya di depan Gissa.
            Keindahannya tak lagi nampak ketika semua cahaya meredup dan semua harapan itu melupas seperti karatan pada besi yang telah lama menguning. Atau bahkan seperti dedaunan yang kering jatuh berguguran sehingga daunnya dapat di daur ulang oleh seseorang yang mempunyai ahli dalam berkreatifitas. Aku hanyalah gadis biasa dan bahkan mempunyai banyak kekurangan dalam diri, aku belum bisa memaknai apa arti hidupku sebenarnya. Cita-cita yang membumbung tinggi mungkin tak kan pernah bisa aku wujudkan di dunia yang ramai ini. Dan aku belum pandai untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah Dia berikan untukku. Nafas ini mungkin kan terhenti saat aku tak mengharapkan kehadirannya, bagi sesiapapun yang menemukan tulisan kecil dalam catatan mungil ini. Aku harap, dia adalah seseorang yang tepat dan memiliki keahlian dalam bersyukur serta keberanian untuk menerima segala kenyataan hidup yang ada, meskipun pahit adanya. Tak seperti aku yang menyerah pada keadaan. Kekurangan yang belum bisa aku terima. Dan kali ini aku bersyukur, karena aku dapat menemukan hikmah dari perjalanan hidupku di hari ini...
Bintang Ariensta

            Setelah selesai membaca tulisan kecil milik Bintang itu, Rangga merasa haru dan merasa mendapatkan pelajaran yang paling berharga. Meskipun tak pernah mengenal lebih jauh siapa Bintang itu, namun dari sepenggal kisah kehidupan Bintang yang Rangga ketahui Rangga menjadi tergugah semangatnya, dia pun segera mengusap habis air matanya yang menetes setelah membaca tulisan milik Bintang itu dan mewujudkan impiannya yang sempat tertunda. Rangga ingin sekali menjadi seorang penulis, dan sebelum semua ini berakhir Rangga akan terus melangkah demi tercapainya cita-cita dan harapannya itu.
            Gissa pun sama, tetapi Gissa hanya membantu Rangga dari samping saja, dia terus memberikan gagasan-gagasan agar tulisannya berbobot dan bermanfaat bagi semua orang.
            “Kamu harus pandai-pandai mendalami karakter setiap orang, dan berikan contoh pada studi kasus dalam tulisanmu, ketika ada permasalahan yang sebenarnya sulit untuk kau hadapi, sampaikanlah tindakan apa yang seharusnya kamu lakukan dan itu adalah tindakan yang terbaik dan tidak merugikan semua orang.” Itulah saran dari Gissa kepada Rangga sahabat kecilnya.
            “Thanks Giss, I'm proud to have a friend like you, I'll be a writer of useful and responsible.

0 komentar:

Posting Komentar